Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
AWAL YANG BARU


__ADS_3

Sesuai janji yang sudah di ucapkan sebelumnya oleh pria itu kepada sang adik yang tidak lain adalah Bella, pria bernama Alfred itu mengambil cuti kuliah dua hari demi untuk menemani sang adik masuk ke sekolah barunya di kota Washington. Tempat pertama kali ia dulunya sekolah di dalamnya.


Pagi ini setelah mereka bergantian melakukan ritual keseharian mereka, Bella bergegas bersiap-siap dengan memakai setelan underwear hitam dan hoodie berwarna pink softă…ˇwarna kesukaannya.


Hari ini anak itu hanya sekedar datang untuk melakukan tes masuk juga pendaftaran ulang jika telah di nyatakan lolos tes. Sistem sekolah di sana tidaklah sulit tapi juga tidak terlalu mudah. Karena dari pendaftaran hingga pendaftaran ulang hanya dilakukan selama satu sampai dua hari saja. Dan lusanya adalah penentuan kelas dan akan di langsungkan proses belajar mengajar.


Bagi pihak sekolah, syarat pendaftaran sekolah seluruh arsip harus lengkap. Jadi pihak administrasi hanya perlu mengecek ulang tanpa meminta berkas yang kurang. Bagi yang kurang dan tidak di kumpulkan sesuai syarat pendaftaran pada hari yang telah di tentukan, maka resikonya adalah gugur. Dan kesempatan masuk ke sekolah itu di nyatakan gugur. Jadi tidak ada hari yang terbuang sia-sia.


Hal itulah yang membuat Alfred sangat ingin memasukkan adiknya ke sekolah yang sama sepertinya dengan proses yang cepat.


"Bella!! Sarapan dulu, ayo!" Seru Alfred dari dapur. Pria itu melepaskan apron navy yang di kenakannya sebelum beranjak keluar dapur menuju meja makan.


"Ya, kak. Tunggu sebentar." Sahut Bella berseru, dia berlari dari ruang tamu ke ruang makan, menggeser kursi makannya dan bersiap untuk menyantap sarapannya.


Alfred tersenyum simpul. Ia lantas memberikan sepiring nasi dengan porsi kecil untuk Bella sebelum dirinya mengambil bagiannya sendiri.


"Selamat makan!!" Seru keduanya bersama-sama.


"Hari ini kakak yang mengantar kamu ke sekolah. Tapi besok setelah kamu di terima, kamu bisa berangkat sendiri, kan?" Kata Alfred di sela-sela sarapan mereka. Pria itu memberikan beberapa lauk ke atas piring sarapan adiknya.


"U-umb.." Bella mengangguk semangat. "Kakak tenang saja. Aku bisa berangkat dengan Edward nanti." Lanjutnya.


"Ingat pesan kakak, Bella. Jangan sembarangan berteman dengan laki-laki. Dan kalau terjadi sesuatu langsung beritahu kakak."


"Aku mengerti." Kata Bella semangat. Di tambah lagi dengan cengiran khasnya yang lebar hingga membuat sudut matanya menyempit. Membuat Alfred yang duduk di dekatnya gemas dan langsung mengacak surai blondenya.


Bella sontak berdecak sebal dengan pipi yang menggembung, merasa tidak suka jika rambutnya yang sudah di rapikan menjadi berantakan kembali akibat ulah tangan usil kakaknya yang sembarangan mengacaknya, dan Alfred hanya menyeringai jahil melihat respon sang adik.


"Kakak, nanti cantiknya Bella berkurang kalau kak Alfred terus mengacak rambut Bella, Uh!!" Rajuk Bella kesal. Dia melirik ke atas menatap rambutnya yang berantakan seraya merapikannya dengan bibir mengerucut lucu.


Dan hal itu membuat Alfred seketika langsung tertawa lirih mendengar tingkah adiknya yang terkesan narsis. Bella semakin merengut dengan kedua alis bertaut. Dan itu malah menambah kadar keimutan Bella karena pipinya yang tampak seperti kue bakpao.


"Sejak kapan adikku ini cantik, huh?"


"Sejak Bella lahir sudah cantik." Ungkap Bella bergaya narsis dan semenarik mungkin. Memasang pose semanis mungkin ala wanita dewasa di ikuti dengan kedipan mata sebelahnya sekilas. Namun di mata Alfred, Bella malah terlihat semakin lucu. Dengan alis yang di naik turunkan dan senyuman yang di pasang semanis mungkin.


Ah, Bella. Kau membuat kakakmu itu ingin melahapmu karena saking gemasnya. Mungkin jika Bella masih di usia dua atau tiga tahun, Alfred tidak akan berfikir panjang hanya untuk menciumi kedua pipi adiknya sesuka hati demi menyalurkan hasratnya karena gemas pada bocah di depannya itu. Seperti yang di lakukannya dulu ketika Bella belum mengerti apa-apa. Bahkan saat itu, Bella memiliki begitu banyak ekspresi juga polah tingkahnya yang hyperactive. Sehingga membuat Alfred kewalahan di buatnya. Tapi ketika Alfred sedang sibuk belajar, dan Bella berusaha menarik perhatiannya, lantas mengacuhkan bayi itu, Bella bayi langsung menangis. Seakan mengatakan kalau bayi itu tidak suka dengan sikap Alfred yang dingin selalu mengabaikannya.


Giliran Alfred memanjakannya dan memandikan Bella sampai mereka mandi bersama, Bella selalu memekik girang penuh kesenangan. Ketika itulah pria itu sadar, dia tidak bisa mengacuhkan adiknya barang sedetikpun. Saat dia belajarpun dirinya juga akan menyempatkan diri untuk memanjakan Bella. Alhasil ia berhasil membuat Bella bayi tidak rewel dan mengganggunya ketika belajar selama dia mau merespon apa yang adiknya ucapkan dan lakukan.


Kadang ia berharap adiknya akan selalu bertingkah seperti itu padanya. Bermanja dan merajuk hanya padanya. Mengingat hal itu membuat Alfred semakin tersenyum.


"Nah, kita berangkat sekarang?" Pekik Bella semangat. Alfred mengangguk sebagai respon.


Bella keluar rumah terlebih dulu dan bersandar di dinding sebelah pintu keluar rumah untuk menunggu kakaknya. Setelah mengunci rumahnya, Alfred mengambil motornya. Di mana motor itu dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya sebagai seorang guru privat part time selama ini.


Setelah menstarter motornya, Alfred menoleh ke belakang, menatap adiknya dan memberi isyarat melalui sorot matanya untuk naik. Ketika Alfred berlalu meninggalkan halaman tempat tinggalnya, Edward keluar dari rumahnya karena mendengar suara deru motor milik Alfred. Ia berdecak kesal juga kecewa karena dia tidak bisa berangkat bersama gadis itu ke sekolah.


Sepanjang perjalanan, Bella mengeratkan pegangannya pada kemeja yang di pakai oleh Alfred di kedua sisi pinggulnya. Namun kemudian Alfred berinisiatif untuk membimbing gadis itu, menarik tangan Bella dan melingkarkan kedua tangannya di perutnya hingga kedua tangannya saling menempel. Tapi karena hal itu justru membuat tubuh mungil Bella semakin menempel pada punggung sang kakak. Pipinya langsung memanas dan merona malu. Jantungnya berdesir berdetak lebih cepat karena ulah Alfred. Tapi detik berikutnya, senyum cerah merekah dari sudut bibir gadis itu, menampilkan gigi-gigi putihnya yang rapi.


Tak butuh waktu lama bagi Alfred untuk sampai di sekolah tempat Bella akan bersekolah. Pria itu bermaksud memarkirkan motornya, namun ketika itu juga mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang di sana.


Tak jarang beberapa ibu-ibu bahkan siswi perempuan menatap Alfred malu-malu. Bella yang menyadari hal itu langsung kesal di buatnya. Dan men-deathglare tiap orang yang berani menatap kakaknya seperti ingin memakannya. Tapi tatapan tajamnya itu justru membuat mereka mimisan secara massal saking gemasnya pada pipi Bella yang menggembung karena bersikap sok marah. Bella bahkan mengeratkan gandengan tangannya pada tangan Alfred, seakan mengatakan bahwa Alfred adalah miliknya dan akan selalu menjadi miliknya. Dalam hati ia benar-benar takut dan tidak ingin jauh dari kakaknya walau hanya sedetik. Dan Alfred yang sadar akan hal itu melirik Bella yang berjalan di sampingnya lantas tersenyum geli. Ternyata adiknya bisa bersikap posesif.


Alfred bukannya tidak sadar menjadi pusat perhatian semua orang. Dia hanya terlalu cuek dan tidak ingin peduli dengan keadaan sekitarnya, karena baginya tidak ada yang menarik untuk di lihat. Yang lebih menarik adalah segala hal yang berhubungan dengan adiknya.


"Aku benar-benar tidak suka mereka menatap kak Al seperti itu." Bella mendengus sebal menghentakkan tangannya agar terlepas dari gandengan kakaknya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan melengos dari Alfred dengan ekspresi masam, tidak ingin menatap pria itu.


"Huh?!" Alfred cengo. Adiknya tidak pernah seperti ini meski hal yang ia alami tidaklah hanya sekali ini. Apa Bella benar-benar sedang merajuk sekarang?


Ah, mood adiknya berubah menjadi buruk. Ia senang kalau ternyata adiknya memiliki sifat posesif terhadapnya. Alfred lalu berjongkok, menatap gadis itu yang masih melengos dengan bibir manyun. Kadang Bella akan diam-diam mencuri lihat Alfred lalu kembali menekuk wajahnya memasang pose kesal.


Lirik lagi, buang muka lagi. Begitu seterusnya sampai Alfred tertawa kecil saking gelinya dan Bella jelas mampu mendengarnya tertawa.


"Bella." Panggil Alfred, lembut.


"Apa!" Ketusnya. Semakin membuat Alfred justru terkekeh.


"Kau marah pada kakak?" tanya Alfred khas suara anak kecil. Bella ragu menjawab sebelum dia menggeleng keras sebagai jawaban tidak. Namun ekspresinya masih belum berubah dan masih membuang muka.


Alfred menghela nafas sejenak. "Lalu, kenapa memasang wajah seperti itu?"


"Kakak benar-benar tidak peka!" Sungut Bella mengomel sampai habis kesabaran. Alfred sontak mengernyit pura-pura tidak paham. "Bella kesal, kakak selalu di lihat semua orang. Bella benci. Bella tidak suka! Kenapa kakak tidak mengerti?!!" Racaunya.


Tubuh Alfred tersentak. Baru kali ini ia melihat adiknya sekesal itu hanya karena dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang. Meski ia sendiri tidak peduli menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi adiknya justru seakan mengatakan ia tidak boleh menjadi pusat perhatian apalagi berdekatan dengan orang-orang itu.


Alfred menarik tubuh mungil Bella dengan tangan besarnya. Mendekatkan tubuh Bella ke arahnya, merengkuhnya ke dalam pelukan penuh sayang.


Greepp


Alfred memeluk adiknya semakin posesif. Hingga membuat iris sapphire Bella membulat karena terkejut. Namun sedetik kemudian ia membalas pelukan sang kakak dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Alfred.


Dan drama cinta mereka pun menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan ada juga yang diam-diam memotret keduanya. Semua orang sekarang banjir darah karena mimisan melihat adegan yang jarang terlihat antara bapak muda dan anaknya, atau.... Antara kakak dan adik? Atau lebih parahnya mereka menyebut pria itu sebagai seorang pedophile.


"Dengar Bella. Kakak hanya milik kamu. Dan Bella milik kakak. Sampai kapanpun kakak hanya akan bersama Bella. Mengerti?" Titah Alfred, setelah itu dia melepaskan pelukannya. Bella mengangguk lantas kembali tersenyum. Melihat hal itu, Alfred langsung mengecup kening Bella singkat dan di akhiri di bagian bibir. Begitu juga Bella yang membalas sama dengan yang di lakukan kakaknya. Namun tiba-tiba Alfred menegang saat mendapati gadis itu tidak hanya mengecup kening dan bibirnya saja. Bella juga mencium kedua pipi Alfred, kedua kelopak mata setelah melepas kacamatanya dan terakhir hidung mancungnya.


"Kyaaaa!!" Jerit orang-orang yang memperhatikan mereka seakan hampir pingsan. Namun keduanya malah cuek bebek.


"Hehehe... Aku mencintaimu, kakak." Dan setelah mengatakan itu Bella langsung melenggang pergi dengan cengiran khasnya merasa puas. Gadis itu melompat-lompat bahagia dan tidak merasa bersalah telah melakukan hal itu pada kakaknya. Di tambah senyum cerianya yang ia tebar ke semua orang yang melihatnya. Salahkan saja Alfred yang sudah menodai otak polos Bella kemarin ketika ia mengeringkan rambut basahnya.


Alfred masih mematung tidak percaya. Apa adiknya juga mencintainya dalam artian yang berbeda? Seutas senyum muncul di garis bibirnya, ia lantas berbalik menatap punggung adiknya yang semakin menjauh pergi memasuki sekolah.


'Bolehkah aku berharap dia juga memiliki perasaan yang sama, Tuhan?'


.

__ADS_1


.


.


.


Bella tengah berdiam diri di balkon kamarnya. Memandangi langit gelap yang terlihat begitu cerah dengan penuh bintang bertaburan. Ia kembali bernyanyi dengan lagu yang sama seperti yang ia nyanyikan tempo hari, sambil mendongak menatap langit.


Alfred bermaksud ingin merebahkan diri di sofa ruang tamu sembari membaca novel yang baru di belinya, namun indra pendengarannya kembali menangkap suara adiknya yang tak bosan-bosannya menyanyikan lagu yang sama setiap saat.


Ia berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar di mana Bella berada. Semenjak Bella mulai berusia sepuluh tahun, dia memilih untuk tidur di kamar yang berbeda. Di mana kamar yang lain berada di lantai bawah.


Ketika ia hendak mengetuk pintu kamar adiknya, kepalan tangannya menggantung di udara. Alfred melihat adiknya yang ternyata berada di luar balkon tanpa menggunakan jaket ataupun mantel.


"Sedang apa kau di sana, Bella?" tubuh gadis itu tersentak lalu berbalik dan tersenyum, dia melihat sang kakak berada di belakangnya.


"Kakak!" Ia menjulurkan kedua tangannya ke depan seolah ia ingin Alfred memeluknya. Alfred berjongkok dan Bella langsung melingkarkan tangannya ke leher pria itu. Mengecup sejenak pipi Alfred lembut.


"Kakak kapan pulang? Kenapa aku tidak tahu?" Tanya Bella lembut, dia mempoutkan bibirnya manja.


"Baru saja. Kenapa di luar tidak memakai mantel, Huh?" Jawab serta tegur Alfred. Bella nyengir merasa bersalah, membuat kening Alfred mengernyit tidak mengerti.


"Di kamar panas. Pendinginnya sepertinya mati." Ujar Bella.


Oh benar. Alfred baru tersadar. Dirinya lupa untuk mengecek pendingin yang beberapa hari ini mati tidak berfungsi. Akhir-akhir ini cuaca menjadi panas setiap malam. Padahal di luar udaranya sangat dingin.


"Kakak lupa." Sekilas Alfred melirik arlojinya. Jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Sudah hampir larut malam. "Tidurlah. Sudah larut malam. Besok kau harus sekolah, bukan?"


Bella mendesah meringis membayangkan tidurnya akan terasa gerah kalau tidak ada pendingin. Mengerti dengan mimik wajah Bella, pria itu tersenyum maklum. Alfred mengusap ceruk pipi Bella lembut dengan ibu jarinya.


"Lepas bajumu, ganti dengan baju piyama yang tidak terlalu tertutup. Dan tidur."


"Huh?!" Bella memiringkan kepalanya tak paham.


"Ayo. Ikut kakak." Alfred menggandeng tangan mungil Bella yang masih belum mengerti itu untuk masuk ke dalam rumah.


Kadang ia merasa tak habis mengerti kenapa adiknya bisa sepolos ini di usianya yang terbilang sudah hampir 11 tahun. Padahal Bella memiliki otak jenius dalam urusan pelajaran. Namun dalam hal pemahaman kehidupan, gadis itu benar-benar masih polos. Tapi meskipun begitu, Alfred tetap merasa bersyukur. Dengan begitu Bella akan mudah ia atur.


Sesampai di kamar Bella, Alfred melepaskan tangan Bella dan berjalan ke arah lemari pakaian gadis itu. Matanya menjelajah ke dalam isi lemari adiknya itu, sebelum dia mengambil satu set pakaian dengan bahan yang bila di kenakan menimbulkan sensasi dingin di tubuh. Berbalik, Alfred berjalan mendekati Bella dan menarik tangan gadis itu untuk mendekat kepadanya.


Alfred menyodorkan piyama ke depan Bella, memberi isyarat melalui sorot matanya untuk memakainya. Tidak butuh waktu lama untuk Bella paham dengan isyarat tersebut sebelum dia mengambil alih satu set baju itu dari tangan Alfred.


Bella berbalik dan berlari kecil ke arah kamar mandi dalam kamarnya. Hanya butuh lima menit untuk Bella kembali dengan pakaian tidurnya.


"Tidurlah. Setidaknya itu bisa mengurangi gerahnya." Bella tersenyum berseri lalu mengangguk. Dia bisa merasakan sensasi dingin saat baju itu mengenai kulit tubuhnya.


"U-umb.." Ia berjalan ke arah tempat tidur, naik ke atasnya lalu merebahkan tubuh mungilnya dan menutup sebagian tubuhnya hingga dada dengan selimut. Alfred pun juga membantunya mengenakan selimut.


Benar kata Bella. Kamarnya memang menjadi panas. Di tambah ia yang memakai kaos lengan panjang. Alfred hendak merebahkan tubuhnya ketika di lihatnya Bella masih menatapnya penuh arti. Ia mengernyit.


"Kenapa Bella?"


"Huh?" Alfred melongo.


Bella berdecak. Sejak kapan kakaknya itu menjadi lemot untuk berfikir? Apa karena sering kumpul dengan temannya yang norak itu yang memiliki rambut model mangkok? Batin Bella asal.


"Apa kak Alfred tidak merasa gerah?" Bella dengan polosnya kembali bangkit dan mendekati Alfred menyuruh kakaknya itu untuk menegakkan tubuhnya. Tanpa ijin, Bella langsung membungkuk menyingkap pakaian Alfred tanpa permisi.


"Ha? Apa? Bella. Apa yang kau lakukan?" Alfred gelisah dan menjadi salah tingkah.


"Berisik. Diam dan biarkan Bella yang melakukannya untuk kakak!" Sergah Bella menggertak.


Ketika Bella hendak melepaskan pakaian Alfred, ia berjinjit untuk bisa melepaskan baju itu dari kepala juga tangan Alfred.


"Ugh!" Erang Bella, kesusahan. Dan itu membuat pria itu diam-diam menyeringai jahil.


Alfred mengangkat tinggi-tinggi tangannya agar Bella kesulitan melepaskan baju itu dari tubuh Alfred. Dan sontak saja tubuh Bella tanpa sadar terhempas maju hingga menempel pada dada bidang Alfred hingga merapat.


"Kakak.. Lepaskan bajunya." Sungut Bella putus asa.


"Baiklah, baiklah." kata Alfred santai. Namun, dia menyeringai jahil, sebelum...


Haap!!


"Eh?" pekik Bella menubruk tubuh Alfred saat pria itu menurunkan kedua tangannya ke depan, hingga membuat gadis itu yang memegang bisep Alfred hilang keseimbangannya dan jatuh ke dalam menimpa dada bidang Alfred.


Hal itu membuat posisinya berada di dalam pelukan Alfred. Pria itu memerangkap tubuh Bella ketika kedua tangannya yang belum sepenuhnya lepas dari lengan baju yang ia kenakan itu turun. Jadi Bella tidak bisa lari mundur. Ia benar-benar terkurung sekarang.


"Belum lepas Bella. Tuh." Alfred menyeringai tipis sembari menunjuk ke belakang tubuh Bella dengan dagunya.


Bella memutar kepalanya melihat sejenak lalu menatap Alfred dengan wajah tertekuk manyun.


"Kenapa tidak di lepas?!" Sungutnya lalu memutar tubuhnya.


Sekarang ia membelakangi Alfred dan menghempaskan pantatnya di pangkuan Alfred. Dengan telaten, Bella melepas baju Alfred. Ia mendongak menatap Alfred sambil tersenyum setelah berhasil melepas baju yang di kenakan oleh kakaknya itu.


"Nah. Sekarang kak Al tidak gerah lagi, kan?" Tukas Bella layaknya anak kecil. Alfred hanya menggeleng kepala saja lantas memeluk adiknya dari belakang.


Di rebahkannya tubuh mungil Bella dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur, sementara ia tidur menyamping di samping gadis itu sembari menumpu kepalanya dengan siku tangannya. Sejenak mereka hanya saling tatap saja.


"Terima kasih Bella." Bella hanya tersenyum seraya mengusap kedua pipi Alfred lembut.


"Jangan pernah tinggalkan Bella, kak." Celetuk Bella tiba-tiba. Alfred membeku sejenak sebelum tersenyum hangat.


"Tidak akan." ujarnya tegas.

__ADS_1


"Janji?" Bella mengacungkan jari kelingkingnya sebagai syarat untuk berjanji. Dan Alfred tidak ragu untuk mengaitkan jari kelingkingnya ke jari milik adiknya.


"Terima kasih, kak. Bella sayang kakak selamanya." Cicit Bella bahagia, lantas memeluk leher Alfred hingga membuat keseimbangan pria itu menghilang dan hampir jatuh menimpa adiknya bila dia tidak segera refleks menahan beban tubuhnya.


"Haha.. Kau nakal Bella."


"Hehe.. Tidak apa-apakan, kalau aku nakal sama kakak." Sahut Bella tanpa sadar.


Nakal di sini gadis itu artikan dalam hal nakal layaknya anak kecil. Namun bagi Alfred justru mengartikannya dengan arti yang lain.


"Benar. Dan Bella tidak boleh nakal dengan siapapun." Peringat Alfred posesif sembari menoel ringan hidung adiknya, yang di sahuti anggukan mantap oleh Bella selanjutnya.


Malam itu mereka habiskan dengan bercanda ria. Alfred yang menggelitiki Bella bukan dengan jari melainkan hidung juga wajahnya yang menguyel di perut Bella hingga membuat gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Bella yang menoel hidung Alfred dan mencubit pipinya. Ia beruntung karena sekarang kakaknya tidak sedang mengenakan kacamatanya dan membiarkan wajah aslinya yang tanpa kacamata terekspos dengan begitu tampan dengan garis wajah tegas serta guratan yang terpahat begitu indah. Membuat Bella beruntung memiliki kakak seperti Alfred. Bahkan ia selalu bersikap semakin overprotective terhadap Alfred tanpa di sadari olehnya.


Dan candaan mereka di akhiri dengan Bella yang langsung terlelap tidur dalam posisi tengkurap dan Alfred yang juga tertidur memeluk Bella memberikan rasa aman. Ia tersenyum mendengar dengkuran halus adiknya lantas mencium kening Bella lembut.


"Selamat malam, Bella. Tetaplah selalu di sisi kakak."


.


.


"Bella!!" Panggil suara tegas khas anak kecil dari depan rumah tempat tinggal Bella.


Alfred yang sedang menyiapkan sarapan bergegas keluar mengecek siapa yang datang.


Ceklekk!!


Obsidian bertemu onyx. Namun dengan tatapan yang berbeda. Onyx milik seorang anak seusia Bella itu menatap Alfred tajam penuh permusuhan.


"Ah, Edward. Kau rupanya, masuk dulu. Bella sedang bersiap-siap." Alfred membuka lebar pintu rumahnya untuk mempersilahkan Edward masuk ke dalam.


"Hm." Jawab Edward singkat. Dengan angkuh, pemuda itu masuk ke kediaman Alfred. Hal itu membuat Alfred tertegun untuk sesaat sebelum dia membenarkan letak kacamatanya.


"Kau sudah sarapan?"


"......?" hening, tidak ada sahutan dari pemuda itu.


Alfred cukup mengerti bahwa Edward tidak menyukai dirinya. Namun dia tidak mungkin membenci Edward juga, bukan? Kalau dia sampai membenci anak itu, maka berarti otaknya tidak waras karena sudah membenci seorang anak kecil. Bahkan jika Edward seumuran dengannya pun, dia tidak akan melakukan hal yang baginya tidak ada gunanya itu.


Alfred bahkan tidak tahu sejak kapan anak itu mulai tidak menyukainya. Yang ia ingat ketika Bella berusia empat tahun dan mulai bisa di tinggal sendirian di rumah tempat tinggalnya, Edward menjadi lebih sering sendirian. Alfred juga tidak sedekat layaknya kakak adik dengan Edward karena sifat Edward yang cenderung introvert.


Draapp.. Draapp.. Draapp..


Derap langkah berlari dari dalam tempat tinggal Alfred menggema hingga ke ruang tamu. Menampilkan sosok Bella yang sudah berseragam rapi.


"Sudah sarapan, Bella?" Alfred bertanya. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.


"Kotak makan siang?" Bella memperlihatkan kotak bekal yang hendak di taruhnya ke dalam tasnya ke arah kakaknya. Alfred tersenyum senang karena puas.


"Bagus. Ingat pesan kakak. Langsung pulang dan kabari kakak jika ada kepentingan. Jangan nakal, jangan terlalu banyak bergaul dengan laki-laki lain selain Edward." Edward yang merasa terpanggil mengernyit mendengar peringatan terakhir yang di ucapkan Alfred. Apa maksudnya? Batinnya.


"Jangan mampir kemana-mana, hormati gurumu, perhatikan pelajaran yang di berikan. Mengerti?" Edward memutar bola matanya jengah.


Tidak bisakah membiarkan Bella berbuat sesuka hatinya? Apalagi Bella itu seorang perempuan yang tangguh. Masih saja di atur-atur. Jaman sudah modern, okay?


"Ok kak. Akan selalu Bella ingat pesan kakak." Edward sontak sweatdrop di tempat menatap gadis itu bodoh. Bella polos atau bodoh?


"Dasar gadis bodoh." umpat Edward bergumam lirih. Dan hanya bisa di dengar olehnya.


"Bagus." Alfred mencium kening sang adik juga mengecup singkat bibir gadis itu. Tapi ketika Bella mengecup pipi Alfred, tiba-tiba tangan Bella di tarik oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Edward pelakunya. Edward tahu apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh Bella pada kakaknya.


"Ha? Eh? Astaga, Bella.." Alfred melongo melihat adiknya sudah di bawa pergi oleh Edward.


"Aku berangkat, kak!!" Seru Bella akhirnya pasrah di tarik paksa pemuda itu.


"Hati-hati di jalan, Bella. Ingat pesan kakak, Ok?" balas Alfred lantas geleng-geleng kepala.


"Edward, lepas!!" Jerit Bella meronta. Dan pemuda itu langsung saja melepaskan genggamannya dari tangan Bella seraya menaiki sepedanya tanpa berniat berbicara.


"Cepat!" ujar Edward, meninggalkan Bella seorang diri.


"Ya!!" Sahut Bella, ketus. Bibirnya bahkan komat kamit tak bersuara mengumpati pemuda itu.


Edward tahu Bella sedang menggerutu kesal hanya dalam sekali lirik. Namun ia acuhkan dan memilih mengayuh pedal sepedanya lebih dulu meninggalkan gadis itu. Mulut Bella terbuka tidak etis dengan sorot mata tidak percaya kalau Edward benar-benar akan meninggalkan dirinya.


"Edward, tunggu aku!" Seru Bella berteriak. Cepat-cepat ia menaiki sepedanya untuk menyusul Edward. Sepeda bekas milik kakaknya yang kata Alfred adalah pemberian dari ayahnya.


Butuh waktu 20 menit dari rumah mereka untuk sampai ke sekolah. Setelah memarkirkan sepeda, mereka langsung bergegas mengecek pembagian kelas mereka. Beruntung kelas mereka berada di kelas yang sama. Dan Edward meminta Bella untuk duduk sebangku dengannya.


"Kenapa aku harus duduk di sebelahmu, huh?!" Sungut Bella protes.


"Kau tidak ingat apa yang di katakan kakakmu tadi pagi?" Timpal Edward, mencari alasan.


"Oh.... ya ya ya. Aku ingat." Dan Bella lantas bungkam di buatnya. Tanpa berniat untuk protes lagi, Bella langsung duduk di samping Edward dengan pasrahnya.


Edward? Dia malah tertawa setan dalam hati sebab akhirnya dia bisa menjahili gadis itu.


"Hm, bodoh!" Lirihnya. Menyeringai senang. Tapi memang ada benarnya juga tentang alasan yang di berikan oleh Edward untuk Bella.


Bersyukurlah karena kapasitas otak Bella cenderung polos. Jadi mudah untuk di bodohi olehnya setiap saat. Dasar licik. Ada kalanya memang, otak Bella akan menjadi jenius bila menyangkut pelajaran. Tapi bodoh dalam hal logika kehidupan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2