Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Honeymoon!


__ADS_3

Sesampainya di London, Alfred dan Bella segera menuju ke hotel tempat mereka akan menginap. Sebelumnya, pria itu telah memesan akomodasi sebelum dia berangkat ke kota London, Inggris itu.


Saat mereka tiba, salju sudah mulai turun dan menebal di kota tersebut. Beruntung Alfred segera meminta Bella untuk mengenakan pakaian berlapis dan juga mantel. Meskipun demikian, melihat ke antusiasan Bella yang sangat bersemangat membuat dirinya melepaskan kekhawatirannya.


Perjalanan yang mereka tempuh dari kota Washington DC ke London kurang lebihnya enam sampai tujuh jam. Ketika dia berangkat pukul delapan lebih dua puluh menit di pagi hari, mereka sampai di tempat akomodasi yang telah di pesan sebelumnya pada pukul delapan malam.


Seorang pria dengan jas rapi datang menghampiri Alfred. Menyambutnya ramah sebelum seseorang yang lain mengantarkan mereka ke kamar penginapan mereka.


Ruang kamar mereka cukup besar dengan gaya Victoria. Desainnya tampak biasa saja, namun bagi Bella kamar mereka sangat indah.


"Dingin?" Alfred menatap Bella cemas. Dia berinisiatif untuk memeluk gadis itu dari belakang. Pria itu bahkan harus membungkuk hanya untuk bisa menyandarkan dagunya di bahu Bella.


Bella menggeleng, sedikit menoleh ke arah kepala Alfred yang berada di bahu kirinya. Hal itu membuatnya hampir mencium pipi kanan Alfred. Namun siapa yang peduli. Gadis itu mengangkat telapak tangan kirinya untuk menyangga kepala Alfred, lantas gadis itu mencium sayang pipi kanan Alfred yang tepat menempel pada pipi kirinya.


Alfred tersenyum memejamkan matanya, mencoba untuk menghayati perlakuan Bella yang begitu lain dan semakin dewasa.


"Ada kamu. Aku tidak lagi merasa dingin." jawaban Bella membuat Alfred mendengus geli sembari tertawa kecil.


"Kau mulai pintar merayu, heh?"


"Hehe... Kau yang mengajarinya." timpal gadis itu dengan dagu terangkat sombong. Lalu dia terkekeh bersama dengan Alfred yang tiba-tiba saja menciumnya.


TOK TOK TOK


Suara ketukan pintu mengintrupsi kegiatan keduanya untuk saling mengalihkan perhatian mereka pada pintu.


"Sebentar. Mungkin itu makan malam yang kita pesan?" Bella bergeming ketika Alfred berbalik untuk membukakan pintu masuk dan mulai melepaskan pakaian luarnya yang sedikit mengganggu pergerakannya.


"Makanan yang anda pesan, tuan."


"Oh, terima kasih." Alfred membukakan pintunya lebar-lebar memberikan petugas itu akses untuk masuk agar membawa makanan pesanan mereka ke dalam.


Setelah Alfred memberikan uang tips dan mengucapkan terima kasih, Alfred mengantarnya keluar, lalu masuk sembari membuka mantel tebalnya.


Cuaca di luar sangat dingin, tapi di ruangan ini benar-benar memiliki penghangat ruangan yang efektif. Bella sudah duduk dengan kaki bersila di atas sebuah sofa tanpa penyandar di depan tempat tidurnya. Di hadapannya, beberapa hidangan makan malam tersaji di atas meja. Ketika melihat Alfred kembali, dia melirik sekilas Alfred sembari mengambil secangkir coklat panas.


"Emm... Enak. Alfred, sini. Duduk di sini." Bella menepuk beberapa kali sofa di sampingnya. Pria itu tentu saja menurut dan duduk di samping gadis itu.


Sebuah tontonan spongebobs di layar televisi menemani makan malam mereka. Bella tidak henti-hentinya tertawa ketika melihat squidward yang di aniaya oleh makhluk kuning dengan banyak lubang pori-pori itu berkali-kali. Sementara Alfred, dia menyangga piring di tangannya sambil sesekali menyuapi gadis itu.


"Makan dulu." Alfred menyodorkan sesuap pie daging dari tangannya sendiri. Satu sendok untuk makan berdua. Bella bahkan tidak mempermasalahkannya. Hal itu justru membuatnya merasa sangat istimewa.


"Kamu juga harus." kali ini giliran Bella yang mengambil alih sendok dari tangan Alfred dan mengambil satu suapan untuk pria itu. "Aaaa...."


Alfred ragu ketika Bella hendak menyuapinya, dia melirik Bella yang menunggu. "Ayo... Makan." seru Bella memerintah.


Dan mau tidak mau, Alfred menerima suapan itu, membuat Bella tersenyum puas. "Lagi, lagi.." ketika gadis itu hendak mengambil kembali sesendok pie daging, tangan Alfred menahan tangannya, Bella mendongak menatap mata Alfred meminta penjelasan.


"Giliran aku yang menyuapimu, kan?" Bella tersenyum hangat lalu membiarkan Alfred mengambil alih, dan kembali keduanya saling bertukar posisi saling menyuapi satu sama lain.


"Haㅡah.... Aku kenyang." Bella merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, Alfred tersenyum tipis lalu mendekati gadis itu.


"Jangan tidur dulu setelah makan. Ayo, cuci tangan dan gosok gigi dulu." sontak Bella bangkit dan duduk bersila, bibirnya cemberut dengan wajah tertekuk masam. Dia mulai merajuk. Membuang wajahnya dari Alfred dan mengabaikan pria itu.


"Hey, ayo." gadis itu menggeleng tanpa bersuara. Alfred sedikit terkejut dengan perubahan mood Bella yang mendadak merajuk. "Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?"


Pria itu membungkuk dengan posisi yang sangat dekat dengan Bella. Suara lirih mendayu. Namun gadis itu tetap bergeming. Alfred tersenyum tipis, perlahan dia memegang kedua bahu Bella hingga tubuh gadis itu terkesiap. Kedua tangan Alfred mulai turun dari bahu Bella ke lengan tangan, hal itu membuat Bella merasakan sensasi geli dan merinding ketika jari-jari tangan Alfred menyentuhnya, bahkan dia mampu merasakan hembusan nafas Alfred yang sangat dekat dengan wajahnya.


Sontak saja, wajah gadis blonde itu seketika memerah seperti kepiting rebus.


'Gawat. Bukankah ini artinya... Hah! Tidak, tidak, tidak...' hatinya terasa malu seketika dengan pemikiran otaknya yang mendadak kotor. Perlahan gadis itu memejamkan matanya, degub jantungnya berdebar seiring hembusan nafas Alfred yang semakin terasa dan semakin dekat. Hingga...


GREEP!!


Alfred meraih kedua tangan Bella dan membimbing kedua tangan itu untuk melingkar di lehernya, sebelum pria itu memegang kedua pantat Bella dan mengangkatnya tinggi di depan tubuhnya dengan kedua kaki Bella yang melingkar di kedua sisi pinggang Alfred. Posisi itu seperti menggendong bayi monyet sebelum pria itu membawa tubuh Bella masuk ke dalam kamar mandi.


Bella yang tersadar hanya bisa menatap Alfred terkesima lalu membuang pandangan matanya dan menyembunyikan ekspresi malunya di ceruk leher Alfred, memeluk pria itu erat-erat.


Sampai di dalam kamar mandi, Alfred merebahkan pantat Bella di atas wastafel. Mendorongnya hingga punggung gadis itu menyentuh kaca di belakangnya. Posisi mereka masih begitu intim dengan Bella yang tidak mau melepas pelukannya dari leher Alfred.


"Kau masih tidak ingin melepaskan tanganmu dari leherku?" goda Alfred dengan suara serak sensual.


"Tidak." Bella menolak, melemparkan tatapannya ke arah lain dan tidak ingin menatap bola mata suaminya.


Alfred terkekeh lembut. "Bella." pria itu memanggilnya sembari memaksa dagu Bella untuk memutar dan menghadap wajahnya. Kedua kening mereka saling menempel, dan hidung mereka saling bertemu. Nafas keduanya saling bertukar satu sama lain.


"Jangan buat aku ingin memakanmu sekarang." kata-kata sensual Alfred mendadak membuat tubuh Bella meremang dan memanas, gadis itu menelan ludah kering karena gugup. Namun Alfred yang mulai sadar tingkahnya sudah keterlaluan segera menjauhkan diri dari gadis itu. Melepaskan lingkaran tangan Bella dan membimbing gadis itu untuk menjauh perlahan.


Setelah terlepas, Alfred hanya bisa tertawa diam-diam melihat Bella yang diam seperti patung di tempatnya tanpa sedikit pun berkedip. Alfred mengambil sikat gigi dan memberikan sedikit pasta gigi pada bulu sikatnya, lalu mengambil tangan kanan Bella untuk memegang sikat itu.


"Sikat gigimu dulu, lalu tidur. Besok pagi baru kita akan jalan-jalan ke luar, okay?" Bella terkesiap dan menatap Alfred yang tersenyum ke arahnya dengan tangan memerangkap tubuhnya.


"Aku akan mandi sekalian." celetuk Bella.


"Okay, biar aku siapkan handuk dan kimononya. Tunggu sebentar."


"Emm..." gumam gadis itu membiarkan Alfred keluar kembali dari kamar mandi.


Setelah Alfred mengambil handuk untuk Bella, gadis itu lantas segera menyelesaikan ritual mandinya. Lalu kemudian Alfred berikutnya. Malam ini keduanya hanya tidur setelah selesai membersihkan diri. Tidak melakukan aktivitas apapun, dan terlelap tidur lebih cepat dari biasanya.


************


Keesokan harinya, Bella memakai sweater rajut turtleneck warna hitam lengan panjang yang hampir menutupi setengah telapak tangan, celana jeans hitam dengan bahan wolf di dalamnya, di tambah coat putih dan sepatu mid-calf boots putih. Dia juga memakai scarfs merah.


Tidak jauh berbeda dengan Alfred yang memakai baju berwarna hitam dan coat putih dan scarfs merah. Membuat penampilan mereka seperti couple.


Alfred dan Bella lalu berkeliling ke kota London dengan menaiki bus bersusun merah yang terkenal di kota tersebut. Yang biasa di gunakan untuk memandu para tourist.


Keduanya duduk di bus tingkat dua. Menikmati keindahan kota London yang kini di selimuti oleh salju putih. Tidak bisa di pungkiri bahwa suhu pagi itu benar-benar hampir membuat mereka membeku karena kedinginan. Tapi hal itu tidak menurunkan keinginan mereka untuk menikmati suasana kota London.


Sampai di Westminster Bridge yang merupakan salah satu icon kota London yang tidak boleh terlewatkan oleh semua wisatawan, keduanya turun. Di atas jembatan yang tertutupi salju putih inilah mereka disuguhi oleh pemandangan indah dari Big Ben dan istana Westminster itu sendiri di kota London yang tertutupi salju. Selain itu mereka juga bisa menikmati keindahan dari Sungai Thames yang terhampar luas. Karena suhu di luar ruangan London bisa mencapai 3 derajat celcius, mereka harus benar-benar mampu menahan dingin yang menusuk tulang.


Alfred meminta Bella untuk memotretnya di jembatan itu, pria itu bahkan sudah bergaya sedemikian rupa bersiap untuk di foto oleh Bella. Tapi siapa yang akan menduga bahwa Bella akan melakukan keusilan dengan mengganti latar kamera di smartphone Alfred menjadi kamera depan? Hal itu justru bukannya memotret Alfred yang sudah bergaya bak model, tetapi Bella memotret untuk dirinya sendiri dengan sikap tanpa dosa. Haha... (o≖◡≖)


"Bagaimana, apa itu terlihat bagus?" kata Alfred, mendekati Bella. Gadis itu bergumam dengan ekspresi berfikir. Dia menyerahkan smartphone milik Alfred kembali dan perlahan menjauh dari pria itu.


"Hmm..." Alfred membuka galeri fotonya, dan... Dia speechless. Menoleh ke arah Bella yang sudah menjauh darinya tengah menahan tawanya.

__ADS_1


"Bella...."


"Hahaha... Piisss..." gadis itu tertawa dengan dua tangannya yang membentuk huruf 'V'. Alfred sontak mendekat ke arah Bella dan menangkup kedua pipinya lantas menggesek hidungnya pada hidung gadis itu membuat Bella berjengit karena perlakuan tiba-tiba Alfred padanya.


"Bagaimana bisa kau sejahil ini, heh?! Astaga.." desis Alfred geregetan. Gadis itu hanya memekik lantas tertawa mengernyitkan hidungnya. Di ikuti pria itu yang kemudian merangkul bahu Bella dan memutar tubuh gadis untuk meneruskan perjalanan mereka.


Keduanya kembali berjalan mengelilingi Westminster Bridge sembari bersenda gurau. Saling memotret satu sama lain, dan mencoba meminta seseorang untuk mengambil foto mereka secara full.


Berjalan lurus melalui Westminster sendiri, keduanya sampai di Southbank. Di mana Southbank merupakan sisi dari Sungai Thames. Mereka terus berjalan menikmati jalanan indah Kota London dari sisi Southbank yang tepat berada di sebelah Sungai Thames yang bersebarangan dengan Westminster. Jalanan yang mereka berdua lewati tertutup oleh salju putih bak karpet, dan tidak jauh dari sana, terdapat beberapa bangku taman khusus agar orang-orang yang ingin menikmati pemandangan indah kota London yang beku karena musim dingin bisa duduk santai di sana. Alfred dan Bella juga bahkan tidak jarang menjumpai seorang anak kecil bersama dengan anak anjingnya tengah bermain dan membuat manusia salju dari salju yang ada di sekitarnya dengan riang.


Alfred melirik Bella yang masih menatap anak kecil yang berada tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri, lantas tersenyum tipis. "Kau juga ingin bermain?"


Bella terkesiap hingga terlonjak mundur ke belakang, "Tidak. Aku hanya ingin melihat anak itu saja." elaknya.


"Kalau mau, akan aku temani." ujar Alfred, menawarkan diri. Bella tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.


"Kita bisa main itu lain waktu."


Kebetulan, tidak jauh dari tempat mereka ada sebuah tempat dengan nama Southbank Center. Setiap tahunnya, tepat ketika musim dingin tiba, sebuah Winter Festival akan di adakan di Southbank Center itu sendiri. Di sana para wisatawan bisa menikmati berbagai spot menarik yang bisa di jadikan waktu untuk bersantai di musim dingin di Kota London ini. Winter Festival yang diadakan di Southbank tepi sungai Thames ini menawarkan beberapa kegiatan yang bisa di lakukan semua orang, mereka bisa ice skating, minum anggur dari beberapa pondok kayu yang ada disana.


Di pondok kayu yang menyediakan berbagai menu makanan dan anggur, Alfred memesan beberapa menu untuk sarapan mereka dan di tambah dua gelas coklat panas.


"Mau coba bermain ice skating?" ujar Alfred di sela-sela makan.


"Boleh." jawab Bella singkat. Alfred menatap gadis itu hangat. Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri Bella.


Bahkan setelah mereka menikah. Gadis itu berusaha untuk menjadi sosok gadis yang menjelma sebagai seorang wanita dewasa yang pantas untuk dirinya. Meskipun hal itu tidak tampak di paksakan oleh gadis itu, tapi Alfred yakin Bella pasti merasa sedikit kurang nyaman.


"Bella, Apa yang belum sempat ku katakan, aku ingin katakan sekarang bahwa..." ucapan Alfred menggantung, dia menatap Bella teduh seraya menyelipkan helai rambut Bella ke belakang telinga.


Gadis itu merona menatap Alfred salah tingkah, "Kau selalu ada di hatiku Bella, dan hanya bayanganmu yang selalu ada di mataku."


Aiyoo.... Sejak kapan kakaknya itu bisa merayu sepuitis itu? Astaga... Jantung Bella bahkan berdegub begitu kencang saat kata-kata puitis itu terlontar dari bibir Alfred, membuat Bella tidak mampu berkata-kata.


Dengan mengangkat dagu penuh percaya diri, Bella mencoba untuk memberanikan diri menatap mata Alfred intens. Gadis itu tersenyum dengan sorot mata dalam, seolah dia mampu memyelami obsidian milik Alfred dan memahami isi di dalamnya. Bella semakin berani dan hal itu membuat Alfred sedikit terkejut. Bella-nya... Benar-benar sangat berbeda.


"Kalau begitu... Aku akan lahir seratus kali untukmu, dan aku akan mati hanya dalam cinta yang kamu berikan untukku di setiap kelahiranku." celetuk gadis itu dengan suara khas wanita dewasa. Alfred sontak terkekeh menunduk dalam. Bagaimana Bella-nya bisa mengatakan hal semacam itu? Siapa yang mengajarinya.


"Lahir seratus kali?" beo pria itu menatap gadis itu dengan senyum tertahan.


"Hm.. Hm.." Bella mengangguk masih tersenyum penuh arti. Seolah dia sedang mengagumi makhluk Tuhan paling tampan di dunia ini yang kini sedang berada di depannya. Aiihh... Suaminya kelewat tampan.


(/▽\)


"Kalaupun harus hidup berkali-kali, aku tidak takut pada dunia." ujar Bella menambahkan.


"Kenapa?" pria itu mengernyit.


"Karena ada kamu yang selalu di sampingku." jawab Bella. Dia tersenyum tipis namun malu-malu ke arah Alfred, "tapi, berjanjilah padaku Al. Jangan pernah tinggalkan aku." imbuh gadis itu dengan raut wajah merajuk.


"Aku tidak akan." jawaban Alfred membuat hati Bella melunak seketika dengan perasaan lega. Dia percaya bahwa Alfred tidak akan pernah meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini.


Bella terdiam dengan pikirannya sendiri. Dia ingat ketika orang-orang mengatakan bahwa dirinya sudah gila dan Bella tidak tahu kenapa orang-orang mengatakan demikian. Ketika mereka mengecam hubungannya dengan Alfred yang lebih tua sembilan tahun darinya itu, mereka menganggapnya bodoh. Bella sendiri sadar, dirinya telah terjatuh terlalu dalam dan sudah membiarkan hatinya pergi, dia bahkan tidak mampu mendengarkan sama sekali apa pendapat orang tentangnya dan tentang Alfred.


Dia tanpa sadar memberikan ketenangannya pada kegelisahan, dan sudah memberikan tidur lelapnya untuk kesetiaannya kepada pria itu.


'Ini adalah janji untuk janji. Aku hidup hanya karenamu'. Batin gadis itu melirik Alfred diam-diam. Bahkan untuk jatuh cinta lagi dengan yang lain, rasanya dia tidak pernah memikirkan ataupun membayangkannya. Dan tidak akan pernah terjadi di dalam hidupnya.


Berkali-kali Bella terjatuh karena kehilangan keseimbangan, berkali-kali pula Alfred membantunya untuk bangkit dan memberikan semangat. Dengan telaten gadis itu belajar dan lambat laun, dia mulai berjalan seimbang menggunakan sepatu ice skate-nya sendiri. Melihat kemajuan Bella, Alfred tanpa malu-malu bertepuk tangan hingga Bella tertawa malu-malu.


Ketika sudah tengah hari, Alfred memutuskan untuk mengakhiri kunjungan mereka di Southbank Center dan berpindah ke Hyde Park Winter Wonderland. Lokasi ini adalah tujuan Natal yang paling spektakuler di kota London ketika natal tiba. Winter Wonderland terletak di jantung kota London di Hyde Park. Sebagai salah satu dari 8 Taman Kerajaan di ibukota, Hyde Park dikunjungi oleh jutaan warga London dan wisatawan setiap tahun. Ini adalah rumah bagi sejumlah landmark terkenal termasuk Danau Serpentine, Speakers 'Corner dan Diana, Princess of Wales Memorial Fountain.


Winter Wonderland sendiri biasanya akan di buka pukul empat sore pada tanggal 21 November, kemudian dibuka setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam. Di sana menawarkan beragam atraksi, aktivitas, dan hiburan bagi pengunjung dari segala usia.


Di Winter Wonderland, mereka memiliki sejumlah atraksi yang dapat dipesan sebelumnya. Hal itu bisa memberikan pengalaman meriah penuh bagi setiap pengunjung hingga puas. Alfred sendiri sebelum datang ke Wonderland sudah memesan tiket permainan itu jauh-jauh hari agar bisa menikmatinya tanpa harus membeli lagi ketika berkunjung.


Berseluncur di Ice Rink outdoor terbesar di Inggris, mengikuti perjalanan ke The Magical Ice Kingdom. Lalu bergabung memainkan Paddington dalam petualangan besar Paddington™ on Ice, kemudian menonton aksi menjatuhkan rahang di Circus MegaDomeㅡZippos & Cirque Berserk, menikmati pemandangan spektakuler yang lebih tinggi dari Giant Observation Wheel, lantas bergabung bersama keluarga yang asik dengan Tn. Men and Little Miss dalam The Show, di temani minum koktail meriah di Bar Ice, mencoba pengalaman karaoke terbaik di Bar Hütte, dan masih banyak wahana lainnya. Alfred memesan semuanya agar Bella bisa menaiki wahana dan pertunjukan yang di suguhkan itu.


Kehidupan sehari-hari yang monoton dan dingin membosankan akan terpuaskan dengan memasuki dunia sihir musim dingin di Winter Wonderland tersebut.


Winter Wonderland sendiri tidak di pungut biasa untuk tiket masuknya, atau bisa di bilang gratis. Namun, tetap saja untuk menikmati setiap wahana yang ada, pengunjung akan di kenai biaya sesuai tarif yang telah di tentukan.


Jika saja mereka datang di pagi hari, itu akan sangat bagus untuk beberapa keluarga di mana mereka dapat menikmati Winter Wonderland dengan suasana santai.


Karena Alfred dan Bella datang tidak terlalu pagi dan sore, tempat itu tidak begitu ramai dan sedikit orang yang masih mengantri untuk bisa menaiki sebuah wahana permainan.


Alfred lantas menggenggam tangan Bella erat. Tidak tanggung-tanggung pria itu akan membiarkan Bella memilih wahana apa yang dia ingin naiki. Atau hanya sekedar ingin menikmati wisata kuliner yang di sediakan di restoran, Cafe, warung makan jalanan atau hanya mengunjungi bar bertema dengan di temani musik live dari beberapa penyanyi lokal.


Gadis blonde itu lebih menyukai menikmati wisata kuliner mereka daripada mencoba berbagai wahana-wahana itu. Meskipun begitu, dia tetap tertarik untuk mencoba wahana.


Ketika mereka berjalan, keduanya tidak sengaja mendengar seorang pengamen jalanan yang tengah memainkan sebuah alunan musik romantis berirama ceria. Alfred tiba-tiba saja memiliki ide untuk menarik Bella ke depan pengamen tersebut, bergaya seolah dia seorang pangeran yang meminta seorang putri untuk menemaninya menari.


Di saksikan oleh puluhan orang yang menonton, dengan malu-malu Bella menerima ajakan Alfred untuk menari. Tubuhnya di tarik oleh Alfred hingga berputar ke arah pria itu sebelum Alfred menangkap pinggangnya dengan begitu elegan. Orang-orang bersorak riang melihat atraksi mereka.


Alfred menarik tangan gadis itu mengikuti irama lagu sembari bernyanyi, meresapi setiap lagu yang telah dia kenal dan memperlakukan gadis itu begitu romantis. Hanya beberapa gerakan berputar dan menarik ulur, sebelum Alfred dan Bella membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada orang-orang sebelum dia menaruh beberapa lembar uang ke dalam box yang di sediakan oleh pengamen itu.


Orang-orang bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan pasangan baru itu, sebelum akhirnya Alfred meninggalkan tempat itu dengan Bella yang di gendong oleh pria itu di punggungnya. Keduanya tertawa lepas dan kembali berjalan meninggalkan tempat stand pengamen jalanan itu.


Pandangan Bella jatuh pada bazaar kostum putri di disney. Dia menepuk beberapa kali bahu Alfred untuk meminta perhatian sebelum pria itu akhirnya berhenti.


"Aku ingin kesana, Al." pandangan Alfred mengikuti arah yang di tunjuk oleh Bella. Dan dia menuruti keinginan gadis itu.


Sesampainya di sana, Bella memilih kostum putri salju dan Alfred kostum seorang pangeran dengan atributnya berupa mahkota dan pedang.


Bella keluar dengan sikap anggun dari ruang ganti, dia melambaikan tangan kirinya seolah meminta pangeran untuk meraih tangannya. Namun, Alfred yang keluar dari belakang Bella berpura-pura tidak melihatnya dan melewati gadis itu dengan dagu terangkat dan dada membusung bak ksatria. Hal itu membuat Bella melotot dan menepuk bahu Alfred cukup keras dengan wajah kesal.


Alfred menjentikkan dagunya seolah bertanya 'Ada apa?' dan Bella memberi isyarat untuk membungkuk dan menekuk lengan tangannya untuk menyambutnya. Alfred tentu saja mengerti dan langsung melaksanakan perintahnya, bak seorang pangeran yang menggandeng seorang putri cantik, keduanya mulai berjalan dengan Bella yang melambaikan tangan kanannya seakan menyambut para rakyat, dan Alfred yang menghunuskan pedang tajam miliknya ke atas seakan memperingatkan orang-orang bahwa putri di sampingnya adalah miliknya.


Keduanya saling menatap dengan elegan dan berwibawa, tidak peduli kini mereka menjadi perhatian orang-orang yang melihat kelakuan absurb mereka, Alfred dan Bella mendadak tertawa lepas merasa geli dengan tingkah mereka berdua.


Puas dengan kegilaan mereka, Bella membawa Alfred untuk mengantri membeli es krim di penjual jalanan. Di depan mereka ada seorang pria bertubuh kekar berwajah sangar. Melihatnya membuat Bella melirik Alfred dengan senyum jahilnya. Dia perlahan memegang tangan kanan Alfred dan mendorong telapak tangan pria itu untuk menepuk pantat pria kekar di depannya.


"Ppfft... Hh.." Alfred mendelik ke arahnya, namun Bella masa bodo. Pria kekar itu membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pelaku pelecehan atas dirinya itu. Alfred tersenyum kikuk ke arahnya. Namun dia tidak kehabisan akal, meskipun pria itu menatapnya dengan tampang garang, namun instingnya mengatakan bahwa caranya kali ini pasti benar.


Alfred memperagakan sebuah remasan melalui kedua tangannya dan ekspresi sensual yang seolah merasakan kenikmatan, lalu membentuk isyarat Ok dengan jari telunjuk dan ibu jarinya ke arah pria itu. Siapa yang akan menyangka bahwa pria di depan Alfred itu ternyata adalah seorang Gay.


Bella cengo dengan tampang bodoh ketika tiba-tiba pria kekar itu tersenyum manja ke arah Alfred dan memberikan es krim miliknya yang belum sempat di makan untuk Alfred. Pria itu mengisyaratkan 'telepon aku' dengan tangannya.

__ADS_1


"Jangan lupa. Bye bye.." pria itu melambaikan tangan, pergi dengan masih tersenyum menatap Alfred genit.


"Okay bye." Alfred menjilat nikmat es krim pemberian pria itu di depan Bella sebelum dia meninggalkan Bella seorang diri dengan tawanya yang terpingkal-pingkal. Sementara Bella, dia merasa gonduk di antrian es krim sambil menunggu penjual itu memberikan satu corn es krim.


"Hahaha...." tawa Alfred masih belum juga reda. Dan Bella hanya bisa cemberut membuang muka. "Aduh, sayang. Jangan membuatku tertawa lagi, okay? Ini terlalu buruk. Hahaha...."


"Diam!" bentak Bella hilang kesabaran. Tapi Alfred masih tidak mampu untuk menghentikan tawanya. Dan melihat hal itu, Bella menatap Alfred dengan wajah tertekuk masam sebelum akhirnya ikut tertawa.


Dia sendiri tidak menyangka bahwa pria yang dia lecehkan adalah seorang gay.


Di malam hari, Hyde Park ditransformasikan oleh ribuan lampu berkilau. Alfred dan Bella memilih untuk menikmati bir Bavaria.


Sepulang dari jalan-jalan, keduanya bergegas ke kamar. Entah kenapa, Bella ingin sekali menari dengan Alfred. Jadi gadis itu tiba-tiba memainkan musik romance dan mulai mendekati Alfred dengan agresif. Mengajak pria itu kembali berdansa. Melompat ke atas dan Alfred menangkap tubuhnya, merosot perlahan dan menahan wajah mereka terus menempel satu sama lain.


"Hahaha... " keduanya tertawa.


"Aku bahagia hari ini." desah Bella puas.


"Aku juga." pria itu mencium wajah gadis itu lembut berkali-kali dengan hembusan nafas berat menerpa wajah gadis itu.


Malam semakin larut, dinginnya cuaca musim dingin membuat orang-orang ingin sekali menghangatkan tubuh mereka di depan api unggun. Namun, bagi insan yang baru saja menikah, penyatuan menjadi pilihan yang paling utama.


Alfred menurunkan tubuh Bella tanpa melepaskan gadis itu dari pelukannya. Hal itu membuat dua gundukan milik Bella menyentuh dagunya sebelum menekan dadanya dan terus bergesekan. Nafas keduanya mulai memberat tanpa mau melepaskan kontak sentuhan tubuh mereka.


Pria itu perlahan membelai pipi Bella, mengusapnya dengan gerakan sensual, lalu membelai rambutnya, menurun ke bawah telinga dan mengusap leher bagian belakang telinganya perlahan. Alfred tidak ingin membuat Bella melakukannya terlalu cepat, tapi dia juga ingin membimbing gadis itu perlahan.


Bella jelas mengerti apa yang akan di lakukan oleh Alfred selanjutnya. Sebagai seorang istri, dia tidak bisa menolak keinginan suaminya. Maka dari itulah, dirinya mulai pasrah dan menikmati perlakuan pria itu ketika tubuhnya mulai melayang di udara.


Alfred membawa tubuh Bella ke atas tempat tidur dengan gaya ala bridal style. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan kening saling menempel. Perlahan pria itu merebahkan tubuh Bella ke atas tempat tidur, menekannya dengan lembut dan mulai mengecupi seluruh wajahnya, melumat bibir ranumnya lambat sebelum menjadi cepat.


Desahan indah mulai lolos dari bibir Bella seolah lagu lullaby merdu pengantar tidur bagi Alfred hingga terbuai ketika kedua tangan pria itu tidak menganggur untuk membelai kulit halus Bella. Membelai seluruh tubuh Bella dan melucuti satu persatu pakaian wanitanya dengan lembut.


Bella di buai kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat bersama dengan pria di atasnya itu. Melihat ekspresi liar Alfred yang belum pernah dia lihat, membuat jantungnya berdegub kencang dengan hati yang malu-malu. Kedua pipinya merona semakin memerah. Hasrat memuncak dari dalam tubuhnya, hingga tanpa sadar gadis itu mulai menyerang Alfred, menginginkan lebih.


Alfred terkejut, namun dia menyeringai sebelum tersenyum. Melihat Bella yang menciumnya secara agresif seperti ini, dia yakin bahwa gadis itu telah siap.


Malam ini, adalah malam di mana keduanya saling menyatukan kedua hati mereka. Memadu kasih penuh cinta meluapkan segala hasrat yang selama ini mereka pendam.


*************


Keesokan harinya, Bella bangun dengan perasaan malu namun bahagia. Alfred yang sudah terbangun lebih dulu masih berpura-pura tertidur ketika melihat pergerakan kelopak mata Bella yang hendak terbuka.


Ketika wanita itu terbangun, hal yang membuatnya sangat malu dengan pipi merah merona adalah posisi tidurnya yang berhadapan dengan Alfred begitu dekat. Tidak hanya itu, hal itu di lakukan oleh mereka dengan tubuh yang masih tanpa tertutupi oleh sehelai benang. Itu membuat kulit hangat mereka saling bersentuhan dan tubuh Bella mendadak berdesir.


"Jangan bergerak." celetuk Alfred tiba-tiba. Bella terkesiap menatap Alfred yang masih memejamkan mata. Apakah pria itu sudah terbangun? Atau... Jangan-jangan pria ini sudah terbangun sedari tadi dan hanya berpura-pura masih tidur? Bella semakin malu dan tidak berani untuk menatap bola mata Alfred.


Pria itu membuka salah satu matanya, tersenyum lantas membuka kedua matanya. "Selamat pagi." katanya dengan suara serak.


"Em.. S-selamat pagi." balas Bella gugup.


Alfred terkekeh merasa lucu, "Hey! Ucapan apa itu? Mana ciuman selamat pagi untukku, Bella." godanya


"I-itu.. Emm..." Alfred tidak tahan dan menarik tubuh Bella semakin masuk ke dalam dekapannya. Menghela nafas, Alfred mencium kening Bella lembut, sebelum membimbing dagu wanita itu untuk mendongak ke atas, menatap dirinya. Dan dengan sekejap, Alfred mendaratkan ciuman selamat pagi di bibir Bella dengan sedikit lumatan cukup lama sebelum melepasnya.


"Morning kiss." Alfred tersenyum hingga menular ke wanita itu yang juga ikut tersenyum padanya.


Bella hanya bisa tersenyum hangat sembari memeluk tubuh Alfred semakin erat. Seolah-olah, dirinya tidak ingin di pisahkan oleh pria itu.


"Ayo, mandi. Masih banyak spot, spot yang akan kita kunjungi hari ini."


"Hmm.... Okay." dengan malas gadis itu menurut. Alfred bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Dia berputar ke arah samping tempat tidur Bella dan membungkuk mulai mengangkat tubuh Bella yang di balut oleh selimut ke dalam kamar mandi.


Keduanya mandi bersama pagi ini. Melakukan beberapa candaan di dalamnya sebelum akhirnya selesai dalam waktu satu jam.


Alfred menyewa sebuah sepeda untuk menghabiskan waktu mereka kali ini untuk mengelilingi kota London di sekitar hotel tempatnya menginap. Sementara Alfred yang mengayuh, Bella duduk menyamping di depan Alfred. Hal itu membuat tubuhnya di apit oleh kedua lengan kokoh milik suaminya.


Pria itu berkeliling menuju ke pasar raya tidak begitu jauh. Di pasar itu, banyak pengunjung berjalan berdesak-desakan. Karena dia hanya ingin menikmati suasana kota, Alfred mengayuh sepeda itu dengan santai sembari mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru. Dia mencium cuping telinga kiri Bella lantas menggigitnya lembut, membuat gadis itu terkejut dan memukul lengannya cukup keras. Alfred terkekeh dan merasa senang.


Melewati sebuah jembatan, keduanya berhenti dan menikmati suasana keindahan kota di atas jembatan. Memandangi hamparan sungai terluas di hadapan mata mereka, suasana romantis tercipta di antara ruang keduanya. Serasa dunia milik berdua, Alfred dan Bella kembali berciuman di jembatan itu. Tidak peduli dengan orang-orang yang akan berfikir negatif tentang mereka.


Toh, mereka sudah sah menikah.


***********


Liliana sedang membaca ulang proposal pengajuan skripsinya, ketika tiba-tiba Max muncul dan menyapanya.


"Hey. Apa kau melihat Bella? Aku pernah melihatmu bersamanya. Aku pikir, kau berteman baik dengannya. Jadi aku bertanya."


Liliana melirik sekilas Max. Meskipun dia menyimpan perasaan tertarik, namun dia adalah wanita dengan pengendalian diri yang sangat baik. "Ya, aku temannya. Tapi maaf, aku tidak tahu dia ada di mana sekarang."


Max cukup terkejut dengan sikap tenang Liliana yang lain dari wanita-wanita yang pernah di temuinya. Dia tertawa lirih merasa lucu. Apa wanita ini merupakan wanita yang sulit untuk di dekati seperti Bella? Tidak heran mereka berteman sangat akrab.


Mata Max selalu terus menerus melirik wanita cantik lain setiap dia berjalan di setiap tempat. Siapapun yang dia lihat, Max akan menginginkannya dan akan berusaha mendapatkan hatinya.


Tidak sulit untuk membuat wanita-wanita itu tergoda oleh pesonanya. Setelah di dapatkan, pria itu akan menghabiskan siangnya di rumah wanita itu melakukan pendekatan. Dan pada malam harinya, dia akan mengajak wanita yang di jeratnya ke tempat lain untuk melakukan one-night stand. Jika wanita itu mudah di dapatkan dalam sekali rayuan, Max akan dengan mudah meninggalkan wanita itu. Itulah sisi buruknya.


Diam-diam Max menyeringai, lantas mengambil sesuatu dari sakunya sebelum membungkuk mendekati Liliana tepat di samping telinga wanita itu.


Liliana membeku untuk sesaat, ketika Max tiba-tiba meletakkan sesuatu di atas buku yang dia baca, dia mengerti apa maksud pria di hadapannya. Dalam hati dia tertawa lucu.


"Simpan nomor ponselku, dan kirimi aku pesan nanti." bisik pria itu dengan suara sensual. Hal itu membuat Liliana tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa lirih menundukkan wajahnya.


Di mata Max, sikap malu-malu Liliana dia anggap bahwa wanita di hadapannya ini telah terjerat oleh pesonanya. "Anggap saja dirimu beruntung kali ini, karena bisa bertemu dan berhubungan denganku secara langsung."


Max mengerling mengeluarkan seluruh pesonanya ke arah Liliana yang menatapnya dengan senyum penuh arti.


"Heh.. Baik. Baiklah, aku terima kebaikan hatimu, Max." kata Liliana seolah malu-malu melirik kertas kecil di tangannya yang tertera dengan nama Max dan juga nomor pribadinya.


Max tersenyum puas, dalam hati dia berbangga hati karena wanita di depannya itu dengan mudah memahami sinyal yang diberikannya. Pemandangan yang harus wanita itu lihat oleh matanya seharusnya hanyalah ada dirinya sekarang. Jangan berharap dia mampu melarikan diri dari pesonanya.


Max sangat percaya diri bahwa setiap dia melihat wanita yang berbeda datang dan pergi di hidupnya, dia tahu bahwa mereka hanya ingin melakukan banyak kencan romantis dengannya. Berharap lebih bahwa dia akan menjanjikan sesuatu yang berharga mengenai hubungan mereka. Tapi tentu saja, Max tidak akan bisa diandalkan dalam hal janji. Karena dia merupakan seorang pria yang mahir berbohong.


"Kalau begitu, kalau bertemu dengan Bella, tolong sampaikan padanya aku mencarinya. Okay?" pria itu mengerling genit ke arah Liliana sebelum berbalik undur diri meninggalkan wanita itu yang mendadak terkekeh lucu melihat tingkah Max.


Liliana bukannya tidak memahami sinyal yang di berikan oleh Max, dan tidak mengerti apa yang ingin di lakukan oleh pria itu terhadapnya. Liliana cukup peka dengan Max yang datang hanya ingin merayunya menjadi target selanjutnya. Tapi, dia tidak akan semudah itu untuk jatuh ke dalam pesona pria itu meskipun dia menyukai Max.


Justru, Liliana ingin merubah segalanya dan menjadikan pria itu termakan oleh pesonanya sendiri hingga terjatuh memohon-mohon di lututnya.

__ADS_1


"Kau ingin mendapatkan hatiku untuk sesaat? Tidak akan semudah itu, Max. Hhh...."


Di sisi lain, Max mulai merasakan tubuhnya menggigil ketakutan. Dia hanya berharap sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi padanya.


__ADS_2