Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
PERTEMUAN


__ADS_3

"Jadi dia hari ini tidak masuk kerja?" Hans kembali mengkonfirmasi informasinya.


Seorang wanita paruh baya tersenyum canggung kepada Hans, "Setahu saya, dia mengambil cuti hampir satu bulan full. Untuk alasannya sendiri, hanya kepala sekolah yang tahu. Namun sayangnya pihak kepala sekolah juga akhir-akhir ini tidak berada di kantornya karena sedang ada dinas pertemuan pendidik."


Hans menganggukkan kepala mengerti. "Maafkan saya pak, tidak bisa banyak membantu. Oh, setidaknya saya akan memberitahu alamat rumah pak Frederick untuk anda jika anda memang benar-benar ada keperluan mendadak."


Wanita itu berbalik untuk kembali ke ruang guru dan kembali lagi dengan secarik note. Dia tersenyum ramah kepada Hans sembari menyodorkan note itu pada pria tua itu.


"Ini alamat lengkap pak Frederick."


"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih dan undur diri."


"Silahkan."


Lagi-lagi Hans harus gagal dengan usahanya untuk bertemu dengan Alfred. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Setiap kali dia ingin bertemu dengan pria itu, ada saja saatnya dia memiliki kesibukan yang tidak bisa dia tinggalkan. Atau sebaliknya Alfred yang tidak bisa di temui. Jika dia ada waktu luang, Alfred justru memiliki kesibukan yang tidak bisa di ganggu. Dan jika dirinya yang sibuk, Alfred justru memiliki waktu luang. Haㅡah.... Kenapa Tuhan melakukan hal ini terhadap dirinya? Apakah memang dia harus bertemu langsung dengan Bella? Itu jelas akan menakuti gadis itu.


Di lain sisi, Ashley dan Aleysia bermaksud untuk mencari Bella kembali dengan mengunjungi kampus gadis itu. Keduanya tampak tengah sedang menikmati kopi di cafe tidak jauh dari kampus Bella. Pandangan Ashley bahkan tidak teralihkan dan tanpa berkedip menatap bangunan yang berada di seberang cafe tempat mereka menunggu.


"Kak, apa tidak sebaiknya kita tanya seseorang untuk menanyakan tentang dia?"


Ashley menghela nafas berat. Sayangnya... Mereka tidak tahu siapa nama sepupu mereka. Jangankan mengetahui namanya, memiliki fotonya saja tidak. Ashley merutuki kebodohannya kali ini. Dia tidak pernah seceroboh ini sebelumnya. Informasi yang ibunya berikan bahkan tidak lengkap.


Seharusnya orang suruhan ibunya mencantumkan foto hasil investigasi mereka, kan? Dan memberikan informasi yang lengkap mengenai identitas sepupunya itu. Haㅡah... Merepotkan sekali.


Tiba-tiba dering ponsel miliknya berdering. Hal itu menyebabkan Ashley melirik sekilas ponselnya yang berada di atas meja sebelum kembali menatap lurus ke arah kampus.


"Ya Mom."


"......."


"Bella Aberald? Fakultas bahasa asing? Okay, Ashley mengerti." Aleysia melirik kakaknya intens. "Thanks Mom."


"Mommy?" Ashley bergumam sebagai respon untuk adiknya.


"Ayo! Kita tanyakan pada beberapa orang di kampus itu." Ashley beranjak dari duduknya sembari menyambar tas lalu menyampirkannya di bahu kirinya di ikuti oleh Aleysia yang juga ikut berdiri. Setelah meletakkan beberapa lembar uang dollar ke meja, keduanya meninggalkan cafe dan menyeberangi jalan.


"Permisi, boleh saya meminta waktumu sebentar?" Ashley menghentikan seorang mahasiswa laki-laki yang hendak masuk ke dalam universitas.


"Oh, tentu." Ashley dan Aleysia tersenyum lega.


"Begini, saya sedang mencari seseorang. Dia belajar di kampus ini, namanya Bella Aberald dari fakultas bahasa. Apa kamu mengenal dia?"


"Bella?" Ashley memekik 'Ya' dengan ekspresi berharap. "Tentu saja aku mengenalnya."


Mendengar bahwa mahasiswa laki-laki ini mengenal orang yang mereka cari, Ashley dan Aleysia tersenyum penuh binar semakin di yakinkan. "Dari berita yang aku dengar, dia sedang cuti kuliah satu bulan. Untuk urusan apa, aku tidak tahu karena kami bukan di fakultas yang sama. Maaf, hanya itu yang aku."


"Oh.." ekspresi Ashley sedikit kecewa dengan senyum harapannya yang lambat laun luntur dari sudut bibirnya. "Terimakasih."


"Sama-sama." mahasiswa laki-laki itu lantas berlalu pergi meninggalkan kedua wanita itu.


Tidak jauh dari mereka, Edward yang baru saja tiba di depan universitas mendadak memberhentikan motornya, dia memperhatikan gerak gerik Ashley dan juga Aleysia dengan sorot mata curiga. Dari jaraknya dengan kedua wanita itu tidak begitu jauh, hal itu membuatnya mampu mendengar percakapan mereka. Dan samar-samar Edward mendengar nama Bella sahabatnya di sebut-sebut.


Jika dia tidak salah ingat, dia pernah bertemu dengan dua wanita itu. Edward mengerutkan keningnya mencoba untuk mengingat kedua sosok wanita tersebut. Dan dia terkesiap setelah ingat siapa mereka. 'Ada perlu apa mereka mencari Bella?' Ah! Perasaannya mendadak tidak enak.


Liliana tengah berjalan hendak masuk ke dalam kampus ketika tiba-tiba seseorang berseru memanggilnya. Saat wanita itu berbalik, dia melihat Ken berlari ke arahnya dengan senyuman ceria. Liliana tersenyum balik membalas. Ashley, Aleysia, dan Edward yang mendengar suara Ken yang menggelegar sontak mengalihkan atensi mereka ke kedua makhluk bergender berbeda itu sekilas.


"Bella tidak bersamamu?" Liliana mendengus lucu. Kenapa semua orang menanyakan gadis itu padanya? Jelas-jelas semua orang tahu bahwa Bella telah menyelesaikan urusannya di kampus dan lulus ujian skripsi. Tapi kenapa banyak sekali yang bertanya? Apa-apaan ini.


Mendengar nama Bella di sebut, ketiga orang yang tidak sengaja mendengarnya terkesiap. Terutama Ashley dan Aleysia yang semakin menajamkan telinga mereka. Sekilas keduanya saling melirik sebelum kembali fokus pada obrolan mereka.


"Baiklah, baiklah. Karena kamu juga merupakan salah satu teman baiknya, sahabatnya, aku akan berbaik hati memberitahumu." Ken tersenyum puas. "Dia sedang liburan dengan kakaknya. Di mana dia menghabiskan liburannya, aku tidak tahu. Tapi yang jelas, dia tidak akan ada di kampus selama satu bulan."


Ekspresi Ken mendadak berubah kecewa. "Selama itukah?"


Liliana terkekeh, terkadang Ken akan bersikap kekanakan-kanakan kalau sudah berhubungan dengan Bella. "Haㅡah... Pak Alfred benar-benar jahat. Kenapa Bella selalu di tahan oleh pria mesum sepertinya, Tuhan?! Aiyoo..."


Ashley tertegun. Ketika mendengar nama Alfred dengan keluhan yang di lontarkan oleh Ken saat ini tentang pria itu, pandangan Ashley seketika semakin yakin bahwa orang yang selama ini menjelma menjadi kakak yang baik, orang yang telah memebesarkan Bella sampai dewasa hanyalah orang yang ingin memanfaatkan kepolosan sepupunya. Dengan terus membuat kebaikan dan kebaikan di depan Bella, siapa yang akan berfikir bahwa orang semacam itu akan memiliki niat yang buruk selama ini?


Pria itu.... Desis Ashley mulai meradang dalam kemarahan.


Dalam hati Ashley berjanji, dia akan memisahkan Bella dari pria jahat dengan otak mesum itu jauh-jauh dari Bella. Dia tidak akan membuat Bella jatuh ke pelukan pria yang menyimpang dari kodratnya itu. Bagaimana biaa seorang pria berumur sepertinya mendekati gadis yang masih baru saja tumbuh dewasa? Bukankah pria itu seorang pedophile? Tidak! Dia tidak akan mengijinkan Bella sampai terjebak untuk menyukai pria pedophile itu. Sumpahnua dalam hati.


Melihat ekspresi Ashley yang berubah emosi, Edward semakin merasakan perasaan yang tidak nyaman mengenai sahabatnya itu.


"Hahaha... Sudahlah, lagian Bella tidak akan memilih kamu kalau di di suruh memilih antara kamu dan Alfred."


"Ya, ya, ya.. Aku tahu itu. Pak Alfred adalah segala-galanya bagi Bella."


"Hahaha...." tawa Liliana, merasa terhibur.


*********


Alfred melirik Bella yang sedang sibuk dengan wajah serius menulis sesuatu di sebuah buku. Wanita itu duduk diam menundukkan wajahnya fokus pada pekerjaannya di seberang sofa. Diam-diam dia menyeringai jahil dan sebuah ide muncul di dalam kepalanya. Dengan sengaja, Alfred menyenggol tangan kanan Bella yang sedang menulis dengan jari kakinya yang berada di sebelahnya.


Bella mendelik melihat pena di tangannya itu tergelincir. Tentu saja dia sadar siapa pelakunya. Dia memutar kepalanya menatap Alfred dengan mata melotot da rahang mengeras menahan emosi.


Alfred masih menyeringai jahil dengan papan puzzle yang sedang dia mainkan. Tapi tiba-tiba Bella menyerang pria itu, menyentil papan puzzle di tangan Alfred sehingga puzzle-puzzle yang telah tersusun rapi itu berantakan dan menyiram wajahnya.


"Rasakan itu. Heh.. Rasakan! Rasakan!" desis Bella seraya memukul-mukul tubuh Alfred dengan bantal sofa.


"Hahaha..." Alfred tertawa puas sembari membuat pertahanan dengan lengan tangannya. Alfred sontak memberikan perlawanan dan beranjak dari posisinya lalu memerangkap istrinya dengan kedua tangannya di tembok dekat dengan jendela hotel. Di mana jendela itu terbuka memperlihatkan pemandangan kota London yang terlihat begitu romantis.


Suasana mereka berubah kembali menjadi romantis karena jarak di antara mereka terkikis dan sangat dekat. Sehingga saat mereka bernafas, mereka dapat merasakan hangatnya hembusan nafas yang mereka keluarkan.


Alfred menatap bola mata sapphire Bella intens dan begitu dalam. Hingga Bella dapat melihat gambaran dirinya yang terpantul di cermin irisnya. Pria itu mencubit dagu istrinya lembut, dan Bella menjulurkan lidahnya seolah mengejek dengan menggerakkan bola matanya menjadi mata juling. Sontak Alfred tertawa lirih merasa geli dengan kelakuan wanita itu, diikuti Bella yang juga tertawa.


Lambat laun, sikap Bella yang terkadang masih suka canggung kini menghilang. Bella sendiri bingung, bagaimana memperlakukan Alfred yang sudah bertahun-tahun merawatnya sebagai seorang kakak sekaligus wali itu. Apakah dia harus tetap memanggilnya kakak? Ataukah suamiku? Atau cukup dengan nama saja? Entahlah... Bella selalu merasa canggung di setiap momen yang mereka habiskan bersama.


Namun, dia sadar. Seharusnya dia harus bersikap layaknya seorang kekasih, layaknya seorang adik, dan layaknya sebagai seorang istri. Ada saatnya dia harus memperlakukan Alfred seperti apa. Tetapi semenjak dirinya menikah dengan Alfred, Bella mulai merubah sikapnya menjadi pribadi seorang wanita yang berpikiran dewasa.


Dia harus pintar membawa dirinya sendiri agar tidak memepermalukan Alfred di kemudian hari.


Bella setiap hari berusaha untuk belajar bagaimana caranya untuk bisa menjadi seorang istri dan kekasih yang baik dan dewasa untuk Alfred, hingga menjadi seperti saat ini. Sikapnya yang biasanya canggung, kini telah berkurang dan menjadi obrolan yang menyenangkan. Bukan antara kakak dengan adiknya, namun di antara suami dengan istrinya.


Liburan mereka berdua hampir mendekati satu bulan. Hanya kurang satu minggu lagi, namun Alfred sudah memesan tiket pesawat untuk mereka kembali ke kota Washington. Dia tidak bisa terlalu lama meninggalkan sekolahnya dan juga tugasnya sebagai seorang guru.


Bella melompat ke sofa dan duduk kembali. Mengambil buku yang sempat dia tinggalkan dan kembali menulis. "Kapan rencana kita akan pulang ke Washington, sayang?"


"Lusa." Bella melirik Alfred yang sedang memungut kepingan-kepingan puzzle yang berserakan lalu memganggukan kepala mengerti.


"Emm.... Eh, iya." wanita itu melempar bukunya ke meja dan memposisikan diri untuk menghadap Alfred, "Bagaimana kalau setelah aku di wisuda kita tinggal di Wyoming? Aku rindu kak Nicky."


Alfred tersenyum hangat sebelum ikut duduk kembali di sebelah Bella, "Boleh. Apapun untukmu."


.


Lusapun tiba, Bella dan Alfred meninggalkan hotel tempat mereka menginap dan masuk ke dalam sebuah taxi yang sebelumnya sudah di pesankan oleh pihak hotel sebagai bagian dari pelayanan terakhir.


Sampai di bandara, Bella hanya bisa bermanja-manja di sandaran Alfred. Sementara Alfred sibuk membaca koran yang sempat dia beli sembari menunggu pesawat mereka tiba pada jadwalnya. Mereka tiba lebih awal tiga puluh menit sebelum jam keberangkatan.


Tidak lama kemudian, pemberitahuan bahwa pesawat menuju Washington akan segera leoas landas, Alfred beranjak dari duduknya dan menarik tangan Bella. Menggandengnya menuju ke terminal keberangkatan.


Keduanya mengambil tempat duduk VIP, sehingga tempat mereka tidak begitu ramai penumpang. Ruangan mereka cukup nyaman dan cukup sepi.


Pesawat mulai berjalan perlahan sebelum semakin mempercepat lajunya dan akhirnya lepas landas. Alfred dan Bella mengambil penerbangan pada pagi hari. Sehingga landing pesawat mereka bisa di pastikan sampai pada malam harinya.


Selama di pesawat, entah mengapa Bella hanya ingin tidur dan beristirahat. Dia tidak merasa lelah, namun matanya ingin sekali tidur. Pada akhirnya, dia hanya bisa menghabiskan waktu di pesawat untuk tidur.


*********


"Alfred masih belum ada di rumah?" Brandon bertanya pada Deana ketika dia menghempaskan pantatnya di kursi meja makan. Deana yang sedang mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Bryan suaminya hanya melirik sekilas putra sulungnya itu lantas menyodorkan piring berisi nasi dan lauk untuk suaminya.


"Belum. Apa dia tidak mengatakan apapun pada kalian? Haㅡah... Padahal aku ingin sekali mengajak Bella belanja."


"Hmph.. Mommy seperti mengajak seorang menantu perempuan saja." seloroh Brandon mengambil makanannya sendiri.


Deana melirik Brandon sengit, "Bagaimana dengan itu? Kamu saja tidak pernah membawa seorang gadis ke rumah. Lalu siapa yang bisa Mommy ajak belanja untuk shopping kalau bukan dengan Bella?!" sungut wanita itu menggerutu.


"Haㅡah...." Brandon menghela nafas berat. Lagi dan lagi. Setiap hari selalu ada saja cara ibunya untuk menyindirnya mengenai seorang wanita. Dia sendiri tidak pernah memikirkan sampai ke arah sana. Dirinya benar-benar terlalu sibuk dengan urusan kantor sehingga membuat dia tidak ada waktu untuk mencari seorang wanita untuk di kencani.


"Kalian sama saja dengan ayahmu."


"Kenapa aku yang di bawa-bawa?" Bryan yang hendak memasukkan satu suap nasi ke mulutnya yang terbuka dia urungkan ketika mendengar istrinya menyebutkan dirinya.


Deana melirik Bryan tajam, sewot. "Kenapa? Apa aku salah? Kesibukan kamu menurun pada putra-putraku sampai mereka bahkan tidak ada waktu untuk mencari seorang wanita. Bukankah mereka sama seperti dirimu waktu masih muda?"


Brandon beralih menatap ayahnya dengan sorot mata tidak percaya. Lalu, jika ibunya mengatakan sebuah kebenaran, bagaimana cara ayahnya bertemu dengan ibunya dan menikah? Apa ada cinta di pernikahan mereka?

__ADS_1


"Itu kan masa lalu, Deana. Lagi pula, kau juga mau denganku pada akhirnya, kan?"


"Hmph!" Deana mendengus kesal tidak ingin menjawab. Brandon sontak terkekeh melihat kelakuan ibunya yang merajuk dan ayahnya yang berusaha menghibur istrinya.


Tidak lama ketika mereka berdebat, suara deru mesin mobil terdengar dari arah depan rumah. Ketiganya saling melirik satu sama lain namun tidak menghiraukannya.


Edward yang sedang bersiap-siap di kamarnya tiba-tiba menghentikan kegiatannya ketika pandangannya tidak sengaja jatuh ke luar jendela. Di sana, mobil milik Alfred muncul di pelataran rumahnya. Dan keluarlah Bella juga pria itu dengan binar bahagia.


Dalam hati Edward sangat penasaran, kemana keduanya menghabiskan masa liburan mereka selama satu bulan ini? Namun kemudian dia mengenyahkan pikirannya dan memilih beranjak keluar dari kamarnya untuk makan malam dengan keluarganya.


"Bella baru saja pulang." celetuk Edward setelah duduk di tempatnya sendiri meraih piring di mejanya.


Deana, Brandon juga Bryan menatap Edward tidak percaya. Datang-datang Edward mengatakan bahwa wanita itu telah pulang. Apa Edward mendengar percakapan mereka tadi?


"Jadi, suara mobil tadi itu mobil milik Alfred?" Brandon menganalisa dan Edward bergumam sebagai jawaban 'ya'.


Di sebelah rumah mereka, Bella yang dulunya bersikap selayaknya anak-anak, kini justru dengan kesadarannya sendiri, setelah sampai di rumah segera membersihkan diri sebelum akhirnya pergi ke dapur.


Sebelum mereka pulang ke rumah, Alfred menyempatkan diri manpir ke sebuah toko swalayan yang memang tidak jauh dari rumah mereka, dan berbelanja beberapa bahan makanan siap saji dan beberapa sayuran juga daging.


Sementara Bella memasak, Alfred memilih untuk membersihkan rumah mereka yang cukup berdebu. Meskipun dia telah menyewa jasa pembersih rumah tangga selama dirinya pergi, namun kamar Bella tidak termasuk untuk di bersihkan. Hal itu menyebabkan banyak sekali debu yang menggumpal di setiap tempat.


Bella bahkan sebelumnya membersihkan dirinya di kamar mandi dekat dapur dan berganti pakaian di kamar lama Alfred.


"Hm.... Sungguh luar biasa." gumam Alfred melihat kamar mereka yang sangat kotor.


Beruntung sebelum mereka pergi, mereka memberikan alas berupa kain putih yang cukup tebal ke semua perabot yang ada di dalam kamar termasuk juga springbed. Jadi Alfred hanya perlu menggulung kain-kain putih itu.


Tentu saja masih akan banyak debu yang berterbangan. Sehingga Alfred sebelumnya harus membersihkan debu yang ada di lantai dengan mesin penyedot debu ke seluruh ruangan terlebih dulu, membersihkan sarang laba-laba yang ada di langit-langit. Setelah di rasa bersih, barulah kain-kain putih dia tarik satu persatu dengan sangat hati-hati agar debu yang ada di kain tersebut tidak jatuh begitu banyak.


Meskipun demikian, Alfred kembali menggunakan penyedot debu untuk yang kedua kalinya agar hasilnya bersih maksimal.


"Uhuk... Uhuk... kenapa batuknya baru sekarang?" celetuknya heran ketika dia meleoas masker yang sedari tadi dia kenakan.


Alfred lantas mengembalikan beberapa pakaian yang mereka bawa di dalam koper kembali ke lemari, lantas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Alfred, makan malam sudah siap!" seru Bella dari lantai bawah.


Pria itu muncul dengan masih mengusap rambutnya yang masih basah. Bella tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Kenapa tidak pakai hairdryer?"


"Terlalu lama. Nanti saja setelah makan malam." kata pria itu mengambil posisi duduk di dekat Bella. Wanita itu lantas mendengus geli sebelum melepas topik pembicaraan mereka. Dia lalu mengambil piring milik Alfred, melayani pria itu mengambilkan nasi dan beberapa sayur juga lauk.


"Terimakasih." ujar Alfred setelah mendapatkan makanannya. Bella hanya bergumam sembari tersenyum sebelum mengambil bagiannya sendiri.


Kenapa mereka tidak makan malam di luar saja saat mereka dalam perjalanan pulang? Bukankah itu terlalu repot untuk masak dan akan membuat tubuh yang lelah semakin lelah?


Alasan mereka hanyalah satu, saat pulang ke rumah, pastilah kamar mereka belum di bersihkan. Sudah pasti mereka akan melakukan bersih-bersih. Dan perut mereka yang sudah terisi pasti akan merasa lapar lagi.


Bisa saja mereka memilih makanan delivery. Tapi Alfred tidak menyukai makanan seperti itu. Pada akhirnya, dia lebih memilih memasak sendiri karena porsi lebih banyak dan lebih puas.


Karena tubuh mereka sudah lelah, setelah menonton acara televisi sebentar, keduanya langsung memilih untuk tidur lebih awal.


***********


Pagi tiba begitu cepat. Dan kedua makhluk berbeda gender yang seharusnya masih berada di dalam selimut kini telah bangun dengan pakaian rapi mereka masing-masing.


Alfred bangun lebih awal sehingga dirinya memutuskan untuk menyiapkan sarapan mereka. Hari ini dia bahkan telah bersiap untuk berangkat ke sekolah tempat dirinya mengajar.


"Kak, aku nanti berangkat sendiri saja ya, ke kampus. Ada yang harus aku urus."


"Gak mau kakak antar?" Alfred bertanya. Bella menggeleng seraya tersenyum.


"Tidak perlu. Aku berangkat dulu kak. Bye bye. Aku mencintaimu." Bella beranjak menyambar tasnya, lalu mencium pipi Alfred dan mengecup sekilas bibir pria itu sebelum dia pergi.


Pria itu tidak mengejar, dan memilih untuk membereskan sarapan mereka sebelum dia bersiap untuk berangkat. Ketika Alfred akan mengunci pintu rumahnya dan berbalik hendak pergi, dia di kejutkan oleh sesosok pria tua dengan pakaian rapi berdiri di hadapannya. Alfred memperhatikan keadaan di sekitarnya sebelum menatap pria tua itu lagi yang kini tengah menatapnya tajam dengan ekspresi datar.


"Maaf, anda siapa dan sedang mencari siapa?" tanya Alfred hati-hati.


"Aku mencari kamu." Alfred tertegun.


.


Bella keluar dari taxi setelah membayar sesuai tarif yang tertera pada argo mobil. Tidak jauh darinya, dua orang wanita tengah mengamati gerak geriknya.


"Kak, dia datang." Aleysia, salah satu wanita itu bersuara. Ashley bergumam setelah melirik layar ponselnya.


"Ayo." Ashley dan Aleysia bergerak mulai mendekati Bella yang sedang berjalan untuk masuk ke dalam kampus.


"Eh?!!" Sebuah tangan mencekeram pergelangan tangan Bella hingga membuat Bella menoleh ke belakang. Tubuh wanita itu membatu saat tiba-tiba dia di tatap intens oleh seorang wanita. Tapi Bella mengernyit ketika melihat orang itu.


Dia seperti pernah bertemu dengan wanita di depannya ini. Tapi di mana? Namun detik berikutnya, Ashley menarik tangan Bella sebelum tubuh wanita itu terdorong dan di peluk erat olehnya.


"Aku senang akhirnya menemukanmu, Bella. Kau kemana saja?" wanita beriris onix dengan rambut merah maroon itu bergetar memeluk Bella erat.


"Huh?" Bella hanya bisa melongo tak paham. Karena dia merasa sama sekali tidak mengenal orang yang tengah memeluknya sekarang.


Wanita bermata sapphire itu mulai paham, lantas tersenyum. Bella kembali di buat bingung ketika tiba-tiba wanita yang memeluknya melayangkan kecupan pada seluruh bagian wajahnya. Yang entah kenapa kecupan itu terasa begitu sangat di rindunya.


"M-maaf. A-anda siapa? Aku merasa tidak mengenalmu?" Tanya Bella gugup namun penuh kehati-hatian.


"Bodoh!! Aku kakak sepupumu, Bella! Apa si mata empat itu tidak memberitahumu, Huh?!" Omel Ashley itu mulai kesal.


Merasa kurang yakin, Edward maju menggamit Bella dan menyembunyikanya di belakang tubuhnya. Ia menatap curiga wanita bersurai merah maroon itu.


"Kau ini siapa? Jangan seenaknya memeluk pasangan orang." Kata Edward tenang.


"Apa kau bilang, pria aneh?! Bella, kau pacaran dengannya?! Kau tidak memiliki hubungan spesial dengannya, kan?" Ashley beralih menatap Bella bertanya pada wanita itu yang semakin pusing karena pertemuan tiba-tiba ini.


"A-a-ah... Sebaiknya kita bicarakan di tempat lain saja. Aku merasa sedikit pusing kalian terus bicara yang tidak aku mengerti." Saran Bella akhirnya. Ia bahkan memijit pelipisnya yang kini terasa berdenyut nyeri.


"Aku setuju." Timpal wanita bersurai dark brown dengan iris mata hazel yang mulai mendekati Bella lantas menggamit lengannya pergi tanpa kata. Meninggalkan Edward yang menatap punggung wanita itu tak suka.


Bella hanya bisa pasrah saja ketika tangannya di tarik oleh wanita yang lain. Sementara Edward dan wanita bersurai merah yang tak lain adalah Ashley itu mengikutinya dengan saling membuang muka. Enggan untuk berdekatan.


************


Alfred tengah membereskan buku-buku mengajarnya hendak pulang ketika tiba-tiba seorang wanita bersurai pendek sebahu menghampirinya dengan senyuman yang di buat semenawan mungkin.


'Dia lagi.' Erangnya lelah.


"Alfred. Kamu mau kan, menemaniku dinner malam ini?" Ujar wanita itu bergelayut manja di lengan pria itu. Alfred mendengus lelah mencoba untuk melepaskan diri dari wanita itu. Sudah berapa kali dirinya mengatakan pada wanita itu bahwa dia tidak mau ikut. Bisa bahaya kalau sampai Bella tahu dan kembali salah paham dengannya.


"Maaf Laura. Untuk yang keseratus kali atau sampai mulutku berbusapun jawabanku tetaplah sama. Tidak." Laura manyun.


Dari arah pintu ruang guru, seorang wanita bersurai dark brown tengah berdiri dan menahan senyum geli ketika menyaksikan Alfred yang tengah kesulitan melepaskan diri dari kungkungan Laura. Guru fisika baru yang masuk dua tahun lalu itu.


Alfred yang menyadari kehadiran wanita itu lantas menatap wanita itu dengan tatapan memohon bantuan. Menyebabkan wanita anggun itu tertawa geli lantas menghampiri Alfred.


"Ekhem." Dehem wanita itu. Laura menatap sinis wanita yang menghampirinya tak suka. Ia melengos dari wanita yang di anggapnya sebagai saingan terberatnya dalam mendapatkan hati Alfred.


"Maafkan aku, Miss Laura. Karena sudah mengganggu waktu Miss Laura dengan Pak Frederick. Tapi Miss, Pak Frederick memiliki janji berkencan denganku hari ini. Bisakah kamu melepaskan tanganmu itu darinya?" Wanita itu menunjuk tangan Laura yang masih lengket merangkul tangan kiri Alfred. Wanita itu tetap tersenyum ramah, meski ia sendiri tidak suka melihatnya. Lebih baik melihat Alfred berciuman panas dengan Bella di depannya secara live daripada melihat Alfred berdekatan dengan Laura, pikirnya.


"Tidak baik bermesraan di lingkungan sekolah apalagi anda adalah seorang guru. Benar, kan?" Dan seketika itu, Laura langsung melepaskan rangkulan tangannya dengan terpaksa dari tangan Alfred dan menghentakkan kakinya berlalu pergi. Terlalu malas untuknya berdebat dengan wanita di depannya itu.


"Ahahaha.. Dia tidak menyerah juga, ya?!" Tawa wanita itu seketika meledak seraya menutupi setengah wajahnya begitu anggun.


Alfred mendesah lega juga lelah. "Terima kasih Helena, kau sudah membantuku."


"Eitz!! Tidak gratis, lho." Alfred sontak saja mengerutkan alisnya bingung. Sementara wanita bernama Helena itu masih tersenyum. "Ucapanku pada Laura tidak hanya sekedar alasan, Al. Aku ingin kau menemaniku makan."


Alfred akan membuka mulutnya melontarkan protesnya ketika Helena lebih dulu bersuara. "Tenang saja, kita tidak berdua. Gavyn juga akan ikut kita makan. Dia menyusul nanti. Bagaimana?"


Alfred diam sejenak menatap Helena yang juga menatapnya penuh harap. Tidak ada salahnya menerima ajakan Helena. Toh wanita di depannya juga bilang tidak hanya berdua. Melainkan Gavyn juga akan ikut.


Tunggu! Gavyn? Alfred menatap Helena lekat penuh intimidasi. Membuat wanita itu sedikit merasa risih di tatap oleh pria yang sempat ia cintai dulu.


"Ada maksud apa sampai Gavyn juga ikut, Huh?" Alfred menyentakkan dagunya ke atas sekali masih menatap Helena dengan sorot mata curiga.


"Eemm.. Hanya sekedar berkumpul bersama saja. Kau tahu bukan, kita ini adalah teman lama. Kau tidak lupa, kan?" Elak Helena semeyakinkan mungkin. Menyembunyikan kegugupan dan detak jantungnya yang berdetak dua kali lipat.


"Eemm.. Okay! Kau benar." Tukas Alfred memilih untuk tidak mengejar Helena. Dan wanita itu akhirnya bisa bernafas lega.


"Sudahlah. Bagaimana? Kau ikut, kan? Ayolah. Jarang-jarang kita berkumpul bersama, Al." Mohon Helena mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya memelas.


"Baiklah. Aku akan mengabari Bella terlebih dahulu." Seketika itu, Helena tersenyum sumringah merasa senang.


Setelah Alfred memberitahukan Bella tentang rencananya bersama Helena lewat pesan, ia lalu bergegas pergi bersama dengan Helena. Bersyukur Bella mengijinkan dirinya masih boleh dekat dengan Helena. Meski dalam batas-batas tertentu saja. Seperti saat ini, jika memang di antara keduanya ada pihak ketiga seperti Gavyn, maka Alfred bisa mendapatkan kebebasan dari Bella.

__ADS_1


Bukan merasa terkekang. Justru ia malah merasa senang. Itu berarti waktunya hanya akan dia habiskan lebih lama lagi bersama Bella. Hanya saja, kalau sampai dirinya kepergok oleh Bella dia sedang bicara berdua saja dengan seorang wanita, hal itu akan sangat merepotkan untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya pada Bella mengingat bagaimana sifat Bella yang kadang suka kekanakan dan overprotective terhadap dirinya.


************


"Jadi?" Edward bersuara, bertanya pada dua wanita misterius yang mengaku-ngaku sebagai kakak sepupu Bella. Entah kenapa Edward tidak suka kalau orang lain bersikap sok kenal dengan wanita di sampingnya itu. Atau bawaan karena dulunya ibunya pernah menyusui Bella? Jadi sikapnya seperti brother complex?


Ya, dia sudah tahu kalau dirinya dan Bella adalah saudara sesusuan. Mungkin karena itu dirinya bersikap seperti seorang kakak yang overprotective terhadap adiknya. Biar bagaimana pun juga dirinya memang menyayangi Bella.


"Kami memang keluarganya, pria aneh!!" Hardik wanita bersurai merah.


"Hm.. Hmm.." Aleysia di sebelahnya itu mengangguk membenarkan dengan tangan bersedekap di depan dada.


Saat ini keempatnya berada di sebuah cafe and resto. Tak jauh dari kampus mereka.


"Edward, biar aku saja yang bicara pada mereka." Bisik Bella. Edward mendesah lantas memutar matanya jengah.


"Terserahlah."


"Jadi, kalian ini siapa?" Tanya Bella kembali mengulangi pertanyaan yang sama.


"Aku Aleysia Lincolnshire." Edward menyentakkan kepalanya menoleh cepat pada Aleysia yang duduk di depan Bella tidak percaya.


Lincolnshire katanya.


Wanita bersurai merah itu melirik Edward aneh. "Kau kenapa, pria aneh?!"


"Hm."


"Cih. Sombong!" Cibir Ashley jengah, melengos lantas menatap Bella.


"Aku sendiri Ashley Lee. Dari marga ibuku. Bukankah marga ibu kita sama?" Ashley menyeringai menang melirik Edward. Dengan cengiran khas hampir sama dengan Bella.


Bella jelas terkejut. Mendengar marga ibunya di sebut. Tapi bagaimana bisa? Dia akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan, pikirnya. Ia tersenyum ketika membaca siapa yang mengiriminya pesan.


**From : My Husband


Mungkin aku pulang sedikit sore, Bella. Helena mengajakku untuk bertemu Gavyn teman lamaku. Kau ingin menitip sesuatu**?


Bella bergegas membalas pesan itu. Ia sudah bisa menerima kalau Alfred boleh dekat dengan Helena, mantan guru sekaligus penjaga ruang UKS di sekolah menengah atasnya dulu. Meskipun dia juga memberikan batasan tertentu pada pria itu.


Kegiatan Bella tidak lepas dari pengamatan Ashley, Aleysia juga Edward di sekelilingnya yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.


"Bella?" Ashley berseru.


"Ya, kenapa? A-ah.. Maafkan aku itu tadi..." bola mata Bella bergerak-gerak bingung.


"Ashley saja." Ashley menimpali. "Apa itu message dari si mata empat?" Cibir Ashley tak suka.


"Pppfftt..." Aleysia menahan tawanya dan di lirik oleh Bella kesal.


"Dia punya nama Ashley, Alfred namanya. Bisakah kau memanggil namanya dengan benar?!" Sungut Bella, dia tak terima kalau kekasihnya di ejek dengan sebutan mata empat. Kekasihnya itu punya nama.


"Huh!! Terserah! Dan dia?" Ashley lalu menunjuk Edward dan Bella mengikuti petunjuk dari jari telunjuk tangan Ashley. "Si pria aneh ini kekasihmu?"


CTAK!!


Perempatan imajiner muncul di pelipis Edward mulai berkedut kesal. Sedangkan Bella memutar bola matanya jengah.


"Dia juga punya nama Ashley. Edward Lincoln."


"Oh.." Sahut Ashley enteng. Mengangguk-ngangguk. Jarinya bermain di bibir gelas juice-nya dengan tampang cuek.


Bella di buat speechless mendengar jawaban singkat dari Ashley yang begitu santai. Sementara sang empunya punya nama hanya bisa menaikkan satu alisnya menatap wanita di depannya heran. Baru kali ini dia melihat seseorang yang tidak peduli pada nama marga keluarganya yang di sebut.


Bbrruuuptt!!


"Aleysia!!! Apaan sih?! Kau Jorok!!" Teriak Bella yang kena sembur Aleysia tepat membasahi wajah dan sebagian pakaiannya.


"Aduh, ma-maaf, Bella. Aku tidak sengaja." Sesal Aleysia seraya menyodorkan sapu tangan untuk Bella. Namun Edward langsung mengambil sapu tangan itu lantas di sekanya air juice yang di sembur Menmoleh Aleysia di wajah Bella.


"Aku saja, Edward. Aku bisa sendiri." Pinta Bella mengambil alih sapu tangan dari Edward. Namun Edward tak menggubris.


"Edward."


"Diamlah!" Gertak Edward masih menyeka wajah si blonde. Mendapat gertakan dari Edward membuat Bella serta merta bungkam.


"Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan, pria aneh? Bella bilang dia bisa sendiri." Seloroh Ashley tidak suka. Tapi Edward hanya bergumam dengan dua huruf andalannya dan masih tetap setia mengelap wajah Bella yang basah.


"Tunggu!! Kau bilang namamu adalah Edward Lincoln, bukan?" Aleysia bersuara menunjuk Edward.


Ashley mengernyit. Lincoln? Hey!! Si pria aneh ini berasal dari keluarga Lincoln? Jadi masih satu keluarga dengan ayahnya? Apa ayahnya memiliki ikatan saudara dengan keluarga si pria aneh di depannya ini? Tapi kalau di perhatikan...


Aleysia melirik Ashley, tepat ketika Ashley juga melirik dirinya. Seolah mereka sedang berkomunikasi lewat mata mereka.


Edward menyadari bahwa saat ini kedua orang di depannya itu tengah menatapnya. Terutama wanita yang bernama Ashley.


"Apa ada yang salah dengan wajahku?" celetuk Edward akhirnya. Namun pandangannya tetap fokus pada Bella.


"Thanks Edward." lirih Bella.


"Tidak. Jangan GR kau pria aneh." Ashley menyanggah ketus.


"Hmm?" Edward menaikkan satu alisnya menatap Ashley heran.


"Kau bilang kau dari keluarga Lincoln, bukan. Apa kau mengenal Chal Lincolnshire?" Aleysia menengahi untuk kembali bertanya. Sudah sedari tadi Aleysia merasa kalau pria yang seumuran dengannya ini seperti mengingatkan dia pada seseorang yang sangat familiar untuk dirinya. Namun dia tidak tahu siapa.


Edward melirik Aleysia sekilas sebelum akhirnya mengangguk. "Hn. Dia saudara jauh keluargaku."


"APA?!!"


.


.


.


Seorang pria bertubuh tegap bersurai hitam jabrik mulai memasuki cafe and resto di mana Bella dan yang lainnya berada. Pria itu memakai setelan jas lengkap dan juga rapi layaknya pekerja kantoran.


Pria tersebut lalu mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan tempat Bella dan yang lainnya berada. Menghadap ke arah lain.


"Silahkan tuan, anda mau memesan apa?" Ujar seorang pelayan cafe itu memberikan menu book pada laki-laki itu.


"Cappuccino no creamy." Jawab pria itu singkat.


"Ada yang lain?" Tanya pelayan itu lagi setelah mencatat pesanan pria itu.


"Hm." Sang pria hanya bergumam menggeleng sebagai jawaban.


"Baiklah. Mohon di tunggu sebentar."


Tak lama setelah pelayan itu pergi, sang pria berjas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Alfred cukup terkejut ketika mengetahui tujuan Helena yang membawanya ke sebuah cafe and resto langganan Bella di dekat kampus wanita itu. Ia mengernyit. Alfred hampir membuka mulutnya ketika tiba-tiba ponsel Helena berdering.


"Kami sudah di depan."


" .... "


Sementara Helena sibuk dengan ponselnya, Alfred hanya menyandarkan diri pada pilar cafe. Sedetik kemudian matanya memicing ketika tak sengaja menangkap sosok siluet seorang wanita bersurai blonde keemasan yang sangat di kenalnya berada di dalam cafe dengan dua wanita dan Edward .


"Bella?" Lirihnya. Ia kembali menajamkan penglihatannya pada dua wanita yang berada di depan Bella.


'Dia...'


"Ayo Al. Gavyn ternyata sudah ada di dalam." Tukas Helena mengagetkan Alfred dari lamunannya.


"Okay." Alfred masih memandang kedua wanita yang seperti tak asing dengannya itu.


Ketika keduanya memasuki cafe itu, baru beberapa langkah Alfred masuk, seseorang berteriak memanggil dan menunjuk dirinya begitu kencang.


"Hey, Kau! Mata empat!!"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2