
"Ngh."
Terdengar suara lenguhan dari seorang gadis bersurai blonde yang menyembul di balik selimut yang membungkus tubuhnya. Tetapi ada yang berbeda dari pagi ini. Ada yang menemaninya tidur dalam satu tempat tidurnya tadi malam.
Di balik selimut itu, menyembul surai blonde miliknya bercampur dengan surai dark brown milik orang lain. Ah, lebih tepatnya itu adalah surai milik dari dua anak keturunan Adam yang sedang di landa kasmaran.
Bella Aberald, yang tak lain adalah gadis bersurai blonde pemilik mata biru seindah lautan itu telah terbangun dari tidurnya. Dan yang menyambut paginya untuk pertama kali yaitu, dia merasakan tubuhnya seakan tertimpa benda berat berkilo-kilo. Ada yang tengah tertidur sambil memeluknya posesif, ternyata. Dan juga wajah mereka begitu sangat dekat, karena posisi mereka yang berhadapan. Hanya saja, kepala gadis blonde itu berada dekat dengan dada pria di sampingnya, di mana lengan tangan dari pria yang memeluknya erat dalam tidurnya itu di gunakan sebagai ganti bantal.
Aahh... Betapa indahnya dunia di rasa. Kala ia merasakan debaran cinta yang begitu mengalun merdu..
Seketika kedua pipi Bella merona tersipu malu sembari menahan diri untuk tidak tersenyum, kala degub jantungnya mulai berdetak lebih kencang saat menyadari bahwa posisinya begitu intens. Wajahnya begitu dekat dengan dada bidangnya yang menonjolkan nipple kecil milik Alfred yang timbul dari balik kaos hitam tanpa lengan ketatnya. Dada pria itu cukup keras dan berotot, jangan lupakan perutnya yang kotak-kotak juga dapat di rasakan oleh gadis itu.
Bella mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang tak lain adalah Alfred Frederick itu. Hanya sedikit saja Bella mulai membuat gerakan, dan tanpa sadar membangunkan tidur Alfred. Atau...pria itu sebenarnya sudah terbangun sedari tadi, dan saat ini dia hanya berpura-pura masih tertidur? Entahlah. Hanya Tuhan dan Alfred yang tahu.
Ketika kelopak mata Alfred mulai perlahan terbuka, Bella yang terkesiap menatap Alfred dengan mata membulat sempurna. Alfred mengerjap-ngerjapkan matanya perih, sebelum akhirnya mulai terbiasa dengan cahaya dari sinar matahari, Bella nyengir.
"Hehe..... Pagi kak Al. Hehe..." Alfred terkekeh dengan malas masih merasa mengantuk.
"Pagi..." balas pria itu lemah dengan suara serak khas bangun tidur. Tapi siapa yang tahu, bahwa ternyata pria itu hanya ngelindur dan memejamkan matanya lagi, tidur. Bella speechless seketika.
Di angkatnya perlahan tangan kanan gadis itu untuk menggapai wajah Alfred. Ia ingin selalu membelai pipi kakaknya yang tidak memakai kacamata saat tidur seperti sekarang. Bella kembali mengingat kejadian di antara mereka kemarin sore dengan senyum-senyum.
Flashback On..
Setelah berendam hampir 4 jam di kolam pemandian air panas, Bella merasa jika suhu di ruangannya menjadi begitu dingin. Apa karena efek berendam terlalu lama di kolam air panas, jadi merasa kedinginan? Pikirnya.
Gadis itu kini berada di sebuah kamar penginapan yang di sewa oleh Alfred. Mengingat Alfred memang tidak ingin kembali cepat ke rumahnya yang di tempati oleh Ramon, pria itu memilih opsi dengan pergi berlibur ke tempat pemandian air panas dan penginapan untuk satu malam yang tak jauh dari kota tempat tinggal Ramon dengan menempuh jarak perjalanan selama satu jam.
Bella kini berada di kamar penginapan itu seorang diri, dengan masih memakai kimono mandi yang telah di sediakan pihak penginapan. Alfred beruntung mendapatkan kamar VIP dengan kolam air panas yang berada di dalam satu ruangan masih tersedia saat itu, sehingga Alfred tidak harus berpindah dari kolam air panas umum ke kamar penginapan umum yang tersedia bagi wisatawan umum. Hal itu di pilih oleh Alfred karena dia tidak ingin adiknya berada di satu ruangan dengan orang lain saat mandi ataupun berjalan di koridor dengan banyak pria yang mungkin bertebaran.
Tap Tap Tap... Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Alfred yang juga masih memakai kimono mandinya bersama seseorang yang tengah membawa sebuah nampan.
"Taruh di sana saja." Kata pria itu menunjuk meja yang tak jauh dari sudut ruangan dekat dengan jendela kamarnya.
Wanita yang memakai seragam rapi ternyata adalah seorang pelayan. Yang mengantarkan seteko teh panas yang masih mengepulkan uap panas. Setelah pelayan wanita itu pergi, Bella menghampiri Alfred dan duduk di bangku yang terhubung langsung pada jendela.
"Emm, hey kak."
"Hmm?" Sahut Alfred bergumam sambil menuangkan teh panas itu pada cangkir kecil khusus teh dan memberikannya pada Bella yang tampak menggigil karena kedinginan.
"Apa kita bisa tinggal dengan kak Ramon juga kak Nicky lagi suatu hari nanti, kak?" Tanya Bella penuh harap.
"Tentu saja. Kau bilang kau ingin tinggal di rumah itu, kan?" Alfred menatap gadis itu dengan senyuman.
"Hum, hum.." Angguk Bella, antusias. Matanya berbinar penuh ketertarikan.
"Kita bisa tinggal di rumah itu kapanpun kau suka, kok. Karena itu memang rumah kita."
"Eh?!" Bella terkesiap. "Rumah kita? Maksud kakak apa?" Beo gadis itu bertanya meminta penjelasan.
"Rumah itu milik kak Thomas, Bella. Ayahmu. Tapi setelah ayahmu meninggal, aku memilih untuk merantau ke Kota Washington dan mencari pendidikan juga pekerjaan yang berpenghasilan cukup lumayan untuk kita. Selain untuk membiayai hidup kita berdua, kakak juga harus sekolah jika ingin mempunyai pekerjaan yang layak, bukan?" Jelas Alfred. Ia mengalihkan pandangannya ke luar. Menatap langit yang mulai senja sembari menyeruput teh panasnya. "Ramon dan Nicky dulu meminta tolong pada kakak untuk mencarikan tempat tinggal ketika empat tahun lalu. Karena penyewa rumah kita sebelumnya sudah pindah, kakak meminta dia untuk mengurus rumah kita saja. Agar suatu saat nanti ketika kita kembali, rumah itu ada yang mengurus seperti yang kita inginkan."
Bella bergumam mulai mengerti. "Mengingat kamu menyukai tanaman dan suka berkebun, aku sengaja meminta Nicky untuk menanam tanaman yang sekiranya sama dengan yang kau sukai. Terlebih di halaman depan rumah yang masih ada sisa tempat kosong." Imbuhnya.
"Kau tahu, Bell. Hampir seluruh tanaman di rumah itu adalah hasil berkebun yang di lakukan ibu dan juga ayahmu ketika mereka masih hidup. Kakak hanya menambahkan tiga jenis bunga saja yang kau tanam di apartment Washington." Jelasnya lagi.
"Jadi, mommy suka berkebun juga?" Alfred mengangguk.
Bella bergeming dengan pikirannya sendiri sambil tersenyum. Gadis itu membayangkan bagaimana cara mommynya yang sedang berkebun bersama ayahnya. Haㅡah... Andai mereka masih ada dan berada di sampingnya. Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu bahagia.
Alfred bukannya tidak tahu dengan apa yang tengah di pikirkan oleh gadis itu. Namun dia memilih mengabaikan gadis itu dan memilih menikmati secangkir teh panas di cangkirnya dengan perasaan nikmat.
**********
Malam mulai larut. Langit sudah menjadi gelap. Dan saatnya untuk menggelung diri di atas tempat tidur.
Di dalam kamar penginapan yang di pesan oleh Alfred, kamar itu memiliki satu tempat tidur dengan ukuran king size. Di depan tempat tidur itu, ada sofa tanpa lengan yang beralaskan busa empuk sebagai tempat santai yang dekat dengan jendela kamar penginapan mereka.
Awalnya, dia pikir memesan satu tidak menjadi masalah bagi mereka yang memang hanya sekedar kakak dengan adik. Alfred juga bisa tidur di sofa khusus untuk tidur dan tempat tidurnya sendiri untuk Bella. Hal itu pasti tidak akan menjadi canggung, bukan?
Tapi sekarang, saat mengetahui bagaimana perasaan Bella yang sesungguhnya terhadapnya, dia tidak bisa menjamin keselamatan adiknya itu.
Dirinya takut bila sampai kelepasan dan tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Bella karena berada di ruang yang sama. Dan lagi, dia mengingat dengan sangat jelas ucapan Thomas dulu. Meski usianya masih 10 tahun. Tapi ia sudah bisa mengerti maksud dari Bella yang special. Mengingat Thomas selalu mengingatkannya untuk menjaga Bella dari laki-laki yang memiliki niat tidak baik terhadap adiknya. Tak terkecuali tentu saja dirinya sendiri.
Haㅡah.. Bila di ingat-ingat lagi, dia begitu miris. Dia yang di suruh menjaga dan menjauhkan Bella dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab, namun dirinya sendirilah yang justru di waspadai. Dan beresiko tinggi untuk tergoda. Hahaha... Bukanlah itu sangat lucu? ( ̄△ ̄;)
Dan lagi, kenapa dia harus repot-repot menjaga jarak? Bukankah dia bisa menyewa kamar yang lain? Terlalu boros pikirnya. Toh, satu kamar saja sudah bisa di pakai untuk beberapa orang. Pelit? Bukan.
Bukan pelit. Alfred melakukan itu karena dia masih sadar, banyak hal yang bergantung pada uang. Jika dia terus mengeluarkan uang dalam jumlah besar, tapi pemasukan sedikit akan berdampak buruk untuk hidup ke depannya. Apalagi, Bella masih membutuhkan banyak sekali uang untuk biaya masuk kuliahnya nanti.
Bella yang baru masuk ke kamar mereka mengernyit mendapati kakaknya yang sudah memposisikan untuk tidur di sofa tidur yang dekat dengan jendela kamar mereka. Sontak ia menekuk wajahnya kecewa.
"Kenapa?" Celetuk Bella, tiba-tiba.
"Huh? Ada apa, Bell? Apa ada yang kau butuhkan?" Alfred yang belum benar-benar tidur menoleh ke arah adiknya dengan tatapan bingung.
"Kenapa kak?" Kembali Bella bertanya masih tidak jelas. Tetapi sorot matanya menatap lurus pada sofa yang di tempati Alfred dengan terluka dan kecewa.
Alfred bangkit dari tidurnya dan terdiam. Menatap lekat Bella mencari maksud ucapan adiknya yang membingungkan itu. Matanya menyempit saat melihat sorot kecewa di mata gadis itu yang memperhatikan sofa yang dia duduki. Sejenak ia menggaruk pelipisnya merasa bersalah. Serba salah jadinya. Haㅡah..
Mendesah pelan, ia tersenyum paham. "Kemarilah." Perintahnya. Dan Bella mendekati Alfred, menurut. Ia duduk di samping pria itu dengan mata menunduk tak mau menatap kakaknya.
"Kakak tidak bisa lagi tidur bersebelahan dengan kamu lagi. Kakak takut kalau kakakㅡ" ucapannya menggantung. Ah, sekarang malah jadi salah tingkah. Bingung harus menjawab apa.
Bella mendongak menatap Alfred masih dengan sorot mata terluka. Alfred tambah salah tingkah. Astaga.. Salah lagi. "Aa.. Eemm... Ehem, begini Bella. Maksud kakak.. Kau itu perempuan, dan kakak itu laki-laki."
"Aku tidak peduli. Bella hanya ingin tidur seperti biasa saja. Apa karena Bella sudah tahu kalau kamu bukan kakak kandungku, lalu kakak tidur seperti itu?" Rajuk Bella, menyanggah. Ia bahkan merengek. Menampilkan mata puppy eyes andalan miliknya di hadapan Alfred. Ia tahu, kakaknya hanya akan luluh dengan jurus yang satu itu.
Haㅡah.. Cobaan. Semoga saja aku tidak kelepasan nanti. Pasrah Alfred membatin frustasi.
"Baiklah. Kita tidur seperti biasa." Bella memekik dengan mata berbinar cerah. Akhirnya jurusnya berhasil juga. Gadis itu bahkan tidak sadar kalau ia meloncat hampir terjerembab jatuh ketika ia menubruk Alfred untuk di peluknya.
"Aa... Woo.. Be-Bella!! Awas, bisa jatuh nanti." Pekik Alfred, menahan tubuh Bella yang bergelayut manja di lehernya.
"Aku mencintaimu, kakak. Terima kasih." Seru Bella. Gadis itu tertawa senang dengan cengiran khasnya. Membuat Alfred mendesah pasrah melihatnya sebelum ikut tersenyum dengan kekehan ringan.
'Haㅡah.. Astaga.'
Hening.
Alfred kemudian mengangkat tubuh ringan milik adiknya itu seperti menggendong seorang putri, dia berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuh Bella di sana.
"Saatnya tidur putri Bella yang cantik." Setelah siap, Alfred menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu. Lantas berputar ke arah lain tempat tidur dan naik ke atasnya.
Bella memperhatikan Alfred yang berjalan untuk naik ke atas tempat tidurnya dengan senyum dan semburat merah di pipinya dengan perasaan bahagia. Setelah pria itu masuk ke dalam selimut, Bella memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah lria itu, menumpu sisi kepalanya dengan telapak tangan. Gadis itu sama sekali tidak berkedip ketika menatap Alfred intens, membuat pria itu sadar akan tingkah adiknya yang berbeda.
__ADS_1
Alfred tersenyum tipis, melesakkan tubuhnya semakin dalam ke dalam selimut lalu memberi isyarat pada gadis blonde itu untuk mendekat ke arahnya.
Bella semakin tersenyum sumringah, lantas menggeser tubuhnya untuk mendekat. Detik berikutnya, Alfred meluruskan lengan kirinya di atas kepala Bella dan memindahkan kepala gadis itu di atas bisepnya yang kokoh. Alfred menarik tubuh Bella semakin mendekat sebelum dia merengkuh tubuh adiknya ke dalam pelukannya.
"Tidurlah. Kita akan kembali ke Washington besok." Perintah Alfred. Pria itu hanya mengecup ubun-ubun Bella sembari membelai lembut penuh buaian pada surai adiknya sayang. Tangan lainnya, menepuk-nepuk bahu punggung Bella seolah membimbing gadis itu untuk segera tidur.
"Kakak juga harus tidur." Cicit Bella dengan mata yang sudah mulai menyayu karena ngantuk. Alfred bisa apa kalau adiknya itu benar-benar manja kepadanya.
Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk, membuat Bella semakin bahagia dan menarik diri untuk masuk ke dalam selimut.
Alfred semakin memeluk Bella ke dalam rengkuhan. Sesekali menciumi pucuk kepala adiknya berkali-kali.
Bella mendongakkan kepalanya menatap Alfred bingung. Dan di balas oleh sorot mata obsidian pria itu seolah bertanya 'ada apa?' Bella hanya menggeleng. Bergerak sedikit untuk sedikit ke atas mensejajarkan wajah mereka. Hingga membuat hembusan nafas hangat mereka berbaur mengenai wajah mereka satu sama lain. Dan tanpa bicara, ia langsung mengecup bibir Alfred lembut. Ia bahkan menutup matanya. Dengan jantungnya yang berdegup dengan keras begitu menyenangkan.
Alfred melotot tidak percaya. Ya Tuhan, kenapa imannya kini tergoda? Bella, kau memang cobaan terberatku sekarang ini. Batin Alfred nelangsa. Ia mengusap wajahnya kasar ketika Bella sudah melepas bibirnya. Dia harus bisa mengendalikan libidonya sebisa mungkin kalau dekat dengan gadis blonde nakal itu sekarang.
Hal yang tak terdugapun akhirnya terjadi. Bella benar-benar menguji imannya sekarang.
Bella dengan beraninya kembali mendekatkan wajahnya kembali. Kali ini, gadis itu mengecup kedua mata Alfred, kedua pipi, hidungnya, dan terakhir kening pria itu dengan sedikit agresif.
Terkejut dengan tindakan tiba - tiba yang di lakukan oleh Bella, matanya terbelalak sempurna menerima perlakuan tal terduga gadis blonde itu. Namun detik berikutnya entah apa yang mendorong dirinya, Alfred melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Bella, membalas pelukan gadis blonde itu. Dan juga membalas perlakuan Bella yang halus dan memabukkan. Bella memejamkan mata semakin menikmati setiap perlakuan Alfred yang sangat di rindunya.
Gejolak dalam tubuhnya tidak mungkin bisa di hentikan begitu mudah. Ia benar-benar menginginkan Bella sekarang untuk berada di dalam dominasinya. Tapi...
Ketika Alfred hampir mendekati bibir adiknya, logikanya kembali tersadar. Dia.. Tidak bisa melakukan ini. Bella masih di bawah umur. Usianya masih 13 tahun. Dia tidak bisa melakukan sesuatu yang senonoh terhadap adiknya yang masih polos.
"Emm... Tidur sekarang. Sudah malam." kata Alfred, memutuskan untuk menghentikan perbuatan laknatnya.
Namun ekspresi Bella tiba-tiba menyendu ketika bibir kakaknya tidak jadi menyentuh bibirnya seperti yang dia harapkan.
"Tidurlah Naru. Kakak mau ke kamar mandi sebentar." Dan untungnya Bella mengangguk mengiyakan meskipun merasa sedikit tidak rela. Hal itu membuat Alfred hanya bisa tersenyum hambar ke arahnya. Dalam hati ia mendesah lega karena ia masih bisa mengontrol libidonya. Meski di dalam kamar mandi ia harus terpaksa melakukan ritualnya untuk pelepasan.
Ha-ah.. Nasib, Nasib.
Flashback off...
"Apa kau sudah puas memandangi wajah kakakmu ini, Huh?" Celetuk Alfred tanpa membuka matanya.
"Huh?!" Bella tersentak lantas menjauhkan jari tangannya yang masih menyentuh wajah Alfred dengan gusar. Membuat sang empunya punya wajah meremang karena geli.
Grep!!
Alfred segera menahan jari tangan kanan Bella. Menggenggamnya erat dan perlahan membuka mata obsidian miliknya yang terpejam.
Blush!!
Wajah Bella seketika terasa panas dan berubah merah padam. Hingga kedua telinga gadis itupun ikut terbakar karena rasa gugup juga malu.
"Ma-maafkan Bella, kak. Bella..." Tukas gadis itu terbara-bata karena grogi.
"Hmm.. Tidak apa. Kau boleh melakukan apapun yang kau suka, Bella." Ucap Alfred sembari menempelkan jari-jemari Bella yang ia genggam kembali untuk menyentuh wajahnya.
"Uh- i-iya, kak. Hehehe..."
Alfred mendengus geli melihat tingkah malu-malu Bella yang baginya itu sungguh lucu.
"Kita mandi dulu, sekarang. Kita harus pulang, kan? Besok juga kita sudah sekolah kembali."
Setelah kembali ke rumah mendiang Thomas dan Adelina, di mana di sana Ramon juga Nicky sementara tinggal, Alfred dan Bella segera berpamitan kepada keduanya. Setelahnya, mereka langsung pulang menuju ke kota Washington.
Selama perjalanan pulang, Bella sama sekali tidak melepas tangannya yang melingkar di perut Alfred. Mengabaikan tatapan dari pengendara lainnya. Ibarat kata, dunia serasa milik berdua.
*********
Yoana terus berharap semoga alamat yang mereka tuju benar-benar menunjukkan bahwa putra satu-satunya berada di sana.
Hans tampak santai-santai saja di dalam taxi sembari menikmati pemandangan hehijauan yang terhampar di sekeliling mereka.
"Tidak heran anak itu akan betah tinggal di sini. Haha..." kekehnya tertawa lirih. Yoana melirik suaminya ikut tersenyum.
Tak hanya Hans saja yang bisa merasakan nyamannya tinggal di Wyoming. Dirinya juga merasakan efeknya walaupun masih berada di dalam taxi.
"Benarkah dia sudah menikah? Hans, detektif yang kau sewa tidak akan salah mengenali orang, kan?"
"Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kamu berfikir sedangkal itu? Hmph.." Hans terkekeh.
"Hanya saja... Perasaanku tidak enak. Dan firasatku mendadak tidak baik." ucap Yoana, gelisah. Hans melirik Yoana penuh arti. Namun dia tidak mengatakan apapun.
Beberapa tahun sudah sejak dia mengatakan akan memeriksa berkas-berkas perihal putranya itu terlebih dahulu dan memastikannya, Yoana entah mengapa hanya duduk diam dan cenderung seperti orang yang terkena depresi berat.
Istrinya hanya duduk diam seperti orang mati, jiwanya mati namun raganya masih hidup.
Hans sangat mengenal dengan baik pribadi istrinya yang sebenarnya sangat energik. Wanita itu adalah wanita tangguh yang pernah dia kenal. Yoana memiliki tubuh bak atlet bela diri karena wanita itu telah menyabet sabuk hitam.
Tidak ada pria yang mampu dan mau mendekati wanita itu karena profesinya yang sebagai atlet bela diri. Yoana di takuti oleh semua orang karena ketangkasannya dalam mempraktekkan gerakan-gerakan taekwondo. Tidak hanya taekwondo saja, Yoana bahkan tidak segan-segan mempelajari semua jenis ilmu bela diri seperti wushu, dan karate.
Dirinya bahkan dengan gilanya memperkenalkan diri dan mengatakan maksud aslinya pada Yoana pada saat itu. Siapa yang tahu bahwa Yoana akan menolaknya dengan tegas dalam sekali ucap.
Namun, bukan keluarga Aberald namanya jika dia tidak bisa mendapatkan Yoana. Meskipun dia harus rela menjadi samsak nyata wanita itu tiap kali Yoana akan berlatih. Dan meskipun hal itu mengakibatkan dirinya harus di rawat di rumah sakit, dia tetap tidak akan menyerah.
Alhasil, tentu saja. Hasil tidak akan mengkhianati usahanya.
Yoana yang memiliki hati sekeras batu, yang tidak akan pernah luluh hanya karena seorang pria menyatakan cinta kepadanya, akhirnya meluluhkan hatinya kepada Hans.
Terlebih, Yoana adalah pribadi yang sebelumnya sangat bebas. Hal itu membuatnya awet muda. Entah apa rahasia wanita itu untuk bisa selalu tampil cantik dan muda walaupun tanpa make up sekalipun.
Dia adalah seorang pria yang berusia dua puluh lima tahun ketika mengenal Yoana yang masih berusia sembilan belas tahun.
Tapi setelah mereka menikah dan menjalani kehidupan pernikahan bersama selama hampir lima belas tahun, Hans merasa sedikit bersedih. Usianya yang menginjak empat puluh tahun, dia terlihat cukup tua dengan banyaknya keriput tipis di bagian wajahnya, khususnya di mata. Namun, Yoana tidak. Kala itu, Yoana sudah menginjak usia yang ke tiga puluh empat tahun dan wajahnya masih terlihat muda layaknya seorang ABG.
Hal yang tidak bisa Hans mengerti dan ia temukan jawabannya. Bahkan, meskipun mereka sudah tinggal seatap, Hans sama sekali tidak mengerti dengan beberapa produk yang di pakai oleh istrinya itu. Di meja rias milik Yoana hanya ada beberapa alat kecantikan yang baginya sudah biasa di lihatnya sewaktu muda dulu. Alat kecantikan yang mahalpun, dia sama sekali tidak melihatnya dari sang istri. Jangankan alat make up mahal, Yoana memintanya untuk mengantarkan ke salonpun tidak pernah.
Apa rahasia cantik muda istrinya itu?
Terkadang hal itu membuatnya minder. Dua sudah tua berkeriput, istrinya masih terlihat sangat kencang. Tidak heran semua klien bisnisnya selalu mengejeknya pedophile. Seorang pria yang menikahi seorang wanita di bawah umur. Haㅡah... Padahal, usia mereka hanya terpaut enam tahun dan bukan belasan tahun. Astaga!
Tapi saat ini, tanpa di sadari oleh Yoana, Hans bisa melihat garis keriput tipis di bawah matanya meskipun itu samar di usianya yang menginjak lima puluh lebih itu. Mungkin, karena efek stress yang berkepanjangan hingga mengakibatkan keriput tipis muncul di permukaan wajah wanita itu lambat laun.
Satu setengah jam kemudian, taxi yang mereka tumpangi mulai melambatkan lajunya dan berhenti di jalan kecil tepat di depan sebuah rumah mungil dengan halaman yang luas penuh dengan tanaman hijau.
"Ini... Tempat tinggal Thomas?" ujar Yoana, ragu. Dia memperhatikan rumah itu dengan pikiran campur aduk.
Sebenarnya, dia tidak berfikir rumah itu buruk. Bahkan rumah mungil tersebut terlihat sangat nyaman dan nuansa kekeluargaan yang damai bisa terlihat. Jika dia masih muda dan tinggal berdua dengan Hans setelah menikah di rumah semacam ini, jelas sekali kenangan yang mereka dapat tidak akan pernah terlupakan.
"Ayo. Kita cari jawabannya."
Yoana tidak menyahut, dan hanya berjalan beriringan dengan Hans menuju rumah itu.
__ADS_1
Ketika keduanya hampir sampai ke rumah itu, pintu rumah mungil tersebut terbuka dan menampilkan sosok pria bersurai panjang lurus keluar. Yoana dan Hans menghentikan langkah mereka ragu.
"Ramon, aku pergi ke pasar dulu."
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan!" sahut suara pria dengan suara berseru.
Nicky, pemuda bersurai panjang itu membalikkan tubuhnya dan dalam tiga langkahnya, tiba-tiba dia menghentikannya ketika melihat Yoana dan Hans yang berdiri mematung menatapnya intens.
Senyum Nicky luntur. Dengan ragu, Nicky menatap keduanya bingung, lantas melirik tempat tinggalnya sekilas sebelum pemuda itu berjalan kembali dengan senyum ramah menghampiri keduanya.
"Eehh...permisi ada yang bisa saya bantu, tuan, nyonya? Apa ada seseorang yang anda cari?" ujar Nicky, seramah mungkin.
"Thomas. Apa benar ini rumah milik Thomas Aberald?"
Nicky terkesiap. Tapi secelat mungkin dia mengontrol sikapnya. "Oh, masuklah dulu tuan. Mari nyonya."
Mau tidak mau, Nicky-pun kembali masuk ke dalam rumah tempat tinggalnya.
Ketika mendengar suara pintu di buka kembali, Ramon mengerutkan kening bingung sebelum dia beranjak dari tempatnya untuk keluar melihat siapa yang datang.
"Nicky, kenapa kau pulang lagㅡ"
"Silakan duduk tuan, nyonya. Sebentar saya ambilkan minum dulu." Nicky berbalik, ketika dia hendak melangkah masuk, tepat di depannya adalah Ramon yang menatapnya bingung lantas melirik ke belakang punggungnya, di mana di ruang tamu ada Hans dan Yoana yang juga menatapnya ingin tahu.
"Sebentar tuan, saya tinggal dulu." kata Nicky, lagi. "Ayo masuk dulu. Akan aku ceritakan nanti." bisik pemuda itu mendorong Ramon untuk kembali masuk.
Ketika mereka di dapur, Ramon kembali menatap Nicky meminta penjelasan. "Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi mereka mencari tuan Thomas, pemilik asli rumah ini." jelas pemuda itu sembari berbolak balik mengambil cangkir dan membuat teh untuk empat cangkir.
Ramon terkesiap mulai paham. Astaga, baru saja Alfred kembali ke Washington. Seandainya pria itu masih mau tinggal untuk beberapa jam lagi.
Tanpa kata, Ramon membantu Nicky untuk membawa nampan berisi teh dan camilan kemudian mengikuti Nicky dari belakang kembali ke ruang tamu.
Di sisi lain, Hans dan Yoana tidak sengaja melihat potret Thomas yang tengah tersenyum lebar memeluk seorang wanita bersurai merah panjang dengan seorang bayi di tengah-tengah mereka. Di antara mereka, ada seorang anak laki-laki bersurai dark brown dengan ekspresi dingin.
Yoana tertegun melihat potret itu, hingga Nicky dan Ramon muncul kembali di antara mereka. Nicky tersenyum ramah, meletakkan dua cangkir ke pada keduanya di atas meja sedangkan milik mereka masih tetap berada di atas nampan.
"Silakan di minum dulu tehnya tuan."
Hans duduk kembali dan mengambil teh yang di suguhkan untuknya, di abaikannya Yoana yang masih betah menatap potret tua milik Thomas.
Nicky menatap Yoana sekilas lalu ke arah potret itu, "Itu foto keluarga tuan Aberald beberapa belas tahun lalu."
Mendengar penjelasan Nicky, Yoana memutar kepalanya untuk menatap Nicky seolah meminta pemuda itu untuk menjelaskannya. "Saya tidak terlalu mengerti tentang keluarga mereka. Tapi...."
"Maaf tuan, sebelumnya. Saya dengar, anda mencari tuan Thomas pemilik rumah ini?"
"Ya, benar. Apa benar ini kediamannya?" jawab Hans seraya bertanya.
"Benar. Sebenarnya saya tidak bisa mengatakan ini kepada anda. Saya tidak berhak." Hans dan Yoana saling melirik satu sama lain dengan kernyitan tidak mengerti. "Tapi sepertinya ini di perlukan. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri saya sebagai Ramon. Dan ini adik saya Nicky."
Ramon lantas menceritakan beberapa kebenaran tentang keluarga Thomas juga Adelina yang sedikit ia ketahui dari mulut Alfred sebelumnya.
Mendengar kebenaran dari bibir mereka, Yoana tidak bisa membendung rasa bersalahnya selama ini. Dan detik berikutnya, airmata yang selama ini tidak pernah lagi keluar akhirnya pecah.
.
.
.
.
Bella berlari dengan langkah riang di sepanjang koridor sekolahnya pagi ini. Ia ingin sekali menceritakan semuanya pada sahabatnya Ken. Tiga hari dia tidak bertemu dengan sahabat pecinta anjingnya itu dan rasanya, ia sedikit merindukannya.
Siswa siswi yang berada di sepanjang koridor itupun memperhatikan Bella penuh minat dan penuh rasa iri. Seolah ada yang menarik pada wajah gadis blonde itu untuk di perhatikan setiap saat.
Sementara itu, Ken yang sedang di rundung pilu mendesah kesal di kelas di sebabkan oleh Sam, sahabat masa kecilnya yang tidak mau mengajarinya mengerjakan tugas pekerjaan rumah pelajaran Matematika.
"Ayolah, Sam. Bantu aku~ Aku tidak mau kalau sampai kena hukuman lagi dari Pak Alfred lagi." Rengek Ken menggoyang-goyangkan tubuh Sam yang terus saja menguap dan menelungkupkan wajahnya di atas meja, mengabaikan Ken yang terus saja merengek dan memilih untuk menutup telinganya.
"Hoaamm.. Merepotkan. Kau bisa meminta tolong pada Bella, kan? Dia juga jago matematika."
"Iya kalau dia datang. Kalau tidak?" Elak Ken. Dia memang tidak yakin sahabatnya itu akan berangkat atau tidak. Sampai....
"Selamat pagi, semuanya!! Bella di sini!" Pekik gadis itu tiba-tiba di ambang pintu kelasnya. Tidak lupa cengiran lebarnya yang terpatri sangat jelas di wajahnya. Hal itu membuat seluruh teman sekelasnya di buat terpesona untuk yang kesekian kalinya setiap kali gadis itu muncul.
Ken langsung menoleh ke arah Bella dengan mata berbinar. Wajahnya kembali mewek juga terharu. Karena tidak menyangka sahabatnya Bella akhirnya berangkat juga.
"Bella...!! Akhirnya kau berangkat juga. Hiks.. Hiks.." Ken berlari menghampiri Bella dengan sedikit drama nangis bombay seraya memeluk erat gadis itu. Akhirnya, penyelamatnya datang juga.
"Eh?!" Bella sweatdrop melihat tingkah absurd sahabatnya yang tiba-tiba. "Kau kenapa Ken?" Tanya Bella.
Ken menunduk menatap Bella yang lebih pendek darinya dengan jurus puppynya. "Aku belum mengerjakan tugas matematika, Bell. Bisa kan. Membantuku.?" Pinta Ken menunjukkan wajah puppy eyes andalannya yang terlihat malah ingin di garuk.
Bella tersenyum kikuk. Merasa tidak enak hati. Dia sudah di larang oleh kakaknya untuk tidak memberi contekan pada Ken. Melihat mimik Bella yang kikuk, Ken mulai mengerti. "Tenang saja Bell. Kau cukup ajari aku saja."
"Eh?" Bella terkesiap seketika, menatap Ken lekat. Tidak menyangka dia akan mendengar kata tabu yang keluar dari bibir Ken.
"Baiklah."
Saat Bella hampir membuka suaranya untuk bercerita, tiba-tiba terdengar suara berat memanggil namanya.
"Edward? Ada apa?" Tanya Bella dengan kening berkerut bingung pada sosok pemuda bersurai emo yang akhir-akhir ini jarang di temuinya.
"Ikut aku sebentar." Jawab Edward hampir seperti bisikan.
Bella mengernyit, tumben sekali. Pikir Bella. Tapi pada akhirnya gadis itu menurut juga. Ia mengikuti Edward yang sudah lebih dulu pergi mendahului dirinya dengan pikiran masih bertanya-tanya. Apa gerangan yang membuat Edward memintanya untuk ikut dengannya tiba-tiba begini? Apalagi di jam sepagi ini. Yang pelajaran pertama saja belum masuk.
Edward terus berjalan menuju ke lantai atas menuju ke rooftops. Gadis itu bisa menebak kalau tujuan mereka adalah atap sekolah. Gadis itu meneguk ludah kering, ketika tiba-tiba saja ia merasa jika saat ini tubuhnya mulai gelisah.
Kreeiitt...
Suara pintu atap berdecit. Menandakan kalau engsel pintu itu tidak pernah di beri minyak pelumas.
Ketika pintu tertutup, Bella berhenti dari jalannya. Menatap lekat punggung Edward yang masih berjalan lurus menuju kawat pembatas. Edward terdiam sejenak. Mendongak ke langit seraya menghela nafas berat mencoba untuk memberanikan dirinya dan menetralkan debar jantungnya karena rasa gugup.
Setelah ia siap, pemuda itu berbalik dan kembali menyeret kakinya untuk menghampiri Bella. Menatap iris sapphire milik gadis blonde itu intens yang seakan bertanya-tanya.
Edward kembali menghembuskan nafas berat. Menatap Bella semakin intens.
"Bella Aberald. Aku mencintaimu."
.
.
.
__ADS_1
.