
Burung-burung telah berkicau merdu beterbangan untuk mencari makan. Fajar jingga yang kini mulai terbit dari ufuk timur telah menyinari seluruh kota Washington. Sinar mentari menyeruak masuk melalui celah-celah jendela berventilasi. Menyinari tiap insan yang masih betah di atas tempat tidurnya. Menandakan bahwa pagi telah tiba.
Berbeda dengan seorang anak laki-laki dengan mata sayunya, yang tiap pagi hari sudah berkutat di dapur juga untuk membersihkan tempat tinggalnya sebelum fajar naik ke peraduannya. Di tambah lagi, ia memiliki tanggung jawab harus mengurus seorang bayi yang tak lain adalah adiknya sendiri.
Meskipun demikian, hal itu tak menyurutkan semangatnya tiap pagi tiba. Ia juga tidak mengeluhkan keterbatasannya tanpa orangtua. Bahkan ini semua ia anggap sebagai suatu pembelajaran kehidupan yang sangat berharga bagi dirinya.
Masih mending dia membersihkan rumah tempat tinggalnya yang hanya berukuran minim. Coba saja kalau dia masih tinggal di rumah lamanya. Yang harus membersihkan rumah sederhana dengan ukuran terbilang cukup besar itu.
"Oeekk!! Oeekk!!" Alfred tersentak bangkit, lalu berlari mengambil botol susu milik Bella dan menghampiri adiknya di dalam kamar yang sudah bangun dan merasa lapar hingga membuatnya menangis.
"selamat pagi Bella. Maaf ya, kakak sedang mencuci tadi." Ocehnya sambil memegangi botol susu milik Bella. Sekilas Bella terkikik lalu tertawa menanggapi ucapan Alfred. Seolah-olah ia bisa membalas tiap perkataan yang di ucapkan oleh Alfred. Hal itu membuat Alfred tersenyum simpul melihat wajah ceria sang adik.
Draapp.. Draapp..
Alfred menoleh ke arah pintu kamar saat telinganya tak sengaja mendengar derap langkah kaki mendekati kamarnya.
Sreett!!
Pintu kamarnya bergeser menampilkan sosok wanita paruh baya bersurai hitam kelam tengah tersenyum ke arahnya.
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot kemari, bibi Deana. Kau pasti juga sedang repot menyiapkan sarapan untuk keluargamu sendiri, bukan?"
Deana menghela nafas masih menampilkan senyum hangatnya dan mendekati Bella juga Alfred. "Aku sudah selesai menyiapkan semuanya. Sekarang bersiaplah. Biarkan Bella aku yang mengurusnya." Deana segera mengambil alih tubuh mungil Bella dari tangan Alfred lekas di gendongnya.
"Aku mengerti." Alfred kembali bangkit, memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Karena hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah baru.
Tidak butuh waktu lama untuk Alfred bersiap. Anak itu sudah memakai seragam sekolah barunya langsung dari kamar mandi. Alfred juga tidak memasak berat untuk menu sarapannya. Dia hanya menyediakan sandwich sayur saja meski dia sebenarnya masih bisa memasak yang lain.
"Alfred, ayo. Kita berangkat sekarang." Tukas seorang anak laki-laki bersurai dark brown lurus sebahu bermata tajam.
"Ah, ya."
"Mom. Kami berangkat." Pamit Brandon di dalam kamar milik Alfred juga Bella.
Sebelum berangkat, anak laki-laki itu menyempatkan diri untuk mencium kening juga mengecup bibir cherry mungil milik Bella hingga membuat bayi itu tertawa girang sembari mencoba menggapai wajah Alfred.
"Kakak berangkat dulu Bella. Jangan nakal. Jangan merepotkan bibi Deana, Ok?" Peringat Alfred pada sang adik. Dan Bella hanya bisa tersenyum lebar ke arah sang kakak sebagai jawaban. Deana yang memperhatikan interaksi mereka ikut tersenyum.
"Kami berangkat dulu bibi Deana. Mohon bantuannya dan maaf harus merepotkan." Alfred berpamitan sejenak sebelum akhirnya meninggalkan tempat tinggalnya dan menyusul Brandon yang sudah berada di depan rumah sedang nangkring di atas sepedanya.
"Hati-hati di jalan Brandon, Alfred. Jangan ngebut." Seru Deana, lantas ia kembali ke rumahnya membawa beberapa pakaian juga popok untuk Bella yang belum sempat di mandikan oleh Alfred.
"Nah, sekarang saatnya kita bermain dengan Edward, sayang."
Brandon dan juga Alfred terus mengayuh sepeda mereka hingga tak ada yang bersuara selama perjalanan ke sekolah masing-masing. Mereka hanya mengayuh pedal sepeda mereka secepat mungkin agar segera sampai di sekolah baru mereka. Sekolah kebanggaan kota Washington bagi orang mampu. Beruntung Alfred merupakan anak berotak jenius meski anak itu tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar sebelumnya sampai lulus. Dan bersyukurlah dirinya karena Thomas dengan senang hati membimbing dirinya untuk mengejar ketertinggalannya dan mendapat ijasah Sekolah Dasar tanpa perlu bersusah payah meneruskan pendidikan di bangku sekolah.
Sampai di halaman sekolah, mereka langsung memarkirkan sepeda mereka dan mengunci ban sepeda masing-masing. Keduanya masuk bersama menuju papan pengumuman untuk pembagian kelas mereka.
Barisan demi barisan nama-nama berderet di sepanjang kertas putih berukuran satu meter yang di tempel di papan mading. Mata obsidian milik Alfred bergerak-gerak menelusuri baris demi baris membaca deretan nama untuk pembagian kelas itu. Hingga tiba-tiba seorang gadis tersenggol oleh siswa lain dan membuat gadis itu hampir tersungkur jatuh ke tanah jika saja Alfred tidak menahan beban tubuh gadis itu yang ternyata gadis tersebut sebelumnya adalah gadis yang diam-diam sempat memperhatikannya.
"Ah!! Ma-maaf. Maafkan aku." Pekik gadis itu malu.
"Hm." Jawab Alfred hanya bergumam dan kembali pada kegiatannya.
Sementara gadis itu sendiri masih shock ketika sadar siapa orang yang telah menolongnya. Dadanya berdegup kencang seketika, membuatnya berdiri mematung dengan wajah bodoh. Bahkan Alfred yang telah menolongnya terlihat acuh dan tidak sadar sedang di perhatikan oleh gadis yang ia tolong tadi.
"Ah, Alfred! Beruntunglah kita, ternyata kita di kelas yang sama. Ayo, kita di kelas 1-A. Aku sudah menemukan nama kita di papan itu." pekik Brandon. Dan tanpa sadar hal itu mampu menyadarkan lamunan dari gadis itu.
'Alfred? Jadi namanya Alfred? Ah. Dia tadi di kelas mana?' Gadis itu menggerutu kesal, segera kembali mencari nama Alfred sebelum dia juga mencari namanya sendiri.
Seketika matanya membulat sempurna dengan binar mata secerah mentari ketika menemukan nama yang di carinya. 'Ketemu! Sekarang aku.' Dan ia semakin berbinar bahagia saat tahu doanya terkabul. Cepat-cepat gadis itu mundur dengan sedikit berjingkrak.
"Helena, kau di kelas mana?" Seru seorang pemuda bersurai coklat madu dengan sedikit jabrik ketika dirinya baru saja sampai.
"Ah, kita sekelas Gavyn. Ayo." Tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu, Helena menarik tangan Gavyn dan bergegas pergi menuju ke kelas tujuan mereka dengan wajah yang menyiratkan bahwa ia sedang bahagia.
Di kelas 1-A, Alfred dan juga Brandon tiba. Alfred memisahkan diri dari Brandon yang telah lebih dulu memilih tempat duduknya. Alfred sendiri berjalan dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
Ada seorang pemuda bertubuh tegap berisi namun tidak gemuk juga kurus duduk seorang diri di sana.
"Ee... Apa kau duduk sendiri?" tanya Alfred memberanikan diri.
"Ah, ya, ya. Duduk saja, aku tak keberatan." katanya. Namun fokus pemuda itu tidak terarah kepadanya, melainkan pemuda itu kini tengah menatap lekat seseorang. Pemuda itu sedari tadi memperhatikan seorang gadis bersurai Brown gelap dengan gaya curly bermata hazel.
Alfred hanya menggendikkan bahu acuh dan mulai mengambil tempat duduk di sebelahnya. Dengan cuek menopang dagu, dia menatap langit yang cerah dari jendela. Samar-samar ia tersenyum ketika melihat langit biru itu. Ah, dia jadi merindukan adiknya yang bersurai blonde. Dimana sang adik juga memiliki iris mata yang sewarna dengan birunya langit.
"Oh. Siapa kau?" tiba-tiba pemuda yang berada di sebelahnya berseru kala sadar bahwa dia tidak duduk seorang diri. Dia memperhatikan Alfred dengan sorot mata ingin tahu.
"Alfred. Dan kau?"
"Hehe.. Aku Harry. Maaf, aku tidak sadar kau berada di bangku sebelahku. Oh! Benar. Salam kenal, Alfred. Semoga kita bisa menjadi teman yang saling membantu." ujarnya panjang lebar.
"Terima kasih, Harry."
Sementara Brandon sendiri duduk di bangku barisan kedua dari jendela masih sederet dengan Alfred. Pemuda itu juga baru mendapatkan teman baru. Namun sepertinya mereka sudah cukup akrab sebelumnya. Brandon duduk bersama seorang pria bersurai putih keabuan. Sepertinya warna rambutnya memang alami. Pemuda itu memperkenalkan dirinya dengan nama Jalal.
Helena juga Gavyn baru saja masuk. Sebisa mungkin gadis itu tidak memperlihatkan ketertarikannya pada Alfred di hadapan Gavyn. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari targetnya, sebelum Helena langsung berjalan menuju bangku urutan ke tiga dari pojok jendela ketika melihat Alfred berada di sana. Yang artinya Helena duduk tepat di belakang Alfred dan bersebelahan dengan Gavyn. Beruntung sekali dia karena bangku itu benar-benar tak berpenghuni.
"Hei, Helena. Apa kau bawa kotak makan siang?" Tanya Gavyn.
"U-umb.. Kau membawa juga bukan?" timpal gadis itu. Diam-diam dia mencuri lihat punggung tegas Alfred dan sedetik berikutnya dia memperhatikan Gavyn, takut jika dirinya tertangkap basah.
__ADS_1
"Tentu saja." kata Gavyn tegas.
Teng.. Teng.. Teng..
Bel masuk berbunyi. Dan seketika itu, datanglah seorang guru dengan postur tubuhnya yang tinggi berkulit putih pucat dengan mata elang. Iris matanya coklat keemasan dan tajam seperti ular.
"Selamat pagi semuanya. Saya Lukas, guru biologi sekaligus wali kelas kalian." melihat ekspresi sang guru sekaligus wali kelas mereka yang datar membuat nyali mereka menciut seketika. Firasat mereka mengatakan bahwa guru di depannya adalah seorang guru yang lembut namun menyimpan bahaya di dalamnya. Apalagi tatapan mata Lukas yang seakan mengatakan ingin memakan mereka hidup-hidup.
"selamat pagi pak guru." Balas semuanya. Sebisa mungkin mereka tidak gugup. Meski keringat dingin mengucur keluar dari kelenjar minyak di kulit mereka masing-masing. Bagi siswa yang jenius mungkin tidak jadi masalah. Tapi bagi yang hanya mengandalkan uang dari orangtua juga jabatan demi bisa masuk ke sekolah itu, tentu akan sangat merasa takut.
"Hari ini satu jam kita pergunakan untuk perkenalan dulu, Ok? " Lukas lantas mengambil buku panjang yang berisi deretan nama siswanya dan mulai mengabsen.
"Angelica!"
"Presents pak." Gadis bernama Angelica itu mengangkat tangannya tinggi.
"Harry Anderson." "Hadir!" pemuda di sebelah Alfred mengangkat tangannya tegas.
"Brandon Lincoln?" Brandon menjawab. Lantas di lanjut dengan siswa yang lain.
"Alfred Arshavin Frederick." "Hadir." Jawab Alfred dengan sikap malas.
Sejenak Lukas memperhatikan Alfred dengan kernyitan dalam. 'Apa anak itu begadang? Tidak ada semangat-semangatnya.' Batinnya ketika melihat mata sayu bak orang kelelahan tidak tidur milik Alfred. Menyadari hal itu Alfred menjadi risih. Ia seakan tersangka yang sedang di hakimi. Mendesah lelah, dia memilih mengalihkan perhatiannya dan kembali menatap langit biru melalui jendela.
Lukas menggendikkan bahunya acuh tak acuh. Tak masalah baginya, asal tidak mengganggu proses belajar mengajarnya nanti. Ia lalu kembali dengan melanjutkan kegiatannya yang mengabsen murid-muridnya.
"Gavyn." "Saya pak!" seru Gavyn lantang.
"Helena Rosalyn." "Hadir pak." Jawab Helena semangat. Matanya masih tak lepas juga dari sekedar curi-curi pandang Alfred meski pelajaran sudah di mulai oleh guru yang menerangkannya di depan. Hatinya bahagia mendapati orang yang diam-diam ia perhatikan ada di depan matanya.
**********
"Kita lanjutkan pelajarannya hari jumat. Kelompok yang sudah aku sebutkan namanya bisa berdiskusi untuk tugas kalian. Aku harap tugas itu selesai sebelum waktu yang telah di tentukan untuk di kumpulkan. Sampai bertemu hari berikutnya." Lukas membereskan buku-buku mengajarnya lantas berlalu keluar meninggalkan kelas 1-A.
Hati Helena berbunga-bunga penuh sukacita. Bukan hanya doanya terkabul tetapi juga harapannya untuk bisa lebih dekat dengan laki-laki yang ia sukai terwujud. Ia lalu bangkit menghampiri Alfred yang hanya diam menunggu jam pelajaran selanjutnya di mulai sembari menyalurkan hobi barunya demi mengalihkan rasa rindunya pada sang adik.
"Emb.. Hey! Kau Alfred, kan?" Sapa Helena, dengan suara lemah lembut mencoba memberanikan diri untuk berinteraksi dengan pemuda di hadapannya. Ia tersenyum hangat ke arah Alfred yang tak bereaksi. Namun mata Alfred bergerak melirik Helena sebagai respon. Membuat Gavyn sontak cemberut kesal.
"Aku Helena. Dan di belakangmu itu Gavyn. Kita satu kelompok bukan? Bagaimana kalau kita diskusikan tugas biologi kita?" Tukas Helena.
"Oh, yaa." Jawab Alfred singkat, setelah tahu maksud Helena yang tiba-tiba datang mengganggunya. Ia langsung memutar badannya ke belakang dan Helena akhirnya kembali duduk seraya tertawa kecil.
"Aku Gavyn. Salam kenal." Celetuk Gavyn, ketus.
"Alfred. Lalu bagaimana?" sahut Alfred sembari bertanya.
Ctak!!
Gavyn adalah seorang anak laki-laki yang merupakan kerabat dekat Brandon. Mereka tidak sedarah, tetapi ayah Brandon masih tergolong ke dalam keluarga ayah Brandon. Meski begitu, Gavyn tak begitu dekat dengan Brandon. Bila keduanya bertemu, tidak akan ada pertunjukan akrab di antara mereka, di mana keduanya akan saling menyapa satu sama lain.
Gavyn adalah teman semasa kecil Helena. Gadis dengan surai coklat juga tahi lalat di sisi kanan pipinya itu berteman mulai dari mereka masih di bangku sekolah dasar. Meskipun usia mereka yang masih terbilang anak-anak, namun usia sembilan tahun jelas telah memasuki masa-masa pubernya. Tidak heran jika Gavyn dan Helena mulai mengerti tentang arti tertarik dengan lawan jenis mereka. Tak terkecuali Gavyn yang diam-diam menyimpan rasa suka pada Helena hingga sampai saat ini.
Anggap saja rasa suka yang di rasakan Gavyn pada saat itu hanyalah ketertarikan yang ingin sekali menjadi seorang teman dekat dan tidak menyukai laki-laki lain mendekati gadis itu. Namun seiring berjalannya waktu, dan anak itu mengerti apa itu rasa suka yang lebih dari sekedar suka, mereka lalu memulai kisah cinta monyet menjadi cinta yang benar-benar tulus.
Kehadiran Alfred di tengah-tengah mereka membuat dirinya merasa terancam karena tersaingi. Gavyn bahkan tidak tahu bagaimana sifat asli dari Alfred karena ia hanya melihat Alfred seolah ancaman baginya.
"Bagaimana kalau di rumahku?" Saran Helena, tiba-tiba. Gadis itu menatap Alfred dalam dengan binar penuh semangat.
"Setuju." Timpal Gavyn semangat. Helena masih betah menatap Alfred untuk menunggu pendapatnya. Namun seketika senyumnya meluruh saat melihat ekspresi bingung dari pemuda itu.
"Sepertinya aku tidak bisa." Celetuk Alfred menyuarakan keberatannya.
"Hmph! Kau mau bilang kalau kau ingin lari dari tanggung jawab?!" Seloroh Gavyn tersenyum miring penuh cemoohan.
"Gavyn, jaga bicaramu." Peringat Helena menaikkan nada bicaranya satu oktaf seraya menatap tajam pemuda itu. Sontak saja pemuda itu menjadi kicep dalam waktu singkat. Helena kembali menatap Alfred meminta penjelasan.
"Aku tidak bisa meninggalkan adikku sendirian." Helena terkesiap mendengar alasan Alfred.
"Hey, hey, itu bukanlah alasan yang tepat. Minta saja pada orang tuamu untuk menjaganya." Kembali Gavyn bersuara dengan nada kesal.
"Sayangnya kami hanya tinggal berdua."
"Eh?!" Gavyn juga Helena tersentak kaget. Apa mereka tidak salah dengar? Keduanya menatap Alfred mencari kepastian.
"Jangan bercanda." Cibir Gavyn terkekeh meremehkan.
"Tidak." Dan jawaban terakhir dari Alfred yang dengan menampilkan wajah serius membuat Gavyn menatap Alfred lekat-lekat.
"Emb.. Kalau begitu di rumahmu saja. Apa boleh?" Dengan hati-hati Helena kembali membuka suaranya untuk memberi saran.
"Aku tidak masalah. Tapi kalian?" Tanya Alfred memastikan.
Helena tersenyum tapi tidak dengan Gavyn yang semakin berwajah sebal. Helena mengangguk sebagai tanda setuju. Tak masalah jika Alfred tidak mau belajar kelompok di rumahnya alih-alih Alfred tahu tempat tinggalnya. Yang penting kini tergantikan dengan dirinya yang sebentar lagi tahu tempat tinggal pemuda itu.
"Kalian bawa sepeda atauㅡ" Alfred menggantungkan ucapannya menatap kedua teman yang menjadi kelompok belajarnya.
"Ya, tenang saja. Kita bisa pulang bersama nanti."
"Aku mengerti." kata Alfred sembari menganggukkan kepala.
*********
__ADS_1
Sesuai kesepakatan mereka bertiga, akhirnya mereka pulang bersama mengikuti Alfred dari belakang. Brandon sendiri, dia tidak pulang dengan Alfred karena memiliki tugas yang sama.
Gavyn mengernyit ketika Alfred berhenti di pekarangan halaman rumah yang baginya sungguh tak asing lagi.
"Alfred, kau sudah pulang? Lho, Brandon tidak pulang denganmu?" Tanya suara lembut dari wanita paruh baya. Wanita itu hanya celingukan mencari sosok yang di maksud namun nihil. Sosok yang ia cari tidak ada di antara mereka.
"Oh, ya bi. Dia mungkin sedang mengerjakan tugas kelompok dengan teman yang lain." Jawab Alfred sembari mendekati troly bayi yang di dorong oleh Deana. Di mana di sana Alfred dapat melihat adiknya sedang bersama Edward yang tertidur.
"Oh, Gavyn! Kau ternyata teman sekelas Alfred juga?" Ujar Deana pada Gavyn yang berada tak jauh dari Alfred di belakangnya.
"Ya bibi. Dia tinggal di rumah sebelah bibi Deana?" Gavyn menunjuk Alfred penasaran.
Deana tersenyum sambil mengangguk, "Ya, baru beberapa hari ini." Dan jawaban Deana mengakhiri rasa penasarannya.
"Aku pulang." Lirih Alfred, seraya mengecup kening juga bibir sang adik seperti biasa. Seakan sudah menjadi candu baginya untuk selalu memberi kecupan sayang untuk sang adik.
Interaksi Alfred dengan Bella tidak luput dari pandangan Helena yang semakin mengagumi sosok Alfred dan sementara Gavyn sendiri yang menatap Alfred tidak percaya. Bella tersenyum lebar dengan tawa kecilnya yang menggemaskan. Membuat Alfred semakin gemas untuk memanjakan adiknya itu.
"Terimakasih untuk bantuannya. Kalau begitu aku permisi, bibi."
"Apa sebaiknya adikmu di biarkan di sini dulu, Alfred? Biar kamu bisa belajar dengan tenang." Ujar Deana sedikit khawatir. Berharap masih bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama Bella.
"Tidak apa-apa bibi Deana. Dia termasuk adik yang pintar. Dia tidak akan mengganggu belajarku nanti." Deana hanya menghela nafas pasrah saja merelakan Alfred membawa masuk Bella ke dalam tempat tinggalnya di ikuti Helena juga Gavyn.
Setelah masuk ke dalam rumah, Alfred mulai mempersilahkan keduanya untuk duduk. Sementara dirinya mengambil gendongan untuk menggendong Bella selama ia menyiapkan hidangan untuk kedua teman barunya.
"Kalian mau minum apa?" Tanya Alfred.
"Apa saja boleh." celetuk Gavyn menyahut singkat seraya memperhatikan kediaman Alfred yang terlihat begitu sangat bersih. Kagum? Tidak bisa di pungkiri pemuda itu mulai kagum dengan sosok Alfred yang mandiri. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk bisa membuat dirinya mau mengakui hal itu.
"Ah ya, Alfred. Kau biarkan saja adikmu di sini. Aku akan menjaganya sementara kamu membuat minum." Helena memberi saran. Terlebih dia juga ingin mengenal adik Alfred. Sejenak pemuda itu berfikir sembari memperhatikan wajah Bella yang tertawa cekikikan dengan mainan di tangannya. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyetujui perkataan Helena.
"Baiklah. Tolong jaga adikku sebentar untukku, Helena." Alfred lalu meletakkan adiknya di karpet ruang keluarga yang terhubung langsung dengan ruang tamu. Di temani oleh Helena dan juga Gavyn yang langsung berbinar ketika melihat bayi itu tersenyum begitu manis dengan iris sapphire-nya yang membulat senang. Untung saja Bella tidak rewel ketika Alfred meninggalkannya bersama kedua teman barunya itu.
'Pantas saja Alfred selalu menatap langit di luar jendela.' Batin gadis itu yang terhanyut ke dalam iris sapphire yang meneduhkan milik Bella layaknya bak boneka barbie.
"Alfred, apa adikmu ini laki-laki?" Celetuk Gavyn memainkan jari kecil Bella.
Tanpa mereka sadari mimik wajah Bella tiba-tiba menjadi tertekuk masam ketika Gavyn mengatakan hal yang baginya itu tidak lucu.
"Bukan. Dia perempuan."
"Huh?!" Helena juga Gavyn tersentak kaget hingga membuatnya sedikit berteriak mendengar jawaban Alfred karena tidak percaya. Dan Bella menanggapi keterkejutan mereka dengan pekikan tawa seakan mengejek.
"Hahaha..." Alfred tanpa sadar tertawa geli mendengar adiknya tertawa. Membuat Helena juga Gavyn menatapnya bingung.
"Kenapa kamu tertawa?!" Desis Gavyn tak terima.
"Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja adikku sedang menertawakan keterkejutan kalian. Itu membuat aku tidak bisa menahan tertawaku."
Mendengar hal itu keduanya mengalihkan pandangan mereka menatap Bella kembali. Memang benar, bayi itu kini tengah tertawa kecil seraya kadang menjulur-julurkan lidah runcingnya keluar seolah mengejek.
Helena dan Gavyn benar-benar di buat terkesan dan takjub secara bersamaan. Mereka tertipu oleh penampilan bayi di hadapan mereka. Pasalnya, pakaian yang di kenakan oleh Bella adalah baju bayi milik laki-laki dan bukan gaun cantik milik bayi perempuan. Mereka tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Alfred ketika membelikan pakaian untuk adiknya.
Memang, wajah Bella terlihat cantik dan manis layaknya perempuan. Dan rambut blondenya yang pendek membuat orang tidak bisa mengenali jenis kelaminnya. Namun tetap saja, jenis kelamin dari bayi mudah untuk di kenali hanya dari wajahnya. Tapi bagaimana bisa wajah Bella di salah artikan sebagai bayi bergender laki-laki? ('¬_¬)
Alfred tidak mengambil hati kesalahpahaman mereka dan meletakkan tiga gelas jus jeruk dengan satu botol susu kecil untuk adiknya. Dia kembali menggendong Bella sementara dirinya mulai menyiapkan tugas yang akan mereka kerjakan sebagai tugas kelompok mereka. Yang memang sebelumnya sudah mereka bagi menjadi bagian bab masing-masing untuk di kerjakan. Gavyn sendiri memilihkan pertanyaan yang sulit untuk Alfred. Namun justru membuat Alfred malah lebih dulu menyelesaikan tugasnya. Gavyn mengerang frustasi seraya menjambak rambut miliknya kesal karena tidak juga menemukan jawaban yang benar. Melihat tingkah absurd Gavyn, Helena tertawa kecil di ikuti dengan Bella yang ikut tertawa seakan mengejek pemuda itu. Helena jelas sangat tahu tabiat Gavyn yang suka meremehkan kemampuan orang lain dan suka membesar-besarkan kemampuannya yang padahal, pemuda itu memiliki kapasitas berfikir rata-rata. Tidak jenius, dan juga tidak bodoh.
Hampir saja Gavyn melempar tempat pensilnya ke wajah bayi itu kalau dia tidak ingat bahwa Bella masih bayi. Alfred cukup senang melihat interaksi adiknya yang tidak rewel bila di ajak bercanda dengan orang lain. Itu tanda bahwa kelak adiknya akan menjadi anak yang akan mudah bergaul dan banyak di kagumi orang-orang di sekitarnya. Membayangkan hal itu membuat Alfred tidak sabar lagi menanti hari itu tiba.
Sebagai penutup belajar bersama mereka, Alfred telah menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga saat dirinya telah menyelesaikan bagian tugasnya sendiri. Helena cukup terkejut mengetahui bahwa Alfred tidak hanya pandai mengurus adiknya yang masih bayi, namun juga ahli dalam memasak dan mengurus rumah seorang diri. Hal itu semakin membuat gadis itu terkagum-kagum melihat nilai plus dari sosok seorang laki-laki seperti Alfred.
Gavyn mengakui kehebatan Alfred yang baginya sungguh mustahil dilakukan untuk anak seusia mereka dalam mengerjakan semuanya seorang diri. Mungkin jika itu terjadi langsung pada dirinya, ia sudah tidak mungkin sanggup. Tapi tentu saja berbeda bagi Alfred. Di sela-sela belajar mereka saja, Alfred masih bisa mengerjakan hal lain setelah tugasnya benar-benar telah sempurna selesai. Anak macam apa, Alfred itu? Bagaimana bisa Alfred memiliki otak sejenius itu?
"Alfred, Aku tidak menyangka kau bisa memasak seenak ini." Tukas Gavyn tulus di sela-sela makan lahapnya.
"Benarkah?" jawab datar pemuda itu, membuat Gavyn shock dan menyesali bibirnya yang telah mengakui kehebatan pemuda di depannya.
"Ya. Apa kau ingin menjadi seorang Koki?" Timpal Helena ingin tahu.
"Koki? Tidak. Sudah seharusnya aku bisa memasak, kan? Tinggal seorang diri di temani adik yang masih bayi memang apa yang bisa di harapkan?" Ujar Alfred, membuat keduanya kembali terkesiap untuk yang ke sekian kalinya.
"Kau benar." Lirih Helena nyaris tanpa suara.
*********
"Terima kasih untuk semuanya, Alfred. Kami pulang dulu. Sampai jumpa besok."
"Hm. Hati-hati di jalan, maaf tidak bisa mengantarkan kalian." Gumam Alfred sebagai respon singkat.
Sepeninggal kedua temannya pulang, Alfred melirik adiknya yang sudah tertidur di atas karpet bulu berwarna jingga. Ia tersenyum lalu mengunci semua pintu juga jendela, mematikan semua lampu dan bersiap untuk tidur.
"Selamat malam Bella. Kakak mencintaimu." Ia mengecup pelan kening juga bibir cherry sang adik agar tidak terbangun. Dan ia memeluk adiknya di dalam dekapannya namun masih dalam keadaan longgar. Takut adiknya tidak bisa bernafas. Kedua matanya mulai menyayu hingga menutup sempurna di belai mimpi.
.
.
.
.
__ADS_1