Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Stay For You


__ADS_3

Aleysia membantu Bella dalam mempersiapkan diri untuk acara pertunangan malam ini. Namun Aleysia merasa bingung ketika melihat Bella yang tampak biasa-biasa saja. Tanpa ada ekspresi kesedihan di wajahnya sedikitpun. Apa yang sebenarnya terjadi pada sepupunya itu? Tidak mungkin Bella menyambut pertunangan yang tidak di inginkannya dengan senang hati. Apa dia sudah menyerah untuk kembali lagi bersama dengan Alfred? Itu mustahil.


"Kau kenapa, Bell? Apa kau bahagia dengan pertunangan ini?" Tanya Aleysia penasaran. Bella hanya bergumam sejenak lantas menggeleng. "Lalu?"


"Kamu bilang aku harus bersikap biasa saja, bukan? Seolah aku bahagia dengan semua ini. Ya aku hanya mengikuti apa yang kamu sarankan kepadaku saja." Jelas Bella enteng.


"Tapiㅡ"


"Aleysia. Bisakah kamu keluar sebentar? Aku ingin mempersiapkan diriku sendiri." Potong Bella cepat menaikkan nada bicaranya sedikit berteriak.


Sejenak Aleysia terdiam. Memandang Bella tak yakin. Dia sedikit curiga dengan sikap Bella yang seolah tidak terjadi apa-apa padanya. "Percayalah, Ale. Aku hanya sebentar." Ujar Bella lagi. Mencoba meyakinkan sepupunya itu. Lantas Aleysia menghela nafas berat dan mengangguk saja. Berbalik pergi meninggalkan Bella seorang diri meskipun tidak bisa di pungkiri dia masih merasa penasaran.


Sepeninggalan dari Aleysia dari kamarnya, Bella sejenak tersenyum hambar pada pintu yang baru saja di tutup. Menunduk menatap cincin pemberian Alfred ketika pria itu melamarnya dulu. Bagi mereka, pertunangan antara mereka itu bukanlah hal yang terpenting. Karena keduanya sama-sama tahu, tidak ada keluarga di antara mereka kala itu. Terutama kedua orangtua mereka. Yang terpenting adalah prosesi pernikahan yang mereka lakukan bersama dulu. Tapi sekarang semuanya berubah. Ponselnya bahkan di tahan oleh bibinya. Ponsel pertamanya. Di mana Alfred memberi kado ulang tahunnya dulu saat masih di bangku sekolah menengah pertamanya.


Kembali Bella mengingat perkataan Edward siang tadi. Di mana pria Lincoln itu memohon sesuatu padanya. Ya, sepertinya dirinya memang harus memberi kesempatan pada Edward untuk mempercayai kata-katanya. Tidak ada salahnya, kan? Toh Edward adalah sahabatnya. Orang yang sudah dirinya anggap juga sebagai saudaranya sendiri. Dia harus yakin dan percaya, bahwa keajaiban itu pasti datang kepadanya.


Dengan mantap, Bella melepaskan cincin milik Alfred meskipun itu sangat berat. Namun dia juga tidak menyimpannya di tempat lain. Melainkan wanita itu melepas kalung berharga pemberian Alfred. Di mana kalung itu merupakan pemberian dari orangtua kekasihnya dulu sebelum meninggal. Dia menaruh cincin itu pada kalung titanium sebagai liontin meski terhalang oleh liontin dari kalung itu sendiri, lantas mengenakannya lagi.


"Alfred, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melepaskannya selamanya. Aku janji, ini hanya untuk sementara." Gumamnya lirih. Tersenyum pahit pada liontin dan cincin yang kini berada di lehernya.


***********


"APA KAMU BILANG?!" Pekik Ken, tepat di telinga teman masa kecilnya Sammy. Dia benar-benar tidak percaya bahwa apa yang sempat dia dengar samar-samar secara tidak sengaja, ternyata berita bahwa Bella akan melangsungkan pertunangan dengan Edward benar-benar akan terjadi. Bagaimana bisa? Ken benar-benar shock detik itu juga.


Liliana dan Max yang kebetulan memang bersama Ken di tempat parkir saat Sammy datang mengundang mereka tidak percaya bahwa berita itu memang benar adanya. Terutama Liliana yang sudah membeku tidak ingin percaya.


Sammy hanya bisa pasrah saja ketika telinganya menjadi berdengung nyaring akibat suara toa milik Ken. Mau bagaimana lagi, sudah menjadi kebiasaan pria pecinta hewan seperti itu.


"Kok bisa?" Sammy melirik Ken jengah mendesah lelah melihat Ken tampak ribut sendiri hanya karena berita mengenai Bella yang akan bertunangan dengan Edward.


"Sudahlah. Kamu ikut tidak?! Tanyakan saja langsung nanti pada mereka." Seloroh Sammy akhirnya menyerah.


Max, yang sedari tadi tidak berkomentar sama sekali hanya sibuk dengan pikirannya sendiri di sebelah Liliana yang masih shock. Tidak jauh dari Sammy, seorang pria berusia sama dengan Ken, bersurai jabrik berwarna brown auburn, bermata emerald. Dia hanya berdiri dengan tangan menyilang bersandar ke kap mobil milik Sammy.


"Rencananya kami berdua akan ke sana bersama. Tapi aku lupa memberitahu kalian mengenai berita ini. Makanya aku kemari saat melihat kalian." kata Sammy.


"Sammy, apa kamu tahu bahwa sebenarnya Bella sudah memiliki kekasih dan itu bukan Edward?" Liliana tiba-tiba bersuara. Hal itu membuat Ken menyendu. Hanya dia yang tahu mengenai Bella yang menjalin hubungan dengan guru sekolah mereka. Yang tidak lain juga merupakan kakak bagi Bella.


Sammy mengernyit. Dia juga pernah mendengar bahwa Bella dan Edward tidak memiliki perasaan yang sama. Bella menolak Edward lantaran gadis blonde itu dulu sudah memiliki seorang kekasih. Apakah mereka benar-benar berpacaran sampai saat ini? Lalu kenapa Bella mau bertunangan dengan Edward kalau dia sudah memiliki kekasih?


"Aku hanya mendengar bahwa mereka di jodohkan oleh keluarga mereka masing-masing. Keluarga Bella setuju dengan pertunangan mereka."


Keluarga? Keluarga yang mana lagi? Bukankah hanya ada Alfred selama ini? Liliana semakin tidak mengerti.


Sammy, Gwen, dan Max adalah orang-orang yang tidak mengetahui tentang hubungan Bella dan Alfred hingga saat ini. Mereka hanya tahu bahwa Alfred hanyalah seorang kakak laki-laki Bella sekaligus walinya. Mereka tidak tahu bahwa Alfred sebenarnya bukanlah kakak kandung Bella. Oleh karena itulah, ketika mendengar berita bahwa Edward akan bertunangan dengan Bella, mereka menganggap hal itu wajar.


Toh Bella dan Edward adalah kekasih masa kecil. Tidak heran kalau hubungan mereka akan berakhir dalam sebuah ikatan yang lebih jauh.


Namun bagi Liliana yang tidak sengaja mengetahui hubungan Bella hingga menjadi kakak perempuan Bella yang sangat di percaya oleh wanita blonde itu, hatinya tentu akan merasakan sakit. Seperti apa yang di rasakan oleh Bella saat ini. Begitu pula Ken yang mengetahui hubungan mereka berdua dari waktu mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


"Edward tidak memberitahukan hal ini pada kalian. Tapi dia memberitahu aku dan memintaku untuk menyampaikan berita ini pada kalian. Ini undangan untuk kalian." Sammy mengambil beberapa lembar undangan di dalam tasnya. Di sana terlampir nama-nama mereka masing-masing.


Liliana menatap undangan itu dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan. Antara marah, kesal, sedih, bingung, cemas, semua jadi satu. Dia bahkan ingin sekali menangis, namun tidak bisa. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bella... Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Hatinya pasti hancur berkeping-keping.


"Randy, pulanglah dulu. Kita bertemu rumahku nanti. Dan kalian, bagaimana? Mau berangkat bersama?"


"Kalau begitu, kalian duluan saja. Nanti kami menyusul." Max menimpali. Dia lalu melirik Liliana yang masih bergeming menatap undangan miliknya.


"Okay. Ken, bagaimana denganmu?"


"Aku... Akan ikut denganmu." pekiknya. Ken beralih menatap Max dan Liliana, "Kalian, aku pergi bersama Sammy, ya. Kita bertemu di tempat pesta di adakan saja."


"Okay. Hati-hati." Max menyahut sembari tersenyum. Ken lalu menyusul Sammy yang sudah masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh pria yang sedari tadi mengekor di belakang Sammy.


"Lili.."


"Max, kamu berangkat lebih dulu saja. Aku ada urusan yang lain yang harus aku selesaikan."


"Eh, Lili!" Max berseru ketika tiba-tiba Liliana begitu saja meninggalkan dirinya setelah mengatakan kalimatnya. Namun wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya dan tetap berjalan menjauh dari Max yang masih menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh dari jangkauannya. Max mendesah berat sebelum dia juga pergi.


Gwen shock dan tidak menyangka ketika mendengar kabar bahwa mantan kekasihnya itu akan mengadakan pertunangan. Dan hal yang semakin membuatnya terkejut adalah, bahwa pasangan Edward benar-benar Bella. Di mana dia tahu bahwa sebelum mereka jadian, Edward sempat memiliki perasaan untuk wanita bersurai blonde itu. Tidak menyangka bahwa kabar tentang mereka masing-masing memiliki perasaan yang sama benar adanya. Tapi, bukankah Bella sudah memiliki kekasih? Lalu bagaimana dengan kekasih Bella itu sendiri jika wanita itu memilih untuk bertunangan dengan Edward? Apa mereka putus karena Bella ketahuan memiliki perasaan untuk Edward?


Gwen ingin sekali tidak datang. Namun kekasihnya yang sekarang ternyata mendapat undangan dan dia di minta untuk ikut. Tentu saja dirinya tidak bisa menolak permintaan kekasihnya itu.


Alfred sendiri, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Menyamarpun tak ada gunanya. Apalagi di depan Ashley yang memiliki mata bak elang. Gavyn juga Helena yang kini memilih tinggal menemaninya bahkan hanya bisa mengelus dada prihatin. Karena yang di lakukan Alfred hanyalah melamun memandangi langit di balkon tempat tinggalnya. Kadang pria itu menyenandungkan sebuah lagu yang entah kenapa bisa membuat airmata pria itu mengalir begitu saja.


"Apa kamu yakin tidak ikut ke sana, Al? Aku bisa membantumu" Tanya Gavyn kembali. Dia ingin memastikan Alfred akan memilih ikut àtau tetap tinggal. Sebenarnya bisa saja membuat Alfred ikut dengannya. Mencoba menyamar dengan model baru bila pria bersurai dark brown itu mau.


"Pergilah. Aku tidak apa. Kalaupun aku ikut kalian, yang ada bukan hanya aku yang akan di tendang keluar. Tapi juga kalian akan ikut di usir." Ungkap Alfred tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam yang terlihat mendung. "Paman Chal juga adalah bagian dari keluargamu sendiri, Vyn. Bagaimana bisa kamu tidak hadir?"


Gavyn mendesah lelah. Mencoba mengerti keadaan Alfred saat ini. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya "Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi kamu harus ingat, cepatlah mencari cara untuk mengambil kembali hakmu dari tangan pamanku itu."


Alfred bergumam sebagai respon untuk Gavyn. Setelah kepergian Gavyn, Alfred mengambil sebuah figura yang sedari tadi di bawanya dari dalam. Figura yang berisi potret dirinya dengan Bella. Hingga tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya. Segera dia membuka pesan itu. Alfred membelalakkan matanya terkejut. Pesan itu tak ada nama pengirim dan nomor itu di sembunyikan.


**From : Unknown


Bersabarlah hingga pernikahan Bella terjadi**.


Tapi apa maksud dari pesan yang dia terima ini? Kenapa dia harus menunggu sampai pesta pernikahan Bella terjadi? Harus bersabar seperti apa lagi dia? Ha-ah.. Semoga ada keajaiban datang padanya dan juga hubungannya dengan Bella. Jika orang yang mengirim pesan untuknya ini memiliki niat baik, dia harap orang itu bisa mengembalikan Bella kembali padanya.


***********


Sore menjelang malam, Villa milik keluarga Lincolnshire tepatnya villa yang di tempati oleh Anita juga Chal sekeluarga kini telah penuh dengan tamu-tamu undangan berbagai keluarga bangsawan dan juga orang-orang penting. Dentuman alunan musik jazz memenuhi ruangan yang telah di dekor sedemikian rupa itu. Anita tampak begitu bahagia menyambut tamu-tamunya yang datang silih berganti. Begitu juga Ashley yang juga mengundang teman-temannya. Tampak dia begitu menikmati pesta itu tanpa beban sedikitpun.


Edward tidak sengaja memperhatikan interaksi Ashley bersama kawan-kawannya. Membuat dirinya terhipnotis untuk menatap cara Ashley tertawa dan tersenyum bahkan ketika tiba-tiba wanita itu kesal. Tanpa sadar ia terkekeh geli. Ternyata, Ashley meskipun dingin dan angkuh, wanita itu memiliki sisi yang lembut juga ceria.


"Heh, dasar! Rubah licik." Gumamnya lantas mengalihkan pandangannya ke arah pintu keluar. Hadirlah di sana sosok kedua sahabatnya yang beberapa hari ini belum di temuinya. Sepertinya nanti akan ada banyak pertanyaan yang harus di jawabnya perihal pertunangannya dengan Bella.


"Thanks, kalian sudah mau datang." Sambutnya.


Ken lantas merengut menatap Edward kesal. Hal itu membuat Edward menaikkan alisnya heran.


"Kenapa kamu tega menikung kekasih Bella, wajah telenan?!" Sungut Ken protes tidak terima seraya melirik Edward sengit.


Pria yang berada di samping kanan Sammy menelengkan kepalanya heran dengan sikap Ken yang tiba-tiba saja menggerutu. Dan itu tak lepas dari perhatian Sammy yang menyeringai tipis.


Edward tak menyahut dan memilih acuh tak acuh. Ia tahu Ken bukanlah orang yang gampang di ajak bicara. Karena pria pecinta binatang itu akan selalu bertanya bila penjelasannya tidak di mengerti oleh pria itu. Ketika Edward kembali mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk, tiba-tiba saja matanya terkunci pada satu objek. Objek yang begitu sangat di kenali. Seorang wanita bersurai merah sedang tersenyum pada kakaknya dengan bergelayut mesra pada seorang pria bersurai plum brown bermata hazel.


"Itu bukannya Kak Pitter? Jadi dia mengenalmu juga?" Celetuk pria yang di samping Sammy yang memang berteman dengan Edward semasa pertama kali masuk kuliah.


"Tidak. Dia mungkin kenal dengan kakakku, Joe." Jawab Edward.


"Aku kira kamu mengenalnya." Timpal pria bermama Joe kembali.


"Tidak." jawab Edward singkat seadanya.


Tepat pukul 7 malam, acarapun di mulai. Bella akhirnya keluar, menuruni anak tangga di temani oleh Aleysia. Dan betapa terkejutnya Edward ketika Bella menatapnya dengan senyuman khas yang biasa wanita itu berikan pada semua orang ketika tengah bahagia ataupun dalam mood baiknya. Tak ada kesedihan di sana. Seolah Bella benar-benar menginginkan pertunangan tersebut.


Helena yang hadir bersama dengan Gavyn sendiri bahkan mematung tidak menyangka. Berharap yang di lihatnya hanyalah ilusi semata. Bagaimana bisa ekspresi Bella terlihat baik-baik saja sementara Alfred di sana tersiksa karena terpisah dari wanita manis itu? Gavyn dan tak kalah terkejutnya menyaksikan keadaan Bella yang tampak bahagia. Apa gadis ini benar-benar telah melepaskan Alfred?


Edward berinisiatif untuk menjemput wanita itu di tangga terakhir dengan senyum tipisnya yang khas. Mengambil alih tugas Aleysia dengan begitu lembut. Lantas pria yang memiliki wajah sebelas dua belas dengannya itu berjalan menjauh mendekati seorang pria bersurai dark brown, bermata Onyx yang tersenyum sangat tipis ke arahnya.


"Hey, kak Brandon. Apa kau yakin Bella bisa kembali lagi ke sisi kak Alfred?" Jeda sejenak. Aleysia melirik Brandon yang ada di sampingnya. "Aku berharap pembicaraan kita siang tadi benar adanya." Imbuhnya berharap.


"Hm. Tenangkan saja pikiranmu." Sahut Alfred singkat.


Dan acara tukar cincinpun di mulai. Edward tidak menyangka Bella akan benar-benar setuju untuk memenuhi permintaannya. Di mana saat ini Bella tak lagi memakai cincin pemberian dari Alfred. Setidaknya apa yang dia harapkan terlaksana sudah. Kedua cincin sudah saling tersemat di jari masing-masing, sorak tepuk tangan kebahagiaan menyambut mereka.


"Terima kasih." bisik Edward tepat di samping telinga kanan Bella. Seolah dia tengah mencium pipi kanan wanita itu mesra.


"Huh?!" Bella tersentak menoleh ke arah Edward. Dia tidak mendengarnya dengan fokus karena suara di ruangan itu yang begitu riuh.


"Hm. Aku tidak menyangka kamu akan memberiku kepercayaanmu." Ujar Edward sedikit menaikkan nada bicaranya menjelaskan maksud kenapa dia berterima kasih.


Bella hanya tersenyum sangat tipis. Tiba-tiba dia memegang perutnya dan mulai mendekati wajah Edward lalu berbisik, "Edward, aku tiba-tiba ingin makan Bourbon Chicken." Celetuk Bella tidak nyambung, dia merajuk dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut lucu.


Seketika Edward mendelik. Bourbon chicken? Oh tidak. Mana ada resep itu di pesta pertunangan mereka? Permintaan gila.


"Mana ada Bourbon chicken di sini, Bella?" Ujar Edward mencoba menolak.


"Pokoknya aku mau Bourbon chicken, Edward. Tolonglah, cuma kamu yang ada di sini." rajuk Bella memohon. Bahkan sekarang wanita blonde itu sudah mengeluarkan jurus air mata puppy eyes andalannya.


Edward mendesah sejenak, lantas celingukan ke kanan kiri. Tidak peduli dia kini tampak aneh di depan semua orang. Pria itu akan memanggil seorang pelayan tapi seketika suaranya terhenti di kerongkongan ketika Bella tiba-tiba menahan tangannya. Dia menoleh menatap Bella dengan sorot mata seakan bertanya 'ada apa?'


"Hehehe.." Bella nyengir lebar. Edward menaikkan sebelah alisnya heran. Bukannya menjawab malah nyengir. "Aku mau Bourbon chicken khusus yang di buat oleh Alfred, Edward." Bisik Bella lirih memohon.


Edward tertegun seketika. Bagaimana dia bisa melakukan itu? Tanpa banyak berfikir, dia lantas saja mengeluarkan ponselnya. Mengetikkan beberapa kata lalu menekan tombol 'send'. Entah bagaimana caranya nanti Alfred akan membawa Bourbon chicken itu kemari. Repot juga menuruti orang yang memang lagi ngidam. Batinnya.


"Ada lagi, tidak?!" Tanya Edward memastikan. Dia takut bila nanti tiba-tiba Bella semakin menjadi permintaannya. Karena yang pria itu ketahui, orang yang sedang ngidam akan meminta hal-hal yang tidak masuk akal tanpa bisa di prediksi kapan waktunya dia meminta. Namun Bella menggeleng dengan cengiran khasnya. Mengerti, Edward hanya mengangguk sekali lantas mengacak surai blonde Bella gemas.

__ADS_1


"Edward!!" Sungut Bella mendelik tidak suka. Namun Edward justru terkekeh geli. Tidak tanggung-tanggung, Edward lantas mencubit pipi gembil wanita itu yang semakin menggemuk lantaran efek hamil. Hal itu menyebabkan Bella meringis kesakitan.


Bagi semua orang yang belum mengenal mungkin menanggapi interaksi keduanya memang tampak terlihat begitu serasi. Namun bagi yang sudah mengenal baik keduanya, tentu menatàp mereka dengan tatapan bingung. Karena sebagian orang cukup tahu dengan status Bella yang sudah memiliki kekasih. Terlebih pada Ken, Gwen, Helena, Gavyn dan juga Brandon.


************


Kling!!!


Alfred mengernyit menatap ponselnya yang kembali berdering. Di bukanya satu notice pesan yang baru di terimanya.


From : Edward L.


Buatkan Bourbon chicken special untuk Bella sekarang. Hanya buatanmu, karena calon bayimu menginginkannya saat ini juga.


Sontak saja tubuh pria itu tersentak tidak percaya. Dengan tergesa-gesa Alfred bangkit dari acara menggalaunya lalu masuk ke dalam tempat tinggalnya menuju ke dapur. Dia ingin membuatkan Bourbon chicken kesukaannya seenak mungkin untuk calon buah hatinya. Kapan lagi Alfred bisa menuruti keinginan ngidam Bella ketika hamil seperti ini. Apalagi saat ini mereka terpisah. Bersyukurlah janin yang belum terbentuk itu menginginkan masakan dirinya.


Hampir satu jam Alfred berkutik di dalam dapur hingga Bourbon chicken yang tengah di di masaknya akhirnya matang. Cepat-cepat Alfred masuk ke dalam kamar. Berganti pakaian yang layak dan sedikit menyamarkan penampilannya. Kali ini pria itu memakai wig raven, soft lens hazel. Dia menutupi titik hitam di bawah bibirnya dengan contour wajah yang sepadan dengan warna kulitnya. Ia juga menambah accessories, dan menindik telinga kanannya.


Pria itu menyeringai ketika menatap pantulan dirinya yang sudah berbeda wujud itu puas. Ah!! Mungkin sebaiknya dia tidak memakai wig. Kembali Alfred berkutik merapikan potongan rambut dark brownnya itu sedemikian rupa. Lantas memakai perwarna rambut yang tidak permanent.


"Begini lebih baik." Gumamnya semakin puas.


Dan setelah semua siap, pria itu pun segera mengambil kotak wadah yang berisi bourbon chicken buatannya itu. Ketika dia keluar hendak menghampiri mobil BMW putih miliknya. Seorang wanita berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Namun Alfred tahu, apa yang tengah di rasakan oleh wanita di hadapannya itu.


"Lili.."


"Kak Al, bagaimana bisa Bella bertunangan dengan Edward? Dan bagaimana bisa kamu hanya berdiam diri di sini dan tidak melakukan apapun?" Liliana meracau dengan ekspresi terluka. Wanita itu bahkan pada akhirnya bisa menangis ketika melihat Alfred yang terlihat baik-baik saja.


Alfred tersenyum simpul, dia berjalan mendekati wanita itu. Memeluknya sayang seperti memeluk adiknya sendiri. "Hiks... Apa hatimu tidak sakit, melihat istrimu bertunangan dengan lelaki lain?" tangis Liliana pecah di dalam dekapan hangat Alfred. Dia membalas pelukan Alfred yang bahkan dia tidak pernah dapatkan dari seorang kakak.


Apakah ini rasanya di peluk oleh seorang kakak? Apalagi kakak laki-laki dan perempuan. Apakah ini yang selalu di rasakan oleh Bella tiap kali pria ini memeluknya? Kenapa bisa begitu hangat? Rasanya dia tidak ingin melepaskan pelukannya dari Alfred.


Pria itu bungkam dan hanya memeluk Liliana dengan menepuk sesekali punggung bahu wanita itu. "Ikutlah denganku. Aku yakin Edward mengundangmu di pesta pertunangannnya."


Liliana mendongak seketika, menatap Alfred semakim tidak menyangka. Apa yang dia lihat saat ini adalah, Alfred yang berdiri tegar dan tenang. Sama sekali tidak terlihat raut kecewa dan terluka padanya. Apa dia salah telah mengkhawatirkan pria di depannya ini? Apa memang Alfred telah merelakan Bella untuk bertunangan dengan orang lain? Hey! Dia istrimu, bagaimana bisa kamu masih tetap tenang seperti ini?


Alfred tersenyum memaklumi. Mengatakan melalui sorot matanya secara tersirat, dan hal itu membuat Liliana mendadak tertegun dengan mata membulat tidak percaya. Apa yang tergambar jelas di wajah pria itu, berbeda dengan apa yang terlihat di bayangan bola matanya. Liliana merasa bersalah telah menuduh Alfred yang bukan-bukan. Jelas sekali pria itu kini tengah menahan sakit yang mungkin tidak akan ada yang mengerti. Namun, dia tahu bahwa Alfred mencoba untuk menyembunyikannya dengan begitu sangat rapi.


Melihat bahwa Liliana mampu mengerti apa yang dia rasakan saat ini, Alfred tidak bisa tidak kagum. Pasalnya, hanya beberapa orang saja yang bisa mengetahui relung hati seseorang hanya melalui sorot mata mereka. Liliana termasuk salah satu orang yang bisa membaca hatinya saat ini. Pria itu mendengus merasa lucu.


"Kamu sudah tahu, bukan?" Liliana mundur dan menyeka air matanya perlahan. Dia menundukkan wajahnya mencoba untuk menata kembali hatinya sebelum dia mendongak dan tersenyum kepada pria itu. Melihat wanita itu kini sudah bisa kembali menata hatinya, Alfred semakin tersenyum. "Aku akan menemanimu berganti pakaian ke rumah. Dan temani aku sebagai pasanganku di peata pertunangan mereka, hm?"


"Em. Baik kak." balas wanita itu tersenyum cerah.


Alfred tidak jadi membawa mobilnya dan terpaksa menggunakan mobil milik Liliana. Setelah Liliana berganti pakaian yang pastas, wanita itu segera bergegas dan tidak ingin membuat Alfred menunggu lama. Dia bahkan memilih untuk memake over wajahnya di dalam mobil, ketika tahu bahwa Alfred sedang terburu-buru untuk membawakan makanan yang di minta oleh Bella.


Mendengar bahwa Bella yang memintanya, membuat hatinya merasa lega. Alfred sempat takut ketika Liliana bisa mengetahui identitasnya yang telah berubah penampilan. Namun ketika dia bertanya pada wanita itu, tentang bagaimana dia mengetahui penyamarannya, Liliana hanya menjawab seadanya.


"Kamu keluar dengan begitu sempurnanya di rumahmu sendiri. Bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa itu kamu. Lagipula, seandainya aku tidak mengenalmu dengan baik, aku pasti sudah tertipu." Liliana juga mengatakan bahwa penyamaran yang di lakukan Alfred sudah sangat sempurna. Kacamata yang biasa di kenakan olehnya kini hilang. Tentu saja wajahnya akan terlihat sangat berbeda. Terlebih, Alfred merubah beberapa garis wajahnya dengan contour wajah yang sangat tipis namun sangat pas di wajahnya.


Liliana yang pecinta make up bahkan tidak tahu bahwa pria itu tengah mengenakan alat make up.


Hanya butuh waktu setengah jam untuk Alfred dan Liliana menempuh perjalanan dengan mengambil rute terdekat. Ketika hendak memasuki gerbang villa milik Chal, salah satu penjaga menghentikan mobilnya. Dalam hati Liliana, dia sedikit was-was. Semoga saja Alfred tidak di kenali kali oleh mereka.


"Tunggu sebentar. Bisa anda tunjukkan undangannya?" Tanya penjaga itu.


Sontak saja tubuh Alfred membeku. Merutuki kebodohannya. Haㅡah, kenapa dia melupakan hal sepenting itu?!


"Ini. Saru undangan bisa untuk dua orang, kan?" Liliana menyodorkan undangan miliknya ke penjaga tersebut. Alfred lupa bahwa Liliana merupakan salah satu tamu penting di acara mereka. Tidak mungkin Edward begitu saja melupakan sahabat Bella yang satu ini.


Penjaga itu lantas mengecek nama pada amplop undangan tersebut. Melihat dengan jelas isi amplop sebelum amplop itu di kembalikan kembali pada Liliana.


"Baiklah, anda boleh masuk."


"Terima kasih." Liliana menerima kembali undangannya danemasukkannya ke dalam tas. Alfred melirik sejenak Liliana sebelum kembali fokus ke depan.


"Jadi Edward benar-benar tidak mengundangmu?" Liliana bertanya ingin tahu. Dia sedikit lecewa pada Edward karena mengabaikan Alfred begitu saja.


"Bukan Edward yang tidak mau mengundang. Tapi keluarga Bella."


Liliana menoleh untuk menatap Alfred meminta penjelasan. "Ceritanya panjang. Aku bahkan juga baru bisa ketemu mereka beberapa hari yang lalu."


Setelah Alfred berhasil memarkirkan mobilnya, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Liliana hanya bergeming dan menunggu.


Klik! Sambungan teleponpun terhubung.


"Aku sudah ada di depan. Bisa kamu keluar?"


"..."


Dan setelah telpon terputus, Liliana mengernyit menatap penasaran Alfred. "Kenapa tidak langsung masuk saja?"


"Kita membawa kotak makan. Bagaimana bisa kamu datang membawa makanan sendiri ke pesta pertunangan yang jelas-jelas banyak sekali makanan di sana, hm? Coba kamu pikirkan itu."


"Oh... Kamu benar. Hehe.. Aku lupa."


.


"Siapa?" Tanya Bella menatap Edward penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu. Tunggu sebentar, ya." Bella bergumam sambil mengangguk saja meski dalam hati dia sangat ingin tahu.


Edward menyeret kakinya menuju ke pintu keluar. Membuka pesan yang di kirim oleh Alfred di mana pria itu memberitahu ciri-cirinya. Sesampainya di sana, Edward cukup kagum dengan penyamaran yang di lakukan oleh pria itu kali ini. Benar-benar di luar dugaannya. Dan dia yakin sekarang bahwa Alfred memanglah mencintai Bella.


"Ayo." Ajak Edward cuek. Dia tidak menyangka bahwa Alfred akan hadir bersama dengan Liliana. Dan sekarang, dia melihat wanita itu dengan manjanya bergelayut di lengan Alfred seperti sepasang kekasih.


Mereka bertiga sama-sama saling bungkam tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan hingga ketika akan sampai di pintu masuk, Edward menghentikan langkahnya.


"Biar aku saja yang membawa bourbon chicken itu." Edward menggendikkan dagunya menunjuk kotak yang di bawa oleh Liliana. "Tidak pantas seorang tamu membawa makanan sendiri, kan?" imbuhnya seolah menyindir.


"Hmm... Baiklah, apa boleh buat." Gumam Liliana menyodorkan kotak yang berisi bourbon chicken di tangannya kepada Edward.


Ketiganya masuk secara beriringan. Cukup mengejutkan memang. Karena Alfred dan Liliana datang di jam yang terbilang sudah terlambat. Hingga membuat keduanya menjadi pusat perhatian semua tamu. Begitu juga hal itu tidak luput dari perhatian Anita juga Ashley yang secara jelas sangat mengenali tamu pria yang datang itu. Dalam hati Alfred hanya bisa berharap semoga penyamarannya kali ini tidak akan ketahuan seperti beberapa hari yang lalu.


Max, Ken, dan Sammy terkejut dengan kehadiran Liliana yang menggandeng seorang pria tampan dan tinggi bak artis Hollywood itu dengan begitu mesranya. Terutama Max yang mendadak hatinya memanas dengan rahang mengeras.


'Siapa pria itu?' Max tidak pernah mendengar mengenai Liliana yang dekat dengan seorang pria. Tapi hari ini, wanita itu datang dengan seorang pria yang tidak pernah dia lihat di kampus mereka. Apa pria itu berasal dari luar kampus mereka? Dari kasat matanya dia menilai usia pria yang bersama Liliana pastilah sudah lebih dari dua puluh lima tahun. Apa tipe pria wanita itu adalah pria yang dewasa? Jelas sekali usia mereka terpaut cukup banyak. Bisa di perkiraan mungkin lima tahun. Sedangkan dia dan Liliana bahkan lebih tua Liliana satu tahun.


Anita akhirnya mendekati Edward dengan senyum mengembang. Membuat Alfred semakin senam jantung meski ia masih bisa menyembunyikan kegugupannya. Namun Liliana dengan lihai semakin mendekat di samping Edward dan menggamit lengannya semakin mesra.


"Edward. Apa dia temanmu?" tanya Anita.


"Ya, Liliana juga sahabat Bella." Jawab Edward seadanya.


"Maaf nyonya, saya terlambat. Setidaknya kedatanganku ini tidak menjadi masalah." sela Liliana selembut dan sesopan mungkin, dia mencoba untuk membantu Alfred agar tidak sampai ketahuan. "Oh ya, ini kekasihku. Erdogan."


Jantung Max serasa tersambar petir mendengar Liliana mengenalkan status pria itu di depan bibi Bella. Dia tidak ingin percaya ketika dia memiliki pemikirannya sendiri mengenai pria di samping Liliana. Tapi siapa yang menyangka wanita itu akan benar-benar mengenalkan pria itu sebagai pasangannya.


"Tentu saja tidak. Silahkan di nikmati saja dan ajak kekasihmu menemui Bella. Aku tinggal dulu." Anita pun meninggalkan ketiganya tanpa rasa curiga sedikitpun. Dan itu di manfaatkan oleh Alfred untuk melepas nafas lega. setelah sedari tadi menahan nafasnya.


"Sepertinya akan baik-baik saja." Bisik Edward pada Liliana dan Alfred.


"Kami harap juga begitu." Lirih Liliana.


Bella lantas mendekati Edward ketika melihat Liliana datang ke acara pertunangannnya dengan cengiran khasnya. Alfred sedikit terkejut melihat wajah sumringah yang terpampang jelas pada wanita itu Apa Bella benar-benar menikmati pesta pertunangannya dengan Edward? Tak ada beban dalam senyuman Bella saat ini.


"Thanks Edward. Kamu benar-benar sahabat yang terbaik." Pekik Bella sumringah menyambar kotak yang ada di tangan Edward.


Edward hanya menaikkan sebelah alisnya menatap Bella heran. "Bagaimana kamu tahu itu berisi bourbon chicken yang kamu inginkan?" Tanya Edward penasaran.


Bella hanya menyeringai melirik Edward misterius. Mengendus-endus kotak yang tadi dia rebut dari tangan pria itu.


"Dari aromanya. Aku bisa menciumnya tadi." Alfred tersenyum getir. Memperhatikan Bella yang begitu hafal dengan aroma masakannya.


Klek!


Di bukanya kotak itu, mencomot satu potong daging ayam dan melahapnya dalam satu suapan saja. Hal itu membuat Edward mendelik horror. Dasar rakus! Untung saja wanita itu menggunakan garpu untuk mengambil potongan daging itu. Kalau tidak, bukankah dia sangat jorok?


Edward memperhatikan pipi Bella yang mengembung dengan bibir mengunyah monyong. Haㅡah... Terlalu indah untuk di abaikan.


Tiba-tiba saja Bella mendekat pada Alfred dengan antusias. Begitu dekat hingga menyebabkan Alfred tanpa sadar menahan nafasnya. Wanita itu mendekatkan bibirnya pada telinga Alfred. Mengendus sejenak aroma khas minyak wangi Alfred yang menjadi favorite-nya itu secara rakus. Sebelum mengatakan sesuatu pada Alfred hingga membuat pria itu membulatkan matanya terhenyak dengan bibir setengah melongo. Dan jika di perhatikan dengan seksama, pipi pria itu telah merona malu dan terharu.


Perlahan Bella menjauhkan dirinya dari Alfred dan mendekati Liliana, menyandarkan kepalanya pada bahu wanita itu lantas mengerling genit pada suaminya sebelum kembali mencomot potongan daging yang kedua seraya melirik Liliana yang terkekeh geli. Namun Bella tetap menatap Alfred dengan pandangan nakal.


'Bella kesambet apaan sampai jadi aneh seperti ini?' batin Liliana. Tapi dia bersyukur, ternyata yang membuat Bella terlihat bahagia saat ini adalah karena kehadiran Alfred di tengah-tengah pestanya.


Bersyukur Ashley hanya menatapnya dengan pandangan biasa saja. Sepertinya penyamarannya kali ini berhasil.


"Em..." Bella berfikir sejenak untuk memanggil Alfred dengan nama apa. Dia lupa dan tidak mendengar dengan jelas ketika Liliana memperkenalkan diri Alfred sebagai kekasihnya.

__ADS_1


"Apa tadi sih.. Aku harus memanggilmu apa? Aku lupa." Bella menggaruk dagunya bingung.


"Kamu bisa panggil Erdogan." Bella seketika melongo. Ha-ah.. Seperti nama pemain film saja.


Namun kemudian Bella berdehem sejenak. "Apa kamu bisa menyanyikan sebuah lagu untukku, Kak? Aku mohon. Aku ingin mendengarkan lagu yang kamu nyanyikan. Kamu bisa, kan? Aku dengar dari Liliana, kamu pandai bernyanyi." Celetuk Bella memohon dengan harap. mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah. Dia juga bermain acting bersama dengan Liliana dan tidak merasa cemburu, ketika sahabatnya itu dengan mesranya menggamit lengan suaminya. Dia tahu, itu hanya penyamaran saja.


Edward hanya mendesah. hari ini dia bahkan tidak bisa menghitung sudah berapa kali mendesah. Syukurlah Alfred ada di sini sekarang. Kalau tidak, dia sendiri yang akan kerepotan. Alfred terhenyak untuk sesaat. Melirik perut rata Bella sekilas. Apa itu permintaan bayinya?


Dia melirik Liliana seolah meminta ijin, hal itu membuat Liliana mengerutkan hidungnya dengan cengiran lucu. Mengedipkan kedua matanya sembari mengangguk seolah memberikan ijin kekasihnya. Dan tanpa sadar iapun mengangguk.


Bella memekik girang hingga menyita perhatian seluruh tamu ke arahnya.


"Ada apa dengan Bella?" Tanya Ken pada Sammy.


"Entahlah, biarkan saja." Sahutnya malas.


Dan Alfred berjalan ke arah tempat di mana pemain musik berada. Di antar oleh Bella dan juga Edward, Liliana berdiri di samping panggung dengan ekspresi seakan mengagumi kekasihnya. Deana, Bryan, Anita, Chal dan terakhir Ashley bertanya-tanya siapa gerangan pria yang bersama dengan Bella dan Edward yang terlihat asing.


"Selamat malam para tamu undangan. Saya, Erdogan. Akan membawakan sebuah lagu atas permintaan dari Bella Aberald tunangan dari Edward Lincoln yang tak lain adalah teman saya. Aku ingin persembahkan sebuah lagu khusus untuk mereka. Dan juga, untuk menghibur kalian semua." Salam Alfred memperkenalkan dirinya dengan mengubah sedikit nada suara aslinya.


Dalam hati dia sedikit cemas karena takut penyamarannya terbongkar oleh Ashley yang terbilang cukup jeli memperhatikannya. Alfred pun mengambil gitar akustik, lantas memulainya dari verse sebagai pembukaan.


*Well it's good to hear your voice


I hope your doing fine


And if you ever wonder,


I'm lonely here tonight


Lost here in this moment and time keeps slipping by


And if I could have just one wish


I'd have you by my side


Oooh, oh I miss you


Oooh, oh I need you*


Lirik awal, Alfred benar-benar meresapinya dalam suara lembut mendayu. Di mana dalam tiap bait liriknya sungguh hal yang ia rasakan saat ini. Dia bisa mendengar lagi suara Bella.


And I love you more than I did before


And if today I don't see your face


Nothing's changed, no one can take your place


It gets harder everyday


Pre-chorus, pria itu mulai mempercepat temponya. Seolah emosinya mulai keluar. Dalam lirik ini, Alfred memberitahu Bella tentang betapa ia semakin mencintai Bella hari demi hari. Betapa ia ingin selalu setiap harinya melihat wajah kekasihnya itu.


Say you love me more than you did before


And I'm sorry it's this way


But I'm coming home, I'll be coming home


And if you ask me I will stay, I will stay


Bait chorus, Alfred seolah memohon maaf atas segalanya dan akan selalu berada di sisi Bella sampai maut memisahkan mereka.


*Well I try to live without you


The tears fall from my eyes


I'm alone and I feel empty


God I'm torn apart inside


I look up at the stars


Hoping your doing the same


Somehow I feel closer and I can hear you say


Oooh, oh I miss you


Oooh, oh I need you*


Emosi Alfred benar-benar keluar semua melalui lirik selanjutnya. Di mana lirik itu mengungkapkan tentang seseorang yang mencoba hidup tanpa kekasihnya, namun tidak mampu. Tiap malam hanya bisa menatap langit, berharap bisa mendekatkan dirinya dengan kekasih karena menatap langit yang sama.


*And I love you more than I did before


And if today I don't see your face


Nothing's changed, no one can take your place


It gets harder everyday


Say you love me more than you did before


And I'm sorry that it's this way


But I'm coming home, I'll be coming home


And if you ask me I will stay, I will stay


Always stay


I never wanna lose you


And if I had to I would choose you


So stay, please always stay


You're the one that I hold onto


'Cause my heart would stop without you*


Di lirik inilah semua emosi yang di rasakan oleh Alfred selama ini membuncah. Dari marah, kecewa, sedih, takut juga bahagia menjadi satu. Dia menaikkan nada itu penuh penekanan. Bernyanyi seolah memohon dengan sangat pada Bella untuk tetap tinggal di hatinya. Untuk tidak meninggalkannya.


Bahkan Bella dibuatnya menangis karena meresapi dengan dalam lirik lagu itu. Edward bungkam tidak bisa berkata apapun lagi melihat penghayatan Alfred. Sedangkan bagi sebagian tamu yang hadir mulai berdecak kagum karena mereka tahu lagu itu adalah lagu yang begitu sangat romantis.


Aleysia sudah menangis dalam pelukan Brandon tanpa dia sadari. Dia tidak tahan mendengar lagu tersebut karena cukup mengerti arti lirik itu sangat cocok untuk sepupunya dengan Alfred saat ini. Begitu juga Ken yang tahu lagu ini adalah lagu yang sering di putar oleh Bella ketika sedang merindukan pria itu. Lagu ini bahkan menjadi nada dering ponsel dari wanita blonde itu.


Brandon, Gavyn dan Helena sedikit merasa familiar ketika memperhatikan Alfred menyanyi. Di perhatikannya kembali oleh mereka wajah Alfred yang menunduk dengan poni yang jàtuh begitu saja menutupi sebagian wajahnya.


Helena membulatkan matanya tidak percaya.


"Alfred." Lirihnya yang hanya bisa di dengarnya.


And I love you more than I did before


And I'm sorry that it's this way


But I'm coming home I'll be coming home


And if you ask I will stay, I will stay


I will stay


( STAY - Miley Cyrus )


Penutup lagu, Alfred menunduk dalam. Mencoba menyembunyikan hatinya yang tiba-tiba saja sesak. Dia ingin menangis, namun dia sekuat tenaga menahannya. Alfred bahkan kembali merasakan dadanya berdenyut nyeri seolah di rajam dengan cambuk bergerigi. Pedih, perih, sakit, dan juga tersiksa dalam waktu bersamaan.


Helena mengerti dengan posisi Alfred saat ini. Tidak mudah bagi pria itu untuk berdiri tegak di saat seperti ini. Berdiri di pesta pertunangan orang yang sangat kamu cintai dan orang yang begitu berarti selama hidup. Itu sangat menyakitkan.


.


.


.


.


.


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2