
Hai, Kak. Klik gambar jempol dulu ya, sebelum membaca lanjutan ceritanya.
Makasih atas 'like'nya.
Kami bertiga sudah sampai di kantin sekolah tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kemana Cindy ya, kok tidak kelihatan batang hidungnya?" ucapku.
"Nah itu dia Im, padahal tadi jelas-jelas aku melihatnya sedang menuju ke sini," jawab Fajar.
"Cindy ... Cindy ...," teriak Gatot memanggil nama Cindy.
Tidak ada sahutan sama sekali. Akupun bergantian memanggil nama Cindy.
"Cindy ... Cin-" panggilku.
Belum selesai aku memanggil nama Cindy, tiba-tiba dari dapur warung Bu Mat ada suara-suara mencurigakan.
"Apa itu Kamu, Cin?" panggil Fajar.
Tidak ada sahutan dari dalam. Kemudian lamat-lamat dari lubang dinding bambu pembatas antara tempat Bu Mat memajang dagangannya dan dapur, kami melihat ada seseorang dengan kain kebaya berwarna ungu sedang berjalan ke luar. Kami terkesiap melihat warna kebaya itu, lebih-lebih lima detik kemudian pemilik kebaya ungu itu benar-benar muncul di depan kami.
"Mbah Iyem????? Lariiiiiii!!!!" teriak kami bertiga dengan kencang begitu melihat nenek-nenek tua dengan wajah menyeramkan. Kamipun berlari meninggalkan kantin tersebut. Beberapa langkah kami berlari, kami merasa ada yang janggal.
"Im, Gatot mana?" pekikku.
"Entahlah, jangan-jangan ...," kami menoleh ke belakang. Benar saja, ternyata Gatot masih tertinggal di kantin, ia nampaknya masih shock jadi tidak ikut berlari bersama kita. Ia memandangi sosok menyeramkan Mbah Iyem yang semakin mendekatinya.
"Ayo lari, Tot!!!!" teriakku dan Fajar sambil menarik tangan Gatot kuat-kuat supaya menjauhi hantu Mbah Iyem yang sudah sangat dekat dengan Gatot waktu itu.
"Makasih ya, Teman-Teman. Kalian sudah menyelamatkanku dari si nenek seram itu," ujar Gatot kemudian.
"Sudah dulu ngobrolnya, ayo kita lari dulu ke tempat yang aman," teriak Fajar.
Kami bertigapun terus berlari hingga sampai di kelas. Saat itu kakak kelas sedang membagikan soal post test ke bangku kita masing-masing.
"Kok sampai ngos-ngosan begitu Kalian?" bisik Lidya pada kami bertiga yang baru datang, mengucap salam, dan langsung duduk di kursi kami.
__ADS_1
"Kami baru saja bertemu Mbah Iyem di kantin," jawabku juga dengan berbisik.
"Ternyata Cindy nggak jadi pergi ke kantin karena tempatnya sepi, dia berbelok ke rumah Bu Mat tadi untuk meminta garam," jawab Lidya masih dengan berbisik.
"Kalau tahu begitu, kami nggak bakal pergi ke kantin terus ketemu Mbah Iyem. Mana sudah tua, jelek, hantu lagi .... Tapi yang penting Cindy selamat, kami sempat khawatir ia disandera hantu Mbah Iyem," jawab Fajar.
"Cindy dapat banyak garamnya, Lid?" tanyaku dengan napas masih memburu.
"Enggak ...," jawab Lidya.
"Lah terus, sia-sia dong ia pergi ke rumah Bu Mat?" tandasku.
"Enggak juga. Ketika Cindy ke rumah Bu Mat, ia mendapatkan informasi berharga yang nggak kita sangka-sangka," ucap Lidya dengan mata berbinar dan mulut menyungging senyum.
"Oh ya? Informasi apakah itu?" tanya Fajar penasaran.
"Iya, Lid. Kami juga penasaran ingin mendengarnya," celetukku.
"Nanti aku kasih tau Kalian. Sekarang kita konsentraai dulu pada soal-soal post test ini. Jangan sampai kita kehabisan waktu dan salah mencoret jawaban yang benar," ujar Lidya.
"Untuk soal post test ini, kan gampang Lid. Kosongi saja kan sudah dianggap salah," celetuk Gatot.
"Oh ya benar katamu. Lebih baik kita isi semua tapi jawabannya dipilih yang salah saja," ujar Fajar.
"Iya, soalnya dibaca dengan hati-hati, terus dipilih jawaban yang salah. Khusus untuk Gatot pilih jawaban yang menurutmu benar, Tot. Toh nantinya bakal salah juga jawaban yang menurutmu benar," tandas Lidya dengan nada mengejek.
"Sialan Kamu Lid, malah melecehkan saya. Untuk soal Pendidikan Moral Pancasila dan materi-materi yang disampaikan selama MOS ini mah aku bisa lah sedikit-sedikit. Kalau urusan hitung-menghitung atau ilmu alam, baru aku nyerah," jawab Gatot agak tersinggung dengan perkataan Lidya.
"Sorry deh Tot kalau begitu. Kirain Kamu nggak suka semua pelajaran?" jawab Lidya dengan ekspresi wajah memelas, takut Gatot tetap marah.
"Oke lah tidak apa-apa, Lid" jawab Gatot sambil tersenyum.
Lidya tahu Gatot masih marah, lain kali dia berjanji akan lebih berhati-hati dalam berbicara.
Selama kurang lebih satu jaman anak-anak berkonsentrasi dengan soal post test. Benar kata pemateri dan kakak kelas bahwa sebagian besar soal post test diambil dari materi yang sudah disajikan selama lima hari ke belakang, sisanya adalah tentang sejarah sekolah ini dan pengetahuan umum. Seandainya yang aku kejar waktu itu adalah nilai terbaik, tentunya kalau cuma sembilanpuluh sich aku yakin bisa dapatkan. Tapi karena aku dan keempat temanku memiliki rencana yang lain, tentunya kami harus memilih jawaban yang salah dari semua pertanyaan.
[Teeeet ... teeeet ... teeet]
__ADS_1
"Silakan soal dikumpulkan di bangku sebelah kiri, jawaban dikumpulkan di sebelah kanan, tolong satu kelompok dikumpulkan menjadi satu," ucap kakak kelas yang menjaga post test di kelas kami.
Semua anakpun mengumpulkan lembar soal dan lembar jawaban sesuai dengan petunjuk kakak kelas.
"Yang sudah mengumpulkan lembar jawaban silakan istirahat. Hasil nilai post test dan akumulasi nilai kelompok akan diumumkan setelah sholat ashar," teriak kakak kelas itu kembali.
Setelah mengumpulkan hasil pekerjaan kami, kami berlimapun berkumpul di depan kelas untuk melanjutkan pembicaraan kami yang sempat terputus tadi.
"Cindy ... tolong sampaikan kepada kami, informasi penting apa yang Kamu peroleh tadi sewaktu pergi ke rumah Bu Mat?" desak Fajar kembali.
"Oh ya, sebelumnya aku mau minta maaf kepada Kalian karena sudah membuat Kalian bertiga bertemu hantu Mbah Iyem di kantin," ujar Cindy.
"Oke lupakan Cin. Yang penting Kamu tidak kenapa-kenapa. Sekarang tolong ceritakan kepada kami, informasi yang Kamu dapatkan supaya kami tidak terua bertanya-tanya," jawabku.
"Baiklah. Begini ceritanya, sewaktu aku berbelok dari yang semula mau pergi ke kantin, menuju ke rumah dinas Bu Mat, tanpa sengaja aku menguping pembicaraan antara Bu Mat dengan Pak Mat. Aku tidak berniat mengupingnya karena aku sudah bersiap mengetuk pintu rumah dinas mereka untuk meminta garam. Tapi tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar pasangan suami istri tersebut membicarakan almarhumah Mbah Iyem, mantan asisten mereka," cerita Cindy.
"Apa yang sedang mereka bicarakan, Cin?" tanya Fajar dengan sorot mata menyimpan rasa penasaran yang sangat besar.
Cindy menarik napas dalam-dalam kemudian melanjutkan ceritanya.
"Ternyata Pak Mat dan Bu Mat menyimpan suatu rahasia tentang Mbah Iyem, Im ... Jar ...," ucap Cindy.
"Rahasia apa yang sedang mereka sembunyikan, Cin? Apakah itu yang menyebabkan arwah Mbah Iyem tidak tenang di sana?" celetuk Gatot.
"Sepertinya begitu, Tot. Mereka ingin menguburkan rahasia itu dalam-dalam, supaya tidak ada satu orangpun yang mengetahui hal itu," ucap Cindy dengan suara berat.
"Ya Tuhan, betapa kejamnya mereka berdua kepada asisten yang sudah bertahun-tahun membantu pekerjaan mereka," pekikku.
Cindy kembali menarik napasnya lebih dalam. Kami bertiga semakin tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.
Bersambung
Demikianlah akhir cerita episode ini.
Sisihkan "vote" anda untuk mendukung setiap episode novel KAMPUNG HANTU.
Pemenang jumlah vote terbanyak adalah @Moelyani (sudah kami cek tanggal 15 Juli 2020 pukul 24:00). Kepada Moelyani silakan menulis komentar di bawah ini.
__ADS_1
See u next episode
Salam seram bahagia