KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 77 : KEHILANGAN


__ADS_3

Sontak saja aku dan Parto terkejut setelah mendengar pengakuan Mbah Arni.


"Itu hanya halusinasi Mbah Arni saja, namanya juga sedang sakit. Jadi, kelihatan yang aneh-aneh," ujarku.


"Dasar, kalian berdua ini dari dulu tidak pernah berubah. Sulit percaya dengan omongan orang. Mana mungkin aku berbohong kepada kalian. Lagipula, untuk apa aku berbohong?" jawab Mbah Arni


"Iya sih, Mbah Arni memang tidak pernah berbohong selama ini. Namun, seperti yang kami bilang tadi. Kondisi fisik Mbah Arni yang sedang sakit sangat memungkinkan untuk berhalusinasi," ujar Parto.


"Masa sih aku berhalusinasi? Lah, wong aku jelas-jelas bisa mendengar apa yang mereka berdua katakan," ujar Mbah Arni.


"Memangnya apa yang mereka katakan, Mbah?" tanyaku dengan rasa penasaran.


"Mereka mengajakku untuk ikut bersama mereka," jawab Mbah Arni.


"Terus, apa yang Mbah Arni katakan kepada mereka berdua? tanya Parto.


"Aku bilang nggak mau, dong" jawab Mbah Arni.


"Bagus, Mbah. Itu semacam jin, deh, kayaknya? Yang sering mengganggu orang yang sedang sakit. Kita tidak boleh terpengaruh oleh mereka karena umur berada di tangan Allah. Bukan begitu, Mbah?" ujarku.


"Iya benar, Le. Kalian berdua juga jangan sampai terjebak oleh tipu daya jin, ya? Kalian ini kan sering bersentuhan dengan kehidupan mereka, jadi harus berhati-hati!" ujar Mbah Arni.


"Inggih, Mbah. Terima kasih," jawab kami berdua.


"Permisi, ini kopi panasnya, Im, To," ujar bulik sambil membawa nampan berukuran kecil dan meletakkannya di meja mini kamar Mbah Arni.


"Terima kasih, Bulik. Mohon maaf lama tidak ketemu. Ealah pas ketemu malah ngerepotin," cetusku.


"Duh, tidak apa-apa, Im. Kalian ini kayak orang lain saja. Melayani tamu itu pahalanya gede loh, ya? Syukur-Syukur Mak Arni bisa sembuh lantaran doa dari kalian berdua," jawab bulik.


"Aamiiin ...," jawab kami secara bersamaan.


"Mak, buburnya dimakan, yuk! Biar aku yang nyuapin," ucap bulik kepada Mbah Arni.

__ADS_1


"Iya benar, Mbah. Biar penyakitnya segera kabur takut sama bubur," cetusku dengan penekanan pada suku kata 'ur'.


"Kamu ini ada-ada saja, Im. Melihat banyak orang di rumah ini, aku juga sudah senang dan pasti penyakitnya akan hilang dengan sendirinya. Suamimu kapan datang, Nduk?" ujar mbah Arni.


"Aku kurang paham, Mak. Mas kalau ke luar kota tidak tentu lamanya, bisa dua hari bisa juga seminggu. Tapi aku yakin kalau Mas tahu aku belum pulang, pasti dia akan nyusul ke sini," jawab bulik.


"Duh, suamimu itu dari dulu tetap saja seperti itu. Terlalu cuek dengan orang rumah. Untunglah dia memiliki istri yang sabar seperti kamu, Nduk." ujar Mbah Arni dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan Mas ya, Mak. Kerjaan Mas itu berat, Mak. Mas kadung dipercaya sama bosnya untuk menyuplai barang ke seluruh langganannya, mulai dari dalam sampai luar kota. Jadi, Mas sampai jarang sekali pulang menjenguk Mak," ujar bulik dengan nada lembut.


"Iya, paling-paling dia nitip uang lewat sepupunya Mila. Padahal yang aku butuhkan itu kehadirannya bukan uangnya. Mumpung, aku masih ada. Nanti kalau aku sudah meninggal, baru deh menyesal suamimu itu," ujar Mbah Arni.


"Jangan bilang begitu, Mak. Mak harus sembuh, Mak harus panjang umur sampai aku dan Mas nanti punya anak lagi," ujar bulik sambil meneteskan air mata.


Mbah Arni merangkul tubuh menantunya yang menangis sesegukan itu.


"Tidak, Nduk. Aku tidak hanya ingin menimang cucuku yang belum lahir, tapi aku juga ingin anakmu yang hilang beberapa tahun lalu segera ditemukan," ujar Mbah Arni juga dengan meneteskan air mata.


"Iya, Im ... To .... Anakku hilang beberapa tahun yang lalu," jawab bulik masih sesenggukan.


"Kenapa kami tidak pernah mendengarnya, Bulik? Kapan dan dimana hilangnya anak Bulik?" tanyaku penasaran.


"Hilangnya sudah lama, Im. Waktu itu kami baru saja mudik ke sini. Usia anakku sekitar tiga tahun. Kalau tidak salah, waktu itu kamu usianya lima tahunan. Wong, selama mudik aku sering membawanya ke rumah Mbak Ningrum. Kamu dan anakku dibiarkan main bersama. Wajah kalian agak mirip, lo. Cuma kalau kamu cowok, kalau anakku cewek dan ada tahi lalat di atas dagu sebelah kirinya. Kamu masak nggak ingat, Im?" ujar bulik.


Aku berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepala.


"Tidak, Bulik. Aku tidak ingat," jawabku.


"Kamu tidak ingat, To. Waktu itu kalian kan sering bermain bertiga?" tanya bulik lagi.


Parto berpikir sejenak, kemudian ia pun berkata, "Aku agak lupa-lupa ingat, Bulik. Tapi kalau tidak salah, anaknya rambutnya cepak kayak cowok, ya?"


"Iya benar, To. Anaknya memang kayak anak cowok. Maklum wetonnya memang weton cowok. He he he," ujar bulik dengan ekspresi tertawa sambil menangis.

__ADS_1


"Kok bisa hilang, bagaimana ceritanya?" tanya Parto.


Bulik menyeka air matanya, kemudian ia bercerita.


"Tiga hari setelah mudik, ada pasangan suami istri datang ke kontrakan kami. Kebetulan yang perempuan adalah teman lama suamiku ketika masih merantau di Jakarta. Mereka bilangnya mau menumpang menginap selama tiga hari saja sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain. Kami tidak curiga sedikitpun kepada mereka. Kami menganggap mereka seperti keluarga kami sendiri. Kadang kalau pas ke warung, aku menitipkan anakku kepada mereka. Anakku sampai akrab sekali dengan mereka. Hingga sampailah pada hari itu, sepulang dari warung aku tidak melihat mereka ada di rumah. Dan barang-barang mereka juga sudah tidak ada. Anakku juga dibawa oleh mereka. Aku bingung, aku lari kesana kemari mencari anakku. Namun, tetap tidak kutemukan. Aku berlari ke telpon umum untuk menelpon tempat kerja suamiku, aku mengabarkan kepada suamiku bahwa anakku dibawa kabur kedua temannya. Awalnya ia tidak percaya, tapi ketika pulang ke rumah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri barulah ia percaya. Kami pun histeris bersama saat itu," tutur bulik.


"Ya Allah ... Tega banget teman paklik itu?" pekikku.


"Mereka bukan teman, Im. Mereka itu setan yang menyamar menjadi teman." pekik bulik.


"Apa Bulik tidak mencoba melapor ke polisi?" tanyaku lagi.


"Sudah Im. Polisi sudah berusaha mencari, tetapi hasilnya nihil. Mereka sudah kabur jauh sepertinya," jawab bulik.


"Ya Tuhan, yang sabar ya, Bulik. Semoga suatu saat Bulik bisa bertemu dengan anaknya," jawabku.


"Aamiiin. Makasih doanya, Im" ujar bulik.


"Aku yakin anakmu tidak pergi jauh, Nduk" cetus Mbah Arni.


"Mas sudah mencari ke sekeliling penjuru kabupaten ini, tetapi tidak ada Mak. Mas sengaja memilih bagian pengiriman barang, karena Mas ingin bekerja sambil mencari anak kami yang hilang. Doakan kami terus ya, Mak!" ujar bulik.


"Iya, Nduk pasti aku akan berdoa untuk kalian," jawab Mbah Arni.


Sejenak suasana hening. Pikiran kami semua terbawa pada anaknya bulik yang kini entah berada di mana. Ada sebersit keinginanku untuk membantunya menemukan anaknya yang hilang itu, tetapi aku bingung bagaimana cara untuk menemukannya. Sedangkan informasi tentang anak tersebut sangatlah minim.


Saat aku memikirkan hal tersebut tiba-tiba aku seperti melihat ada sekelebat bayangan di belakangku. Aku menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.


Bersambung


author sangat berterima kasih, jika Pembaca mau memberikan like, komentar, dan vote.


Salam seram bahagia selalu

__ADS_1


__ADS_2