KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 60 : PESURUH SEKOLAH


__ADS_3

Hai, Kak. SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA untuk yang merayakannya.


Pasti Kakak sudah tidak sabar menunggu kelanjutan cerita ini. Mohon maaf ya Kak karena Author memiliki aktivitas yang super padat di dunia nyata.


Jangan lupa klik tombol "LIKE" dulu sebelum membaca.


Langsung aja ya, inilah kelanjutan ceritanya.


Aku dan Cindy sudah hampir sampai di depan kelas. Perasaan semakin tidak karuan karena suara senandung itu semakin keras ditambah tarikan napasnya yang semakin berat. Saat sudah sampai di pojokan dinding, aku dan Cindy memberanikan diri menengok ke dalam ruangan kelas dimana suara menyayat hati itu berasal, sayangnya suara itu tiba-tiba saja menghilang. Di dalam ruangan kelas tidak ada seorangpun.


"Im ... kita ke anak-anak saja, Yuk!" pekik Cindy dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Baiklah, sepertinya ia hanya menggoda kita saja, bukannya ingin menyampaikan sesuatu kepada kita," jawabku.


"Yuk Im, buruan!" ujar Cindy kembali sambil menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya menjauhi tempat tersebut menuju ke tempat teman-teman yang lainnya. Benar dugaanku, ketika kita berdua mulai berjalan menuju ke deretan kelas di sebelah selatan, senandung itu tidak terdengar lagi.


"Dari mana Kalian berdua ini?" tanya Fajar dengan nada agak tinggi.


"Maaf Jar, tadi kami berdua sempat mendengar suara-suara aneh di sebelah sana, makanya kami datang paking akhir," jawabku berusaha meredakan emosi Fajar.


"Lain kali jangan bertindak sendiri, kita harus bekerja sesuai kesepakatan kita, bukan?" ucap Fajar lagi.


"Iya Jar, aku mohon maaf. Tadi Cindy sudah mewanti-mewantiku untuk segera menyusul Kalian, tapi aku yang membandel mengajaknya mengintai suara itu," jawabku perlahan.


"Baiklah, kali ini Kalian aku maafkan, tapi tolong jangan diulangi lagi. Ini demi keselamatan kita semuanya," ucap Fajar dengan nada lebih rendah dari sebelumnya.


"Terima kasih Jar," jawabku dan Cindy.


"Oke, karena semuanya sudah lengkap, ayo kita segera bekerja membersihkan semua ruangan kelas ini dengan metode seperti tadi. Ingat, kita harus terus saling memantau dan jangan berada pada jarak yang terlalu jauh!" ucap Fajar.


"SIAP!!!" jawab kami semuanya.


Kamipun memulai membersihkan seluruh ruangan dan beranda kelas. Di belakang sana, kakak kelas sedang memunguti sampah yang berserakan di sekitar lapangan. Ya, aku mulai memahami ternyata tingkat kesadaran masyarakat Indonesia masih rendah dalam hal mengelola sampah. Seandainya kita tidak sembarangan membuang sampah, tentunya sampah-sampah itu tidak akan sebanyak ini. Tulisan 'BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA' seakan hanya hiasan semata. Di lain sisi aku juga menyadari bahwa hukuman yang diberikan kepada kami bukanlah hukuman yang bertujuan menyiksa, karena kakak-kakak kelas yang memberikan hukumannya juga turut bekerja membersihkan sampah tersebut. Mungkin nanti kalau aku sudah duduk di kelas dua, aku akan memberikan poin khusus kepada peserta MOS yang membuang sampah secara sembarangan.


"Alhamdulillah, tinggal satu kelas lagi" pekik Cindy.


"Iya, ayo buruan kita selesaikan tugas kita!" ucap temanku yang satunya.

__ADS_1


Kami bertigapun mulai membersihkan ruangan kelas lantai kedua paling ujung itu. Ruangan dimana aku pernah memergoki Merry hampir mati tergantung.


"Im ...," panggil Cindy tiba-tiba.


"Ada apa Cin?" tanyaku sambil menghampirinya. Temanku yang satunya masih sibuk mengelap jendela bagian depan.


"Bukankah itu Pak Rengga dan Kak Dino?" ucap Cindy lagi sambil menunjuk ke arah belakang sekolah. Tepat di pinggir lapangan, Kak Dino sedang memperbincangkan sesuatu dengan Pak Rengga.


"Iya Cin. Apa yang sedang mereka bicarakan ya? Kok sepertinya ada yang janggal. Bukankah seharusnya Pak Rengga sudah pulang siang tadi?" ucapku.


"Itu dia Im. Hubungan kedua orang itu sangat mencurigakan sekali," ucap Cindy.


"Awas Cin!" ucapku seketika yang langsung direspons Cindy dengan mencoba bersikap wajar, berpura-pura khusyu membersihkan jendela. Di bawah sana, Pak Rengga dan Kak Dino tiba-tiba menoleh ke arah kami berdua seolah-olah mengetahui kalau mereka sedang kami perhatikan.


Aku mencoba mengintip secara hati-hati pergerakan Kak Dino dan Pak Rengga di bawah, ternyata mereka masih terus melihat ke arah jendela ini.


"Ssssst.... Ciiin... Ayo buruan kita selesaikan pekerjaan kita! Sepertinya mereka terus memantau kita," bisikku pada Cindy.


Cindy dengan bahasa tubuh biasa meninggalkan jendela itu untuk melanjutkan membersihkan ruangan kelas. Beberapa menit kemudian pekerjaan kami membersihkan deretan kelas bagian selatan itupun selesai kami lakukan. Kami semuapun turun dari lantai dua untuk menuju aula. Saat kami akan turun ke lantai satu, kami seperti mendengar suara mesin mobil Pak Rengga meninggalkan sekolah ini. Dan ketika kami melewati ruangan laboratorium IPA, kami melihat ruangan itu sudah tertutup rapat.


"Mungkin Pak Rengga sudah pulang."


"Eeeee ...," jawab mereka kebingungan.


"Tidak apa-apa, kami berlima yang akan menyelesaikan sisanya," ucap Fajar kembali.


"Maafkan kami ya, kami benar-benar tidak bisa pulang lebih sore lagi. Padahal kami ingin sekali membantu menyelesaikan pekerjaan ini sampai selesai," ucap salah satu dari mereka.


"Iya nggak apa-apa. Kami paham kok," jawabku.


"Kalian berhati-hati ya di jalan soalnya ini sudah sangat sore," ucap Lidya.


"Oke, makasih ya atas pengertian Kalian semuanya. Kami pamit dulu," jawab mereka.


Akhirnya kelima teman kami itupun berpamitan pulang. Tinggallah kami berlima yang akan menyelesaikan tugas kelompok, sekaligus menjalankan misi rahasia kami, yaitu mencari data-data di gudang arsip sekolah.


[Tin tin ]

__ADS_1


Terdengar suara klakson menyambut kepulangan kelima teman kami. Ternyata saat mereka akan keluar pagar, ada sebuah mobil sampah yang akan masuk ke pelataran sekolah berpapasan dengan kelima anak itu. Pak Mat tampak berlari dari kejauhan menuju gerbang utama sekolah dan membuka lebar-lebar gerbang besi itu agar mobil sampah itu bisa masuk ke dalam. Sepertinya Pak Mat memang sudah mengenal betul orang atau petugas yang membawa mobil sampah tersebut. Setelah diberikan akses masuk oleh Pak Mat, mobil itupun berbelok ke kanan dan parkir di sebelah ruangan laboratorium IPA, tak mau banyak membuang waktu kamipun bersegera menuju aula yang akan kami bersihkan.


Baru beberapa ayunan langkah, tiba-tiba ada suara seseorang memanggil kami dari kejauhan.


"Mau kemana Kalian?" suara orang itu.


Kamipun menoleh, ternyata Pak Mat yang baru saja memanggil kami.


"K-kami mau ke aula Pak," jawabku tergagap.


"Oo ... Kalian kelompok yang dihukum tahun ini, ya?" ujar Pak Mat sambil mendekati kami.


"Iya benar Pak," jawab Fajar.


"Nanti habis membersihkan aula, aku tunggu Kalian di rumah," ucap Pak Mat lagi.


"Eeee, kalau boleh tahu untuk apa ya?" tanya Lidya dengan sopan.


"Lah, apa Kalian tidak butuh kunci untuk mengunci ruangan-ruangan yang sudah Kalian bersihkan?" jawab Pak Mat dengan nada meninggi.


"Oh iya Pak, terima kasih. Maaf kami baru kepikiran," jawab Lidya.


"Dimana teman Kalian yang lain?" tanya Pak Mat lagi.


"Teman kami sudah pulang sebagian Pak, hanya tinggal kami berlima," jawabku.


"Ooo ... pemberani sekali Kalian. Ingat, jangan sampai ada yang pergi sendirian. Apalagi kalau sudah maghrib," ucap Pak Mat dengan nada serius.


"Emang kenapa Pak?" tanya Cindy penasaran.


"Nanti Kalian akan melihatnya sendiri," ucap Pak Mat sambil berlalu meninggalkan kami dengan senyuman yang membuat bulu kuduk kami merinding seketika.


Bersambung


Tunggu kelanjutan kisahnya terus ya dengan penuh kesabaran. Jangan lupa selalu berikan "vote" Anda untuk KAMPUNG HANTU.


See u next episode.

__ADS_1


Salam seram bahagia.


__ADS_2