KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 90 : ANALISA FAJAR


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri jalan paving di belakang deretan ruangan kelas satu hingga sampai di kelas satu yang berada di depan Laboratorium IPA. Di sanalah aku berbelok ke kanan. Aku bermaksud menuju mesjid terlebih dahulu untuk menunaikan salat Zuhur, mumpung bel masuk bel berbunyi. Namun, beberapa langkah aku menuju ke arah utara, tiba-tiba aku berpapasan dengan pak Rengga.


"Dari mana, Im? Kamu tidak ikut sholat, ya? " sapa guruku yang sekaligus teman bapakku itu.


"D-dari k-kamar mandi, Pak. Saya sakit perut," jawabku gelagapan.


"Bukankah kamar mandi ada di sebelah timur? Kamu kok dari selatan?" tanya pak Rengga lagi.


"Oh, itu Pak. Tadi habis dari kamar mandi, saya balik ke kelas mau meraut pensil, lah kok pisau yang digunakan untuk meraut pensil malah terjatuh ke luar jendela. Akhirnya saya harus ke belakang untuk mengambilnya," jawabku pura-pura tenang.


"Kamu tidak sedang berbohong, kan? Mana pisau yang sudah kamu ambil?" tanya pak Rengga.


"I-ini, Pak." jawabku sambil menyodorkan pisau lipat yang sempat kugunakan tadi.


Pak Rengga mengambil pisau kecil itu dari tanganku, selanjutnya ia membolak-balik pisau itu sebelum mengembalikannya kepadaku.


"Aneh, pisaunya kok banyak tanahnya begitu?" ujarnya.


"Iya, Pak. Kebetulan tadi pisaunya jatuh dan menancap di tanah," jawabku asal.


"Ya, sudah sana kamu sholat dulu, mumpung masih belum bel masuk!" ucap pak Rengga.


"Iya, terima kasih, Pak" jawabku.


"Lain kali izin ke guru dulu! Dan jangan membuat-buat alasan kalau kamu tidak ingin berhadapan dengan saya," ujar pak Rengga.


"Iya, mohon maaf Pak," jawabku.


Pak Rengga pun meninggalkanku menuju ruangan pribadinya di Lab IPA, beberapa meter di belakang pak Rengga nampak Fajar yang sedang membuntutinya. Aku pun melangkah lurus ke utara dengan menyapa Fajar sekedarnya saja untuk tidak menimbulkan kecurigaan baru dari pak Rengga. Aku sempat melihat ada pak Mat di pinggir lapangan. Beliau sedang mengambil sambit yang sempat tertinggal.


Aku pun menuju kamar mandi di dekat masjid sebelum akhirnya aku menunaikan salat Zuhur s3cara munfarid. Setelah selesai menunaikan kewajibanku, aku pun berjalan menuju kelasku. Beberapa langkah aku meninggalkan mesjid, bel tanda masuk dibunyikan.


"Syukurlah, aku masih bisa menunaikan salat Zuhur," pikirku.


Kususuri koridor ruangan guru untuk menuju kelasku sendiri. Namun, saat aku berjalan sampai di depan kelas satu, ada kejadian aneh yang kulihat. Di depan ruangan Lab. IPA, kulihat pak Mat dan pak Rengga sedang membicarakan sesuatu. Pak Mat masih memegang sabitnya. Sepertinya ia belum ke belakang untuk memangkas dedaunan dan semak pada pohon di tempat pembuangan sampah. Kalau begitu, berarti mereka sudah mengobrol agak lama. Setidaknya mulai aku ke mesjid tadi.


"Apa sih yang mereka perbincangkan? Jangan-Jangan mereka sedang membicarakan aku?" pikirku dalam hati.


Aku tidak mungkin berlama-lama berdiri di sana karena aku harus segera masuk ke dalam kelas. Tapi, sebelum aku meninggalkan tempat tersebut, aku sempat melihat kedua orang itu menatap ke arahku selama beberapa detik, dan kemudian mereka tampak tersenyum dan tertawa.


*


"Im, bagaimana kamu bisa lolos dari pak Mat? Tadi Lidya sempat bercerita bahwa ia gagal menahan pak Mat untuk ke tempat pembuangan sampah itu," tanya Cindy.


"Iya, Cin. Hampir saja aku ketahuan oleh pak Mat. Untunglah aku sempat bersembunyi di atas pohon," jawabku.


"Pohon yang daunnya rimbun dan banyak ditumbuhi semak dan benalu itu?" tanya Cindy lagi.

__ADS_1


"Iya benar, Cin," jawabku.


"Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa," jawab Cindy.


"Kata siapa? Aku hampir saja dipatuk ular di pohon itu," jawabku serius.


"Oh, ya?" tanya Cindy sambil melotot tidak percaya.


"Iya beneran, untunglah aku bisa segera turun dan menghindar dari serangan ular hijau itu," jawabku.


"Tapi aman, kan? Tidak diketahui oleh pak Mat?" tanya Gatot.


"Aman sih. Tapi kayaknya pak Rengga terlihat mencurigaiku," jawabku.


"Oh ya? Apa pak Rengga sempat melihatmu?" tanya Gatot.


"Sewaktu aku berjalan dari belakang menuju mesjid, aku berpapasan dengan pak Rengga. Beliau sempat menanyaiku macam-macam. Tapi, entahlah," jawabku.


"Semoga kekhawatiranmu tidak terbukti, Im" ujar Fajar.


"Iya, Jar. Tapi ada yang aneh lagi," ujarku.


"Keanehan apa yang ku lihat, Im?" tanya Fajar.


"Barusan aku melihat pak Mat dan pak Rengga ngobrol bersama di depan Lab. IPA," jawab Fajar.


"Semoga itu hanya kebetulan saja," jawab Fajar.


"Apa kamu berhasil mengetahui benda apa yang dikubur oleh kal Dino?" tanya Fajar.


"Aku kurang yakin, Jar. Apakah yang aku temukan itu benar-benar kresek hitam yang dikubur kak Dino," jawabku.


"Maksud kamu bagaimana?" tanya Fajar.


"Begini, sesampai di sana aku kesulitan menemukan bekas galian dari petunjuk Lidya. Jadi aku menggali sesuai keyakinanku saja dan aku menemukan sebuah benda dibungkus kresek hitam yang sudah rapuh," jawabku.


"Benda apakah yang kamu temukan, Im?" tanya Lidya dengan ekspresi wajah sangat penasaran.


"Entahlah, benda apakah itu? Yang jelas bendanya agak lembek-lembek begitu dan berbau menyengat. Aku sampai muntah karena tak tahan dengan baunya," jawabku.


"Lembek-Lembek? Apa, ya?" tanya Lidya.


"Jangan-Jangan itu janin?" pekik Gatot.


"Ih ..., kalau benar benda itu janin. Janin siapakah itu?" tanya Fajar.


"Apa itu janinnya Tari?" pekik Gatot.

__ADS_1


"Jangan ngawur kamu, Tot. Tari itu seusia ibunya Imran. Masa janinnya masih ada sampai sekarang?" sanggah Lidya.


"Bisa jadi, Lid. Bagaimana kalau selama ini, janin itu disimpan oleh pak Rengga? Bukankah di ruangan pak Rengga ada lemari esnya?" jawab Gatot.


"Masuk akal juga sih, pas aku masuk ruangan Pak Rengga. Lemari es itu dalam keadaan terkunci," jawab Fajar.


"Dan, waktu aku mencari Mita di ruangan pak Rengga. Beliau sempat membuka lemari esnya sebentar, tetapi ditutup lagi. Waktu itu, aku mencium bau busuk keluar dari lemari es itu," tambahku.


"Trus, apa tujuan pak Rengga menyimpan janin itu sekian lama?" tanya Lidya.


Kami berpikir sejenak.


"M-mungkin pak Rengga sendirilah bapak dari janin itu. Dia belum ikhlas menguburkannya karena ia masih sangat sayang pada calon anaknya itu," jawab Fajar.


"Anaknya? Lantas, siapa ibu dari anak itu?" tanya Lidya lagi.


"Tari," jawab Fajar dengan suara mendesah.


"Apa?" Kami berempat terkejut dengan jawaban Fajar.


"Ngapain pak Rengga sampai tega membunuh Tari? Bukankah hubungan mereka berdua baik-baik saja?" tanya Lidya tidak percaya.


"Hal itu bisa saja terjadi, Lid. Kalau-" jawab Cabar.


"Kalau apa, Jar?" potong Lidya.


"Kalau pak Rengga takut nama orang tua yang ia sayangi tercoreng," jawab Fajar dengan suara dipelankan.


"Maksudnya bagaimana?" pekik kami berempat.


"Mungkin, sewaktu Tari naik ke lantai atas meninggalkan bu Mega di kamar mandi. Tari tidak sedang memergoki seorang pengintai. Itu hanya alasannya saja. Bisa jadi ia baru saja muntah karena hamil muda. Namanya juga anak remaja, pasti tidak bisa menahan nafsu kalau berhubungan dekat terlalu lama. Dan, Tari merahasiakan hal itu dari siapapun. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa dirinya harus segera menikah dengan pak Rengga. Ia pun tak tahan untuk terus merahasiakan hal itu. Akhirnya ia menuntut pertanggungjawaban pak Rengga. Mungkin karena merasa masih terlalu muda, pak Rengga menolak menikahi Tari dan ia memaksa Tari untuk menggugurkan kandunganya, meskipun pak Rengga sendiri sebenarnya teramat mencintai Tari dan janin yang dikandungnya. Pikir pak Rengga, Tari akan menurut setelah janinnya digugurkan secara paksa, tapi dugaan pak Rengga salah, setelah digugurkan paksa, Tari mungkin malah marah dan mengancam akan melaporkan pak Rengga ke polisi. Terpaksa pak Rengga menghabisi nyawa Tari karena takut nama baik keluarganya akan tercemar nantinya," ujar Fajar dengan nada meyakinkan.


Kami berempat merasa getir dengan analisa Fajar itu.


Bersambung


Ditunggu like, komentar, dan vote-nya.


Judul novelku yang lain :



MARANTI (Makanan Orang Mati) end


Tak Sengaja Dinikahi Playboy Kaya


Cinta Kedua

__ADS_1


Aku Tak Mau Menjadi Pelakor



__ADS_2