KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 18 : SEBUAH PERSAMAAN


__ADS_3

Menyaksikan keterkejutan Fajar, tak ayal membuat kami bertiga penasaran dan bermaksud menengok catatan biodata yang membuat mereka terlejut. Dan benar saja, ketika kami semua melihat catatan itu, telunjuk Cindy menunjuk pada kata "Pendidikan Bapak", aku menjawab SMPN 01 Karang Jati, di buku diary Lidya tertulis "Aku melanjutkan di sekolah ini karena dulu bapak juga pernah sekolah di sini", sedangkan di kertas Gatot ada tulisan "Bapaknya Rossa dulu sekolah di sini". Kami bertiga saling berpandangan, pikiranku campur aduk. Antara senang menemukan sebuah titik terang tentang misteri hantu bayi itu, tetapi di sisi yang lain aku takut bapakku ada hubungannya dengan misteri itu. Tanganku tiba-tiba gemetar membayangkan hal buruk tersebut.


"Im, Kamu nggak apa-apa?" tanya Lidya.


"E-e-enggak, Lid. Aku nggak apa-apa," jawabku berbohong.


"Kamu jangan mikir macem-macem dulu, Im. Belum tentu apa yang Kamu pikirkan itu benar," cetus Fajar seperti bisa membaca pikiranku.


"Iya, Jar. Makasih," jawabku.


"Gimana, Im? Apakah kita akan melanjutkan penyelidikan kasus ini atau enggak?" tanya Cindy.


Aku terhenyak dengan pertanyaan dari Cindy itu, kemudian aku menjawabnya dengan perasaan getir.


"Iya, kita tetap lanjut," jawabku.


"Kamu yakin, Im?" tanya Gatot.


"Insyaallah aku yakin. Ini demi kebaikan kita semuanya. Jika misteri hantu bayi itu juga belum terungkap, ia akan terus mengganggu siswa, bahkan mungkin bisa membahayakan nyawa, seperti kemarin yang menimpa Mery." Aku menjawab dengan lebih tenang dari sebelumnya.


Semua anak mendengarkan jawabanku sambil memperhatikan gelagatku. Aku tahu mereka sedang menimbang-nimbang perasaanku.


"Baiklah, kalau begitu diskusi kali ini kita akhiri dulu, sepertinya teman-teman yang lain sudah mulai berdatangan. Oh ya, data-data ini aku pegang dulu ya. Nanti aku mau cari data lengkap mereka di ruangan Bu Nanik. Kebetulan aku dan Cindy sukses mengakrabi Bu Nanik. Kami akan meminta izin kepada Bu Nanik untuk bisa membuka data-data siswa lama dengan dalih membantu merapikan atau apa sajalah, doakan sukses ya?" ucap Fajar.


"Ya, Jar. Wah hebat Kalian bisa dekat dengan Bu Nanik," celetuk Gatot.


"Fajar gitu loh," jawabnya sambil berlagak pintar.


*


Hari itu kegiatan berakhir agak sore. Fajar dan Cindy tidak langsung pulang, tapi mampir ke ruangan Bu Nanik. Aku pamit pulang duluan kepada mereka karena Bapak sudah datang menjemput di gerbang sekolah. Sewaktu aku mau mendatangi Bapak, aku sempat melirik ke Lab. IPA, di sana ada Pak Rengga sedang mengobrol dengan Kakak kelas vokalis band sekolah itu. Aku menghentikan langkahku untuk memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Sialnya, mereka sadar sedang kuperhatikan, mereka tiba-tiba menatap tajam ke arahku. Akupun menunduk hormat kemudian kepada mereka dan segera berjalan lagi menuju Bapak.


Di sepanjang jalan aku tidak mengajak Bapak mengobrol seperti biasanya. Pikiranku melayang kemana-mana sepanjang jalan.


"Apa iya, Bapak yang selama ini dikenal baik oleh masyarakat, berperangai baik di dalam keluarga, penuh tanggung jawab, ternyata memiliki masa lalu yang kelam, yang tidak diketahui oleh orang lain? Rasanya tidak mungkin. Terus, apa hubungan Bapak, bapaknya Rossa, dan bapaknya Mery dengan kemunculan hantu bayi itu? Mereka bertiga memiliki tahun lahir yang sama, dan pernah di sekolah yang sama yaitu sekolahku sekarang, dan ketiga anak mereka sama-sama diganggu oleh hantu bayi itu, rasanya tidak mungkin tidak ada suatu hal buruk yang pernah mereka lakukan dulu? Apakah mereka bertiga pernah me ...? Ya Tuhan ... bahkan menyebut perbuatan itu saja aku tidak tega, bukan hanya tidak tega, tapi aku tidak percaya, bapakku tidak memiliki satu ciri sifat sedikitpun untuk menunjukkan bahwa ia pernah menjadi seseorang yang buruk di masa lalu. Bagaimana kalau Bapak sudah taubatan nasuha dari perbuatan bejatnya? Ah ... mana mungkin Ibu tidak tahu tabiat Bapak waktu itu, bukankah ibuku pernah menjadi adik kelasnya, dan mereka berdua juga berasal dari kampung yang sama? Bagaimana kalau ibuku memang mengetahui Bapak pernah bertabiat buruk, tetapi ia mau menerima lamaran Bapak karena Bapak sudah banyak berubah? Bukankah Ibu pernah bilang kalau Bapak pernah hampir tidak naik kelas gara-gara banyak ketinggalan pelajaran akibat terlalu sibuk mengikuti tournamen bola? Aaaaaaarghhh ... puyeng kepalaku"


"Sudah sampai, Im. Ayo buruan mandi, ntar keburu maghrib," kata Bapak tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ternyata kami sudah sampai di rumah.

__ADS_1


Aku mengangguk, tidak keluar sepatah katapun dari mulutku. Entah mengapa aku merasa agak malas berkomunikasi dengan Bapak. Bayang-bayang masa lalu Bapak sangat mengganggu pikiranku.


Setelah sholat maghrib aku mengajak Ibu mengobrol. Tidak ada Bapak di rumah, beliau sedang mengikuti pengajian keliling seminggu sekali dari rumah ke rumah.


"Bu, saya boleh bertanya tentang Bapak?" tanyaku.


"Boleh, emangnya ada apa?" Ibu berbalik tanya.


"Enggak, Bu. Nggak ada apa-apa. Pengen bertanya saja," jawabku.


"Oke, silakan!" ucap Ibu.


"Kenapa Ibu mau menerima lamaran Bapak?" tanyaku.


"Ha ha ha ... Pertanyaanmu lucu, Im. Kamu serius menanyakan itu?" ibuku terkekeh.


"I-iya Bu? jawab ya?" ulangku dengan nada serius.


"Aduh, Kamu ini Im bikin Ibu geli saja. Tapi oke Ibu jawab, karena Bapakmu itu baik, rajin ibadah, rajin bekerja, dan penyabar," jawab Ibu sambil mengusap air matanya yang keluar akibat tertawa tadi.


"Ya iya lah, Im. Bapakmu memang aslinya seperti itu, masak Kamu nggak tahu?" tanya ibuku.


"Iya, saya tahu kalau itu, Bu. Maksud saya, apa dulu waktu seusia saya, Bapak memang sudah baik seperti itu?" tanyaku lagi.


"Ha ha ha ha ha ... Kamu ini benar-benar lucu, Im. Pertanyaanmu itu tambah aneh menurut Ibu. Waktu seusiamu ya bapakmu seperti anak SMP pada umumnya lah, belum menunjukkan ciri-ciri calon suami yang baik, he he he ... Maksud Ibu waktu sudah cukup dewasa, bapakmu memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki pemuda lain, makanya Ibu menerima lamaran bapakmu itu," Ibu menegaskan jawabannya.


"Jadi waktu SMP bisa saja Bapak berbuat nakal ya, Bu?" tanyaku lebih mendalam.


"Nakal seperti apa? Kalau tidak mengerjakan tugas sekolah, Ibu kan pernah cerita ke Kamu perihal itu. Tapi kalau sampai bolos sekolah sich kayaknya nggak pernah," jawab Ibu.


"Kalau pacaran atau jadi playboy begitu?" tanyaku agak pelan.


"Ha ha ha ... pertanyanmu ini tambah lucu saja, Im. Jangan-jangan Kamu ini sudah punya pacar ya? Hayo ngaku ... awas loh ya, Ibu melarang keras Kamu untuk pacaran," jawab Ibu.


"Enggak, Bu. Imran nggak pacaran, kok" jawabku.


"Oke, bagus. Setahu Ibu, bapakmu tidak pernah pacaran, tapi pernah naksir sama sahabat ibu yang anggota ekskul band sekolah itu. Kalau yang naksir bapakmu sich kayaknya banyak, tapi bapakmu itu sulit suka sama seseorang kayaknya," jawab Ibu lagi.

__ADS_1


"Oke ... Ibu yakin Bapak nggak pernah pacaran sama sahabat Ibu itu?" tanyaku.


"Yakin ...," jawab Ibu.


"Ibu yakin, Bapak nggak pernah pacaran dengan siapapun?" tanyaku lagi.


"Yakin ...," jawab Ibu.


"Bapak punya sahabat, Bu?" tanyaku lagi.


"Ada," jawab Ibu.


"Siapa saja," tanyaku.


"Ibu nggak hapal nama-namanya. Yang Ibu ingat cuma Kak Irfan dan kak Galih, yang dua lainnya Ibu nggak hafal. Yang satu teman satu ekskul sepak bola sama bapakmu, yang satunya lagi kayaknya anak karate. Mereka sering terlihat berkumpul," jawab Ibu.


"Ibu tahu nggak apa yang mereka lakukan kalau pas bareng-bareng?" tanyaku.


"Ya enggak lah, masak Ibu mau ngurusi urusan anak laki-laki. Ibu juga punya aktifitas sendiri dengan teman-teman Ibu. Kamu ini ada-ada saja, Im kok tumben nyensus Bapak dan Ibu?" tanya Ibu.


"Ya enggak, Bu. Saya penasaran saja, seperti apa sich kehidupan anak SMP jaman Ibu dulu," jawabku.


"Ya sudah sana persiapkan barang-barang yang mau Kamu bawa besok ke sekolah! Katanya kakak kelasmu memberi tugas membawa barang-barang yang aneh, mumpung masih jam segini." Ibu menyuruhku.


"Baiklah, Bu" jawabku.


Akupun segera mengumpulkan barang-barang yang akan kubawa besok ke sekolah, namanya aneh-aneh, aku harus membaca dengan teliti dulu barang apa yang dimaksud, kepala puyeng pokoknya mengartikan kode-kode rahasia yang diberikan kakak kelas.


Malam harinya, menjelang tidur aku masih memikirkan tentang masa SMP Bapak.


"apakah yang telah diperbuat oleh Bapak bersama tiga temannya itu? Irfan ... Galih ... satu anak sepak bola ... satu anak karate ... Besok aku akan meminta Fajar dan Cindy melacak identitas mereka. Dan juga kami akan melacak siapa perempuan ibu bayi itu? Jangan-jangan ...,"


Bersambung


Jangan lupa ikuti cerita novelku yang satunya ya? Dengan judul MARANTI ... Serem loh ...


Oh ya, tinggalkan komentarnya ya, Kak. Semua aku baca, kadang komentar Kakak bikin ngakak juga dan bikin tambah semangat menulis.

__ADS_1


__ADS_2