
Setelah musnahnya jimat itu membuat pertemanan kami yang mulanya renggang sekarang sudah membaik lagi.Seperti biasanya malamnya kami pergi mengaji ke langgar setelah selesai mengaji kami melihat segerombolan para warga yang memegang obor dan membunyikan gentongan yang terbuat dari bambu itu,mereka berteriak kan nama seseorang yaituuuu......
"Jumaisaaa "teriak para segembolan warga itu. Aku mengerutkan dahi melihat mereka apakah ada anak yang hilang? tapi kenapa mereka berteriak memanggil jumaisa?, kenapa dengan Jumaisa ? dan masih banyak pertanyaan yang menggelut di pikirku sampai dimas menarikku dan kamipun mendekat.
"Paman ini ada apa?"tanya subhan dan aku menggangguk mengiyakan setuju dengan pertanyaannya.Meski ayahnya bejo di juluki pak songot tapi kami tidak berani harus berkata itu di depan orangnya takut di bilang kurang sopan.
"Ini anaknya yu darmi hilang"ucap pak songot memberitahu.
"Sebaiknya kalian pulang saja "sambung lagi pak songot yang ikut mencari Jumaisa,kami cuman diam tidak menjawab iya atau tidak tapi menyelusup diam-diam kedalam rombongan dan ikut mencari dan meneriakkan nama jumaisa.
"Ngeyel bener, anaknya sopo iki?"ucap pak songot bersungut kesal.
"Anaknya bapaklah "sambung bejo terkekeh dengan nada pelan tapi masih bisa di dengar oleh kami berempat yang juga ikut tertawa pelan .
Setelah berkeliling satu kampung tapi kami tidak menemukan keberadaan jumaisa,akhirnya kami kembali berkumpul ke rumah jumaisa, aku melihat emaknya jumaisa yu darmi menangis meraung raung memanggil anaknya ,para wanita menenangkan emaknya Jumaisa itu, sungguh aku tidak tega melihatnya apalagi jika itu seorang ibu yang menangis,hatiku terasa teriris membayangkan jika itu emak .
"Gimana pak RT apakah jumaisa sudah di temukan ?"tanya bapaknya jumaisa dengan raut muka sedih.
"Maaf kami tidak bisa menemukan jumaisa anak bapak ? kami sudah menyelusuri setiap tempat di kampung ini "ujar pak RT.
"Cuman satu tempat yang belum kita datangi pak RT"sahut warga lain.
"Di mana itu wo?"tanya pak RT ke salah satu warga yang di sebut jarwo.
"Hutan larangan "ucap jarwo membuat wajah orang-orang menjadi tegang seketika. Sebegitu seremkah hutan itu?pikirku.
__ADS_1
"Bagaimana para warga apakah setuju?"ucap pak RT.
"Saya mohon temukan jumaisa "ucapkan bapaknya jumaisa mengiba. Para warga menganggukkan kepala ragu sambil menoleh ke warga yang lain dengan raut muka cemas bercampur takut.
"Baiklah jika semua setuju sebaiknya kita berangkat sekarang, jangan ada yang berpencar"ucap pak RT berkomando.
Semua warga berjalan pergi meninggalkan rumah yu darmi begitupun kami.
*****
Seeerrrrrr
Angin berhembus kencang seperti hutan ini menyambut kami membuat bulu kuduk merinding.
Tiada suara dari hewan cuman hembusan angin yang membuat bulu kuduk meremang. Kami menatap nanar hutan yang berada di depan kami sungguh pemandangan malam lebih mengerikan.
"Sebelum masuk hutan sebaiknya kita berdoa dulu"ucap pak RT sebagai pemimpin.
Kamipun menunduk dan membaca doa.
"Amiinnn"ujar para warga .
Saat akan menginjak tanah hutan"bismillahirrohmanihrohiim ya Allah semoga jumaisa di temukan dan kami bisa pulang dengan selamat "doaku dalam hati.
"Jumaisaaa jumaisaaa jumaisa........ "kamipun mulai meneriaki nama teman kami itu.
__ADS_1
"Eh tunggu "cegat bejo memegang pundakku membuat kami berhenti.
"Kenapa?"tanyaku.
"Han tolong senterin sandalku, talinya lepas"perintah bejo ke subhan membuatku geram mendengarnya yang hanya bisa mengehembuskan nafas kasar mengerti apa maksud ucapan bejo yang di mana lubang tali sandalnya longgar sehingga membuat orang memakainya terkadang kesandung karena lepas tiba-tiba atau bisa parahnya orang itu bisa terkilir apalagi jika sandalnya dalam keadaan basah membuat tali sandalnya mudah lepas jika tidak menggunakan nya dengan hati-hati.
"Huh kamu jo di bilangin suruh beli yang baru"gerutu dimas.
"Kayak gak tahu emak-emak aja kamu mas!"ucap bejo. Memang di sini jika baju yang robek akan di jahit atau di tambal lagi, sandal di pakai pun meski putus tetap aja di pakai dengan cara mengambil sandal lain yang gak di pakai yang biasanya di juluki"sandal selingkuh"karena warna sandal yang berbeda kadang juga mengubah talinya doang sehingga cuman talinya yang sama sedangkan sandal nya berwarna berbeda barulah jika tipis sampai bolong baru di buang.
"Iya ,Bejo anak bangsat kesayangan emak"ucap subhan, sumbri dan dimas serempak lalu tertawa melihat wajah bejo yang cemberut, sebenarnya bejo anak pak songot kesayangan emak itu seperti parsword agar bejo mau menuruti ucapan emaknya, karena bejo anaknya suka ngeyel dan susah di suruh-suruh pergi ke warung untuk belanja atau apapun itu ucap mak bejo kala itu saat dimas menyakannya, waktu itu kami bermain ke rumah bejo.
"Ayo !"ajak bejo setelah memakai sandalnya kembali.
Kamipun agak berlari agar menyamai ketinggalan kami tadi.Setelah sampai dan bergabung bersama warga tiba-tiba bulu kuduku berdiri, aku memegang tengkukku yang terasa dingin.
Selama perjalanan cuman kami yang meneriaki nama Jumaisa. Aneh. pikirku warga tidak ada yang berbicara sepatah katapun sampai aku kakiku tersandung batu dan memegang tangan salah satu warga sebagai tumpuan agar aku tidak terjatuh ke tanah. Bapak itu cuman diem tak bergerak sampai sinar senter yang di pegang salah satu temanku tidak sengaja menganai wajah bapak itu. Tenggorokan ku terasa tercekat jantung berdetak dua kali lipat membuat nafasku memburu. Mereka tidak punya wajah, hidung mata dan bibir mereka menghilang, wajah mereka datar.
"M-mas"ucapku terbata-bata menyenggol tangan dimas yang berada paling dekat denganku.
"Apaansih di?"tanya dimas yang belum menyadari keanehan ini, aku cuman bisa melihat warga wajah datar ini dengan ekspresi bingung, bingung mau menjelaskan suara di tenggorokan ku terasa tidak bisa keluar, membuat seperti orang bisu.Teman-temanku tetap meneriaki nama jumaisa dan tidak menyadari keanehan ini. Aku ingin berlari dan menarik mereka menjauh dari sini tapi tidak bisa ku lakukan atau menjelaskan kondisi saat ini tapi semuanya terasa sulit ku lakukan, aku menarik nafas pelan berulang kali sambil membaca doa-doaku yang ku hafalkan sampai para warga itu menoleh kearah kami mungkin mereka terganggu dengan doa yang ku panjatkan,salah satu yang mempunyai senter, menyenter mereka dan tepat wajah mereka membuat nafas kami memburu dan mata kami melirik satu sama lain.
Jangan lupa like, vote dan jangan lupa komennya.
Maaf author jarang banget update di karenakan harus sadar bahwa ada di dunia lain yang juga harus di selesaikan yaitu dunia nyata dan juga author sering sakit akhir-akhir ini ,doakan ya semoga author dan keluarga sehat wel alfiyat ๐agar author bisa nulis lagi ๐.
__ADS_1