KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 54 : NASIB BURUK


__ADS_3

Hai Kak, maaf beberapa hari tidak bisa up.


Sebelum membaca, klik tombol like dulu ya, biar aku semangat menulis lanjutan ceritanya.


Cekidoooot ...


Kami berlimapun melangkah mendekati rumah sederhana itu. Sepi sekali rumah itu, seperti lama tidak ditempati.


"Assalamualaikum ...," Fajar mengetok pintu sambil mengucap salam.


Tidak ada suara sahutan.


"Assalamualaikum ...," Lidya ikut berteriak mengucapkan salam.


Lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam. Aku mengedarkan pandangan sekeliling untuk memeriksa sekitar, dan aku menemukan sesuatu.


"Jar, sepertinya rumah ini sudah agak lama tidak ditempati. Coba lihat kaca jendelanya sudah dilapisi debu tebal. Dan di jendela itu ada tulisan "DIKONTRAKKAN" yang juga sudah tertutup debu. Tidak mungkin tulisan itu ada di sana kalau di dalamnya sedang dihuni keluarga Mbah Iyem," ucapku.


"Benar juga analisamu Im. Terus bagaimana dengan rencana kita? Mau diteruskan atau distop saja? Kalau emang mau diteruskan, kemana kita akan bertanya perihal tempat tinggal terbaru keluarga Mbah Iyem?" tanya Fajar.


"Bagaimana kalau kita bertanya kepada Pak RW sebagai pemilik rumah yang semula ditempati oleh keluarga Mbah Iyem ini?" ucap Lidya.


"Ide bagus, berarti kita harus ke depan ya, soalnya Pak RW tinggalnya di depan sana?" ucap Gatot.


"Hem ... Gimana kalau kita bertanya pada orang yang tinggal di rumah tua tadi?" celetukku.


"Maksudmu rumah kosong di pertigaan itu? Emang ada orang yang tinggal di situ? Bukankah kita tadi sudah memeriksa daerah situ, tidak ada siapa-siapa yang kita lihat di sana, kan?" ucap Cindy.


"Aku tadi sempat melihat sepintas ada seorang perempuan paruh baya masuk ke rumah itu dengan menggendong seorang anak kecil," ucapku mengagetkan mereka.


"Kamu yakin yang Kamu lihat tadi itu manusia, bukan dedemit?" tanya Lidya.


"Entahlah, tapi aku yakin melihatnya sekilas," jawabku sambil mengernyitkan dahiku.

__ADS_1


"Ya sudah, kita periksa saja rumah itu sekali lagi. Kalau tidak ada orang seperti yang dilihat Imran, kita kembali ke depan saja bertanya pada Pak RW," ucap Fajar.


Kamipun meninggalkan rumah di pinggir sungai itu menuju pertigaan tempat rumah tua tadi berada. Entah hanya perasanku saja, saat kami akan meninggalkan rumah itu, aku seperti merasa ada orang sedang bersender di jendela, tapi saat kutoleh tidak ada siapa-siapa di sana.


Kamipun sampai di rumah tua itu. Teman-teman sepertinya mulai meragukan ucapanku barusan.


"Apa sebaiknya kita langsung ke rumah Pak RW saja?"ucap Lidya.


"Tunggu dulu Lid. Kita cari dulu orang yang kata Imran tadi masuk ke sini," jawab Fajar.


"Assalamualaikum ...," teriak Fajar dengan agak keras.


Tidak ada sahutan sama sekali.


"Sudahlah Jar. Kita langsung ke depan saja. Nggak ada siapa-siapa di rumah tua ini," ujar Cindy.


"Assalamualaikum ...," teriak Fajar lagi.


"Im, benar kata Lidya. Tadi itu hanya ilusimu saja. Buktinya tidak ada siapa-siapa, kan? Ayo dah kita langsung ke rumah Pak RW saja!" ucap Fajar.


"Tunggu Jar! biarkan aku masuk sebentar memeriksa bagian dalam rumah ini," ucapku.


"Jangan nekad Kamu Im. Kalau rumah tua ini tiba-tiba ambruk bagaimana? Atau di dalam sana ada ular bagaimana? Ayolah, lebih baik kita langsung ke rumah Pak RW saja!" jawab Fajar.


"Tunggu di sini dulu sebentar! Aku mau masuk," ucapku sembari melangkah memasuki rumah tua tersebut. Tidak ada daun pintu yang harus aku buka karena daun pintunya memang sudah lama rusak menyisakan bangkai yang dibiarkan melapuk.


"Hati-hati Im!" teriak Fajar sedikit kesal.


Akupun masuk ke rumah tua itu dan memeriksa sekilas bagian dalamnya. Bagian dalamnya banyak genangan air, mungkin karena atapnya banyak yang rusak sehingga ketika hujan turun, airnya menggenangi bagian dalam rumah tua tersebut. Aku tahu teman-teman di luar sana pasti kesal dengan ulah nekadku ini, tapi aku tidak mau mati penasaran kalau sampai tidak memeriksa ke dalam.


Kurang lebih lima menit aku memeriksa bagian dalam rumah itu yang menurutku agak luas. Aku tidak melihat ada seorangpun berada di sana selain hanya kecoak yang sesekali muncul di tembok yang sudah berlumut. Karena sudah yakin tidak ada siapa-siapa di dalam, akupun melangkah keluar menuju teman-teman yang sedang menunggu di depan rumah tua ini. Tiba-Tiba aku dikejutkan kemunculan ular di depanku.


"Astagfirullah!!" pekikku.

__ADS_1


Hampir saja aku menginjak ular itu kalau saja aku tidak menoleh ke bawah terlebih dahulu. Ular berwarna abu-abu itu memasang kuda-kuda bersiaga untuk menyerangku, aku berlari ke arah pinggir menghindari kejaran ular kobra yang ukurannya agak kecil itu. Meskipun kecil seperti itu, yang namanya ular kobra tetaplah berbahaya. Ular kobra itu terus mengejarku ke pinggir seakan tidak mau menyerah. Aku tidak kalah gesit, aku berlari menghindari kejaran ular tersebut, aku berlari menuju ruang tamu. Si ular kobra masih terus mengejar tanpa ampun, teman-teman yang di luar berteriak ketika melihatku dikejar ular kobra. Terutama Lidya dan Cindy yang memang phobia dengan semua hewan reptil.


Di ruang tamu aku melihat ada bambu yang agak panjang. Kuambil bambu itu dan akupun bersiaga untuk melawan si ular beracun itu. Si ular berdiri dengan gagahnya saat aku mulai menyabetkan bambu itu ke arahnya. Aku pukulkan dengan keras ujung bambu itu pada badan si ular, badan si ular terlempar ke samping. Aku bersegera memukulkan kembali bambu itu ke arah kepala ular. Setelah dihantam bertubi-tubi pada bagian kepalanya akhirnya si ular kobra itupun mati di tanganku. Cindy dan Lidya yang melihat aksiku masih terus meringis meskipun tahu bahwa ular itu sudah mati. Sedangkan kedua teman lelakiku pada melongo di luar, mungkin mereka sudah bersiaga untuk membantuku menghadapi si ular, akan tetapi sebelum mereka sempat bertindak, aku sudah berhasil membunuh ular tersebut. Ular yang sudah mati itupun aku angkat dengan ujung bambu dan kulempar keluar melewati kusen jendela yang sudah tidak ada daun jendelanya.


"Makanya, sudah kubilang ngapain pake masuk ke dalam?" teriak Lidya.


"Iya dech Lid, Kamu benar kali ini. Di dalam tidak ada siapa-siapa," jawabku perlahan.


"Ya sudah ayo kita segera ke rumah Pak RW sebelum adzan ashar," teriak Fajar.


"Oke," jawabku dengan memasang senyum selebar-lebarnya demi mendapatkan kata maaf dari keempat temanku itu. Sayangnya mereka tidak membalas senyumanku, mereka justeru melotot ke arahku. Mungkin aku sudah keterlaluan membuat mereka cemas sehingga mereka tidak bisa langsung memaafkan ulah nekadku.


"Im ... Im ...," ucap Fajar terbata-bata.


"Kenapa kamu Jar? Melotot-melotot ke padaku sambil berkata terbata-bata begitu?" tanyaku merasa aneh dengan ulah Fajar. Sayangnya ketiga temanku yang lain juga melotot seperti Fajar.


"Im ... di belakangmu," celetuk Gatot.


Aku terkejut mendengar ucapan Gatot tersebut. Aku baru sadar mereka tidak sedang melotot ke arahku, tapi kepada sesuatu di belakangku. Bulu kudukku merinding seketika. Aku memberanikan diri menoleh ke belakang.


"Ya Tuhan ...," pekikku karena terkejut.


Bersambung


Ayo Kak berikan 'vote' kepada novel ini.


Untuk yang suka novel horor MARANTI season kedua, silakan kunjungi event "Festival Cerita Hantu" ada prolog season kedua di sana dalam bentuk audio novel. Cari nama 'Junan' dan klik tombol like.


Terima kasih


See u next episode


Salam seram bahagia

__ADS_1


__ADS_2