
Karena banyak permintaan extra part tentang Parto, baiklah extra part akan difokuskan ke Parto. Mohon kepada pembaca untuk tidak kecewa apapun isi cerita tentang Parto. Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah SWT adalah yang terbaik. Kebaikan itu tidak hanya berada pada satu bidang, tetapi banyak bidang.
Disclaimer : Nama Parto di sini bukan berarti dalam kehidupan nyata nama aslinya Parto. Nama Parto hanya samaran saja.
Check it out ...
Setelah beberapa minggu dari kejadian terungkapnya kasus pembunuhan Tari, aku menceritakan secara runtut peristiwa itu keoada sahabatku, Parto. Anak laki-laki yang usianya satu tahun di atasku itu mendengarkan ceritaku dengan penuh antusias. Ia manggut-manggut dan fokus sekali menyimak cerita yang aku sampaikan.
"Di rumahmu kok rame suara anak kecil, To?" tanyaku pada teman senasib seperjuanganku itu.
"Wah, suaranya sampai ke rumahmu, ya Im?" Parto balik bertanya.
"Iya, To. Jelas sekali," jawabku sambil memandang kedua mata sahabatku itu.
"Duh, maafin keponakan-keponakanku, ya? Mereka emang senang bergurau. Saya minta maaf, ya Im, kalau suara kegaduhan di rumahku sampai mengganggu istirahat anggota keluargamu," ucap Parto.
"Enggak kok, To. Kami tidak terganggu sama sekali. Cuka saya penasaran, kok ada suara anak kecil di rumahmu," jawabku.
"Aku benar-benar minta maaf," ucapnya lagi.
"Santai, To. Keluargaku tidak terganggu kok. Justeru dengan adanya suara-suara ank kecil itu, suasana di sekitar rumah menjadi lebih semarak. Apalagi ibuku, kalau seandainya beliau tidak sesibuk sekarang, pasti beliau gemes pingin gendong keponakan-keponakanmu. Secara ibuku itu dari dulu pingin punya anak lagi, tapi nggak kesampaian, " jawabku kembali meyakinkan Parto bahwa keluargaku baik-baik saja.
"Di rumahku emang kedatangan dua balita cucu keponakan bapakku, Im," ucap Parto.
__ADS_1
"Cucu keponakan?" tanyaku bingung.
"Iya. Bapakku punya kakak yang sudah meninggal dunia. Terus, kedua anak itu adalah cucu dari almarhum kakaknya bapak," jawab Parto menjawab kebingunganku.
"Ooo .. jadi kedua Balita itu nginep selama beberapa di rumahmu untuk liburan? Begitu?" tanyaku bermaksud memperjelas.
"Mereka tidak nginep, Im. Mereka akan tinggal di rumah untuk selamanya," jawab Parto lemah.
"Apa??? Kenapa begitu, To? Apa mereka sengaja dititipkan di rumahmu karena ayah dan ibu Balita itu sedang mengais rejeki?" tanyaku lagi.
"Tidak begitu, Im. Ayah dari kedua anak itu pergi karena kepincut perempuan lain, Im. Ibu dari kedua anak itu yang merupakan keponakan bapakku tidak mampu lagi mengurus mereka berdua karena ia harus bekerja membanting tulang demi menghidupi kedua anaknya. Keponakan bapakku itu awalnya kekeuh untuk merawat kedua Balita itu sendiri. Ia yang selama menjadi ibu rumah tangga tidak pernah bekerja di luar menjadi kelimpungan ketika tiba-tiba suaminya kepincut perempuan lain. Terlebih, tak ada satu pun aset yang diatasnamakan ibu dua anak itu. Akhirnya, aset-aset itu diambil semua oleh suaminya. Bahkan rumah yang mereka tempati juga dijual dan uangnya dibuat membeli rumah baru atas nama istri barunya," tutur Parto.
"Ya Allah SWT. Jahat sekali ayah kedua anak itu. Apa ia tega meninggalkan kedua anaknya yang masih Balita tanpa uang sepeser pun?" cetusku tidak percaya.
"Begitulah, Im. Nafsu sudah membutakan suami sepupuku itu. Padahal sepupuku itu anak satu-satunya pakdeku. Dia anak yang pintar. Di sekolah, ia adalah bintang kelas. Pakdeku berniat menyekolahkan sepupuku itu sampai universitas. Maklum, pakdeku kan waktu itu cukup sukses jadi pedagang di kota. Tapi, harapan pakde hanyalah tinggal harapan. Saat sepupuku itu kelas tiga SMP. Pakdeku membayar salah satu pemuda tetangganya yang pengangguran untuk mengantar jemput sepupuku itu ke sekolah dan ke tempat les. Entah gimana ceritanya, sepupuku itu sampai hamil oleh ulah pemuda itu. Akhirnya, sepupuku itu tidak melanjutkan sekolah dan dinikahkan dengan pemuda itu. Setelah menjadi menantu pakdeku, pakde memberikan modal kepada suami sepupuku itu untuk membuka usaha. Tidak hanya sekali, Im. Beberapa kali pakde memodalinya karena pemuda itu memang tidak memiliki banyak pengalaman bekerja atau membuka usaha. Yah, sampai aset pakde banyak yang terjual. Setelah lahir anak kedua, akhirnya usaha suami sepupuku itu mulai berkembang dan bisa dibilang sukses. Tapi, pakdeku keburu meninggal sebelum melihat anak dan menantunya sukses," lanjut cerita Parto.
"Iya, Im. Aku kasihan sama sepupuku itu. Terlebih ia bercerita kalau sekarang ia menjadi pedagang sayur pakai sepeda ontel keliling kota. Kedua balita itu dibawa di atas sepeda ontel dengan menggunakan bajong. Si sulung dimasukkan di keranjang sebelah kiri. Si bungsu dimasukkan ke keranjang sebelah kanan. Tanpa sengaja, ketika bapakku ke kota kaget memergoki keponakannya yang awalnya hidup berkecukupan, tiba-tiba harus bekerja dengan kondisi seperti itu. Bapakku tak tega melihat keponakannya itu, apalagi melihat kedua Balita itu di dalam keranjang, bapakku histeris, Im." Parto bercerita panjang lebar.
"Siapa yang tidak cemas melihat cucu keponakan di atas keranjang seperti itu, To?" sergahku.
"Nah, itulah kenapa akhirnya kedua Balita itu dibawa ke sini untuk dirawat oleh keluargaku," jawab Parto.
"Jadi, nanti kedua Balita itu akan hidup berpisah dengan ibunya, To?" tanyaku tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, Im. Terpaksa ...," jawab Parto.
"Kenapa terpaksa, To? Bukankah sepupumu bisa tinggal di sini juga sambil bekerja di sekitar sini saja?" protesku.
"Tidak mungkin, Im. Kalau kebutuhannya hanya untuk makan, mungkin sepupuku bisa tinggal di sini. Tapi, ia harus banyak mengumpulkan uang untuk membayar hutang," jawab Parto.
"Hutang apa, To?" tanyaku.
"Ketika pakde di rumah sakit, sepupuku banyak meminjam uang kepada teman-temannya," jawab Parto.
"Loh, bukankah waktu pakdemu sakit, ia masih punya banyak uang?" protesku.
"Iya, memang Im. Tapi, hasil menjual aset pakdeku itu kebanyakan diambil oleh suami sepupuku untuk memodali usahanya. Hanya sedikit yang digunakan untuk perawatan pakdeku. Malah, sepupuku disuruh pinjam kepada teman-temannya dulu dengan alasan nanti akan dilunasi hutangnya oleh suami sepupuku itu. Tapi, sampai pakde meninggal, hutang-hutang itu hanya sedikit yang dibayar dari hasil usaha laki-laki keparat itu," ucap Parto geram.
"Bener-Bener suami sepupumu itu edannya, To!" ucapku ikutan geram.
"Iya, Im. Aku juga kadang kesel sama sepupuku itu karena mau-maunya dibodohi oleh pria kayak gitu. Tidak hanya cita-citanya yang tidak bisa diraih. Bahkan kali ini, anak-anaknya jadi korban juga, Im" ucap Parto.
"Mungkin sepupumu tidak menyangka akan dikelabui oleh suaminya, To?" ucapku.
"Mungkin begitu, Im. Cinta sudah membutakan logika dan akal sehatnya, Im" jawab Parto.
"Semoga ke depannya akan lebih baik lagi, To" ucapku.
__ADS_1
"Aamiiin ...,"
***