
Ternyata orang yang membuatku harus bersembunyi di balik rimbunnya pohon itu adalah pak Mat, pesuruh sekolahku.
"Apa yang akan dilakukan pak Mat siang-siang di tempat ini?" Aku bertanya di dalam pikiran.
Pak Mat membawa sebuah kantong plastik berukuran besar dan berwarna hitam di tangan kirinya dan sebatang sapu lidi di tangan kanannya. Mata pak Mat sejenak tertuju pada tanah yang baru saja kugali dan kututupi. Dari raut wajahnya, ia seperti merasa penasaran dengan hal itu. Namun, entah mengapa kemudian matanya beralih pada tumpukan sampah yang berada di sisi yang lain.
[Srat sret srat sret]
Pak Mat menyapu seluruh sampah yang berserakan di sekitar tempat itu. Mengumpulkannya ke satu tempat, sehingga sampah itu menjadi menggunung dan area sekitarnya menjadi lebih bersih. Pak Mat juga meletakkan kantong kresek besar yang ia bawa pada tumpukan sampah itu.
"O, rupanya kantong kresek hitam besar itu berisi sampah yang beliau kumpulkan dari seluruh tempat sampah di sekolah ini," pikirku di dalam hati.
Aku masih terus bersembunyi di balik rerimbunan pohon itu sambil mengamati gerak-gerik pak Mat. Jantungku berdegup dengan kencang ketika pak Mat tiba-tiba menyapu area di sekitar pohon ini.
"Ya Tuhan, bagaimana kalau aku sampai ketahuan oleh pak Mat? Aku bisa dihukum. Oh tidak, kalau seandainya pak Mat pelaku kejahatan itu bagaimana? Ia bisa saja membunuhku dan menguburkan mayatku di tempat ini?" pikirku di dalam hati dengan bibir bergetar.
Mataku nanar menatap pak Mat yang menyapu di sekitar pohon itu dengan menggunakan sapu lidi. Berada di balik rimbunan daun pepohonan seperti ini membuat badanku merasa kepanasan sekaligus sulit bernapas. Tetapi aku harus mengatur tarikan napasku supaya tidak terdengar oleh pak Mat. Namun, lama-lama aku tidak tahan juga kalau harus seperti ini terus.
"Pak Mat. Buruan pergi, dong?" ucapku di dalam hati.
Bukannya malah pergi, kini pak Mat malah semakin dekat dengan tempatku bersembunyi. Dengan menggunakan sapu lidinya, ia mengkibas-kibas bagian daun sebelah luar pohon ini karena banyak plastik dan botol yang kecantol pada daun-daun dan semak tersebut. Untunglah aku tadi memanjat agak ke atas sehingga tidak ketahuan karena pak Mat hanya mengkibas-kibas daun di bagian bawah.
"Akhirnya pak Mat menjauh dari pohon tersebut. Pak Mat kembali merapikan hasil pekerjaannya. Setelah semua terlihat beres, kupikir pak Mat akan segera meninggalkan tempat ini, ternyata tidak! Ia justru melihat ke arah pohon dan bermonolog.
__ADS_1
"Sepertinya pohon ini sudah saatnya untuk dibersihkan. Benalu dan daunnya sudah terlalu lebat. Kalau dibiarkan begini, bisa-bisa ditempati ular."
[Deg]
Aku yang mendengar apa yang beliau ucapkan tentu menjadi sangat bingung dan ketakutan. Mungkin tadi aku beruntung saja keberadaanku tidak diketahui oleh beliau. Tapi, kali ini kalau pak Mat memang betul-betul ingin memangkas sebagian daun dan benalu di pohon ini, sangat mustahil bagiku untuk bersembunyi darinya.
Pak Mat mengarahkan tangan kanannya ke belakang, sepertinya ia akan mengambil sabit dari pinggang belakangnya. Aku memelototi apa yang dilakukan pak Mat dengan napas yang semakin memburu tetapi kutahan.
"Aku pasti ketahuan sebentar lagi oleh pak Mat," pikirku di dalam hati.
"Aduh, mana ya sabit yang biasa kubawa? Apa tertinggal di halaman depan, ya?" suara monolog pak Mat sambil terus meraba-raba bagian pinggang belakangnya mencari keberadaan sabit andalannya itu. Dari gestur yang aku lihat, sepertinya sabit pak Mat memang tertinggal di tempat lain. Aku pun bernapas lega.
"Syukurlah, pak Mat tidak membawa sabit," pujiku di dalam hati.
Baru beberapa detik aku bernapas lega, tiba-tiba aku mendengar suara desisan dari atasku.
Secara otomatis aku menoleh ke atas dan aku melihat seekor ular berukuran cukup besar berwarna hijau sedang merayap dari salah satu pucuk pohon menuju ke arahku.
"Ya Tuhan, ada ular hijau. Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku diam saja di sini, ular itu pasti akan menyerangku. Tetapi kalau aku turun, pak Mat pasti akan mengetahui keberadaanku," ucapku di dalam hati.
Aku bingung dan takut sekali melihat ular beracun itu secara perlahan merayap ke bawah mendekatiku. Aku belum bisa berpindah dari posisiku. Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Sementara di bawah sana, Pak Mat masih saja belum beranjak dari tempat ini.
"Ular itu semakin dekat. Aku harus segera turun ke bawah untuk menghindar. Aku tidak peduli lagi pak Mat akan mengetahui keberadaanku. Yang penting aku selamat dulu dari bisa ular beracun ini," pikirku.
__ADS_1
Aku sudah sangat bingung dengan keadaanku saat itu. Aku merasa tidak punya pilihan lagi karena ular berbisa itu terus merayap hingga sangat dekat posisinya denganku.
Beberapa detik lagi, ular berbisa itu akan berada pada jarak satu meter denganku. Aku sudah bersiap untuk turun ke bawah dan pohon ini akan berguncang dan akan dilihat oleh pak Mat. Namun, nasib baik masih berpihak kepadaku. Aku mendengar pak Mat bermonolog lagi.
"Aku akan mengambil sabitku dulu," ujarnya sambil berlalu pergi. Sementara sapu lidi yang ia bawa tadi ditinggal begitu saja di tempat tersebut. Dibiarkan bersender di daun-daun pohon itu.
"Terima kasih Tuhan atas pertolonganmu," pekikku di dalam hati.
Saking senangnya, aku lupa satu hal. Ular itu sudah sangat dekat dengan posisiku. Untunglah aku segera turun ke dahan di bawahnya, kalau tidak, ular itu pasti sudah mematuk tanganku. Satu persatu aku menuruni pohon tersebut dari satu dahan ke dahan lainnya, berkejar-kejaran dengan ular tersebut.
[Brak]
Akhirnya aku bisa keluar dari rimbunan pohon itu meskipun harus menghantam sapu lidi milik pak Mat. Ketika terinjak olehku, otomatis posisi sapu lidi itu sudah tidak lagi bertengger seperti tadi, melainkan terlempar beberapa sentimeter menjauhi pohon. Aku bermaksud mengembalikan sapu lidi tadi ke tempat semula untuk menghindari kecurigaan pak Mat. Namun, aku urung melakukannya karena melihat ular hijau tadi tiba-tiba muncul dari balik rerimbunan pohon.
"Astagfirullah!!!" pekikku.
Untunglah pak Mat sudah tidak ada di sekitar tempat itu lagi, sehingga tidak dapat mendengar suaraku barusan. Aku pun segera meninggalkan tempat tersebut menuju belakang kelas. Tetapi baru saja aku melangkah, aku mendengar suara rintihan anak perempuan di belakangku. Secara refleks aku pun menoleh. Di belakang sana, tepat di belakang kamar mandi. Aku melihat Tari dengan rambutnya yang acak-acakan sedang ngesot di atas tanah dan memandang tajam ke arahku. Sontak saja aku kaget melihatnya, aku pun berlari meninggalkan tempat tersebut. Teman-Teman pasti sedang menunggu informasi dariku.
Bersambung
Saatnya memencet tombol like.
Tolong dong berikan komentar, aku senang loh membaca tebakan alur dari pembaca.
__ADS_1
Yang sudah ngasih vote, bisa menulia juga di kolom komentar.
Dalam seram, kita bisa saling menguatkan