KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 91 : NEKAT


__ADS_3

Fajar berapi-api menjelaskan analisanya. Nampaknya ia sangat yakin bahwa pak Rengga adalah dalang di balik pembunuhan Tari.


"Masa sih orang sebaik pak Rengga tega membunuh perempuan yang ia sayangi. Terlebih saat itu beliau masih SMP kelas tiga, apa ya mungkin ia bisa melakukan kejahatan itu?" protes Lidya.


"Jangan salah, Lid. Anak seusia kita ini, kata orang nakal-nakalnya dan nekat-nekatnya. Lebih-Lebih bagi pak Rengga. Nama baik keluarganya tentunya berada di atas segala-segalanya, termasuk rasa sayangnya kepada Tari," jawab Fajar dengan penuh keyakinan.


Lidya manggut-manggut mendengar penjelasan Fajar, tapi aku dapat melihat rona tidak percaya di matanya.


"Im, kamu kan pernah ditampakkan view pembunuh itu, bagaimana ukuran tubuh pelakunya? Berukuran dewasa, remaja sedang, apa remaja tanggung seperti kita-kita ini?" cetus Gatot.


"Sulit dibedakan, Tot!" jawabku.


"Kenapa bisa begitu, Im?" tanya Gatot.


"Orangnya menggunakan jas tebal dan juga kacamata berwarna hitam. Pencahayaannya juga minim. Aku tidak dapat memastikan usia atau ukuran tubuh asli dari pelakunya," jawabku sambil berusaha mengingat-ingat view-nya.


"Wah, berarti analisa Fajar bisa benar, tapi bisa juga salah?" tanya Cindy.


"Iya sih, tapi di antara semua kejadian dan barang bukti yang kita temukan, hanyalah pak Rengga yang paling berpotensi melakukan kejahatan itu," jawab Lidya.


"Bagaimana kalau pelaku penabrakan itu bukan pak Rengga?" ujar Fajar.


"Maksud kamu, gimana, Jar?" tanyaku.


"Bisa jadi pak Rengga menyuruh orang lain untuk menghabisi Tari, karena ia tidak tega melakukannya sendiri," jawab Fajar.


"Siapa kira-kira orang tersebut?" tanyaku.


"Pak Mat!" jawab Fajar.


"Apa???" jawab kami berempat sambil melongo.


"Tidak mungkin laki-laki sebaik pak Mat tega melalukan hal itu?" pekikku.


"Bagaimana kalau pak Rengga mengancam akan memecat pak Mat, kalau ia tidak mau melakukan perintah pak Rengga? Ingat?! Pada masa itu, pak Rengga adalah anak dari kepala sekolah ini. Dan kamu ingat, kan? Jaket pembunuh itu sekarang dipegang oleh pak Mat?" jawab Fajar dengan meyakinkan.


"Ya Tuhan!!! Benarkah itu?" pekikku tidak percaya.


"Kamu jangan terlalu naif, Im. Mungkin pak Rengga sekarang terlihat baik karena ia ingin menebus dosa besarnya di masa lalu?" tambah Fajar.


"Analisa Fajar sangat masuk akal, Im" ucap Lidya.


"Terus, apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan menangkap mereka berdua?" tanya Cindy.


"Jangan! Bisa-Bisa kita mati konyol menghadapi mereka. Justeru saat ini kita harus lebih berhati-hati, jangan sampai mereka menyadari bahwa kita sudah tahu kejahatan yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka bisa lebih nekat lagi. Nyawa kita bisa dalam bahaya. Jika Tari yang sangat ia cintai saja, bisa ia bunuh. Tentunya untuk membunuh kita berlima bukanlah masalah besar bagi pak Rengga. Dan pak Mat pasti siap kapan saja menjadi algojonya," ujarku.

__ADS_1


"Lantas, apakah kita akan diam saja? Percuma dong kita sudah melakukan investigasi mulai kemarin-kemarin, kalau akhirnya kita hanya diam saja, membiarkan mereka berdua menghirup kebebasan setelah menghabisi nyawa seorang wanita. Jujur, sebagai wanita juga, saya tidak bisa menerima hal itu," pekik Lidya.


"Tenang, bapak dan ibuku hari ini juga sedang menyelidiki rumah pengintip itu. Dari informasi bapak dan ibuku nanti, kita akan mengetahui apakah pembunuh Tari adalah pengintip itu, atau pak Rengga," jawabku.


"Atau, ada hubungan tertentu antara pengintip itu dan pak Rengga?" potong Lidya.


"Nah, bisa jadi seperti itu. Kita kan sudah pernah berunding di rumah bu Mega, menurutku dengan tambahan informasi ini dan itu, strategi kita untuk menangkap pembunuh itu tidak perlu dirubah lagi?" ucapku.


"Iya, benar, Im. Langkah itu masih sangat sesuai untuk kita lakukan," jawab Fajar.


"Nah, sekarang ini tugas kita adalah tampil biasa saja, terutama di depan pak Rengga dan pak Mat. Lagi-Lagi, supaya mereka tidak menaruh curiga kepada kita," ujarku.


"Oke.... Sssstttt ... ada guru datang, ayo duduk yang benar!" ucap Lidya.


Kami pun duduk dengan rapi di tempat duduk kami masing-masing.


Pukul satu siang, saatnya bel pulang berbunyi. Kami tidak pulang sore hari ini karena sudah bukan masa MOS lagi. Dan kegiatan ekskul belum baru akan dimulai minggu depan.


"Kamu mau langsung pulang, Im?" tanya Lidya.


"Iya, Lid. Aku sudah tidak sabar menunggu informasi dari kedua orang tuaku. Kamu sendiri juga langsung pulang, kan?" ujarku.


"Aku dan Cindy masih mau ke rumah bu Sri sebentar?" jawab Lidya.


"Bu Sri, kan sudah mulai jualan hari ini di sebelah warung bu Mat. Kami berdua ingin membeli dagangan beliau dulu, supaya bu Sri tambah semangat berjualan," jawab Lidya.


"Iya, sih. Tapi hati-hati, ya!" ucapku.


"Tenang, Im. Kami akan berhati-hati dan bersegera pulang ke rumah setelah membeli dagangan bu Sri," jawab Cindy.


"Baiklah kalau begitu. Jar! Kamu dan Gatot akan langsung pulang, kan?" tanyaku.


"Iya, Im. Perut kami sudah lapar sekali. Uang saku sudah habis," jawab mereka.


"Aku ada uang sedikit, Jar. Kebetulan hari ini aku tidak beli-beli," jawabku.


"Enggak, Im. Makasih. Aku ingin makan masakan rumah saja," jawab Fajar sambil memegangi perutnya.


"Oke. Ayo,kita pulang!" ajakku pada Fajar dan Gatot sambil berjalan meninggalkan kelas kami.


"Oke, sampai jumpa besok ya, Lidya dan Cindy!" teriak Fajar.


Kami pun menyusuri koridor ruangan kelas satu, hingga sampai di depan ruangan Lab. IPA. Tidak kuduga, pak Rengga sedang berdiri di depan Lab. Kami bertiga berusaha untuk mengalihkan pandangan ke tempat lain, tetapi pak Rengga tiba-tiba berteriak.


"Imraaaan!" teriaknya dengan agak keras.

__ADS_1


Kami bertiga menoleh ke arah beliau.


"Bapak memanggil saya?" Aku bertanya.


"Iya. Ada satu hal yang ingin saya bicarakan denganmu," jawabnya tegas.


"Oh, iya Pak," jawabku sambil berjalan ke arah pak Rengga diikuti oleh kedua sahabatku.


"Kedua temanmu biar pulang dulu!" ujar pak Rengga mengagetkanku.


"Oh, tidak Pak. Mereka ingin pulang bareng dengan saya," jawabku.


"Tidak! Mereka pasti sudah ditunggu oleh orang tua mereka. Dan juga, mereka tidak ikut melanggar seperti kamu," jawab pak Rengga.


"Tapi, Pak" protesku.


"Kamu ini, sudah melanggar tidak ikut sholat jamaah, masih saja protes. Apa perlu saya tambah hukumanmu?" ujar pak Rengga dengan sedikit emosi.


"Silakan, kalian pulang dulu!" ucapku.


"Tapi, Im?" jawab mereka.


"Pulanglah!" ujarku.


"Baiklah, Im" Mereka berdua pun mengalah dan meninggalkanku sendirian bersama pak Rengga. Aku tahu mereka sangat khawatir kepadaku, tapi aku sendiri lebih khawatir dengan diriku sendiri. Lebih-Lebih ketika aku mendatangi pak Rengga, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang seperti merintih di tempat sempit. Bulu kudukku mendadak merinding saat itu.


Bersambung


Maaf kalau up-nya lama karena kondisi author sedang tidak fit. Semoga Pembaca masih setia dengan KAMPUNG HANTU.


Jangan lupa like, komentar, dan vote-nya!


Baca karyaku yang lain :



Maranti : horor


2.Aku Tak Mau Menjadi Pelakor : Romantis, Komedi, Drama


Cinta Kedua : Romantis, Komedi, Drama


Tak Sengaja Dinikahi Playboy Kaya : Romantis, Komedi, Drama


__ADS_1


__ADS_2