KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 36 : PENARI GHAIB


__ADS_3

Lagu yang mereka bawakan mengingatkanku pada sosok kuntilanak di kampungku sendiri. Tapi aku heran, karena lagu tersebut memang cukup populer di masanya, bahkan Aldo saja hapal betul dengan lagu tersebut.


"Kemana perginya Aldo, Kevin, dan Lala ya? Kangen juga sama anak-anak itu. Sekarang, mereka pasti sudah jadi anak SMP juga, sama sepertiku,"


Lenggak-lenggok penari yang sedang menampilkan kebolehannya di depan penonton, sempat membuatku takjub. Aku tidak menyangka kalau di dunia ghaib, ada juga penari yang selincah ini. Gerakan kepala, tangan, dan pinggul penari ini selaras dengan musik yang dimainkan. Sesekali bunyi gendang lebih keras daripada alat musik yang lain, dan penari tersebut juga menghentak-hentakkan tubuhnya mengikuti pukulan sang penabuh gendang. Dan lagi-lagi, gerakan tubuh si penari sanggup mengimbangi hentakan gendang itu. Dan para penonton yang hadirpun terhipnotis dan terpukau dengan si penari. Sayangnya, para penonton itu menurutku kurang asik dalam memberikan aplause kepada si penari. Mereka mengeluarkan suara-suara seram ketika melakukan sorakan, aku terkejut juga mendengar suara-suara aneh dari mulut mereka itu, seperti suara orang tertawa dengan mulut dicekik. Dan itu secara bersamaan dibunyikan penonton satu lapangan. Bisa dibayangkan bagaimana jantungku kembang kempis menyaksikannya.


"Eeeeeeergh ...,"


Salah satu dari mereka menyenggol tanganku dengan ekspresi marahnya. Kupikir penyamaranku sudah ketahuan, ternyata tidak. Mungkin itu ia lakukan karena aku tidak turut bersorak seperti yang lain, padahal pertunjukannya sedang seru-serunya. Sebenarnya aku juga ingin bersorak seperti yang lain, tapi aku takut cara bersorakku berbeda dengan yang lain, dan tentunya itu akan mengundang perhatian mereka semua, sehingga penyamaranku bisa terbongkar.


"Gimana aku mau ikutan bersorak seperti yang lain, mendengarkan suara sorakan mereka saja, aku keburu kaget,"


Hantu berikat kepala berwarna merah ini kembali menyenggolku karena pada keseruan berikutnya, aku masih tetap melongo, tidak ikut bersorak seperti yang lain. Bisa kutebak, hantu ini adalah penggemar setia si penari, jadi dia merasa kesal melihat aku yang adem ayem, padahal idolanya sedang memberikan pertunjukan terbaik.


(Bagi para pembaca yang kesulitan memahami perilaku hantu berikat kepala berwarna merah ini, silakan cari di youtube penampilan Weird Genius berkolaborasi dengan Rizky Febian, dan Marion Jola di sebuah stasiun TV nasional. Dijamin Para Pembaca ikutan kesal dengan adem ayemnya penonton yang ada di dalam studio itu, Kak Agnes saja terlihat geregetan melihat attitude penonton yang lain. Kalau Author boleh jujur, aku ingin ngelempar botol air mineral ke arah mereka semua di situ, he he he ... buruan tonton sana ya, terus tulis komentar di sini).


Karena takut ketahuan, akupun membuka monyongku sedikit, kemudian kutarik napas dalam-dalam, setelah cukup banyak oksigen yang ada di dalam dadaku, akupun mulai mengeluarkan suara seperti hantu-hantu itu.


"Errrrrrgh ...,"


Itulah bunyi aneh yang keluar dari mulutku, yang dihasilkan dari perpaduan mulut monyong, leher disempitkan, dan oksigen dikeluarkan sedikit sedikit secara periodik.

__ADS_1


Perfect, kata itulah yang pantas dianugerahkan kepadaku karena kemampuanku menirukan suara sorakan aneh para hantu di kebun kopi ini. Sayangnya, aku membunyikan di saat yang kurang tepat. Saat itu penonton yang lain sedang diam seribu kata, menunggu atraksi heboh selanjutnya dari si penari. Alhasil, suaraku sendiri yang terdengar keras dan membuat para penonton menoleh ke arahku.


Keringat dingin spontan mengucur deras ke seluruh tubuhku. Bayangkan, hantu satu lapangan saat ini sedang menatap ke arahku, dengan sorot mata mereka yang menakutkan.


"****** aku sekarang, mereka pasti mengetahui penyamaranku akibat kekonyolanku sendiri,"


Selama beberapa detik aku terpaku, aku gelagapan, mulutku yang kumajukan tertahan selama beberapa detik dalam kemonyongannya. Dan aku menghentikan untuk sementara waktu, mengeluarkan suara aneh dari dalam mulutku.


"Errrrrgh ...,"


Tiba-tiba satu lapangan mengeluarkan suara aneh itu lagi. Kali ini bukan karena ketakjubannya pada gerak gemulai si penari, tapi karena aksi kekonyolanku. Mungkin dalam dunia mereka, aksiku barusan dijuluki "Ketawanya Telat". Aku tetap melongo, si hantu berikat kepala merah menepuk-nepuk bahuku. Mungkin maksudnya, "Bagus ... bagus ... Nah gitu dong belajar bersorak, jangan jadi penonton mlempem kayak kerupuk." Tapi sayangnya tepukan di punggungku itu terasa sakit karena tangan bengkoknya hanyalah tulang dengan daging yang sangat tipis.


"Lama-lama bisa gila aku berada di tempat ini,"


Dari ujung selatan aku sempat terkejut karena aku dapat melihat wajah si penari, ia berbeda dengan hantu yang lain. Wajahnya tidak rusak seperti mereka, tetapi justeru sangat cantik. Dan aku semakin terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang sedang berdiri mendekat ke arah perempuan tersebut, badannya tinggi besar, dan wajahnya tidak seram seperti yang lain. Ia terlihat tampan, gagah, berwibawa, dan tatapan matanya menunjukkan kekejaman. Penari itu tingginya hanya sampai di dadanya saja.


"Apakah laki-laki itu yang bernama Ki Barong?"


Laki-laki itu menari dengan si perempuan, dan perempuan itu meladeninya. Semakin lama menari,laki-laki itu semakin kurang ajar. Si lelaki berusaha mencium si penari namun ditolak. Laki-laki tak berputus asa, ia berusaha terus memeluk si penari. Namun, dengan kelihaiannya si penari sanggup lepas dari pelukan si lelaki, sambil tetap berlenggak-lenggok mengikuti tabuhan gamelan dan gendang yang bertalu-talu.


Kutinggalkan area pertunjukan tersebut untuk memeriksa seluruh penjuru daerah itu. Tentunya tetap dengan kaki diseret, kedua tangan dibengkokkan, dan sesekali mengeluarkan suara aneh dari mulutku jika kebetulan berpapasan dengan hantu penghuni daerah tersebut.

__ADS_1


"Ternyata capek juga ya jadi hantu?"


Selangkah demi selangkah aku berjalan memeriksa seluruh lorong yang ada di daerah tersebut. Namun, tak satupun batang hidung temanku itu kutemukan. Yang ada malah bocil-bocil hantu yang tangannya nggak kalah bengkok denganku. Sempat terlintas dalam pikiranku,


"Kalau yang jadi hantu di kampung ini wujud aslinya banci bagaimana? Bukankah tangannya sudah terbiasa dibengkokkan dulu sebelum menjadi hantu? Apa setelah jadi hantu, bengkoknya menjadi kuadrat gitu? Jadi spiral dong?"


Saat aku membayangkan seperti itu, tiba-tiba beneran ada hantu yang tangannya bengkok kuadrat alias spiral, lewat di depanku.


"Aaaaaaargh dasar sontoloyo ..., Ternyata tidak boleh mikir aneh-aneh di sini. Tau gitu aku mikir Mita saja ..."


Saat aku sampai di sebuah rumah yang agak besar dan ada pohon-pohonan di sampingnya, aku seperti mendengar suara kasak-kusuk dari pekarangan yang banyak ditanami pohon itu.


"Suara apakah itu?"


Bersambung


Terima kasih kepada para pembaca setia KAMPUNG HANTU yang selalu menunggu kehadiran episode terbarunya.


Biasakan memberikan like, Kak pada setiap episode supaya aku tahu seberapa banyak sich yang menyukai cerita ini. Kalau banyak yang like, siapa tahu aku bisa "crazy update" ?


Jangan lupa juga baca novel MARANTI ya? horor dan seram (sudah tamat).

__ADS_1


See U next episode


__ADS_2