KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 66 : BU MEGA


__ADS_3

Terima kasih atas kesetiaan Anda mengikuti alur cerita novel Kampung Hantu.


Sebelum aku sampai di tempat anak itu berdiri, ia sudah berjalan masuk ke sebelah kanan. Mungkin ia akan masuk ke rumahnya. Aku tidak dapat memastikannya karena pandanganku terhalang tanaman pagar yang cukup rimbun. Saat aku sudah yakin sampai di tempat anak perempuan tadi berdiri, lagi-lagi aku dibuat terkejut karena di sebelah kananku terdapat sebuah rumah yang cukup besar, sendirian, tidak ada rumah lain di sekitarnya.


"Kita sudah sampai, Fren!" teriak Fajar.


"Iya, di sebelah kanan kita itu rumah Bu Mega. Gundukan tanah yang diberi pagar itu pasti kuburan yang diceritakan oleh bapak tadi," jawab Lidya.


"Ayo, kita segera turun menemui Bu Mega!" ujar Gatot.


Kami pun masuk ke halaman rumah itu dan memarkir sepeda tepat di depan rumahnya. Pikiranku tidak tenang saat itu. Apalagi dengan adanya kuburan di depan rumah seperti yang aku lihat sekarang ini, menimbulkan aura mistis tersendiri.


"Ke mana perginya anak perempuan tadi? Apakah ia masuk ke dalam rumah ini? Apakah dia itu Mita? Mungkinkah Mita itu anaknya Bu Mega?"


Tak ada satu pun pertanyaanku yang terjawab. Hanya ada satu cara agar aku bisa mengetahui jawabannya, yaitu masuk dan bertanya kepada penghuni rumah ini.


"Asalamualaikum ...," ucap Fajar.


Hening, tidak ada jawaban.


"Asalamualaikum ...," ucap Fajar lagi.


Masih tetap hening. Kami mulai berpikir bahwa Bu Mega sedang keluar.


"Assalamualaikum ...," Gatot mengambil alih untuk mengucap salam dengan suaranya yang keras dan menggema.


"Waalaikumsalam ...," suara sahutan dari dalam rumah.


Suaranya terdengar agak pelan, tetapi berat. Beberapa detik kemudian gagang pintu di hadapan kami berputar diikuti dengan suara derit pintu yang cukup keras. Setelah daun pintu terbuka ke dalam sekitar sembilan puluh derajat, barulah kami dapat melihat seperti apa wajah pemilik suara itu. Seorang perempuan paruh baya dengan tatapan mata tajam dan terlihat kurang bersahabat.


"Bu Mega?" pekik Lidya spontan.


Si empunya rumah menatap tajam ke arah Lidya. Lidya menelan ludahnya sendiri. Ditatap seperti itu membuat Lidya tidak nyaman dan tersirat rasa penyesalan telah menyebut nama perempuan itu duluan.

__ADS_1


"Siapa kalian?" Perempuan itu balik bertanya. Masih dengan tatapan mata yang sinis, seakan mau menelan kami bulat-bulat saja.


"Kami siswa SMP 1 Karang Jati," jawab Fajar mengambil alih posisi Lidya.


"Ada perlu apa kalian jauh-jauh datang ke sini? " tanya perempuan itu lagi dengan wajah sinisnya.


"Kami ke sini ingin menemui Bu Mega. Apakah Bu Mega tinggal di rumah ini?" Fajar berusaha tenang menjawab pertanyaan perempuan itu.


"Saya sendiri yang bernama Bu Mega. Sepertinya saya tidak mengenal kalian," ujar perempuan itu dengan masih menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik pintu.


"Bolehkah kami masuk dulu ke dalam?" Aku menyela Fajar. Perempuan itu menatap lekat wajahku. Entah mengapa setelah mengamati wajahku, aura sinisnya sedikit berkurang. Kemudian, ia pun membukakan pintu untuk kami.


"Silakan masuk!" ujarnya.


Kami pun satu persatu masuk ke dalam rumah itu.


"Hebat kamu, Im. Pakai ajian apa sehingga perempuan judes itu menjadi luluh padamu?" bisik Gatot. Aku hanya bereaksi dengan tersenyum.


Kami berlima mengekor Bu Mega menuju ruang tamunya yang cukup luas. Ada piano di sudut ruangan, ada gitar yang digantung di tembok, dan ada biola yang dibiarkan tergeletak di meja. Di beberapa bagian dinding terdapat poster penyanyi tempo dulu.


"Sebenarnya, ada apa kok tiba-tiba kalian datang ke sini membawa-bawa nama SMP 1 Karang Jati? Apa kalian ini pengurus OSIS yang bertugas menyensus alumninya? Kenapa harus saya yang disensus?" Bu Mega bertanya.


"Begini, Bu. Perkenalkan nama saya Imran, dan keempat anak ini adalah teman-temanku di sekolah. Yang bongsor ini bernama Gatot, yang ini Fajar, ini Cindy, dan yang ini namanya Lidya. Apakah Bu Mega mengenal seseorang bernama Hasan selama bersekolah di SMP 1 Karang Jati?" ujarku.


"Hasan yang mana, ya?" Bu Mega balik bertanya.


"Apakah Bu Mega mengenal lebih dari satu Hasan selama bersekolah?" Aku balik bertanya juga.


"Enggak, sih. Hanya ada satu Hasan yang kukenal baik waktu itu. Kalau tidak salah, dia berasal dari Jatisari. Dia hobi bermain bola, banyak anak perempuan yang naksir dengannya waktu itu. Termasuk saya juga. Mengapa kamu bertanya tentang Hasan kepada saya? Maaf kalau saya jadi ngelantur, bahas-bahas urusan pribadi di masa lalu," ujar perempuan paruh baya itu dengan wajah bersemu merah.


"Hasan itu bapak saya, Bu" Aku menjawab dengan nada datar.


"Apa??? Pantas saja, mulai tadi saya perhatikan wajah kamu ini kok sepertinya tidak asing di mata saya. Ternyata kamu ini anaknya Hasan, to? Gimana kabar bapakmu, Le? Yang tadi saya katakan nggak beneran loh, ya? He he he ...." Bu Mega yang awalnya ketus, tiba-tiba menjadi ramah seketika.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bapak saya sehat, Bu." Aku menjawab.


"Sudah lama saya tidak bertemu dengan bapakmu. Ketemu terakhir pas acara kelulusan bapakmu. Namun, sesekali saya masih mendengar informasi tentang sepak terjang bapakmu di dunia persepakbolaan dari tetangga. Oh ya, ibumu orang mana, Le?" Bu Mega bertanya lagi dengan antusiasnya, sementara keempat temanku yang lain bengong saja.


"Ibuku bernama Ningrum, teman sekampung bapak. Ibu juga alumni SMP 1 Karang Jati," jawabku.


"Ningrum yang pintar itu? Yang mendapatkan beasiswa dari sekolah?" Mata Bu Mega berbinar seakan tidak percaya.


"Iya, Bu." Aku menjawab.


"Ya Tuhan! Ibumu itu sahabat saya selama di sekolah, Le. Ibumu itu terkenal pintar dan baik hati di sekolah. Banyak anak-anak yang bertanya pelajaran sekolah pada ibumu. Bahkan bapakmu itu juga pernah dilesi oleh ibumu kalau tidak salah," cerocos Bu Mega.


"Iya, ibu pernah bercerita tentang hal itu. Kata ibu ia mengajari bapak karena dipaksa oleh kakak kelasnya yang bernama ...," Aku bercerita.


"Rengga, kan?" potong Bu Mega.


"Reng-ga?" Keempat temanku terkejut dengan nama yang disebutkan oleh Bu Mega barusan, begitu pula aku.


"Bukan, Bu. Bukan Rengga namanya tapi ibuku memanggilnya kak Irfan," sambungku.


Bu Mega tertawa terbahak-bahak. Aku dan keempat temanku menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kamu ini lucu, Le," ucap Bu Mega.


"Lucu gimana, Bu?" jawabku semakin penasaran.


"Irfan dan Rengga itu orang yang sama, Imran! Nama panjangnya adalah Rengga Irfandi. Ibumu dan anak-anak yang lain biasa memanggilnya Kak Irfan. Kalau aku dan Tari biasa memangginya Rengga. Dia itu anaknya kepala sekolah. Aku dan Tari sudah mengenalnya sejak kecil, karena sewaktu Rengga masih kecil, bapaknya menjadi guru di SD dekat sini," lanjut Bu Mega dengan meyakinkan.


Aku terkejut dan terduduk lemas mendengar penuturan Bu Mega.


Bersambung


Jangan lupa ya like, komentar, dan vote-nya, ya?

__ADS_1


Salam seram bahagia.


__ADS_2