
Syok, itulah yang aku rasakan setelah mengetahui bahwa anak perempuan yang kujumpai di awal-awal masuk sekolah ternyata bukan manusia biasa, melainkan jelmaan arwah. Aku tidak habis pikir, karena aku melihatnya secara nyata, tidak ada bedanya dengan anak-anak yang lain. Namun, kalau diingat-ingat, pantas saja waktu itu ia sudah mengenakan seragam sekolah di awal masuk, sementara anak yang lain masih menggunakan seragam bebas. Ketika kutanya, ia beralasan menggunakan seragam milik kakaknya. Kejanggalan yang lain adalah waktu bapak mengajakku pulang, sosok Mita tiba-tiba menghilang secara cepat. Waktu di tanjakan juga ada keanehan, sosok Mita tiba-tiba muncul menggantikan sosok menyeramkan yang kulihat sebelumnya.
"Mita ... Mita ... kenapa kamu dan Tari itu harus orang yang sama, sih?" rutukku di dalam hati.
"Ayo, Im bangun jangan cengeng!" ucap Fajar sambil menarik lenganku.
Aku tidak menyahut. Aku masih terlalu lelah untuk menghadapi semua yang terjadi.
"Came on, Brother! Kamu jangan lemah begini! Masih banyak yang harus kita kerjakan," teriak Gatot.
"Aku capek, Tot," jawabku.
Terdengar suara langkah mendekatiku.
"Ayolah, Im. Kalau kamu seperti ini, berarti kamu tidak kasihan kepada Mita." ujar Lidya.
"Jangan sebut nama itu di depanku, Lid!" ujarku.
"Im, ..."-Lidya mendongakkan wajahku dan menatap lekat ke arah mataku-"Im, apa kamu tega membiarkan arwah Mita selamanya tidak tenang? Ayolah! Mita itu tidak sedang mempermainkanmu, dia justru membutuhkan pertolonganmu."
Ucapan Lidya seperti pisau tajam yang menghunjam ke ulu hatiku. Merobek rasa kesal dan marah di dalam hatiku kepada Mita.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan melalui mulutku. Kemudian aku berusaha untuk bangkit. Lidya membantuku untuk berdiri. Bu Mega tiba-tiba muncul di depanku dengan membawa segelas air putih. Entahlah, kapan ia ke dapur dan mengambilnya.
"Minumlah air putih ini supaya tenagamu cepat pulih, Nak!" ucap perempuan seusia ibuku itu.
__ADS_1
Aku pun mengambil gelas itu dan segera menyeruputnya. Rasa segar mengalir dari tenggorokanku menuju perut dan bermuara di otot-otot tubuhku. Tenagaku lambat laun telah pulih kembali. Detak jantungku normal kembali.
"Terima kasih, Bu Mega," ucapku.
"Sama-sama," jawabnya perlahan.
"Bu, bolehkah saya mengajukan pertanyaan kepada Bu Mega?" ucapku lirih.
"Jangan mikir aneh-aneh dulu, Nak! Pulihkan saja dulu kondisimu itu!" jawab sahabat kecil Mita itu.
"Iya, Im. Mau nanya apa lagi sih emangnya?" sela Cindy.
"Itu kuburan siapa, Bu? Mengapa ada tulisan nama 'TARI' di batu nisannya?" tanyaku.
Keempat temanku yang lain tiba-tiba terdiam. Dari raut wajah mereka terlihat mereka gugup dan takut atas kelancanganku mengajukan pertanyaan itu terhadap bu Mega yang misterius itu.
Aku menatap lekat mata bu Mega, sedangkan keempat temanku yang lain saling berpandangan.
"Bagaimana rasa air putihnya, Nak? Enak, kan?" ucap perempuan itu sambil menatap tajam dan menyunggingkan senyuman kepadaku.
Keempat temanku beralih pandang ke arahku seperti kebingungan, sedangkan aku secara refleks memegangi leherku sambil menelan ludahku sendiri.
"Tenang, Nak. Saya tidak sedang memberikan racun kepadamu, kok. Mulai sekarang berhentilah menatap curiga kepada saya. Penampilan dan gaya bicara saya memang aneh dan nyentrik, tanya saja kepada bapak dan ibumu kalau tidak percaya! He he he ... Jujur saya geli sendiri melihat raut keparnoan di mata kalian berlima setiap menatap ke arah saya." ucap bu Mega sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Aku dan keempat temanku yang semula terlihat tegang, lambat laun mulai tersenyum dan ikut tertawa bersama bu Mega.
__ADS_1
"Eh, maaf ya Bu atas ketidaksopanan kami terhadap Bu Mega?" cetus Lidya dengan wajah bersungut-sungut.
Bu Mega menanggapi ucapan gadis tomboy itu dengan senyumannya yang ternyata agak manis. Melihat raut wajah bu Mega yang berubah drastis itu pun membuat ketegangan di wajah kami mulai mereda.
"Bu Mega beneran nggak jahat tapi, kan?" ujar Gatot dengan nada polos.
"Ha ha ha ha ha ...," Sontak saja kami yang mendengar ucapan Gatot termasuk bu Mega menjadi geli dan tertawa terbahak-bahak.
"Emangnya pertanyaanku barusan lucu, ya?" tanya Gatot lagi.
"Ha ha ha ha ha ...," tawa kami pun semakin keras melihat kepolosan Gatot. Gatot tidak ikut tertawa dengan kami. Sorot matanya menunjukkan rasa ketidakmengertian mengapa kami berlima menertawai pertanyaannya. Dan wajah polosnya itu menambah kegelian yang kami rasakan, sehingga kami berlima pun capek karena tertawa terus-menerus.
Setelah berhenti tertawa, bu Mega berkata dengan serius, "Itu makam anak angkat saya. Sengaja saya memberinya nama Tari karena parasnya sangat cantik seperti Tari sahabat saya. Ia lahir karena tidak dikehendaki oleh kedua orang tuanya. Saya menemukannya di pinggir jalan di dekat jembatan gantung itu ketika saya akan berangkat ke pasar. Saya membawanya pulang, tetapi waktu itu ia terus menangis meskipun sudah diberi minum susu. Kemudian saya membawanya ke puskesmas untuk mengetahui penyebab tangisannya, dokter pun memeriksanya secara intensif. Ternyata ia lahir dengan kondisi jantung yang tidak sempurna. Kasihan sekali anak itu, masih kecil harus menanggung sakit separah itu. Dokter sudah berupaya memberikan perawatan yang terbaik untuk anak itu. Namun, sayangnya saya hanya bisa merawatnya sebentar, karena Tuhan telah memanggilnya seminggu setelah dirawat di puskesmas. Waktu jenazahnya masih ada di puskesmas, ada penduduk yang mengabarkan kepada saya bahwa area kuburan kampung masih terendam banjir. Akhirnya saya memutuskan untuk mengubur anak angkat saya yang malang itu di depan rumah saya saja," tutur bu Mega sambil berjalan perlahan mendekati gundukan tanah di depan rumahnya.
Kami mengikuti berjalan di belakang bu Mega sambil mendengarkan ceritanya. Jujur, kami seperti mendapat tamparan yang keras saat itu. Ternyata perempuan paruh baya yang semula kami curigai itu adalah orang yang sangat baik dan berhati mulia.
Akhirnya kami berlima sudah sampai di dekat makam si kecil Tari. Bu Mega melanjutkan perkataannya.
"Terkadang dunia ini aneh. Di luar sana banyak orang menyia-nyiakan titipan dari Tuhan. Padahal masih banyak orang yang sudah bersusah payah berdoa dan berusaha, tetapi belum diberikan buah hati. Seperti saya dan suami, kami berdua sangat mengharapkan kehadiran buah hati di tengah-tengah kami, tetapi Tuhan belum memberikannya," lanjut perkataan perempuan itu lirih.
Kami berlima tidak menjawab apa-apa. Kami takut salah berucap yang dapat menyakiti hati beliau. Kami hanya memperhatikan bu Mega yang memetik beberapa bunga kamboja dan menaburnya di atas pusara kecil itu. Hati kami seperti teriris-iris saat itu.
Bersambung
Melow dulu ya, Kak. Sambil nungguin like, komen, dan vote dari Kakak.
__ADS_1
Salam seram bahagia