KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
EXTRA PART 2


__ADS_3

Sepulang dari salat Asar, aku melanjutkan pembicaraanku dengan Parto.


"Kamu ke sawah habis ini, To?" tanyaku


"Enggak, Im!" jawabnya.


"Loh! Kenapa? Bukankah seharusnya kamu sore ke sawah? Kamu yang bilang sendiri ke aku. Katanya di sawah lagi banyak burung. Kalau sore tidak dijaga, bisa-bisa gagal panen tanaman padimu," ucapku.


"Nah, itu dia! Nggak ada yang jagain kedua keponakanku, Im!" jawab Parto.


"Bukankah di rumah ada ibumu?" tanyaku.


"Ibuku sekarang kondisi badannya kurang fit. Lagi pula ibuku sekarang sudah tidak sesehat dulu, Im. Maklum beliau sudah tua, Im. Beliau sering sakit-sakitan, jadi aku yang harus menjaga kedua anak sepupuku itu," jawab Parto.


"Semoga semua segera membaik ya, To?" ucapku.


"Aamiinn," jawab Parto.


Akhirnya kami berdua sampai di rumah Parto. Di sana aku bertemu dengan kedua Balita, keponakan Parto. Anaknya lucu-lucu sekali. Wajahnya terlihat kayak kembar, tapi ternyata usia kedua bayi itu berselisih satu tahun.


"Ibunya anak-anak ini sudah berangkat ke kota, To?" tanyaku


"" Oh ya? Apakah kedua Balita ini menangis ketika melihat ibunya pergi?" tanyaku penasaran.


"Ibunya pamitnya bilang mau pergi ke sungai untuk BAB. Jadi kedua anaknya tidak menangis," jawab Parto.


"Kasihan mereka ya, To?" sergahku.


"Aku nggak tega melihat sepupuku ketika menciumi kedua anaknya sebelum berpisah. Sepupuku nangis, kami sekeluarga juga menangis, Im. Tapi, mau gimana lagi. Ini harus kita hadapi demi masa depan sepupuku dan anak-anak ini juga. Supaya mereka bisa lepas dari jeratan hutang," jawab Parto.


"Bagaimana reaksi kedua Balita itu saat diciumi ibunya sambil menangis seperti itu?" tanyaku lagi.


"Si sulung yang usianya lima tahun sempat bertanya, kenapa ibunya menangis. Sedangkan si bungsu bilang, 'Jangan nangis, Ma!'," tutur Parto.


"Terus, ibunya jawab apa?" tanyaku.


"Ibunya menjawab, 'Enggak kok, mama nangis karena nahan sakit perut. Kalian berdua nggak boleh nakal selama nggak ada mama, ya?'. Terus si sulung menjawab, 'Iya, Ma. Kami berdua nggak akan nakal kok. Lagipula Mama perginya sebentar, kan?' terus sepupuku bilang lagi, 'Pokoknya kalau nggak ada mama, kalian tidak boleh nakal. Harus nurut sama Mbah Man dan Mbah Ti. Terus nurut juga sama Om To, ya?' kemudian mereka menjawab, 'Iyaa, Maaaaaa'," tutur Parto panjang lebar.


Tak terasa aku pun menitikkan air mata mendengar cerita Parto.

__ADS_1


"Maaf, To. Aku jadi cengeng begini," ucapku sambil mengusap air mataku. Parto tersenyum ke padaku.


"Ntar, kalau kamu lagi senggang, bantu aku menjaga mereka berdua, ya Im?" ucap Parto.


"Siap, Bos!" jawabku sambil menyeka air mataku.


"Echaaaa .... Echiiiii ... Kenalin ini temennya Om To yang rumahnya di depan rumah kita," teriak Parto pada kedua krucil itu.


"Wah, siapa nama kakak ini, Om To?" tanya si sulung.


"Nama saya Imran. Nama kalian berdua siapa kalau boleh tahu?" ucapku.


"Nama saya Echa, Kak. Dan ini yang kepalanya gundul, namanya Echi, adik saya," jawab Echa dengan agak tergesa-gesa.


"Wah ... Nama kalian bagus, ya? Berarti kalian nggak nakal dong?" ucapku.


"Enggak dong, kami tidak nakal. Kan, nggak boleh sama mama kalau nggak ada mama," jawab Echa.


"Berarti kalau ada nama kalian, kalian jadi nakal lagi?" ucapku memancing.


"Enggaaaaaaaaaak dong!" jawab mereka berdua kompak.


"Mauuuuuuuuu!!!" jawab mereka kompak kembali.


Akhirnya kami berdua menemani kedua Balita itu bermain. Senang sekali melihat keceriaan yang terpancar di wajah kedua Balita tak berdosa itu. Dalam hati aku memohon, semoga ibu mereka segera bisa melunasi hutang-hutangnya agar kedua Balita ini bisa hidup normal bersama ibunya.


Aku dan Parto mengajari kedua Balita itu main kelereng. Lucu sekali melihat cara mereka menggenggam kelereng. Tangan mereka kesulitan untuk menggenggamnya dan ketika jempol mereka menekan kelereng itu, lemparannya lemah sekali. Namanya juga anak kecil. Meskipun kita berdua belum berhasil melatih mereka main kelereng secara baik dan benar, tetapi melihat mereka bisa tersenyum bahagia, itu sudah membuat kami berdua senang. Ternyata kedua anak ini memiliki karakter yang berbeda. Echa anaknya suka berbicara, tetapi fisiknya agak lemah. Sedangkan adiknya, Echi, bicaranya sedikit, tapi fisiknya lebih kuat dari kakaknya.


"Aku milih Mas Im!" teriak Echi.


"Aku milih Om To saja," teriak Echa.


"Loh, kok malah main group-groupan? Nggak boleh begitu," teriak Parto.


"Om To nggak seru!" teriak Echi.


"Hus!! Inget pesan mama loh, Echi, kita nggak boleh ngelawan kalau dibilangi Om To.


" Iya ... Iya ...," jawab Echi dengan nada masih kelihatan tidak ikhlas.

__ADS_1


"Emang kenapa kamu milih Om To, Cha?" tanya Parto berusaha mengetahui alasan Echa memilih Parto.


"Aku milih Om To soalnya Om To orangnya sabar. Kan enak kalau temenan sama Om To, jadinya Echa nggak dimarahi," jawab Echa dengan lancar.


"Ya enggak juga Cha. Kalau kamu melakukan kesalahan, tetep akan om tegur dan nasehati," ucap Parto.


"Terus, kamu kenapa Chi kok milih Mas Imran?" tanya Parto lagi.


"Em .... Aku milih Mas Imran karena hentakan kelerengnya keras. Jadi aku bisa menang terus kalau temenan sama Mas Imran," jawab Echa terbata-bata dan agak cadel pada huruf 'R'


"Gimana nggak keras hantamannya Mas Imran, lah Mas Imran ada yang bantuin," teriak Echa tidak terima.


"Dibantuin gimana, Cha? Mas Imranmu emang kuat hantamannya. Ia juga titis kalau bermain kelereng," tanya Parto.


"Iya, Mas Imran itu tidak bermain sendirian. Ada yang bantuin dia menghantam kelereng, makanya hantamannya kuat sekali," protes Echa sedikit mengagetkanku.


"Kamu ini ada-ada saja, Cha. Lah wong kita lihat sendiri, Mas Imran main sendiri tidak ada yang bantuin mulai tadi," jawab Parto.


"Saya beneran loh, Om.Saya tidak bohong. Mas Imran itu ada yang bantuin kalau pas menghantamkan kelerengnya ke depan," jawab Echa.


"Siapa yang bantuin, Cha?" tanya Parto.


"Itu. Mulai tadi yang bantuin Mas Imran, orangnya mulai tadi berdiri di sana," tunjuk Echa ke arahku.


Aku celingak celinguk mencari yang dimaksudkan oleh Echa. Tapi, aku tidak melihat apa-apa di sekitarku. Aku pun geleng-geleng kepala karena tak kunjung menemukan yang aku cari.


"Sudah, Cha jangan gurau terus. Kasian Mas Imran jadi kebingungan begitu," ujar Parto.


"Aku nggak gurau, Mas. Emang Mas Imran ada yang bantuin kok! Cuma orangnya kadang ilang kadang ada," jawab Echa.


"Oke deh ... Emangnya yang bantuin Mas Imran, orangnya kayak apa?" tanya Parto.


"Sudah tua sih orangnya. Dia itu sudah nenek-nenek. Tapi hantamannya sangat cepat.


" Apa, Cha?" tanyaku penasaran


"Ia, ada nenek-nenek yang bantuin Mas Imran. Tapi nenek-neneknya kadang ada, kadang ilang," jawab Echa.


"Astagfirullah!!!"

__ADS_1


*


__ADS_2