
Tim serigalapun berangkat meninggalkan lapangan, Fajar berada di barisan paling depan dan aku berada di barisan paling belakang dengan formasi 3-2-2-3, pakaian yang kami gunakan adalah kostum pramuka lengkap. Di pintu gerbang, Fajar menerima sebuah peta berisi rute yang harus kita lewati. Beberapa meter dari sekolah, Fajar menghentikan barisan.
"Ada apa, Jar. Kok berhenti?" tanyaku.
"Mari kita rundingkan rute ini terlebih dahulu," jawab Fajar.
Kamipun membentuk lingkaran.
"Jar, tintanya kok kayak blobor begitu?" tanya Lidya.
"Iya, tadi kakak OSIS bilang, yang fotokopian habis, ini tinggal aslinya saja. Dan tintanya emang agak blobor. Jadi kita harus menyimpannya baik-baik jangan sampai rusak. Oh ya, dari peta ini terlihat bahwa Pos 1 berada di dekat gapura itu, kemudian kita akan ke barat melalui jalan setapak sampai ketemu pertigaan. Ada sebuah rumah di pertigaan itu berdampingan dengan kamar mandi umum, di pertigaan itu kita belok kanan menyusuri sungai. Setelah itu di sebelah kanan sungai ada kuburan umum, kita akan masuk ke area kuburan itu mengikuti jalan setapak. Di ujung kita akan sampai di Pos 2. Dari Pos 2 kita akan lurus berjalan melalui sawah-sawah dan sampai di kebun kopi. Di kebun kopi ada pertigaan, kita memilih jalan yang ke kanan, maka kita akan sampai di Pos terakhir. Paham?" terang Fajar.
"Pahaaaaaam!!!" jawab kami kompak.
"Oke, sekarang kita akan menuju Pos 1 di gapura itu." Fajar berkata lagi.
Kamipun kembali berbaris dengan formasi sebelumnya. Langkah demi langkah kami lalui hingga sampai di Pos 1. Ada dua orang kakak kelas di sana. Salah satunya berkata.
"Selamat datang di Pos 1. Di sini adalah start point kegiatan penjelajahan ini. Di pos ini Kalian akan mengisi absen satu persatu dan diperiksa barang bawaannya. Ingat! sandi kegiatan ini adalah 'MAYIT'. Jadi setiap bertemu kakak kelas atau bertemu peserta lain, gunakan sandi tersebut. Jika mereka tidak menjawab berarti mereka bukan bagian dari kegiatan ini. Paham?" teriak kakak kelas itu.
"Pahaaaam," jawab kami kompak.
"Baiklah, silakan Kalian tanda tangan di daftar hadir itu kami berdua akan memeriksa barang bawaan Kalian," ucapnya lagi.
Kamipun mengisi daftar hadir satu persatu. Dan kedua kakak kelas itupun memeriksa barang bawaan kami. Setelah semua selesai, mereka berdua berpesan kepada kita.
"Pertigaan di depan, lurus saja. Nanti ketemu pos kedua. Dilarang balik lagi ke sini, kalau ada yang kembali ke sini, maka kalian dinyatakan gagal dan mengulang kegiatan penjelajahan ini tahun depan," ucap salah satu dari kakak pembina tadi.
Kamipun menyusun barisan dan melangkah ke arah barat, melewati jalan setapak. Di kiri dan kanan jalan setapak itu ada beberapa rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk itu tampak sederhana, sama dengan rumahku. Tapi dari sekian banyak rumah itu, tidak ada yang terbuka pintunya satupun.
"Cin, kok rumahnya tutupan semua ya?" tanya Gatot.
"Rumah-rumah ini banyak yang tidak berpenghuni, Tot. Mayoritas warga di sini bekerja keluar kota atau keluar negeri. Andaipun ada palingan orang yang usianya sudah lanjut atau masih anak-anak. Jam-jam segini palingan mereka masih tidur siang," jawab Cindy.
"Agak serem juga ya, Cin?" tanya Gatot lagi.
"Ya, begitulah. Makanya Kampung Karangjati ini banyak dikenal dengan nama Kampung Mayit sama seperti sandi kegiatan ini," tambah Cindy.
"Apa???" Kami semua terkejut.
__ADS_1
Cindy hanya tersenyum.
"Cin, apakah ada guru atau teman kita yang rumahnya di sini?" tanyaku.
"Kalau siswa, aku kurang paham. Tapi kalau guru atau karyawan, ada" jawab Cindy.
"Siapa?" Aku dan Gatot bertanya bersama.
"Bu Ratih," jawab Cindy.
"Bu Ratih guru matematika?" tanyaku penasaran.
"Iya, Bu Ratih manalagi? Kamu kok tahu Bu Ratih?" tanya Cindy.
"Bu Ratih itu teman bapakku," jawabku datar.
"Adalagi satu orang yang tinggalnya di Kampung Mayit ini," cetus Cindy.
"Siapa, Cin?" tanyaku dengan nada penasaran.
Cindy menjawab dengan enteng.
"Apaaaa????" Kami semua tiba-tiba menghentikan langkah saking terkejutnya.
"Apa kami tidak salah dengar, Cin?" tanya Fajar.
"Tidak, Jar. Mbah Iyem emang sesepuh di kampung ini. Itu informasi yang aku dapat dari anak-anak. Bahkan sewaktu meninggal, beliau juga dimakamkan di kuburam daerah sini," jawab Cindy dengan nada mendesah.
Kami semua mendadak bergidik ngeri mendengar penuturan Cindy. Terlebih aku, yang tadi sempat dihantui oleh Mbah Iyem.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan, supaya kita bisa sampai di sekolah sebelum ashar," perintah Fajar.
Kamipun melanjutkan langkah hingga sampai di pertigaan beberapa waktu kemudian.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai di pertigaan. Ayo sekarang kita lihat petanya lagi!" ucap Fajar sambil mengeluarkan lertas dari sakunya.
"Ya Allah ... tulisannya jembret kemana-mana terkena keringatku. Ayo siapa yang masih bisa membaca peta ini!" ucap Fajar sambil mengulurkan kertas yang basah kuyup dengan tulisan yang jembret tak beraturan lagi.
"Waduh, lunturnya pake banget ini. Sulit dianalisa lagi," ucap Gatot sambil mengulurkan kertas yang ia pegang.
__ADS_1
Setelah dioper kepada setiap anak, tidak ada satupun dari mereka yang bisa membaca peta rusak tersebut.
"Bagaimana ini, Jar? Kita tidak ada yang bisa merekonstruksi peta rusak itu," ucap salah satu anak.
"Hm, baiklah. Kalian ada yang ingat waktu saya menjelaskan peta tersebut di dekat sekolah?" tanya Fajar.
"Setau aku, Kamu tadi bilang jika ketemu pertigaan, kita belok kanan," jawab salah satu anak.
"Tapi barusan, kakak-kakak di Pos 1 bilang kalau ada pertigaan, disuruh lurus." Jawab anak yang lain.
Sebagian dari kami meyakini belok kanan, sebagian yang lain meyakini kalau lurus. Tidak ada kata sepakat di antara kami.
"Kita tidak punya pilihan lain, kembali juga tidak diperbolehkan. Kita voting saja," ucap Fajar.
Satu persatu dari kita ditanya pilihannya. Lima anak mengatakan lurus, lima anak mengatakan belok kanan. Lagi-lagi tidak ditemukan solusi. Akhirnya salah satu dari lima anak yang bilang lurus melakukan suit dengan salah satu anak dari lima anak yang bilang belok kanan. Dan pemenangnya adalah anak yang bilang lurus. Kamipun memilih jalan yang lurus, hm ... Maksudnya memilih tidak berbelok (repot amat ya menyampaikannya?).
Jalan yang lurus ini memang lebih mulus daripada jalan yang belok kanan. Akan tetapi jalurnya lebih surup karena kiri dan kananya banyak pohon jatinya. Semakin ke barat, kami semakin rimbun dan gelap.
"Fren, apa kita tidak salah jalan ya? sepertinya di peta itu tidak ada pohon jatinya?" tanya Fajar.
"Mungkin di peta sengaja tidak ditulis karena kampung ini memang bernama Karangjati, otomatis banyak pohon jatinya," jawab salah satu anak yang ngotot memilih jalur yang ke barat.
"Ya sudah kita lanjutkan saja sampai ketemu penduduk. Nanti kita bertanya kepada mereka," ucap Cindy.
"Jar, itu apa di depan?" tanyaku.
"Mana?" Fajar balik bertanya.
"Itu, putih-putih" Aku menunjuk ke depan.
Fajar dan anak-anak yang lain terkesiap.
Bersambung
Hai, Kak. Suka kan dengan novel Kampung Hantu ini?
Makasih banyak ya kak atas komen, like, dan vote-nya.
Oh ya, aku mau ngabarin. Novel MARANTI ternyata sudah mendapat level 7 dari noveltoon. Sudah end juga loh novelnya. Banyak sich yang minta aku membuat season keduanya? Gimana menurut kalian?
__ADS_1
Ditunggu corat-coretnya ya. Tetap terua membaca ya, Kak. Dengan membaca maka kita menuju Indonesia Jaya. Aamiiin