KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
Kejutan di Penginapan Oudeherberg


__ADS_3

Lubang hitam portal waktu lalu terbuka, dan Rama serta Gendoruwo langsung melompat ke dalamnya. Rama meninggalkan Juragan Seno yang sedang duduk mengamati dengan pandangan kosong puing tanah dan bangunan dari rumahnya. Malam yang begitu melelahkan bagi Rama untuk mencari keluarganya: bayi Raka, Ratu Sari dan Raja Piningit.


Rama dan Gendoruwo pun memasuki teras Penginapan "Oudeherberg" setelah keluar dari portal waktu. Rama sudah merasa kenal dengan penginapan ini karena Rama pernah tinggal lama sebelum pindah ke rumah eks hantu Maaike.


Sekedar mengingatkan saja dari bab sebelumnya, penginapan Oudeherberg di Kampung Hantu ini telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Dahulu, bangunan ini digunakan sebagai tempat peristirahatan para pejabat Belanda yang sedang berdinas di daerah tersebut.


Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan tersebut sempat ditinggalkan dan terbengkalai. Tidak lama kemudian, warga setempat mengabarkan bahwa bangunan tersebut mulai dihuni oleh makhluk halus atau hantu.


Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa mereka telah melihat penampakan hantu Belanda yang masih mengenakan seragam perangnya. Kabar tentang penginapan berhantu ini menyebar dan menarik perhatian sejumlah wisatawan yang penasaran dengan keberadaannya.


Pada akhirnya, pemerintah daerah memutuskan untuk memasukkan penginapan tua tersebut sebagai bagian dari proyek wisata Kampung Hantu dan merevitalisasinya sehingga bisa dioperasikan kembali menjadi sebuah penginapan. Namun demikian, sebagian besar warga setempat masih takut untuk mengunjungi bahkan mendekatinya.


Selama menginap di penginapan tua itu, Rama mengalami banyak pengalaman mistis seperti melihat penampakan hantu dan mendengar suara-suara aneh. Rama pernah bertemu dengan seorang pemuda setempat yang memberitahunya tentang sejarah penginapan tua tersebut. Dikatakan bahwa pada masa lalu, ternyata para tahanan perang Indonesia pernah ditahan dan disiksa di bangunan tersebut oleh pejabat dan tentara Belanda yang menguasai wilayah itu.


Kasus terakhir yang dialami oleh Rama adalah membantu hantu Sari yang tewas di kamar nomor 13 setelah dianiaya oleh pacarnya, Agung. Kasus itu telah terungkap dan Agung sudah menerima hukumannya yang setimpal.


Malam ini, Rama dan Gendoruwo merasakan ketidaknyamanan saat mulai memasuki lobby penginapan. Aura mistis negatif terasa sekali dibandingkan saat terakhir Rama meninggalkan penginapan ini.


Rama : (sambil berjalan pelan di lobby hotel) "Ratna, tolong pindai seluruh ruangan di penginapan Oudeherberg ini, apakah ada tanda - tanda mencurigakan? Gendoruwo, kita lebih baik berpencar. Tolong kamu sisir di sisi timur penginapan ini ya, aku di sisi baratnya "


Ratna : "Baik, Rama."


Gendoruwo: "Baik Rama."


Rama yang menyisir sisi barat penginapan mulai melihat ruangan bertuliskan aula di depannya.


Ratna: "Rama, hati - hati di balik pintu aula tesebut banyak terdeteksi pergerakan panas yang lain. Di ruangan lain juga, kamu harus hati - hati. "


Rama: " Baik Ratna, Terima kasih. "


Rama pun berjalan dengan pelan - pelan, mengendap-endap hendak membuka pintu aula.


Rama pun mendorong pintu aula, dan pintu aula terbuka. Lalu saat baru masuk di mulut pintu aula, sebuah bola api terlempar dan menyambar baju Rama. Untung saja Rama menggunakan rompi Ontokusumo, jadi seketika itu juga api terpadamkan.


Kemudian bertubi-tubi bola api mengarah ke Rama yang berjalan maju ke tengah aula. Rama yang dibantu oleh Ratna, berusaha menghindari dan mengintip siapa sebenarnya yang melemparkan bola api tersebut. Ternyata yang melemparkan bola api tersebut adalah sesosok manusia berselimutkan api dengan kepala berada di bawah dan berjalan menggunakan tangannya serta kakinya menghadap ke atas.


Ratna: "Rama, yang kamu hadapi itu Banaspati Geni. Tapi hati - hati juga dengan yang di belakangmu, ada lampor "


Benar apa yang dikatakan oleh Ratna, ternyata di belakang Rama juga sudah berdiri hantu lampor dan mulai menyerang Rama.


Rama : "Ratna, kalau kita terus berada di sini, kita akan terjebak dalam kebakaran aula. Ayo kita pancing mereka untuk bertempur di teras halaman saja. Siapkan topeng helm terkuat, kita akan jebol tembok menuju keluar. "


Ratna pun mengiyakan permintaan Rama, dan seketika itu juga topeng helm Rama ditambah lagi lapisannya. Kemudian Rama mulai bergulingan dan terus terbang menjebol tembok aula sehingga bisa keluar di teras penginapan.


Rama :" Ratna, semprotkan gas karbon ke ruangan aula supaya kebakaran di dalamnya bisa padam."


Gas karbon kemudian keluar dari batu cincin kecubung wulung ungu, dan memadamkan api yang membakar ruangan aula.


Sementara itu, di sisi timur penginapan, Gendoruwo tampak menghadapi hantu berwujud bola api juga, yang disebut dengan Pulung. Seperti halnya pertempuran Rama, pertempuran Gendoruwo melawan hantu Pulung juga mengakibatkan kebakaran hebat di ruangan timur penginapan. Namun. Sepertinya Gendoruwo bisa mengendalikan pertempuran menggunakan Ajian Segara Geni-nya.

__ADS_1


Banaspati merupakan legenda atau cerita di masyarakat mengenai sosok makhluk halus yang menjadi bagian dari budaya Indonesia. Sosok Banaspati sering kali ditemukan dalam arsitektur candi di pulau Jawa.


Sosok banaspati digambarkan sebagai relief dengan kedok kepala raksasa. Pada candi di daerah Jawa Timur sosok banaspati atau yang disebut sebagai kala di Jawa Tengah, pada umumnya dapat ditemukan terpahat pada bagian atas lubang pintu masuk di ruang sucinya masing-masing. Banaspati atau Kala dipasang di atas ambang pintu candi dengan harapan sebagai penangkal pengaruh jahat yang hendak masuk ke dalam candi.


Dalam kepercayaan masyarakat, Banaspati dikenal sebagai hantu yang mempunyai elemen api. Banaspati dikenal sebagai makhluk mistis yang memiliki kekuatan besar dan biasa ditemukan di dalam hutan ataupun digunakan oleh dukun sebagai sarana ilmu hitam.


Banaspati dikenal mempunyai dua wujud yang berbeda, yakni memiliki bentuk bola api yang hidup di antara pepohonan besar di tengah hutan dan bentuk manusia api. Wujud bola api ini dipercaya dapat bergerak dengan cara melayang atau terbang di antara satu pohon ke pohon yang lainnya.


Konon, wujud asli banaspati hanya memiliki ukuran segenggaman tangan orang dewasa, tetapi jika korbannya merasa ketakutan, maka wujud bola api ini akan semakin membesar dan bisa memangsa korbannya. Sementara itu, apabila dalam wujud keduanya, Banaspati dipercaya memiliki wujud layaknya manusia, tetapi tubuhnya diselimuti dengan api yang membara.


Dalam wujud manusia berselimut api ini, Banaspati dikatakan bergerak dengan berjalan menggunakan kedua tangan sementara kakinya menghadap ke arah atas. Banaspati dalam wujud manusia api akan mengejar dan menjulurkan lidah api ke mangsanya yang dapat membuat korbannya terbakar.


Banaspati diyakini merupakan salah seorang tokoh yang mengadopsi ilmu hitam yang terjadi di era Kerajaan Majapahit. Banaspati adalah salah satu raja lautan yang merupakan keturunan dari siluman atau bangsa api.


Ketika Banaspati memimpin bangsa siluman, banyak sekali manusia yang menjadi korban dari keganasannya. Meski demikian, berkat pertolongan dari Nabi Khidir akhirnya Raja Banaspati bisa dibunuh.


Menurut hikayat, pasca Banaspati dibunuh oleh Nabi Khidir, ternyata masih ada keturunannya yang memiliki nama setan kober. Setan kober ini diyakini hidup 500 tahun pasca Banaspati dibunuh. Banyak masyarakat Jawa yang mempercayai bahwa setan kober yang merupakan keturunan Banaspati ini hidup di daerah hutan panji.


Setidaknya ada 3 jenis setan banaspati ini dikenal secara luas oleh masyarakat Jawa dan dengan wujud yang berbeda-beda:


1. Banaspati Geni


Jenis Banaspati geni bersenyawa dengan udara serta udara lah yang menjadi sumber dari kekuatan utamanya. Sumber kekuatan utama lainnya ialah rasa takut seseorang, semakin besar rasa takutnya semakin besar juga kekuatan dari Banaspati tersebut.


Jenis ini menyerang targetnya dengan melalui udara untuk membuatnya lebih kuat dan lebih membara. Energi udara yang dimanfaatkan oleh Banaspati geni ini menambah kobaran apinya menjadi semakin besar.


2. Banaspati Tanah Liat


Banaspati jenis tanah liat tak akan menyerang orang yang menapakkan kakinya langsung ke tanah.



Banaspati Air



Jenis banaspati air mengincar target di air, caranya seolah-olah menenggelamkan korban di dalam air. Padahal sejatinya korban dia sudah dihisap darahnya terlebih dahulu oleh banaspati tersebut sebelum akhirnya ditenggelamkan.


Untuk menangkalnya menurut para orang tua zaman dahulu, Banaspati tidak akan mendekati orang yang bersentuhan langsung dengan tanah.


Hantu Lain yang Berwujud Api


Selain Banaspati, ada 4 hantu lainnya dalam mitologi Jawa yang berwujud api:


1. Lampor


Selain itu, makhluk halus berwujud bola api lainnya, yakni Lampor. Lampor konon merupakan barisan atau pasukan makhluk halus yang berasal dari Laut Selatan.


Penampakan lampor sendiri disebut akan tampak layaknya api yang berjalan dari kejauhan. Lampor konon anak buahnya Nyari Roro Kidul dan biasanya muncul dalam jumlah banyak sekali.

__ADS_1


Dengan kemunculannya dalam jumlah yang banyak sekali serta perwujudannya seperti bola api, maka ada masyarakat yang menyebut Lampor ini dengan nama ‘obor setan’. Lampor ini sama halnya dengan Kemamang dan Banaspati yang dianggap kemunculannya pasti membawa bencana karena mempunyai aura yang negatif.


Rumah kalau kemasukan Kemamang tidak bagus. Itu pertanda akan ada yang sakit. Kemamang, Lampor, Banaspati membawa akibat buruk bagi manusia. Dapat membuat orang pada sakit. Yang paling parah kalau menyerang psikis.



Pulung atau Ndatu



Dalam masyarakat Jawa juga dikenal makhluk halus dengan wujud bola api lainnya, yakni Pulung atau Ndaru. Pulung adalah cahaya merah yang melesat di langit dan jatuh di tanah, baik di sekitar rumah maupun di lingkungan warga.


Pulung ini juga disebutkan kerap muncul pada malam hari. Konon benda perwujudan Pulung itu dapat beraura positif atau negatif, tergantung jatuhnya kapan. Jika jatuhnya cahaya merah itu di hari yang menjelang pagi, konon itu mempunyai aura positif atau bagus.


Jika jatuhnya tengah malam kurang bagus (auranya), bisa mendatangkan penyakit. Bahkan ada juga yang memiliki anggapan bahwa cahaya merah yang menjadi perwujudan Pulung yang jatuh di tengah malam itu adalah jengges atau tenung (santet).



Kamamang.



Api yang membara di ruangan aula penginapan perlahan - lahan padam setelah Rama menyemprotkan gas karbon. Hantu Banaspati dan Lampor pun keluar teras halaman penginapan untuk menghadapi Rama secara langsung.


Rama : "Hei hantu Banaspati dan Lampor, tolong berhenti! Aku hanya ingin menemukan keluargaku kembali, jangan membakar penginapan ini! "


Banaspati : " Hahahaha, kamu pasti yang namanya Rama sesuai yang disebutkan Ki Sabrang. Untuk menemukan keluargamu, lewati dahulu kekuatan apiku. " (sambil tertawa terbahak-bahak).


Lampor juga langsung saja menyerang Rama yang bermaksud damai. Rama pun menghindar dari serangan Lampor lalu secepatnya Rama membalas. Kali ini Rama langsung saja menyemprotkan butiran es dan salju ke tubuh Lampor dan Banaspati sehingga tubuh mereka tertutup es dan salju.


Namun itu balutan es dan salju itu tidak bertahan lama karena kekuatan api Banaspati dan Lampor yang memang tidak bisa dipadamkan.


Rama: "Ratna, sepertinya kita harus menghentikan Banaspati dan Lampor sekarang juga, supaya penginapan ini tidak ludes terbakar. Aktifkan Ajian Kalimasada dan Ajian Tyaga! "


Ratna : "Baik Rama! "


Rama segera mengeluarkan Pusaka Kujang Pamenang, lalu melihat Banaspati dan Lampor yang sudah melumerkan selimut es dan saljunya. Dada Rama yang sudah penuh sesak dengan kekuatan mustika Kalimasada, langsung saja Rama mengeluarkan kekuatan dari aura mustika Kalimasada melalui Pusaka Kujang Pemenang.


Banaspati dan Lampor yang telah lolos dari balutan es dan salju, menjadi kaku kembali setelah mendapat pancaran kekuatan cahaya dan panas Mustika Kalimasada. Tubuh mereka kaku, dan mengeras lalu seketika hancur lebur seperti debu. Melihat Banaspati dan Lampor yang sudah binasa, Rama pun langsung memadamkan seluruh api yang masih menyala di bangunan penginapan.


Rama kemudian mencari Gendoruwo yang tadi tampak bertempur melawan hantu Pulung di sisi timur penginapan. Rama langsung berinisiatif memadamkan api saat melihat api yang melahap bangunan penginapan sisi timur.


Setelah api - api dipadamkan, kemudian terlihat Gendoruwo yang sepertinya sudah menyelesaikan pertempurannya melawan hantu Pulung.


Rama: "Gendoruwo, bagaimana keadaanmu? "


Gendoruwo: "Aku baik - baik saja Rama, aku sudah membinasakan hantu Pulung. Tapi kita tidak menemukan apapun di sisi timur penginapan ini."


Rama :" Iya Gendoruwo, aku juga tidak menemukan apa - apa di sisi barat penginapan. "

__ADS_1


Rama menatap kosong ke arah bangunan penginapan yang berangsur-angsur dingin dari suhu panas kebakarannya. Rama tampak lelah dan bingung harus mencari kemana lagi untuk mencari bayi Raka, ratu Sari dan Raja Piningit.


Rama pun terduduk lesu di lantai penginapan dengan lutut yang dilipat. Rama menundukkan kepalanya ke bawah. Gendoruwo merasa kasihan dengan keadaan Rama yang sudah putus asa.


__ADS_2