KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 61 : RUANGAN RAHASIA


__ADS_3

Mohon maaf atas keterlambatan update dikarenakan banyak hal, mulai nggak enak badan dan kesibukan author di dunia nyata. Semoga Para Pembaca masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.


Aku dan keempat temanku yang lain bersegera menuju aula untuk membersihkan ruangan tersebut. Begitu ruangan tersebut kami buka, benar saja sampah berserakan di mana-mana. Kami saat itu baru menyadari bahwa masih banyak siswa di sekolah ini yang belum menerapkan pola hidup bersih dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kelompok kami sendiri. Kamipun berpencar di setiap sudut ruangan untuk mempercepat proses pembersihannya agar lebih efektif. Aku kebagian membersihkan bagian utara aula, tempat panggung berada.


"Ayo buruan kerjanya! Sudah mau maghrib, " teriak Lidya dari tribun sebelah barat.


"Oke, Lid" jawab yang lain. Aku tersenyum simpul mendengar teriakan Lidya barusan karena di tempat seluas ini kami memang harus berteriak kalau mau berbicara, jadi teringat dengan tetanggaku yang tuli saja. Kalau mengobrol sama tetanggaku itu, aku harus berteriak-teriak seperti Lidya barusan layaknya sedang bertengkar saja.


"Lidya mana ya? Kok nggak ada? " pikirku sambil mengucek-ngucek mataku sambil memelototi keseluruhan kursi di tribun barat.


"Oalah, ternyata Lidya ada. Barusan kok seperti menghilang begitu ya? Aneh .... Ah sudahlah, mungkin hanya efek kecapekan saja."


Aku melanjutkan pekerjaanku membersihkan seluruh bagian panggung dari sampah yang kebanyakan terbuat dari plastik atau kertas. Setelah panggung selesai kubersihkan, aku melanjutkan membersihkan sekeliling panggung dan bagian belakang panggung. Ada keanehan ketika aku membersihkan bagian bawah panggung, ternyata panggung ini semi permanen, terbuat dari beberapa kayu lapis yang masing-masing saling terpisah. Aku hitung kesamping ada sekitar delapan susunan palet, dan ke belakang ada sekitar enam susunan palet. Jadi panggung ini sebenarnya bisa dipindahkan ke tempat lain jika memang diperlukan. Berarti Panitia MOS sebenarnya tidak perlu menyewa pentas lagi, tinggal memindahkan susunan palet ini ke halaman. Keanehan yang aku maksudkan adalah di bagian belakang panggung, tepat di tengah-tengahnya terdapat daun pintu yang diblokade oleh pentas ini.


"Ruangan apakah itu?"


Aku keluar dari kolong pentas masih dengan sejuta rasa penasaran.


"Astagfirullah!!! " pekikku karena tiba-tiba di depanku sudah berdiri sosok tubuh tinggi besar berdiri di atas pentas.


"Yaelah Kamu, Tot. Bikin kaget saja, " ucapku.


"Ngapain Kamu nyelundup ke kolong pentas, Im? Lagi ngintip apaan sich? " tanya Gatot dengan wajah datar seolah tidak merasa bersalah sudah mengagetkanku.


"Aku baru saja membersihkan kolong pentas ini, Tot. Lah Kamu sendiri apa sudah selesai dengan tugasmu?" sergahku.


"Kami semua sudah selesai dengan tugas kami, Im. Kami di sini penasaran saja dengan tingkah kamu yang nungging-nungging nggak jelas di situ, " pekik Gatot.

__ADS_1


"Sialan Kamu Tot. Orang lagi nyapu kolong malah dikira aneh-aneh, " jawabku.


"Iya tuh Im, si Gatot dari tadi mantengin bokongmu dengan tatapan mata anehnya," cetus Fajar dari arah samping kiriku.


"Waduh, bahaya ini kalau ada Gatot ya?" jawabku pura-pura bloon untuk membalas ejekan Gatot.


"Sialan Kalian, emang eke apaan?" ujar Gatot dengan tangan dikeritingkan mengundang tawa kami berempat.


"Sudah yuk, kita ke rumah Pak Mat dulu. Kemudian sholat maghrib di masjid," ujar Cindy sambil memasukkan sampah-sampah yang sudah kukumpulkan ke dalam bak sampah dengan menggunakan cikrak.


"Okeeee," jawab kami berempat sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut dengan menenteng bak sampah masing-masing untuk diletakkan di depan aula. Aku yang berjalan paling belakang jadi aku yang menutup pintu ruangan tersebut. Bulu kudukku tiba-tiba meremang saat tiba-tiba aku mendengar suara desahan dari dalam ruangan tersebut tepat ketika pintu akan menutup rapat. Aku picingkan mata untuk mencari sumber suara, akan tetapi tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Akupun melanjutkan menutup pintu tersebut. Saat berbalik, teman-temanku sudah tidak ada. Ternyata mereka sudah berada di depan rumah Pak Mat. Aku bersegera mengejar mereka berempat.


"Assalamualaikum... " teriak Lidya.


"Dari mana Kamu, Im? Kok lama banget?" tanya Fajar.


"Waalaikumsalam ... " jawab Pak Mat.


"Pak, kami ke sini mau-" ucap Lidya.


"Mau ambil kunci ya?" potong beliau.


"I-iya," jawab Lidya dengan sedikit tergagap.


"Tunggu sebentar ya!" jawab pria tersebut sambil masuk ke kamarnya meninggalkan kami di depan pintu. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu Pak Mat. Ada jaket menggantung di kalender.


"Jaket itu?"

__ADS_1


"Maaf menunggu lama ya, kuncinya barusan kesingsal , " ucap Pak Mat sambil menyerahkan segepok kunci kepada Lidya dengan raut wajah penuh keramahan. Tidak ada kesan sadis atau jahat dari laki-laki tersebut.


"Oh tidak apa-apa, Pak. Kami justeru yang meminta maaf karena merepotkan Bapak," ucap Fajar.


" Kalau boleh tahu, apakah Bapak bisa menyetir mobil?" celetukku.


" Bisa, memang kenapa?" Pak Mat balik bertanya dengan nada heran.


Keempat temanku memandang aneh kepadaku.


"Maksud Kamu apa Im bertanya seperti itu kepada Pak Mat? Mau minta antar pulang? Aneh-aneh saja Kamu, Pak Mat kan tidak punya mobil," cetus Fajar.


"Bukan begitu, Jar. Aku-" jawabku.


"Aneh-aneh saja Kamu Im. Ayo kita buru-buru ke masjid saja sudah waktunya adzan." Ucap Fajar sambil menggandengku meninggalkan rumah Pak Mat diikuti oleh ketiga teman yang lain. Fajar tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menjawab pertanyaan Pak Mat. Antara kesal dan senang sich diperlakukan seperti itu olehnya. Kesal karena dianggap aneh. Senang karena aku bingung harus menjawab apa kepada Pak Mat.


"Anak-Anak jangan sampai kuncinya hilang ya. Ingat, di setiap anak kunci sudah ada tulisannya masing-masing. Jangan membuka ruangan-ruangan yang lain!" teriak Pak Mat dengan nada serius.


"Iya Pak," jawab kami berlima sambil menoleh ke arah Pak Mat. Mata Pak Mat lekat menatap mataku, seolah masih penasaran dengan maksud pertanyaanku tadi. Wajah ramahnya barusan tiba-tiba saja hilang berganti dengan wajah yang misterius. Tepat saat kami mulai melangkah ke masjid, terdengar suara adzan dari TOA di sekitar sekolah. Aku menoleh ke arah kiri, mobil sampah tadi melewati gapura meninggalkan gedung sekolah. Kamipun segera berwudlu dan menunaikan sholat maghrib di masjid. Awalnya hanya kami berlima yang berada di masjid, tetapi pada saat Fajar akan mulai memimpin sholat jamaah, tiba-tiba Pak Mat datang menyusul dan menggantikan posisi Fajar sebagai imam. Saat kami akan memulai takbiratul ihram, dari arah selatan tepatnya di tengah jalan di depan ruang guru, tiba-tiba muncul sesosok bayangan putih dalam kegelapan. Bayangan putih itu terlihat seperti melayang menuju ke masjid ini. Aku terkesiap.


"Bayangan apakah itu?"


BERSAMBUNG


Slow but sure dulu ya, Kak. Masih menata kembali alur-alur ceritanya.


Jangan lupa like dan komentarnya selalu saya tunggu.

__ADS_1


__ADS_2