KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 23 : TERSESAT


__ADS_3

Mata teman-teman tertuju pada benda berwarna putih, sekitar duapuluh meter di depan barisan kami.


"Sepertinya itu salah satu warga di sini, Im." Ucap Gatot.


"Iya benar, itu warga. Tapi ngapain ya dia berdiri di pinggir jalan?" ucap Lidya.


"Mungkin dia sedang menunggu seseorang," ucap Cindy.


"Ayo kita samperin saja, siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi darinya," cetus Fajar.


"Oke, benar Kamu, Jar." jawab salah satu anak.


Kamipun berjalan mendekati orang tersebut. Semakin dekat dengannya, kamipun semakin dapat melihat dengan jelas raut wajah orang tersebut. Ternyata ia adalah seorang bapak tua berbaju putih dan bercelana gombor berwarna hitam. Di tangan kanannya ada sebilah celurit. Raut wajah bapak tua itu terlihat sangat ramah dan bersahabat.


"Kulo nuwon, Mbah" ucap Fajar.


"Iya, Le. Mau kemana Kalian?" tanya bapak tua itu.


"Ini, Mbah. Kami sedang ada kegiatan penjelajahan dari sekolah, tapi kami bingung karena peta kami hilang," jawab Fajar.


"Kalian sekolah di SMP 1 itu ya?" tanya Mbah itu lagi.


"Iya benar, Mbah. Kami adalah murid SMPN 01 Karangjati," jawab Gatot.


"Setahu saya, penjelajahan anak SMP 1 tidak pernah sampai ke tempat ini," ucap bapak tua itu lagi.


"Kok, Mbah tahu?" Fajar bertanya.


"Iya, anak saya dulu pernah ada yang sekolah di sana sebelum tewas dibawa banjir," jawabnya.


"Ooo, turut berduka ya, Mbah. Kami lupa ancer-ancernya. Jadi kami mengambil jalan lurus saja. Yang kami ingat, nanti ada sawah-sawah, kuburan, dan kebun kopi," urai Fajar.


"Nah, sesuai dugaan saya. Ternyata Kalian memang kesasar. Seharusnya di pertigaan sana sebelum jatian, Kalian belok kanan ke utara, bukannya lurus. Daerah ini sudah tidak termasuk dusun Karangjati lagi," jawab bapak tua itu.


"Kalau boleh tahu, ini daerah apa, Mbah?" tanya Lidya.


"Di sini namanya dusun Kintir," jawab bapak tua itu sambil mendesah.


"Dusun Kintir?" tanya Cindy.


"Iya, benar" jawab bapak tua itu lagi sambil memindahkan sabit dari tangan kanan ke tangan kirinya.


"Kok aneh ya namanya? bukankah Kintir itu artinya hanyut, Mbah?" tanya Cindy penasaran.


"Iya benar. Konon, dusun ini diberi nama dusun Kintir karena pernah ada banjir besar di daerah ini yang menghanyutkan semua rumah warga. Kalian tadi lewat pohon jati yang besar di pinggir jalan itu?" tanya bapak tua.

__ADS_1


"Iya, tadi ada pohon jati yang sangat besar. Kenapa, Mbah?" tanyaku penasaran.


"Konon, di pohon jati itu, banyak mayat tersangkut waktu banjir itu terjadi. Kalau orang lewat sana biasanya sambil mengirim doa kepada mereka" Bapak tua bercerita dengan suara serak. Kami yang mendengar cerita bapak tua tersebut menjadi merinding.


"Terima kasih banyak ya, Pak atas informasi yang Mbah berikan, sehingga kami tidak tersesat terlalu jauh," ucap Fajar.


"Sama-sama. Sebaiknya Kalian segera kembali ke jalur yang semestinya supaya tidak terlalu malam. Perjalanan Kalian masih jauh," ucap bapak tua itu kalem.


"Iya, Mbah. Sekali lagi kami sangat berterima kasih kepada Mbah. Kami mohon ijin pamit" Fajar berkata sambil bersalaman dengan bapak tua itu.


"Jar, aku kebelet." Cindy tiba-tiba berkata.


"Aduh, Kamu ada-ada saja, Cin" ucap Fajar.


"Monggo kalau mau ke kamar mandi, di rumah saya ada" ucap bapak tua.


"Rumah Mbah dimana? Jauh apa dekat?" tanya Fajar.


"Itu rumah saya," ucap bapak tua itu sambil menunjuk sebuah rumah di sebelah kiri kami.


Kami menoleh berbarengan, di sebelah kiri posisi kami berdiri. Ada sebuah rumah sederhana dengan ukuran sedang.


"Gimana, Cin?" tanya Fajar.


"Ayo dah, Jar. Aku kebelet banget nich," teriak Cindy.


Bapak tua itu dengan keramahannya mempersilakan kami semua masuk ke dalam rumahnya. Ruang tamunya cukup lebar dengan kursi yang terbuat dari kayu jati. Cindy langsung menuju kamar mandi yang berada di area dapur sebelah kanan. Lidya menemani Cindy, sedangkan yang lain menunggu di ruang tamu.


"Mbah, nggak usah repot-repot ya?" ucap Fajar kepada bapak tua yang berjalan ke dapur sebelah kiri.


"Enggak kok tidak repot" jawab bapak tua itu.


Semenit dua menit Cindy dan Lidya belum balik dari kamar mandi. Sedangkan bapak tua itu juga belum kembali dari arah dapur sebelah kiri. Suasana tiba-giba menjadi sunyi. Ada beberapa kelelawar tiba-tiba keluar dari dapur menuju ruang tamu. Anak-anak sibuk menghela kelelawar-kelelawar itu.


"Jar .... Jar ..." Aku memanggil Fajar dengan suara pelan.


"Apa, Im?" tanya Fajar.


"Kamu tidak merasa ada yang aneh, Jar?" tanyaku.


"Maksudmu aneh gimana?" Fajar balik bertanya.


"Sepi banget, Jar. Kelelawar-kelelawar itu kenapa bisa ada di dalam rumah ini? Dan apa Kamu tidak ingat pesan kakak kelas?" ucapku.


"Iya, apa pesan kakak kelas, Im?" Fajar balik bertanya, mungkin dia sudah lupa.

__ADS_1


"Menurut kakak kelas di Pos 1, kita tidak boleh masuk ke rumah penduduk," Aku berkata sambil berbisik.


Fajar dan Gatot terkejut dengan kata-kataku. Mungkin mereka baru tersadar telah melanggar pesan kakak kelas. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, setelahnya mereka saling beradu pandangan.


"Im, kok langit-langit rumahnya banyak rumah laba-labanya ya, seperti tidak pernah ditempati?" bisik Gatot.


"Kursinya juga berdebu," ucap Fajar.


Kami bertiga mulai panik, bulu kuduk mulai merinding.


"Tot, Kamu jemput Cindy dan Lidya di kamar mandi. Aku dan Imran akan melihat bapak tua tadi," perintah Fajar.


"Oke"


Gatot berjalan menuju dapur sebelah kanan, sedangkan Fajar dan aku menuju dapur sebelah kiri. Baru melangkah beberapa meter, aku melihat bapak tua tadi sedang berdiri di depan tungku yang tidak menyala membelakangi kami.


"Mbah, nggak usah repot-repot ya, kami sudah mau pamit," ucap Fajar dengan ekspresi wajah agak ketakutan.


"Jangan pulang dulu, tunggu saya membuatkan minuman untuk Kalian," jawab bapak tua dengan masih membelakangi kami.


"Mohon maaf, Mbah. Bukan Kami menolak pemberian Mbah. Tapi Kami takut kemalaman," jawabku.


"Iya, Mbah juga mohon maaf. Mulai tadi tungkunya tidak cepat menyala karena kayunya basah semua, di sini terlalu banyak air sampai kami semua tidak bisa bernapas...," jawab bapak tua tersebut sambil menoleh ke arah kami secara perlahan.


Ada yang berubah dari tampilan fisik bapak tua tersebut ketika menoleh, wajahnya yang semula terlihat ramah mendadak menjadi bengkak dan menggelambir seperti balon yang ditiup. Kedua bola matanya juga sudah jatuh ke bagian pipinya. Sontak saja kami terkejut dan berteriak.


"Toloooooooooooong ...,"


Ternyata teriakan kami berbarengan dengan teriakan Cindy dan Lidya yang katanya melihat tulang tengkorak menggelantung di dalam bak mandi. Kamipun lari tunggang langgang meninggalkan rumah bapak tua itu, sedangkan bapak tua itu berjalan ngesot mengikuti kami.


Bersambung


Makasih ya, Kak. Masih setia mengikuti kisah KAMPUNG HANTU SEASON KEDUA.


Komentar, like, rate 5, dan vote Kakak-Kakak selalu aku tungguin lo...


Semua komentar aku baca dan aku like. Aku suka membaca komentar-komentar Pembaca.


Aku juga pengen Kakak membaca novelku yang lain. Ada beberapa, diantaranya :


MARANTI (TAMAT) horor bangeeeet...


TERPAKSA MENIKAHI PLAYBOY KAYA hm.... seru banget


CINTA KEDUA yang ini menyentuh sekali

__ADS_1


Aku tunggu kunjungan Kakak loh ya di novel-novelku yang lain


Makasih Kakak yang cuaaaaaakeeeep


__ADS_2