
Sosok hitam itu mendekatiku dengan senjatanya yang sudah terhunus. Dengan kondisi tubuhku yang terluka, tidak mungkin bagiku untuk berlari dari kejaran penjahat itu. Hanya ada satu pilihan yang dapat kulakukan, yaitu melawannya dengan segenap kemampuanku.
"Mau apa kamu?" teriakku pada sosok hitam itu.
Sosok hitam itu semakin mendekat ke arahku. Dan di luar dugaanku, ia menyabetkan senjatanya ke tubuhku. Aku tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar, dan ...
"Toloooooooooong!!!!!" teriakku dengan keras sambil memegangi bagian tubuhku yang terkena sabetan senjata itu. Namun, tidak ada seorang pun yang mendengar teriakanku. Sosok tersebut kembali mengambil ancang-ancang untuk menyabetkan senjatanya lagi kepadaku. Tidak! Kali ini ia tidak bermaksud menyabetkan senjatanya, melainkan akan menusukkan tepat ke jantungku.
"Ya Tuhan, lindungilah aku!" pekikku di dalam hati.
Wajah sosok misterius itu sampai saat ini belum dapat aku lihat secara jelas dikarenakan pencahayaan yang sangat minim dan pakaian yang ia kenakan turut menyembunyikan identitasnya. Rasa sakit mulai menjalar dari perutku yang mengucur darah. Aku memegangi perutku sembari terus memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh sosok hitam itu.
Beberapa detik kemudian, sosok misterius tersebut menusukkan senjata yang ia pegang mengarah ke jantungku.
[Brak]
Untunglah saat itu aku menghindar di saat yang tepat, sehingga senjata itu meleset dan sosok hitam itu tersungkur di hadapanku, sedangkan senjatanya terlempar jauh. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan menggunakan sikutku, aku hajar bagian leher dan kepalanya dan sosok hitam itupun pingsan karena serangan bertubi-tubi dariku. Dan dengan gemetar aku pun membuka topeng yang menutupi wajahnya. Perlahan topeng itu kusingkap, dan ...
"Im, bangun sudah mau habis waktu subuhnya!" suara ibuku membangunkanku dari mimpi buruk itu.
"Eh, iya Bu. Terima kasih," jawabku dengan wajah kecewa karena di dalam mimpiku itu aku hampir saja melihat sosok dibalik topeng hitam tadi.
Setelah menunaikan salat Subuh, aku melakukan jogging ringan mondar-mandir di depan rumahku. Setelah mondar-mandir selama beberapa kali, muncul Parto dari dalam rumahnya.
"Im, libur tah? Tumben pagi-pagi kamu joging?" tanya Parto.
"Masuk, kok. Ingin mencari keringat saja, lama tidak olah raga soalnya," jawabku.
"Tadi malam kamu kedatangan tamu, ya?" tanya Parto.
"Tamu? Tamu siapa? Enggak ada tuh," ujarku keheranan.
"Masa sih? Tadi malam pas selesai BAB di sungai, aku melihat ada anak perempuan mengetuk-mengetuk pintu rumahmu. Kayaknya waktu itu kamu sedang ngobrol dengan bapak dan ibumu," jawab Parto.
"Anak perempuan?" tanyaku semakin penasaran.
"Iya, Im. Rambutnya panjang segini. Kayak pakai baju seragam begitu," jawab Parto.
"Kamu yakin, To? Kami lo tidak mendengar apa-apa waktu mengobrol. Lagipula masa ada anak perempuan sendirian main ke rumah orang malam-malam? Pakai seragam lagi," ujarku.
"Yakin, Im. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Namun, aku tidak memantaunya terus karena keburu mau tidur," jawab Parto.
"Tunggu, To! Apakah postur anak perempuan yang kamu lihat tadi malam sama dengan hantu yang ikut di mobil guruku yang beberapa waktu lalu mengantarku pulang?" tanyaku semakin penasaran.
__ADS_1
"Hm ..." Parto berpikir sejenak.
"Entahlah ...," jawabnya kemudian.
Aku bingung dan sekaligus bertanya-tanya tentang sosok perempuan yang dimaksudkan sahabatku itu.
*
Pukul enam lewat lima belas menit, saatnya bagiku untuk berangkat ke sekolah. Aku berpamitan kepada bapak dan ibuku.
"Hati-Hati di sekolah ya, Im. Jangan berbuat nekat!" pesan bapakmu.
"Iya, Bu. Terima kasih. Bapak dan Ibu jadi, kan, mengintai rumah pengintai itu?" tanyaku.
"Iya, jadi, Im," jawab bapak.
"Jam berapa Bapak dan Ibu berangkat ke sana?" tanyaku lagi.
"Sehabis zuhur, kayaknya," jawab mereka.
"Oke, Pak ... Bu ...," jawabku.
"Oh ya, Bapak dan Ibu masih ingat waktu Imran pingsan di sekolah dan diantar oleh guruku?" tanyaku.
"Guru yang mengantarkanku pulang itu adalah teman akrab Bapak," ujarku.
"Oh, ya?" pekik bapak tidak percaya.
"Iya, selain bu Ratih ada satu orang lagi teman Bapak dan Ibu yang menjadi guru di sana sampai sekarang," jawabku.
"Siapa, Im?" tanya Ibu penasaran.
"Pak Rengga," jawabku.
"Rengga? Seingatku tidak ada teman bapak yang bernama Rengga," jawab bapak.
"Eh, maksud saya namanya Irfan. Bu Mega dan Tari biasa memanggilnya Kak Rengga," jawabku
"Apa?" pekik bapak dan ibu. Mereka berdua saling berpandangan dan diam seribu bahasa. Lama aku menunggu mereka mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada sepatahkatapun yang keluar dari mulut mereka. Akhirnya, karena takut terlambat sampai di sekolah, aku pun segera mengucap salam dan mengayuh sepedaku meninggalkan rumah menuju sekolahku tercinta.
*
Di pertigaan sebelum tanjakan, aku melihat ada sebuah mobil dari arah selatan melaju dengan sangat kencang. Karena aku terburu-buru dan juga memperkirakan sepedaku masih nutut untuk menyebrang ke arah barat, aku pun mengayuh sepedaku kuat-kuat untuk menyebrang.
__ADS_1
[Tin tin ... tin tin ...]
Pengemudi mobil tersebut membunyikan klakson, tapi sesuai dugaanku, aku berhasil menyebrang sebelum mobil tersebut menyalipku. Namun, tetap saja apa yang aku lakukan agak mengagetkan pengemudi tersebut. Ketika ia sudah sejajar denganku, pengemudi itupun membuka kaca sebelah kiri dan berkata kepadaku.
"Hati-Hati kalau bersepeda, Im" ujarnya.
Aku menoleh, ternyata pengemudi tersebut adalah seorang laki-laki berjas dan berkacamata hitam yang kukenal baik.
"Iya, Maaf Pak Rengga!" pekikku.
Pak Rengga hanya menoleh tajam ke arahku sejenak, kemudian ia pun menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan meninggalkanku.
Ada perasaan was-was yang hinggap ketika aku sampai di tanjakan tempat Tari ditabrak. Tapi kubuang jauh-jauh perasaan itu dengan harapan, Tari tidak akan muncul kalau aku tidak memikirkannya. Kukayuh sepedaku dengan kencang meskipun jalannya sangat mendaki.
"Imraaaan!!!" teriak seseorang memanggilku.
Aku menoleh ke belakang. Ternyata tidak ada seorang pun di sana. Aduh, pasti ini arwah Tari lagi-lagi muncul di belakangku. Aku yang sudah bersusah payah menghilangkan pikiran buruk itu, terpaksa teringat lagi dengan arwah Tari. Aku kayuh dengan kuat pedal sepeda supaya segera sampai di puncak tanjakan. Namun, suara panggilan itu kembali terdengar di belakangku.
"Imraaaaaan!!!" suara teriakan itu.
Semakin lama, suara teriakan itu semakin keras saja, seolah-olah yang memanggilku sedang berada tepat di belakangku. Karena tidak tahan, akupun berteriak dengan kencang.
"Pergiiiiiiii!" teriakku keras sekali.
Selama beberapa detik aku tidak mendengar teriakan itu lagi. Yang aku dengar hanya suara putaran roda sepeda dan suara napasku sendiri yang ngos-ngosan.
Sampailah aku di puncak tanjakan dan aku bersyukur sekali karena di sana ada orang lain selain aku yang sedang berjalan searah denganku. Dengan adanya perempuan tua tersebut, aku yakin arwah Tari tidak akan menggangguku lagi dengan teriakannya.
"Terima kasih, Nek. Atas kehadiranmu," ucapku dalam hati sambil menoleh ke arah kiri.
Dan betapa terkejutnya aku setelah melihat wajah nenek tersebut, yang ternyata adalah nenek misterius yang pernah kutemui di perbatasan dusun Karangjati dan Curah Wangi.
"Ne-nek!!!" pekikku lemah.
Bersambung
Terima kasih atas kesetiaan Anda membaca cerita ini.
Segala sesuatu itu tidak hanya dilihat dari endingnya, tetapi juga dari prosesnya.
Bersabarlah, bagi yang menunggu ending cerita ini.
Author sangat senang membaca semua komentar pembaca, terutama yang senang menebak alur. Kalian benar-benar pembaca yang luar biasa.
__ADS_1