
Setelah penangkapan pak Darso dan istrinya sebagai tersangka pelaku pembunuhan dan praktik aborsi ilegal, banyak orang yang datang ke sekolah dan ke rumah pak Darso untuk melihat secara langsung lokasi kejadian. Masyarakat tersentak dan tidak menduga bahwa sekolah yang cukup favorit di kabupatenku ini dijadikan tempat pembuangan bayi hasil aborsi. Yang lebih menggegerkan warga adalah terungkapnya misteri kematian salah satu siswi yang puluhan tahun lalu sempat dinyatakan meninggal karena menjadi korban tabrak lari. Ternyata siswi bernama Tari tersebut meninggal karena dianiaya dan sengaja ditabrak oleh pak Darso karena mengetahui bisnis aborsi pak Darso dan istrinya.
Beberapa minggu kemudian, teman satu masa sekolah dengan Tari, termasuk bapak dan ibu, bu Mega, dan pak Rengga mengadakan acara khusus di sekolah untuk mengenang dan mendoakan mendiang Tari. Ibu dan bu Mega sebagai sahabat almarhumah yang paling bersedih pada acara itu. Pengurus OSIS juga datang pada acara tersebut, termasuk kak Dino. Aku dan keempat temanku juga diundang pada acara tersebut. Suasana menjadi haru ketika kepala sekolah memberikan penghargaan khusus kepada almarhumah Tari. Menurut kepala sekolah, Tari adalah sosok yang berani menegakkan kebenaran meskipun nyawa sebagai taruhannya. Bu Mega naik ke atas podium untuk mewakili almarhumah menerima piagam penghargaan dari kepala sekolah.
Selain almarhumah Tari yang mendapatkan penghargaan dari kepala sekolah, kami berlima juga dipanggil ke atas pentas untuk mendapatkan penghargaan juga. Dengan malu-malu kami pun naik ke atas pentas. Kepala sekolah menyampaikan kepada para tamu undangan, bahwa kami berlima adalah siswa dan siswi pemberani sama seperti Tari, sehingga dengan bantuan kami berlima, polisi dapat mengungkap kasus pembunuhan Tari dan kasus bisnis aborsi ilegal. Para hadirin yang hadir pun memberikan tepuk tangan dengan sangat meriah. Para wartawan yang hadir memotret kami berlima dan esoknya foto kita muncul di halaman utama beberapa surat kabar. Kami membacanya di perpustakaan sekolah.
Suatu hari bapak dan ibu ikut bersamaku ke sekolah.
"Untuk apa bapak dan ibu ikut saya ke sekolah?" tanyaku penasaran.
"Kami berdua ingin menemui Irfan," jawab bapak.
Aku pun berangkat ke sekolah ditemani ibu dan bapak. Sesampai di sekolah, setelah memarkirkan sepeda, bapak berkata kepadaku.
"Tolong antar kami menemui Irfan, ya!" ujar bapak.
"Iya, Pak" jawabku.
Aku pun mengantar bapak dan ibu menuju ruangan pak Rengga di laboratorium IPA.
"Assalamualaikum ...," ucap salam kami bertiga.
"Waalaikumsalam," jawab pak Rengga.
"Silakan masuk!" ucapnya lagi.
Kami pun berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku yang berjalan di depan diikuti oleh bapak dan ibuku.
"Kamu, Im. Ada perlu apa?" tanya pak Rengga sambil menghapus sesuatu dari matanya. Sepertinya ia baru saja menangis.
"Saya mengantarkan bapak dan ibu, Pak," jawabku enteng.
"Hasan!!! Ningrum!!!" pekik pak Rengga seolah tidak percaya ketika melihat bapak dan ibuku tiba-tiba berdiri di pintu masuk ruangannya.
"Irfan!!!" pekik bapak dan ibuku.
Bapak dan pak Rengga saling memeluk erat. Air mata pak Rengga mengalir kembali.
"Maafkan atas semua kesalahan saya, Fan!" ujar bapak.
__ADS_1
"Tidak, Hasan. Aku memang layak mendapatkan pukulanmu saat itu. Karena kelalaianku, aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi," jawab pak Rengga.
Cukup lama mereka berpelukan. Setelah tangis pak Rengga mulai mereda, kedua laki-laki dewasa itu pun saling melepaskan pelukannya. Kemudian pak Rengga bersalaman dengan ibuku.
"Sabar ya, Kak Irfan!" ucap ibuku.
"Iya, Ningrum," jawab pak Rengga.
Pak Rengga mempersilakan kami bertiga duduk di depan mejanya. pak Rengga meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan dua kursi di ruangan laboratorium untuk tempat duduk bapak dan ibuku karena jumlah kursi yang ada di depan meja pak Rengga hanya ada satu kursi.
"Apa saya harus keluar?" tanyaku dengan polos karena merasa tidak sopan ikut nimbrung dengan mereka.
"Kamu tetap di sini saja, Im. Tidak apa-apa, kok!" jawab pak Rengga.
"Terima kasih, Pak." jawabku.
Kemudian bapak memulai pembicaraan.
"Fan, saya mendapat informasi dari Imran bahwa ketika kamu memberinya hukuman untuk membersihkan ruangan ini, ia didatangi dan diganggu oleh arwah Tari. Arwah Tari membimbing Imran untuk membaca buku harianmu," ucap bapak.
Pak Rengga terkejut dengan perkataan bapak.
"Iya, saya memaklumi hal itu. Semenjak kematian Tari memang ada yang bilang kepadaku bahwa ada sosok perempuan tak kasat mata yang sering berada di dekatku. Namun, aku sendiri tidak dapat melihat kehadirannya, tapi kadang-kadang aku bisa merasakannya. Itulah mengapa aku ingin mengungkap penyebab kematian Tari yang sebenarnya, karena feeling-ku berkata Tari mati dibunuh seseorang. Aku tahu, aku tidak dapat terjun sendiri, makanya aku selalu meminta tolong salah satu murid yang bisa dipercaya untuk memantau hal-hal yang terlihat janggal di setiap sudut sekolah ini dan melaporkannya kepadaku," jawab pak Rengga.
"Apa kak Dino yang Bapak maksud?" tanyaku.
Pak Rengga mengangguk.
"Terima kasih ya, Im. Berkat keberanian kamu dan teman-temanmu akhirnya misteri kematian Tari dapat terungkap. Meskipun dengan terungkapnya kematian Tari tersebut, aku harus menelan kepahitan, karena pembunuhnya adalah pamanku sendiri," ujar pak Rengga sambil menarik napas panjang.
"Bersabarlah, Fan!" ujar bapak.
"Aku kecewa dengan bibi dan suaminya, Hasan. Sewaktu aku masih kecil, aku paling senang kalau diajak ke rumah mereka. Rumahnya sederhana, tidak ada kesombongan di sana, yang ada kesederhanaan yang menenangkan. Aku tidak menyangka di balik senyuman mereka, tersimpan ambisi untuk menjadi kaya dengan segala cara," ujar pak Rengga dengan sedihnya.
"Mereka berdua tetaplah saudaramu, Fan. Doakan semoga mereka berdua bertobat setelah mendekam di balik jeruji besi," jawab ibuku.
"Bibi itu adik kesayangan bapakku. Makanya paman diberi pekerjaan untuk mengangkut sampah di sekolah ini untuk membantu kondisi perekonomian mereka," jawab pak Rengga lagi.
"Doakan terus mereka, Fan!" ujar bapak.
__ADS_1
"Entahlah, Hasan. Aku masih belum bisa menerima apa yang telah paman lakukan terhadap Tari," jawab pak Rengga.
"Fan ... Kami mohon kamu mencabut sumpahmu!" ujar bapak lagi.
Mata pak Rengga kembali terbelalak. Di dalam buku hariannya memang beliau menulis bahwa pak Rengga tidak akan membuka hatinya untuk perempuan manapun sebelum beliau bisa mengungkap pembunuhan Tari.
"Bukankah misteri kematian Tari sudah terungkap? Ia sudah beristirahat dengan tenang di sana, Kak Irfan," ucap ibuku.
Pak Rengga menunduk dan menangis tersedu-sedu. Bapak dan ibu membiarkan beliau seperti itu. Beberapa menit kemudian pak Rengga mendongakkan kepalanya kembali.
"Iya, Ningrum. Saya akan mencobanya," ujar pak Rengga.
"Alhamdulillah!!!" pekik kami bertiga.
Selanjutnya kami pun melanjutkan obrolan dengan topik yang lain. Beberapa menit kemudian ...
"Assalamualaikum ...,"
"Waalaikumsalam ...,"
"Ratih!!" pekik ibuku.
"Ningrum!!" pekik bu Ratih.
Setelah saling bersalaman, mereka berempat pun ngobrol santai membahas masa lalu. Akhirnya setelah beberapa menit, bapak dan ibu berpamitan pulang kepada kedua guruku itu.
Sebelum pulang, aku sempat menguping ketika bapak membisikkan sesuatu kepada pak Rengga.
"Inilah saatnya bagimu untuk menghargai perasaan orang yang sudah lama mencintaimu!"
Pak Rengga merespon ucapan bapak dengan tersenyum.
Bapak dan ibu pun pulang dengan diantar pak Rengga dan bu Ratih ke tempat parkir. Entah mengapa bu Ratih yang biasanya terlihat judes, hari itu terlihat berbunga-bunga.
Setelah bersalaman dengan orang tua dan guruku, aku pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Di koridor kantor, aku sempat melirik ada seorang nenek sedang duduk sambil menunduk di atas tempat duduk yang terbuat dari adonan semen. Pasti itu adalah salah satu wali murid yang sedang ada kepentingan dengan guru di sekolah.
***
NB : Sambil menunggu SEASON KETIGA, silakan baca novel horor saya yang berjudul MARANTI. Maranti sudah tamat season pertama dan sedang on going season kedua. Terima kasih.
__ADS_1