
Karena penasaran, aku pun keluar dari kamar mbah Arni menuju ruang tamunya. Namun, di sana ternyata juga tidak ada siapapun. Aneh ....
"Ada apa, Im?" tanya Parto menyusulku.
"Barusan aku seperti melihat ada orang lewat, tetapi ternyata tidak ada," jawabku.
"Iya, Im. Perasaanku juga tidak enak mulai tadi," ujar Parto.
"Mbah Arni sudah mau makan?" tanyaku pada Parto.
"Alhamdulillah, bulik sedang menyuapkan bubur kepadanya sekarang," jawab Parto.
"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya kita segera pamit, supaya mbah Arni bisa istirahat setelah makan," ucapku.
"Iya, Im. Kita duduk di sini dulu saja sebentar, sambil menunggu mbah Arni selesai makan," ujar Parto.
Kami berdua pun duduk di kursi di ruang tamu mbah Arni. Sayup-sayup kami berdua mendengar suara sendok yang beradu dengan piring di kamar mbah Arni.
"To, kamu masih ingat yang waktu malam-malam ke sini bareng mbah Nur?" tanyaku.
"Ingatlah, Im. Awalnya aku tuh curiga banget sama mbah Arni, soalnya orangnya misterius waktu itu. Awalnya aku mengira mbah Arnilah yang telah membunuh Cempaka. Ternyata, mbah Arni itu orang baik, ya?" jawab Parto.
"Iya, To. Dugaanmu sama denganku. Gara-gara kecurigaanku, aku sampai keselek minum kopi pemberian mbah Arni waktu itu. Aku ngiranya ada racunnya. He he he ..., " ucapku.
"Waktu kamu dibawa Cempaka, aku sangat khawatir sekali," ucap Parto.
"Lebih-Lebih aku, To. Aku nyangkanya aku bakal mati hari itu. Tapi untunglah kamu dan mbah Nur berhasil menyelamatkanku," ujarku.
"Maut itu murni rahasia ilahi, Im. Tidak ada manusia yang dapat mengetahuinya. Kalau belum tiba saatnya, mau seperti apapun, ya, tidak akan mati. Namun, sebaliknya jika memang sudah tiba waktunya. Maut tidak akan mundur walau sedetikpun," ujar Parto.
"Maka dari itu, kita harus banyak-banyak bersyukur dan bertaubat kepada Allah SWT." ujarku.
"Im, kamu ditanya terus sama mbah Nur, kenapa kok tidak mengaji seminggu ini? Apa kamu mau berhenti mengaji?" tanya Parto.
"Aku lupa memberitahu beliau bahwa semingguan ini aku libur dulu soalnya masih awal-awal MOS jadinya aku pulang sore-sore terus bahkan pernah pulang malam. Insyaallah mulai besok atau lusa aku sudah bisa aktif mengaji kembali," jawabku.
"Iya, nanti akan aku sampaikan pesanmu kepada beliau. Kasihan beliau, sekarang muridnya tambah banyak, tetapi murid yang besar-besar banyak yang berhenti. Ada yang berhenti karena menikah, ada yang mondok, dan ada juga yang berhenti karena pindah rumah. Yang besar-besar tinggal aku, kamu, dan Buang saja," ujar Parto.
"Lo, Juwari sama Tuni ke mana?" Aku bertanya.
__ADS_1
"Juwari dan Tuni kan sudah mondok ke kecamatan lain, masa kamu tidak mendengarnya?" jawab Parto.
"Alhamdulillah, senang mendengar mereka mau mendalami ilmu agama. Aku tidak mendengar berita tentang itu, To. Mungkin karena aku terlalu sibuk di awal-awal masuk SMP ini," jawabku.
"Mbah Nur ikut mengantar mereka berdua ke pondok pesantren tersebut. Kebetulan sahabat mbah Nur yang menjadi pengasuh di sana," Ujar Parto lagi.
"Oalah, senang kayaknya, ya? Bisa mondok seperti Juwari dan Tuni?" Aku berkata dengan ekspresi menghayal.
"Hus, malah menghayal, anak ini! Kamu kan sudah sekolah, fokus saja dengan sekolahmu! Kita semua harus bisa membangun dusun kita tercinta ini supaya lebih maju ke depannya, dengan tetap terjaga kultur dan religiusitasnya," ujar Parto mengagetkanku.
"Wah, bahasamu kok tinggi banget sekarang, To? Kamu dapat dari mana, istilah-istilah seperti itu?" tanyaku heran.
"He he he, aku kan sering pinjam buku bacaan di rumah mbah Ti, Im. Kebetulan banyak sekali buku bacaan di rumahnya. Ada komik, majalah, dan buku-buku lainnya. Buku tentang pertanian juga ada, lo!" jawabnya.
"Mbah Ti tukang loak itu?" tanyaku.
"Iya, Im. Beliau hebat lo. Meskipun hanya bekerja sebagai tukang loak, tetapi beliau ibadahnya tekun sekali. Lima waktu selalu jamaah. Secapek apapun beliau pulang dari kota, beliau tetap menyempatkan diri untuk membersihkan lingkungan masjid kita. Hebatnya lagi, ia menyekolahkan anaknya sampai lulus SMA, lo! " jawab Parto.
"Iya, benar, To. Jarang ya, orang bisa seperti itu?" jawabku terharu.
Sudah tidak ada suara piring beradu dengan sendok dari dalam kamar mbah Arni. Kami berdua pun berjalan untuk menengok kondisi mbah Arni sekarang. Sesampai di pintu kamar mbah Arni, bulik memberi isyarat kepada kami untuk tidak berisik. Kami pun memakluminya, ternyata mbah Arni sedang tertidur pulas selesai makan. Kami pun kembali menuju ruang tamu dan bulik menyusul kami berdua.
"Alhamdulillah barusan mak Arni bilang perutnya sudah enakan. Sudah mau makan bubur, tapi tidak aku perbolehkan makan banyak-banyak dulu," jawab bulik.
"Iya, Bulik. Mbah Arni kan masih baru enakan, jadi sedikit-sedikit saja dulu makannya, tapi sering." Aku menjawab.
"Im, aku bisa minta tolong sama kamu?" tanya bulik.
"Minta tolong apa, Bulik?" Aku balik bertanya.
"Bapakmu kan hapal daerah sini. Aku minta tolong bapakmu untuk memanggil dokter atau mantri yang bisa didatangkan ke sini untuk memeriksa kondisi mak Arni," jawab bulik.
"Oh, kalau itu bisa Bulik. Namun, agak sorean, ya? Soalnya jam-jam segini bapak biasanya masih istirahat," jawabku.
"Iya, Im. Kalau sekarang mak Arni kan juga sedang istirahat," jawab bulik.
"Baiklah, kalau begitu kami berdua pamit pulang dulu, ya?" ujarku.
"Mau kemana kalian?" tanya bulik.
__ADS_1
"Mau ke sawahnya Parto dulu, Bulik. Mau melihat tanamannya," jawabku.
"Duh, panas-panas begini pergi ke sawah," ujar bulik.
"Tidak apa-apa, Bulik. Di sawahku ada pondoknya, kok!" jawab Parto.
"Ya, sudah. Hati-Hati! Jangan lupa bawa air!" ujar bulik.
"Iya, Bulik. Terima kasih," jawab kami berdua.
Akhirnya kami berdua bersalaman dengan bulik seraya mendoakan kesembuhan untuk mbah Arni, salah satu sesepuh di dusun ini. Keanehan tiba-tiba terjadi lagi tatkala kami berdua meninggalkan rumah mbah Arni. Sekelebat bayangan itu muncul lagi di belakangku. Bedanya, Parto juga melihatnya, tapi lagi-lagi tidak ada siapapun di belakang kami ketika kami menoleh.
"To, perasaanku kok tidak enak ya?" ujarku.
"Iya, Im sama, tapi kok bulu kudukku tidak merinding, ya?" ujar Parto.
"Iya, To. Waktu bayangan itu melintas, yang ada malah rasa sedih gitu," jawabku.
"Iya, sama. Kayak mau nangis, tapi nggak punya alasan untuk menangis. Apalagi kondisi mbah Arni juga sudah mulai membaik," jawab Parto.
"Kita berdoa saja supaya kita semua diberikan keselamatan dan kesehatan,"
"Aamiiin,"
Kami berdua pun pulang dulu ke rumah masing-masing untuk berganti baju. Aku menyusuk Parto ke rumahnya untuk menemani melihat tanamannya di sawah. Saat akan menutup pintu rumahnya, tiba-tiba ...
"Aduh!!"
"Kenapa, To?"
"Ini, ada cicak jatuh ke pundakku,"
"Astagfirullah!!!"
Bersambung
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya
Salam seram bahagia
__ADS_1