
Ibunya Mita kemudian berkata, "Mita hanya sekejap merasakan kebahagiaan dapat belajar di sekolah impiannya, selang beberapa hari kemudian ia terpaksa harus menikah dengan pria pilihan bapaknya."
Air mata ibunya Mita tak kuasa untuk ditahan lagi. Dalam sekejap pipi perempuan itu sudah basah dengan air matanya sendiri.
"Berarti Mita sudah menikah, Bu?" tanyaku.
Ibunya Mita mengangguk.
"Sekarang Mita tinggal di mana, Bu? Apa dia ikut suaminya?" tanyaku lagi.
Lagi-lagi ibunya Mita mengangguk. Dadaku serasa dihantam gada berukuran besar. Sesak sekali, ini bukan karena aku mencintai Mita atau apalah yang biasanya terjadi pada orang dewasa. Namun, aku ikut merasa sedih dengan tragisnya nasib gadis cantik yang kukenal pertama kali di sekolah. Dia harus mengubur dalam-dalam impiannya demi memenuhi tuntutan adat dan mematuhi bapaknya. Aku menyandarkan punggungku ke kursi untuk mengurangi rasa keterkejutanku itu.
"Sabar, Im. Mungkin Mita memang bukan jodohmu," bisik Gatot tetapi suaranya cukup keras. Aku yakin ibunya Mita juga mendengarnya.
"Apa kamu sempat menyukai Mita, Nak?" Tiba-Tiba ibunya Mita menanyakan pertanyaan konyol itu.
"Waduh, enggak Bu, Gatot ini emang suka bercanda. Aku belum boleh cinta-cintaan oleh ibuku. Aku hanya kaget saja karena anak seusia Mita sudah dinikahkan," jawabku spontan.
"Awas kamu, Tot!" bisikku kepada Gatot.
Gatot hanya menanggapinya dengan senyuman.
Selain sedih aku juga merasa lega karena sudah terjawab rasa penasaranku tentang keberadaan Mita Lestari. Ternyata ia tidak muncul lagi di sekolah karena sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Mungkin inilah yang disebut orang-orang dengan kenyataan pahit.
Selama beberapa menit kami terdiam dengan pikiran masing-masing karena tidak ada yang mau ditanyakan lagi. Ibunya Mita meninggalkan kami sebentar dan kembali dengan membawa cangkir-cangkir berisi minuman.
"Aduh, kok repot-repot sih, Bu?" pekik Lidya.
"Tidak repot kok, Nak. Kebetulan saya memang selalu menyimpan sirup, jadi tinggal dicampur dengan air matang saja. Tapi mohon maaf airnya tidak hangat karena kalau harus memanaskan air, takutnya keburu ditinggal pulang oleh kalian," jawab ibu itu.
"Waduh, tidak apa-apa, Bu. Yang dingin begini juga enak, kok." Ujar Gatot.
"Dasar kamu, Tot!" pekik Cindy.
"Monggo diminum sirupnya!" ujar ibunya Mita.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Bu" jawab kami kompak
Dalam sekejap minuman di dalam gelas kami sudah ludes. Hanya milik Cindy dan Lidya yang masih tersisa. Maklum anak perempuan biasanya memang agak pemalu.
"Oh ya, Bu. Bolehkah kami bertanya sesuatu kepada Ibu?" ujar Fajar.
"Mau bertanya tentang apa? Kalau saya bisa menjawab, insya Allah akan saya jawab," jawab ibu itu.
"Kami ingin tahu perihal makam di depan rumah bu Mega. Itu makam siapa sebenarnya?" tanya Fajar.
"Eh, makam itu ya?" ucap ibu itu gugup.
"Iya, Bu. Kami penasaran dengan makam tersebut," jawab Fajar.
"Maaf, Nak. Alangkah lebih baik kalian bertanha langsung kepada bu Mega saja," jawab ibu itu.
"Memangnya kenapa kalau kami bertanya kepada Ibu? Bukankah itu sama saja?" Fajar bersikukuh.
"Tidak, Nak. Itu terlalu pribadi, lagipula kalian pasti ingin mengetahui makam tersebut secara rinci, kan? Saya rasa bu Mega sendirilah yang lebih tepat untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di benak kalian," jawab ibu itu tegas.
"Kami mohon sekali kepada Ibu untuk menjelaskannya!" paksa Fajar.
"Baiklah kalau begitu," jawab Fajar kecewa.
Ibunya Mita tiba-tiba mengambil sebuah album foto dari bufet yang ada di belakang kursinya. Sejenak ia memandangi foto yang ada di dalam album tersebut.
"Mita, maafkan ibu ya karena tidak bisa membelamu untuk tetap bersekolah sesuai keinginanmu," ucapnya perlahan sambil membelai wajah seseorang di foto tersebut. Ekspresi wajahnya yang semula ceria kembali terlihat sedih.
"Apakah itu foto pernikahan Mita, Bu?" cetus Lidya.
"Iya benar, Nak. Melihat kalian berlima, saya jadi teringat dengan Mita," jawab ibu itu sambil menutup album foto itu kembali.
"Boleh kami melihatnya, Bu?" tanya Lidya lagi.
"Oh, silakan!" jawab ibu itu sambil menyodorkan album foto itu kepada Lidya.
__ADS_1
Setelah menerima album dari ibunya Mita, Lidya membuka satu persatu foto di album tersebut. Cindy yang berada di sebelahnya juga ikut melihat bersama Lidya.
"Cantik sekali Mita di foto ini!" pekik Lidya.
"Iya benar. Mita terlihat sangat anggun dan manis," sahut Cindy.
Tidak bisa dipungkiri, Mita memang memiliki paras yang sangat cantik. Dengan pakaian layaknya ratu semalam, pastinya ia akan terlihat manis dan ayu.
"Gantian, dong! Aku juga ingin melihat kecantikan gadis yang dipuja-puja oleh temanku ini," pekik Gatot sambil memgambil alih album yang baru saja selesai dilihat oleh Lidya dan Cindy.
Sama dengan kedua anak perempuan tadi, Gatot juga memuji-muji kecantikan wajah Mita. Selama beberapa menit ia memperhatikan satu persatu foto pernikahan yang ada di depannya.
"Sudah, Tot! Nanti kamu ngiler, gimana?" pekik Fajar sambil menarik album foto yang dipegang oleh anak tambun itu. Kami yang mendengar candaan Fajar tersenyum, apalagi setelah melihat reaksi Gatot yang sewot.
Album foto itu sekarang berada di tangan Fajar. Fajar membolak-balik lembar demi lembar foto pernikahan itu.
"Benar kata kalian, make-up pengantinnya benar-benar bagus. Wajah Mita terlihat manglingi (berbeda dengan biasanya). Hampir saja aku tidak mengenali rupanya. Untunglah, aku masih hapal dengan bentuk hidung dan bibir Mita yang sebenarnya," ujar Fajar di sebelahku, sementara aku asik mendengar penjelasan Fajar tanpa ikut melihat foto-foto Mita dan suaminya.
Baru beberapa lembar, Fajar membuka foto di dalam album, Fajar berkata, "Kamu enggak mau melihat-lihat foto-foto pernikahan Mita, Im?"
"Mau, Jar. Kamu selesaikan saja dulu! Baru aku yang akan melihat setelahnya," jawabku.
"Baiklah kalau begitu," pekik Fajar sambil meneruskan aktivitasnya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Fajar selesai memperhatikan keseluruhan foto di album yang ia pegang. Sampailah giliranku untuk memperhatikan isi di dalam album tersebut. Aku menerima album foto dari Fajar dan membukannya secara perlahan. Aku sangat terkejut ketika melihat gambar pertama yang ada di album tersebut. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku pun membuka halaman lain dari album tersebut, tetapi sayangnya di halaman lain aku tidak menemukan jawaban atas keterkejutanku.
Fajar yang melihat ketidakberesan dari raut wajahku pun berkata, "Ada apa, Im?"
Aku menjawab, "Jar, apa aku tidak salah lihat?"
"Tidak, Im. Kamu tidak salah lihat, Mita Lestari, teman seangkatan kita memang sudah menikah dan tidak dapat melanjutkan sekolahnya lagi," jawab Fajar.
"Bukan itu maksudku, Jar!" sanggahku.
"Lantas apa yang membuatmu seterkejut itu?" tanya ketua kelompokku itu.
__ADS_1
Aku memperlihatkan foto yang sedang kupegang kepada Fajar. Ketiga temanku yang lain dan ibu paruh baya itu turut memperhatikan apa yang sedang aku lakukan dengan hati bertanya-tanya.
Bersambung