
Ketiga temanku yang semula ada di belakang, akhirnya berhasil menyusul kami berdua setelah kami sampai di daerah Karangjati.
"Syukurlah nenek-nenek tua itu tidak muncul lagi, ya?" ucap Lidya.
"Emang kenapa, Lid, kalau dia muncul lagi?" tanya Gatot.
"Seram aja, Tot. Emang kamu nggak takut?" Lidya balik bertanya.
"Kalau dia muncul, mau aku kenalin sama kakek yang tinggal dekat rumahku, kayaknya mereka pasangan serasi," jawab Gatot disambut tawa kami berlima.
"Ada-Ada saja kamu, Tot. Padahal kalau muncul beneran, aku yakin kamu yang ngacir duluan," ujar Fajar.
"Enggak dong, Gatot gitu loh! Cowok paling pemberani di sekolah," teriak Gatot sombong.
"Berani sih berani, tapi kasihan yang numpang sama kamu itu, kayaknya mau turun," teriak Fajar sambil menunjuk ke arah boncengan Gatot.
"Hiiiiii, jangan nakut-nakutin gitu dong, Jar! Bikin geli saja," jawab Fajar sambil menggigil tidak jelas.
Kami berempat yang melihat reaksi teman kami tersebut menjadi tertawa terbahak-bahak.
Tak terasa akhirnya kami pun sampai di pertigaan Karangjati. Ke arah kiri adalah jalan menuju sekolah, sedangkan ke arah kanan adalah jalan menuju rumahku.
"Teman-Teman, kita akan berpencar di sini, ya?" teriak Fajar.
"Iya benar!" jawab kami.
"Sebelum kita berpencar aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian," teriak Fajar lagi.
"Oke, kita berhenti terlebih dahulu saja!" jawab Lidya.
"Berhenti di sini?" tanyaku tidak percaya.
"Iya Im. Tidak ada tempat lagi," jawab Fajar.
"Baiklah," jawabku lemah.
__ADS_1
Terus terang sebenarnya aku kurang setuju kami berhenti di tempat tersebut. Aura negatif di tempat tersebut terlalu kuat menurutku. Bagaimana tidak, bayangkan di tempat tersebutlah tubuh Mita dilindas secara sengaja oleh seseorang yang sampai saat ini belum kami ketahui identitas pelakunya. Lebih-lebih pada siang bolong begini, tidak ada satupun kendaraan yang lewat di tempat tersebut. Hanya kami berlima yang ada di sana, di bawah pohon besar yang terlihat angker.
"Im, setelah ini kamu harus menggali informasi dari bapak dan ibumu terkait insiden di kamar mandi itu. Yang lain juga sama, carilah informasi dari keluarga atau orang terdekat kalian mengenai kejadian tersebut. Saat ini kita membutuhkan banyak sekali info supaya kasus di sekolah kita benar-benar bisa terungkap," perintah Fajar.
"Siap, Jar!" jawab kami berempat.
"Tapi satu yang harus kita ingat. Kita harus selalu berhati-hati dan menjaga keselamatan diri!" pekik Fajar.
"Iya benar, Jar. Ayo, buruan pulang! Perasaanku mulai tidak enak," ucapku.
"Iya, Jar. Pulang yuk!" ujar Cindy.
"Oke, kalau sudah paham semua. Sebaiknya kita memang segera pulang saja, supaya orang tua kita tidak bingung mencari kita," jawab Fajar.
Kami pun berpencar sesuai arah rumah masing-masing. Saat aku akan menuruni tanjakan, aku mendengar suara kemeresek dari arah pohon di belakangku. Aku pun menoleh untuk memastikan benda apakah yang sedang berbunyi itu. Ternyata, ada seseorang berpakaian putih sedang bergelantungan dan berpindah dari satu ranting ke ranting yang lain. Aku terkesiap karena tiba-tiba sosok itu menoleh ke arahku yang sedang tercengang di tengah jalan menatap ke arahnya.
Ternyata benar kata orang-orang bahwa tanjakan ini angker. Buktinya, aku sudah beberapa kali melihat penampakan di sini. Mungkin, karena di tempat ini pernah terjadi pembunuhan yang direkayasa seolah-olah kecelakaan biasa, maka aura negatif melingkupi tanjakan ini.
"Mita????" pekikku setelah aku dapat melihat keseluruhan bentuk fisik sosok menyeramkan itu. Sosok itu berambut panjang dan kedua kakinya terputus sampai ke pahanya. Kengerian dan rasa kasihan sekonyong-konyong menyeruak ke dalam sanubariku.
"Awas Imraaaaaaaaaaaan!!!!" teriak seseorang memanggil namaku. Dari suaranya aku menduga itu Cindy. Aku masih saling bersitatap dengan arwah Mita. Toh, Mita tidak sedang berusaha mendekat atau menyerangku. Jadi, aku tidak perlu terlalu menggubris teriakan itu. Namun, ternyata perkiraanku keliru. Suara itu tidak sedang memperingatkanku terhadap bahaya serangan arwah Mita, melainkan mengingatkanku terhadap bahaya lain yang lebih besar.
"Imraaaaaaaaan!!!!!" teriak beberapa orang yang lain yang ternyata adalah teman-temanku sendiri.
"Tidaaaaaaaak!!!!!" teriakku sambil melompat secara refleks dari sepeda BMX-ku ke arah samping. Jantungku berdegup dengan keras saat itu. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Napasku ngos-ngosan. Aku merasa takut sekali. Takut mengalami hal yang sama dengan Mita dan juga takut akan mengalami kematian. Tubuhku terjatuh dari atas sepeda semakin ke tengah jalan, sedangkan sepedaku tetap melaju ke depan. Dan aku sempat melihat pengendara roda empat itu terkejut dan melotot ke arahku.
[Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiit]
Suara decitan yang dihasilkan oleh mobil yang direm secara mendadak oleh pengemudinya.
[Braaaak]
Suara hantaman akibat benturan dua benda tiba-tiba terdengar di telingaku. Posisiku saat itu berada di tengah-tengah jalan dengan kondisi terlentang.
"Imraaaaaaaaaaaan!!!!!" Sekali lagi terdengar teriakan teman-temanku secara bersamaan. Dari ekor netraku mereka berlari ke arahku sambil menangis histeris.
__ADS_1
"Apakah aku masih hidup? Bunyi 'brak' itu apakah suara mobil yang membentur tubuhku?" pikirku di dalam hati.
"Tidak! Tentunya aku masih hidup, buktinya aku masih bisa melihat teman-temanku" Aku me jawab pertanyaanku sendiri.
"Namun, kenapa kakiku mendadak sakit? Apakah kedua kakiku masih ada?" ucapku dalam hati kembali.
"Imraaaaan!!!" teriak teman-temanku lagi.
Akhirnya mereka berempat sudah berada di sekelilingku.
"Cin, Lid, Tot, Jar. Apa yang terjadi denganku? Aku tidak kenapa-kenapa, kan?" teriakku pada teman-temanku.
Mereka tidak segera menjawab pertanyaanku.
"Jawab, Jar! Aku tidak kenapa-kenapa, kan?" Aku berteriak sekali lagi.
Fajar menangis tersedu-sedu.
"Tidak, Im. Kamu tidak kenapa-kenapa." jawab Fajar sambil menyeka air matanya.
"Tapi kenapa kamu menangis, Jar?" Aku bertanya kembali.
Fajar belum juga menjawab pertanyaanku. Air matanya kembali mengalir.
"Tolong jawab pertanyaanku, Cin, Lid, Tot! Aku tidak kenapa-kenapa, kan?" desakku kembali kepada ketiga temanku yang lain.
"Iya, Im. Kamu ini anak yang kuat dan hebat. Kamu tidak kenapa-kenapa, kok!" jawab Lidya diakhiri dengan suara tangisan.
"Bantu aku berdiri, ya!" ucapku pada keempat temanku. Mereka saling berpandangan dan kemudian secara bersamaan membantu memapah badanku untuk berdiri.
Bersambung
Mohon dukungan like, komentar, dan vote untuk cerita ini.
Jangan lewatkan untuk membaca novel hororku yang lain yang sudah tamat. Judulnya MARANTI.
__ADS_1
Salam seram bahagia
by Junan si Author tampan