KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU
BAGIAN 42 : TURNAMEN


__ADS_3

Hai, Kak. Sudah tak sabar ya untuk mengetahui misteri di balik tanda lahir Imran?


Baiklah, sebelum Kakak membaca lanjutan cerita KAMPUNG HANTU, biasakan Klik gambar jempol di bawah dulu ya, biar aku tambah semangat.


Ayo klik jempol dulu, cuma sedetik aja, kan?


Cekidot ...


Ibu menatapku dengan tatapan mata nanar. Dari tatapan mata itu, aku bisa mengetahui bahwa ada sebuah ketakutan terdalam yang ia simpan selama bertahun-tahun dan akan ia ceritakan kepadaku sekarang. Sekali lagi ia menyeka air mata yang tiba-tiba menetes lagi di pipinya.


"Sepuluh tahun yang lalu, waktu itu usiamu sekitar dua tahun. Bulan Agustus adalah bulan padat-padatnya job bapakmu. Bapakmu itu pinter bermain sepak bola, jadi sering dikontrak oleh orang-orang untuk memperkuat tim mereka. Jaman itu setiap pabrik atau perkantoran pasti memiliki tim sepak bola sendiri, selain karena faktor gengsi perusahaan, prestasi sepak bola juga bisa dijadikan alat promosi perusahaan. Bapakmu tidak pernah ikut club manapun, tetapi sepak terjangnya dalam dunia turnamen bola dalam kabupaten sudah tidak diragukan lagi." cerita ibuku.


Aku mendengarkan cerita itu dengan penuh seksama.


"Bulan Agustus adalah bulan yang paling padat bagi bapakmu. Dari satu turnamen ke turnamen yang lain, bapakmu dikontrak oleh beberapa dusun dan juga beberapa perusahaan. Ibu sich mendukung saja kegiatan bapakmu, lah wong honornya lumayan. Kalau dikontrak orang dusun biasanya main sekali cukup untuk uang belanja dua hari. Yang lumayan, kalau sudah dikontrak perusahaan, honor sekali main bisa cukup untuk belanja satu minggu, belum lagi kalau tim yang mengontrak bapakmu menang juara satu, bonusnya lumayan, pernah dibelikan kalung Ibu oleh bapakmu. Pernah juga dibuat untuk ngajak Ibu berdarmawisata. Mungkin itu bentuk terima kasih bapakmu karena Ibu mensupport hobinya. Padahal Ibu sich oke-oke saja selama bapakmu tidak menggunakan kepercayaan Ibu untuk hal aneh-aneh," lanjut cerita Ibu.


"Emangnya Bapak pernah berbuat aneh-aneh, Bu?" tanyaku penasaran.


"Enggak sich, tapi setiap bapakmu main, pasti banyak penggemar wanita yang ngefans sama bapakmu. Mereka itu kadang memberikan perhatian lebih kepada bapakmu. Tapi begitu mereka tahu kalau bapakmu sudah berkeluarga, mereka mundur alon-alon," sambung cerita ibuku.


"Wah, sampek segitunya ya, Bu?" cetusku.


"Lah iya, Im. Kadang Ibu suka jealous dan ngambek sama bapakmu kalau ada cewek yang terlalu cari perhatian sama bapakmu, meskipun bapakmu nggak pernah ngerespons mereka. Hingga suatu hari ada janda yang ngebet banget sama bapakmu," lanjut cerita Ibu dengan agak emosi.

__ADS_1


"Iya, Bu. Ada apa dengan janda itu?" tanyaku.


"Namanya Warsih, dia itu janda muda, baru menikah setahun sudah bercerai dengan suaminya, karena suaminya kepincut wanita lain. Rumahnya di dusun Karangjati depan sekolahmu itu, Waktu itu bapakmu sedang ada turnamen di lapangan dekat kebun kopi itu. Tiap sore bapakmu naik sepeda ke lapangan itu untuk membela kesebelasan dusun Karangjati, lawannya kebetulan dari dusun-dusun yang lain sekecamatan. Warsih, yang kebetulan rumahnya dekat dengan lapangan itu setiap sore menonton pertandingan tersebut. Nah di situlah muncul benih-benih cinta di hati Warsih kepada bapakmu," lanjut cerita Ibu.


"Apa??? Terus Bu?" celetukku.


"Ibu tahu hal itu karena pada satu kesempatan, Ibu ikut bapakmu ke lapangan itu untuk melihat bapakmu bermain bola. Waktu itu aku juga mengajak Kamu ikut. Ibu turun duluan di depan lapangan karena Kamu rewel minta minum, sedangkan bapakmu sudah harus turun ke lapangan karena pertandingan akan segera dimulai. Setelah memberimu minum, Ibu menyusul ke lapangan menonton bapakmu bermain bola. Saat itulah aku melihat Warsih berteriak-teriak cari perhatian bapakmu. Bahkan saat istirahat turun minum, Warsih nyamperin bapakmu untuk memberi makanan dan minuman." kata Ibu.


"Ibu cemburu dong waktu itu?" ucapku.


"Bukan hanya cemburu, Im. Hati Ibu panas, tapi Ibu tahan mengingat Warsih menggunakan kostum official tim dusun Karangjati sama seperti beberapa orang yang lain. Ibu hanya memperhatikan dari jauh apa yang dilakukan Warsih terhadap bapakmu. Bapakmu terlihat selalu menolak dengan halus perhatian yang diberikan Warsih, tapi Warsih bukan tipe perempuan yang mudah menyerah," ucap Ibu dengan tangan mengepal.


"Terus, Bu?" tanyaku.


"Oh, jadi musholla sederhana itu sudah ada sejak dulu?" tanyaku.


"Iya, musholla itu konon pertama kali dibangun Kanjeng Romo, supaya petani tidak ketinggalan waktu sholat ketika berada di tengah sawah." Ucap Ibu.


"Saya pernah mendengar nama Kanjeng Romo, tapi saya tidak tahu beliau siapa?" tanyaku pada Ibu.


"Beliau tuan tanah sekaligus sesepuh di daerah tersebut, kebetulan beliau juga donatur tim sepak bola dusun Karangjati," jawab Ibuku.


"Oalah ..., kalau Ki Barong siapa, Bu?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Ibu menarik napas dalam-dalam.


"Ki Barong itu dukun yang melakukan topo broto di kebun kopi itu, Warsih memanfaatkan jasa Ki Barong untuk mendapatkan cinta bapakmu." ucap Ibu dengan gigi gemeretak.


"Maksud Ibu, Ki Barong itu manusia biasa seperti kita? Terus apa yang dilakukan oleh Warsih kemudian?" tanyaku lagi.


"Ibu juga tidak tahu apakah Ki Barong itu manusia atau Jin. Soalnya menurut masyarakat di daerah tersebut, nama Ki Barong itu sudah ada sejak jaman dahulu kala. Tidak pernah ada yang melihat wujudnya secara langsung, tetapi banyak rumor yang mengatakan bahwa banyak orang yang datang ke kebun kopi itu untuk meminta pertolongan Ki Barong. Ada yang meminta ilmu pengasihan, penglaris, bahkan untuk menyantet orang," ucap Ibuku membuatku bergidik ngeri.


"Ibu pernah bertemu Ki Barong?" tanyaku.


Ibu mengangguk perlahan, air matanya kembali meleleh.


Lama menunggu bapakmu tidak kunjung selesai membersihkan badan dan sholat, Ibu menyusul bapakmu ke musholla itu sambil menggendong kamu. Sesampai di musholla itu, ibu tidak melihat bapakmu berada di sana, jadi Ibu bertanya kepada teman-teman setim bapakmu. Mereka tidak ada yang tahu keberadaan bapakmu. Kemudian ada seseorang dari tim official yang memberi tahu Ibu bahwa ia melihat bapakmu sedang berjalan ke kebun kopi itu. Di belakangnya ada Warsih yang sedang membawa minuman.


"Ya Tuhan, apa yang Ibu lakukan waktu itu?" tanyaku dengan agak emosi juga.


"Ibu marah waktu itu, Im. Ibu langsung berjalan menuju kebun kopi itu. Ibu sudah tidak peduli cerita orang-orang bahwa kebun kopi itu angker, yang ada di pikiran Ibu cuma satu. Kalau sampai bapakmu melakukan hal tidak senonoh dengan Warsih di sana, ibu akan melabrak keduanya. Ibu benar-benar emosi waktu itu, dada Ibu panas. Ibu menangis sepanjang jalan dari musholla itu sampai di kebun kopi yang ditunjukkan pria tadi. Matahari sudah mau tenggelam di ufuk barat, Ibu perlahan memasuki kebun kopi itu. Ibu mengendap-ngendap dan mencari bapakmu atau Warsih. Dan Ibu melihat pemandangan yang membuat emosi Ibu memuncak.


Bersambung


Ayo, sekarang saatnya membayar penulis. Caranya dengan memberikan vote novel KAMPUNG HANTU.


See u next episode

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2