
Hari ini Andika pulang ke rumah sendirian, hal ini dikarenakan Adiza pergi ke rumah Lala sepulang sekolah. Setelah kebersamaan selama satu bulan lebih, rasanya ada yang hilang ketika pulang tak bersama dengan Adiza.
Dika masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai 2, sebelum masuk ke kamar ia sempatkan melihat ke arah kamar Adiza yang ada di ujung ruangan. Pintu kamar bercat putih itu tertutup dan papan didepan pintunya masih bertuliskan "Sekolah dulu Biar Pinter" jelas terpampang disana
dikarenakan sang pemilik masih belum kembali dan mengganti dengan tulisan "Ada"
Dika tersenyum sendiri, kemudian membuka pintu kamarnya lalu masuk.
Setelah mengganti seragamnya, Dika menjatuhkan diri berbaring di atas tempat tidurnya. Ia mengingat percakapannya saat istirahat tadi dengan Rasya.
Pov Andika
Aku kembali dari kantin dan masuk ke dalam kelas, kulihat anak baru itu sedang duduk di kursinya. Melihatku datang, segera ia menghampiriku kemudian duduk di sebelahku lalu memberikan buku catatan.
" Tadi Diza kesini nyariin kamu tapi kamu lagi ke kantin. Terus dia nitipin ini buat kamu " ucapnya membuka obrolan.
" Oh... Thank you " jawabku singkat menerima buku dari tangannya.
Dari gerak gerik yang kubaca, sepertinya ada hal yang ingin ia sampaikan padaku.
" Kalian udah kenal lama ya ? " tanyanya basa basi.
Aku melihatnya sekilas. Aku paham sekarang, rupanya ini karena Diza. Sepertinya ia menaruh hati pada Adiza.
" Hem..." aku mengangguk.
" Dari kapan ? " tanyanya lagi.
" Dari SMP " jawabku singkat, ia hanya manggut-manggut.
" Kenapa naksir ? " selidik ku mencari tahu.
" Iya sih..." jawabnya jujur.
" Sayang, udah ada yang punya " tambahnya lagi melihat ke arahku.
Aku mengernyitkan dahi,
" Emang siapa yang punya ? " aku balik bertanya.
Ia mengarahkan dagunya kepadaku .
Aku tertawa kecil
" Lo itu salah paham... Gue bukan pacarnya Diza lagi, kalem aja " tenangku.
" Beneran ? " tanyanya antusias, matanya berbinar mendengar jawaban dariku.
Kuanggukkan kepalaku memastikan jawaban kepadanya.
" Tapi kayaknya kamu deket banget sama dia. Kamu itu lelaki yang nonton sama dia Minggu kemarin kan ? " tanyanya.
Aku melongo, mencoba menarik garis bagaimana dia tahu padahal dia belum mengenal kami hingga akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan.
" Ohhh... jadi Lo itu cowok yang ketabrak Diza waktu itu. Hmm... kebetulan banget ya Lo bisa sekolah disini " ucapku.
Dia tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya.
" Mungkin Diza itu jodoh saya " ucapnya penuh percaya diri.
" Terus dia siapanya kamu ? " tanyanya penasaran.
" Dia itu saudara tiri gue, belum ada yang punya. Mau daftar ? " tawarku.
" Emangnya buka pendaftaran ya ? Kalau gitu saya mau daftar paling awal " candanya.
" Saingan Lo banyak " ucapku datar.
" Saya gak takut, saya akan berjuang sampai akhir " sahutnya tak gentar sedikitpun.
__ADS_1
Aku tersenyum simpul mendengar jawabannya.
" Tapi ada syaratnya ! " ucapku.
" Apa syaratnya ? " tanyanya serius membuat aku berpikir bahwa dia memang akan melakukan apapun untuk memenangkan hati Diza.
" Kalau Lo memang serius, Lo harus perjuangin dia apapun yang terjadi, gak boleh nyerah. Lo harus janji bakalan jagain dia, sayangin dia dan perlakukan dia dengan baik. Bisa ? " jelasku.
" Tanpa perlu disuruh pun saya akan melakukan apapun untuknya. Saya tidak akan pernah menyakitinya " tegasnya.
Aku tersenyum penuh arti melihat keteguhan hatinya. Dari cara berbicaranya saja bisa aku pastikan kalau dia lelaki baik-baik, bahasanya sopan. Sangat tegas dan dewasa. Sikapnya tak sama dengan teman-teman lain di sekolah yang juga menaruh hati pada Diza.
" Oke, kalau gitu gue dukung Lo. Berjuanglah ! " titahku menepuk bahunya.
" Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan hatinya " jawabnya bersemangat.
...πΈπΈπΈ...
Aku menghembuskan nafas kasar, aku merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya aku mencari dan memilih laki-laki lain untuk mendampingi gadis yang kucintai.
" Aargh... " aku memekik, mengusap kasar wajahku.
" Aku mencintaimu, Adiza..." lirihku.
Entahlah, aku tak mengerti perasaanku sendiri. Walaupun rasanya sakit tapi mengapa hatiku merasa sangat yakin untuk merelakannya bersamamu, padahal aku baru mengenalnya.
" Ah, bodohnya aku ini... " racauku.
Aku terduduk di ranjang lalu mengacak-acak kasar rambutku.
Aku memikirkan Adiza, ya Adiza dialah cinta pertamaku. Gadis cantik yang selalu hadir menghiasi mimpi-mimpiku. Aku selalu berharap untuk bisa dekat dengannya dan menjadi satu-satunya laki-laki yang ada di hatinya.
Bukannya aku tak tahu dia juga menyimpan rasa yang sama denganku. Tapi aku tak mau menjadi egois, aku mengalah pada takdir. Aku tak mau melihat gadis yang kucintai terluka karena kehilanganku. Cukuplah aku menahan rasa ini sendiri. Aku cukup beralasan menjadi kakak tirinya yang menyayanginya untuk menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.
Rasya... Firasat ku mengatakan dialah orang yang selama ini ku cari. Aku bisa merasakan jika perasaannya tulus dan sungguh-sungguh padamu. Aku yakin dialah laki-laki yang di kirimkan Tuhan untukmu, untuk mendampingimu menapaki hari- hari bahagiamu.
Adiza... Pencarian ku sepertinya sudah berakhir. Aku sudah temukan lelaki itu. Laki-laki yang akan menjaga dan menyayangimu. Maafkan aku yang tidak bisa berjalan bersamamu tapi percayalah ini bentuk rasa cinta dan sayangku yang begitu besar padamu.
...πΈπΈπΈ...
Derrt... Derrt...
Ponsel milik Diza bergetar, Diza segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Segera ia buka ponselnya, lalu tersenyum melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Dika : Mau aku jemput ?
Diza : Gak usah, nanti pulang sekalian dijemput papa
Dika : Ya udah, have fun ya π
Diza : thank you, kakakku sayang ππ
Dika : π€
Diza menutup ponselnya sambil tersenyum-senyum.
" Seneng amat si neng geulis ini, habis chatan sama siapa sih ? " penasaran Yasmin.
" Kepo ih " sahut Diza asal.
" Idih... pelit " Yasmin menimpali sahutan Diza lalu mengambil ponsel milik Diza.
" Beneran nih Diz, habis chatan sama Rasya ya ? " tebak Yasmin mengotak-atik ponsel milik Diza yang memakai sandi.
" Apaan sih, Yas... Rasya melulu " elak Diza lalu mengambil kembali ponselnya
" Ya kali aja, si Rasya gercep " ucap Yasmin asal.
Adiza memutar bola matanya, kesal.
__ADS_1
" Siapa lagi kalo bukan Dika yang bisa bikin si neng satu ini senyam senyum gitu. Bener kan ? " tebak Lala yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membawa cemilan yang langsung diserbu oleh Yasmin.
Diza tersenyum sambil memberikan dua jempol pada Lala.
" Gak pa pa lah sekarang Dika, besok-besok pasti chatan sama Rasya " ucapan Lala itu sontak membuat Diza membulatkan matanya sementara Yasmin tertawa terbahak-bahak.
" Emang ya La, Lo tuh paling bisa bikin orang bahagia terus bete " seloroh Yasmin senang sampai ia tersedak.
" Uhuk... Uhuk..."
" Makanya jangan suka ngomong yang gak jelas jadi keselek kan tuh " ingat Diza setengah menyindir Yasmin.
Yasmin mengambil minuman yang dibawa oleh Lala, menyeruputnya hingga menyisakan setengah bagian.
" Bocor Ceu ? " ledek Lala melihat Yasmin yang tergesa-gesa minum.
" Haus non... Dari tadi ngomongin orang terus sampe kering kerontang tenggorokan gue " timpal Yasmin asal.
" Makanya jangan ngomongin orang terus, kasian pasti panas tuh telinganya diomongin " ucap Diza diiyakan dengan anggukan Lala. Yasmin hanya tersenyum kecut.
" Besok kita ke toko buku yuk. Udah lama kita gak kesana " ajak Lala.
" Hayu..." Yasmin dan Diza menyahut kompak.
" Kangen jalan bareng kalian " ucap Diza sambil memeluk Lala dan Yasmin.
" Ada yang ngekorin gak nih ? " tanya Lala melihat ke arah Diza.
" Maksudnya Dika ? " Diza menebak arah ucapan Lala.
" Siapa lagi kalo bukan bodyguard kesayangan Lo itu " jelas Yasmin.
" Eh... abang kesayangan " ralat Yasmin terkekeh.
Diza menggidikan bahunya.
" Aku gak jamin dia gak ikut " seru Diza.
" Kamu mah bikin kita cemburu aja " sahut Yasmin.
" Cemburu ? " tanya Diza tak mengerti.
" Iyalah, kita juga kan mau dianter-anter gitu " jawab Yasmin memasang wajah merajuk.
" Itu mah gampang, tinggal ajakin aja si Radit buat nemenin kamu. Pasti dia mau, Yas " seru Diza enteng
" Itu mah dia yang mau... Kalo babang Sakha yang nemenin, gue gak bakalan nolak " Yasmin terkekeh sendiri dengan apa yang dikatakannya.
" Halu... " sahut Lala dan Diza bersamaan.
" Kalo gue ajakin siapa ya ? " tanya Lala.
" Ajakin Yoga aja " jawab Yasmin asal.
" Enggak akan..." ketus Lala.
Diza menahan tawa melihat Lala dan Yasmin yang tengah berpikir, sampai akhirnya mereka berpandangan dan tersenyum menyeringai.
" Jangan-jangan pikiran kita sama nih Yas ? " celetuk Lala.
Yasmin mengangguk-angguk setuju.
" Kayaknya sih gitu " sahut Yasmin.
Diza mengerutkan keningnya, penasaran dengan apa yang Lala dan Yasmin pikirkan.
" Kalian mikirin apa sih ? " tanya Diza tak tahan dengan rasa penasarannya.
" Rahasia " jawab Lala dan Yasmin kompak, mereka tertawa bersama.
__ADS_1
" Dih, gak asyik. Maen rahasia-rahasiaan " rajuk Diza.
" Tunggu besok ya. Nanti juga Lo tahu sendiri " jawab Lala penuh rencana.