
Adiza dan Rasya masuk ke dalam rumah sakit itu. Ada beberapa pegawai yang mengenal Rasya, untungnya mereka hanya menganggukkan kepala untuk menyapanya tidak memanggilnya dengan sapaan dok seperti biasa. Mungkin karena Rasya sedang berjalan dengan seorang gadis cantik yang mereka kenal sebagai Putri direktur rumah sakit.
Adiza berjalan menuju ruangan ayahnya diikuti oleh Rasya yang berjalan di belakangnya. Adiza kemudian sampai di depan ruangan ayahnya, ia masuk setelah mengetuk pintu ruangan.
" Dokter Surya nya lagi visit pasien ke ruangan" jelas seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan sang ayah.
" Tadi, dokter Surya pesan kalau ada Neng Diza disuruh nunggu di kantin " tambah suster itu. Ia mengangguk hormat pada Rasya saat melihat Rasya di belakang Adiza.
" Kalo Mama Sofie dimana sus ? " tanya Diza kemudian.
" Suster Sofie lagi temenin Dokter Surya ke ruangan juga " jawabnya.
" Ya udah deh, makasih ya " ucap Adiza sopan lalu meninggalkan ruangan sang ayah.
" Kita mau kemana ? " tanya Rasya saat menyadari langkah kaki Adiza menuju arah lain bukan ke arah kantin.
" Kita ke ruangan kak Sakha dulu ya sebentar. Aku mau lihat dia praktik " seru Diza sambil terus melangkahkan kakinya.
Rasya melangkah dengan gontai. Ia cemas jika Diza menyadari papan nama yang terpampang di depan ruang praktik nya yang bersebelahan dengan ruangan praktik Sakha.
Untungnya Adiza tidak terlalu memperhatikan keadaan sekeliling. Begitu sampai di ruangan Sakha, ia langsung masuk ke dalam saat melihat pintu ruangan Sakha terbuka.
" Kak Sakha " sapa Diza saat melihat kakak kesayangannya itu duduk di kursinya sambil memainkan ponsel.
Hafal dengan suara adik kesayangannya, Sakha segera mengangkat wajahnya. Senyum tersungging di bibirnya, ia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri dan memeluk Adiza.
" Kangen... " ucap Diza manja sambil memeluk Sakha.
Melihat itu, Rasya membulatkan matanya. Walaupun Sakha adalah sahabatnya juga kakak sepupu Adiza tetap saja ia kesal melihat gadisnya dipeluk oleh lelaki lain.
Rasya terbatuk, membuat Sakha melihat ke arahnya. Timbul keinginan untuk mengerjai sahabatnya yang dilanda cemburu itu.
" Adik kesayangan kakak tambah cantik aja nih " puji Sakha sambil menangkup pipi Adiza dan menggoyangkan ke kiri dan kanan.
Hal itu membuat Rasya semakin kesal melihatnya. Mungkin jika tidak ada Adiza disana ia akan meninju lengan Sakha.
Rasya kini berdehem dengan agak keras berharap Diza menyadari keberadaannya. Dan sukses, dehemannya membuat Diza menoleh ke arah Rasya.
" Eh, Diza lupa mau kenalin kak Sakha sama Rasya " jelas Diza lalu menghampiri Rasya.
" Kak, ini kenalin Rasya... " ucap Diza sambil menunjuk Rasya.
" Rasya... " Rasya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Oh jadi kamu Arrasya pacarnya Adiza" sahut Sakha menyeringai sambil mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Rasya.
" Sialan Lo bang..." geram Rasya dalam hati saat tangannya bersalaman dengan Sakha.
Rasya menekan tangan Sakha dengan keras saat mereka berjabat tangan, membuat Sakha sedikit meringis namun tetap tersenyum menyeringai. Mereka akhirnya melepas jabatan tangannya.
" Rasya kak... Bukan Arrasya " tegur Diza karena Sakha salah menyebutkan nama.
" Oh... salah ya. Kakak kirain namanya Arrasya. Mungkin nama panjangnya..." sahut Sakha enteng melirik ke arah Rasya yang sedang menatapnya dengan tajam.
" Kakak sok tahu ah " Diza mengalihkan perhatian Sakha.
" Tumben kamu kesini ? Ada apa ? " tanya Sakha.
" Mau ketemu papa, tapi lagi visit pasien. Jadi ya udah maen dulu kesini, mau lihat kakak praktik " jelas Diza dengan senyum menawan.
" Oh gitu... Mau lihat-lihat ruangan yang lain gak ? Mungkin nanti ada dokter cakep yang kamu suka " pancing Sakha, ingin melihat reaksi adiknya itu dan juga reaksi Rasya.
" Di ruangan sebelah, ada dokter cakep lho Diz. Kalo mau kakak bisa kenalin " tambah Sakha menahan tawa saat melihat raut wajah Rasya yang menatapnya kesal.
Adiza tertawa, lalu meraih tangan Rasya.
" Diza udah punya yang cakep dan sayang sama Diza... " ucap Adiza menenangkan Rasya.
" Yakin ? " tanya Sakha pada Diza yang dibalas dengan anggukan oleh Diza.
" Kayaknya, adik gue udah sayang sama Lo. Jagain dia, jangan sia-siakan perjuangan Lo " bisik Sakha sambil menepuk pundak Rasya.
" Ya udah kalo gitu, kita ke kantin dulu ya Kak. Soalnya tadi kata suster disuruh nungguin papa di kantin. Dah kakak... " pamit Diza lalu menarik tangan Rasya.
Begitu sampai di pintu, Adiza berbalik.
" Eh, kelupaan... Kakak dapat salam dari Yasmin. Salam sayang katanya " kekeh Diza lalu segera pergi sebelum mendengar umpatan dari Sakha.
Rasya dan Diza telah sampai di kantin. Mereka memutuskan untuk memesan makan siang sambil menunggu ayahnya Diza datang. Diza berinisiatif untuk memesan makanan ke stand yang ada.
Saat menunggu Diza datang membawa makanan, seseorang menghampiri Rasya.
" Akhirnya anak nakal ini ketemu juga ! " satu suara mengejutkan Rasya. Ayahnya berdiri tepat di hadapannya dan kini duduk di kursi yang ada di depannya.
" Papi... Kok disini ? " tanya Rasya sambil melihat ke kanan dan ke kiri, khawatir jika Diza datang.
" Kenapa ? Kamu gak suka lihat papi disini ? Dasar anak nakal " ucapnya sambil menoyor jidat Arrasya.
__ADS_1
" Bukan gitu, Pi... Cuma kaget aja lihat papi tiba-tiba ada disini " sahut Arrasya sambil mengusap-usap jidatnya.
" Papi tadi ke ruangan kamu, tapi kamu udah gak ada. Pergi kemana kamu ? Memangnya pasien kamu udah habis ? " cecar papinya membuat Arrasya tak bisa berkata apapun.
" Tadi ada urusan, Pi..." jawab Arrasya asal membuat papinya berdecak kesal.
Tak lama Adiza menghampiri mereka sambil membawa makanan dan minuman. Adiza terheran melihat Rasya sedang berbicara dengan seseorang, reaksi sama juga dirasakan papinya Rasya saat melihat seorang gadis cantik berseragam mendekati anaknya.
" Dia... ? " Papinya tak meneruskan ucapannya saat Rasya angkat suara.
" Ini Adiza, Pi. Pacarnya Rasya " potong Rasya saat melihat Papinya melirik Adiza.
Adiza menatap Rasya, kemudian melihat ke arah papinya Rasya, ia mengulurkan tangan, mengambil tangan Papinya Rasya lalu mencium punggung tangannya.
" Saya Adiza, Om " sapa Diza sopan, membuat papinya Rasya tersenyum melihat gadis cantik yang berdiri di samping Arrasya.
" Saya Erlangga, papinya anak nakal ini " ucap papi Rasya menunjuk Rasya yang membuat Diza tersenyum.
" Jangan panggil saya om, panggil aja papi. Toh sebentar lagi kamu jadi menantu saya " ucap Pak Erlangga membuat Adiza terbatuk. Rasya segera memberikan minum pada Adiza. Pak Erlangga hanya memperhatikan aksi keduanya.
" Sebentar om, saya ke toilet dulu " pamit Diza lalu segera meninggalkan ayah dan anak yang sama-sama PD itu. Rupanya benar jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sekarang Adiza tahu darimana sikap percaya diri Rasya berasal.
" Jadi, kamu rela cuti dari kuliah spesialis kamu karena gadis itu ? " Rasya mulai disidang oleh pak Erlangga.
" Cuma satu semester, Pi... Lagian sekarang udah mulai kuliah lagi. Pasti selesai tepat waktu kok, Pi... Gak usah khawatir " jelas Rasya.
Pak Erlangga menghela nafas lega. Tersenyum melihat anak semata wayangnya kini sudah bisa memilih seorang gadis untuk mendampinginya, tidak hanya memikirkan studinya saja.
" Papi ngapain kesini ? " tanya Rasya.
" Ada perlu sama dokter Surya " jawab pak Erlangga.
" Oh... habis ketemu calon besan " ucap Arrasya membuat Pak Erlangga menaikkan sebelah alisnya.
" Maksudnya, Adiza itu anaknya dokter Surya ? " tanya Pak Erlangga ingin tahu.
" Iya, Pi..." jawab Arrasya.
Pak Erlangga tersenyum sendiri,
" Pucuk dicinta ulam tiba " gumamnya.
Ya, dia memang merencanakan untuk menjodohkan Arrasya dengan anak dari dokter Surya, sahabatnya itu. Karena khawatir melihat Arrasya yang terlalu fokus dengan studinya. Namun ternyata sang anak sudah curi start lebih dulu.
__ADS_1