Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 31


__ADS_3

Andika sudah menunggu Adiza di depan kampus. Adiza yang melihat Andika dari kejauhan segera berlari menghampiri Andika. Adiza tersenyum begitu sampai di depan Andika.


" Dari tadi ? " tanya Adiza sambil mengambil helm yang diberikan Andika dan memakainya.


" Baru sampai kok. Kita mau kemana ? " tanya Andika.


" Terserah... " Jawab Adiza asal.


" Kok terserah sih " Andika mengernyitkan dahi.


" Jalan-jalan aja lah ke tempat sejuk " jawab Adiza lagi sambil duduk di belakang Andika.


" Udah bilang sama kanda prabu belum ? " oceh Andika.


Adiza mencubit lengan Andika, membuat Andika meringis. Tak lama Adiza membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Arrasya. Tak lama Arrasya membalas pesan.


" Udah diijinin. Ayo berangkat ! " seru Adiza.


Mereka berdua pun segera berlalu. Andika membawa Adiza jalan-jalan ke beberapa tempat di Lembang. Diantaranya Observatorium Bosscha, pasar apung, dan terakhir ke Orchid forest. Adiza sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Andika setelah lama tak berjumpa dengan Andika.


" Makasih ya, aku seneng banget hari ini "


ucap Adiza pada saat sampai di depan rumah.


" Aku juga seneng banget. Ini akan jadi kenangan paling indah buat aku " sahut Andika.


Adiza heran dengan pernyataan dari Andika.


" Maksudnya kenangan gimana ? " tanya Adiza penasaran


Andika hanya tersenyum. Ia meletakkan tangannya di atas kepala Adiza, mengusap dengan lembut. Tak lama ia memeluk Adiza.


" Boleh kan aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya " ucap Andika lirih.


Adiza membiarkan Andika memeluknya, ia membalas pelukan Andika. Sesaat rasa yang berhasil dikubur itu mengeluarkan riak-riak getaran saat ia memeluk Andika.


" Maaf, kalau setelah ini aku gak bisa nemenin kamu lagi... " lirih Andika.


Adiza melepaskan pelukannya perlahan dan menatap tajam wajah sendu Andika.


" Kenapa ngomong begitu... Kita kan masih bisa ketemu. Kalau kamu khawatir Arrasya marah. Aku bisa jamin dia gak akan marah sama kamu " Adiza melayangkan keberatannya.

__ADS_1


Andika tersenyum, ia bisa merasakan masih ada sedikit perasaan di hati Adiza untuknya.


" Bukan begitu, kamu kan sebentar lagi jadi nyonya Arrasya. Jadi aku gak bisa ajak kamu jalan-jalan terus. Bisa digantung suami kamu nanti " seloroh Andika membuat Adiza mencebikkan bibirnya.


" Pasti kamu jadi istri Sholehah. Arrasya beruntung bisa dapetin kamu " ucap Andika lagi.


Adiza hanya bisa menatap Andika dengan banyak tanya di hatinya.


" Kamu gak suka aku menikah dengan Arrasya ? " tanya Adiza membuat Andika terkejut namun ia berusaha tersenyum.


" Kalau aku bisa, aku pasti mau nikahin kamu Diza. Eh, ralat bukan cuma aku. Banyak laki-laki di luar sana yang mau nikahin kamu. Tapi aku tahu, kamu itu takdirnya Arrasya... " terang Andika.


" Janji sama aku, kalau kamu akan bahagia bersama Arrasya apa pun yang terjadi " sambung Andika kemudian sambil mengangkat jari kelingkingnya.


" Janji... Aku akan bahagia bersama Arrasya " Adiza menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Andika. Mereka berdua tertawa bersama.


" Adiza... Mungkin setelah ini aku tidak akan bisa bertemu lagi denganmu. Aku seharusnya mengatakan betapa aku mencintaimu tapi aku tak mau membuatmu bimbang. Ada hati yang harus kujaga. Aku yakin kamu pasti bahagia... Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu... Untuk kebahagiaanmu mekskipun itu tidak denganku " ( Andika )


...🌸🌸🌸...


Satu bulan kemudian


Terdengar pintu rumah diketuk. Adiza yang sedang asyik menonton TV segera menghentikan kegiatannya saat melihat Bi Imas bergerak menuju pintu.


Adiza membuka pintu, namun ia dikejutkan oleh sosok yang ada di hadapannya kini.


" Diana... " ucap Adiza tak percaya.


" Hai... " sapanya ramah.


Adiza mempersilakan Diana masuk. Lalu mereka duduk di sofa. Adiza meminta Bi Imas membuatkan minum untuk Diana.


" Kamu mau ketemu Dika ya ? Tapi Dika udah lama tinggal di rumah lama " Adiza membuka percakapan.


" Aku tahu Dika dimana... Aku kesini mau ketemu kamu " ucap Diana santai.


Adiza mengerutkan keningnya, mencoba berpikir untuk apa Diana mencarinya.


" Apa karena laki-laki waktu itu ya ? Diana mau jelasin tentang itu supaya aku gak bilang sama Dika ? " batin Adiza menerka-nerka.


Bi Imas datang dengan membawa dua gelas minuman dan menyimpannya di atas meja kemudian kembali ke dalam setelah Adiza mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


" Kamu ada perlu sama aku ? " tanya Adiza. Diana menganggukkan kepalanya.


" Kamu mau aku rahasiain hubungan kamu sama laki-laki itu ? " tebak Adiza.


Kali ini Diana yang mengernyitkan keningnya. Ia berpikir keras apa yang Adiza ketahui tentangnya.


" Waktu itu aku lihat kamu makan berdua sama laki-laki lain. Kamu udah putus sama Dika ? " tanya Adiza.


Diana tersenyum samar mendengar pertanyaan Adiza.


" Laki-laki yang kamu lihat itu pacar aku dan Andika udah tahu itu " jawab Diana.


" Aku gak putus dari Andika karena aku gak pernah pacaran sama dia " jelas Diana lagi membuat Adiza bingung.


" Maksudnya gimana ? Kamu sama Andika gak pacaran ? " tanya Adiza.


Diana meraih tangan Adiza.


" Aku kesini mau jelasin semuanya sama kamu. Aku sama Dika itu cuma temenan aja. Kita ini udah tetanggaan sejak kecil jadi selalu barengan kalau pergi sekolah. Jadi gak mungkinlah aku pacaran sama dia, kita itu udah kayak saudara " jelas Diana.


Diana melepaskan tangannya dari tangan Adiza lalu menghela nafasnya.


" Satu-satunya perempuan yang ada di hati Dika itu kamu Adiza. Dia nyuruh aku pura-pura jadi pacarnya supaya kamu lupain dia. Dia mau kamu terima Rasya jadi pacar kamu " sambung Diana membuat Adiza tak bisa berkata apapun.


" Dia bahagia kalau lihat kamu bahagia. Dia yakin kalau Arrasya itu laki-laki yang bisa bahagiain kamu. Karena dia... "


" Dia kenapa ? Bilang sama aku Andika kenapa ? " tanya Adiza memotong ucapan Diana.


" Andika itu punya sakit jantung sejak kecil. Dia gak mau orang yang dia cintai kehilangan dia. Tante Sofie sudah menikah dengan ayah kamu. Dan kamu, dia sudah merelakan kamu bersama Arrasya. Dia yakin Arrasya orang yang tepat untuk kamu... " jelas Diana lagi.


Adiza terdiam, mencoba merangkai kembali memori saat Andika begitu yakin agar ia menerima Arrasya. Ternyata lelaki itu begitu mencintainya hingga memikirkan apa yang terbaik untuknya.


Diana menepuk bahu Adiza, membuat Adiza tersadar dari lamunannya.


" Andika baru operasi jantung Minggu kemarin. Sampai sekarang kondisinya kritis. Mungkin dengan kehadiran kamu bisa membuatnya lebih baik " ucap Diana sambil memberikan kertas yang bertuliskan ruangan tempat Andika dirawat.


" Kenapa mama sama papa gak bilang yang sebenarnya sama aku ? " gumam Adiza lirih.


" Itu karena Andika meminta semua orang untuk merahasiakannya dari kamu... " sahut Diana.


Adiza membuang kasar nafasnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Baginya ini sangat tak adil.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Adiza dan Diana, Arrasya mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu. Ia menyenderkan kepalanya ke dinding. Memikirkan apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Adiza setelah ini.



__ADS_2