
Diza, Lala serta Yasmin telah berada di dalam kamar luas bernuansa putih dan biru muda milik Lala. Nampak deretan piala dan piagam tersusun rapi di dalam lemari kaca di sudut kamar, di samping meja belajar Lala yang mengarah ke jendela. Ya, semuanya merupakan penghargaan yang diperoleh Lala sebagai atlet voli kebanggaan sekolah. Walaupun berprestasi dalam olah raga voli, namun masa depan Lala tidaklah untuk voli.
Lala yang nota bene anak tertua dari seorang pengusaha ternama, tentunya sudah diberikan mandat dan dipersiapkan sebagai calon CEO pengganti ayahnya sampai dengan sang adik yang saat ini masih berusia 8 tahun itu cukup usia untuk melanjutkan perusahaan milik orang tua mereka. Beruntungnya Lala, kedua orangtuanya membebaskan serta mendukung segala kegiatan Lala selama itu positif. Bahkan tak jarang mereka mengadakan gathering agar mereka lebih mengenal teman-teman anaknya.
Lala dan Diza berbaring di atas tempat tidur Lala, sementara Yasmin nampak melihat-lihat foto yang ada di atas meja belajar Lala.
" Ini foto baru ya, La ? " tunjuk Yasmin pada gigitan foto yang ada di meja belajar Lala.
" Yang mana ? " tanya Lala, bangkit dari ranjangnya.
Yasmin mengangkat figura foto tersebut.
" Oh... yang itu pas turnamen kemarin " jawab Lala.
" Yang dapet penghargaan pemain terbaik itu ya ? " tanya Yasmin lagi.
Lala menganggukkan kepalanya.
" Ish, hebat banget kamu ya La. Udah tajir, cantik, berprestasi lagi " puji Yasmin berjalan ke arah ranjang menghampiri Lala dan Diza.
" Alhamdulillah... " jawab Lala.
" Kamu juga hebat, Yas. Cantik, suaranya bagus. Fix calon artis ini mah. Iya ngga Diz ? " Lala memuji balik Yasmin.
" Hem, kamu tuh pasti jadi artis terkenal Yas... " tambah Adiza menepuk bahu Yasmin.
" Tapi... Gue gak seberuntung kalian... Kalian bisa terusin kuliah, tapi gue gak bisa " ucap Yasmin lirih.
" Kalo Lo mau, kita bisa bantuin Lo buat kuliah Yas " ucap Lala
" Ah, gak perlu lah... Kalian berdua udah banyak banget bantuin gue sama keluarga gue. Kalo udah lulus nanti, gue bakal kerja keras supaya bisa bahagiain keluarga gue dan bikin kalian bangga dan gak nyesel udah bantuin gue " tutur Yasmin.
Ya, semenjak perusahaan milik ayahnya dinyatakan pailit dua tahun lalu. Yasmin dan keluarganya harus rela kehilangan rumah dan aset-aset berharga mereka karena menutupi utang-utang perusahaan. Apalagi, saat ayahnya meninggal setahun yang lalu karena sakit jantung, Yasmin begitu terpukul.
Yasmin harus berpisah dengan ibu dan kedua adiknya karena mereka harus pindah ke luar kota. Sudah tidak ada lagi yang tersisa dari kekayaan ayahnya, hanya sebuah rumah di luar kota itu saja yang tersisa ditambah beberapa perhiasan milik ibunya yang dijual untuk dijadikan modal membuka rumah makan di tempatnya yang baru. Beruntungnya Yasmin memiliki sahabat yang menyayanginya sehingga biaya sekolah dan biaya kos Yasmin ditanggung oleh orang tua Lala dan ayah Adiza. Meskipun dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Yasmin tak berdiam diri. Sadar dengan bakat menyanyi yang dimilikinya, Yasmin menjadi penyanyi kafe setiap Sabtu dan Minggu. Penghasilannya digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari nya dan jika ada lebih Yasmin mengirimkan pada ibunya.
" Udah ah, jangan melow gini. Kita seneng kok bisa bantuin kamu. Gak ada kamu itu gak rame tahu " hibur Diza memeluk Yasmin diikuti oleh Lala yang juga memeluk Yasmin.
Air mata lolos dari sudut mata Yasmin, ia begitu bersyukur memiliki sahabat yang baik hati dan selalu memperlakukannya dengan hangat.
" Makasih ya... Kalo gak ada kalian, gue gak tahu hidup gue kayak gimana " lirih Yasmin menghapus air matanya.
__ADS_1
" Kita kan sahabatan, sesama sahabat kan udah seharusnya saling bantu dan saling dukung. Suka duka kita lewati sama-sama. Iya kan " ucap Diza bijak.
" Baiklah adik ipar " celetuk Yasmin membuat Diza melepaskan pelukannya.
" Masih minat jadi kakak ipar gue ? " tanya Diza menaikkan sebelah alisnya.
" Minat banget Diz... Tapi kakak Lo itu kayak pabrik es. Sumpah deh, dingin banget " jawab Yasmin.
" Makanya jangan maen asal nyosor aja. Lihat-lihat dulu orangnya kayak apa " sahut Lala.
" Nyosor apaan sih ? Orang cuma stalkingin IG nya aja, terus DM juga ga dibales-bales " cerocos Yasmin.
" Nah itu, Kak Sakha tuh gak suka cewek yang agresif. Lo gak inget kelakuan kamu waktu resepsi itu, dia udah ilfeel sama kelakuan kamu itu " jelas Diza.
" Terus harus gimana dong... Gue suka banget sama dia, Diz. Tolongin lah... Please ..." mohon Yasmin.
Diza menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
" Sabar aja Yas... Pasti ada jalannya deh kalo emang jodoh " tenang Lala.
Yasmin masih melihat Diza dengan tatapan memelas. Lala tertawa melihat kelakuan Yasmin.
" Sumpah, tampang Lo gak banget deh, Yas..." celetuk Lala.
Diza menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan.
" Ok deh, gue bantuin " jawab Diza.
" Beneran Diz ? " tanya Yasmin antusias
Diza mengangguk,
" Iya beneran,,, gue bantuin doa biar kak Sakha suka sama Lo " Diza menahan tawanya sementara Lala sudah terbahak-bahak mendengar perkataan Diza.
" Diza... Gak lucu tahu " teriak Yasmin sambil mengejar Diza yang berlari menuju ke balkon kamar Lala.
" Sorry Yas... Gue becanda " balas Diza yang masih berlari dikejar-kejar oleh Yasmin.
Lala hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Akhirnya Yasmin dan Diza kembali ke dalam kamar dan duduk bersama Lala di ranjang Lala.
" Beneran Yas... Kalo masalah hati kak Sakha aku gak bisa bantu " ucap Diza terengah-engah mencoba mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Dia emang kakak sepupu yang paling deket sama aku, suka turutin apa yang aku mau tapi aku gak bisa intervensi kalo masalah perasaan. Mungkin kalo cuma cerita tentang kamu dan perasaan kamu aku bisa. Tapi gak bisa maksa perasaannya dia sama kamu. Aku cuma bisa doain aja yang terbaik buat kamu sama kak Sakha " jelas Diza panjang.
Yasmin tersenyum getir.
" Iya, gue ngerti Diz... " ucap Yasmin.
" Gue percaya selalu ada cara kalau kita sungguh-sungguh " hibur Lala.
" Kayaknya susah banget ya deketin dia " Yasmin membuang nafas berat.
" Gak ada yang gak mungkin Yas. Asalkan kita ikhtiar dan berdoa. Yang gak mungkin bisa jadi mungkin " tutur Diza menenangkan Yasmin.
" Kamu harus yakin dan semangat. Aku selalu ada dukung kamu " tambah Diza lagi.
" Semangat Yas... " dukung Lala, mengepalkan tangannya ke atas memberi dukungan kepada Yasmin.
" Semangat Yasmin... Kamu harus yakin bisa dapetin Sakha " Yasmin bergumam menyemangati dirinya sendiri.
" Sekarang, giliran Diza " tunjuk Lala.
Diza kaget, " Giliran apa ? " tanya Diza
" Giliran Lo buat jelasin sama kita kenapa Lo bisa kenal sama Rasya " jawab Lala to the point.
" Gak ada alasan " tambah Lala lagi melihat Diza yang mencoba mencari-cari alasan agar tak bercerita.
" Kita kesini kan mau dengerin masalah kamu, La. Kok malah jadi gue ? " Diza tak terima.
" Biar adil giliran. Tadi gue udah, sekarang Diza, habis itu Lala, Ok ! " Yasmin menengahi.
Diza berdecak masih tak terima, namun ia mengalah.
" Kalian inget kan pas aku pergi nonton sama Dika Minggu kemarin ? Aku ketemu Rasya pas mau nonton. Waktu itu, aku nabrak dia dan tumpahin minumannya. Gak ada perkenalan apapun. Sampe hari ini, tadi pas ke kelas Dika ketemu lagi sama dia. Cuma itu, gak ada lagi yang bisa aku ceritain lagi " tutur Diza.
" Pas ketemu dia pertama kali, apa yang Lo rasain ?" tanya Lala menyelidik.
" Pertanyaan apaan sih ini ?" elak Diza.
" Jawab aja sih, gimana perasaan Lo ?" tanya Yasmin penasaran.
Diza nampak berpikir, bertanya pada hatinya apa sebenarnya yang ia rasakan pada saat bertemu dengan Rasya. Ia tak menampik ada perasaan berbeda saat melihat Rasya. Mungkinkah ia mulai bisa berpindah hati dari lelaki yang selama ini bersemayam di hatinya, cinta pertamanya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸...