
Arrasya beranjak dari apartemennya, tiga puluh menit berselang, Arrasya sampai di sebuah rumah. Arrasya segera menghampiri tuan rumah yang tengah duduk menunggunya di depan rumah.
" Wah... wah... tumben-tumbenan Lo datang masih pagi gini " Sang tuan rumah berdiri menyambut sahabatnya yang baru turun dari mobil.
" Ga boleh nih... " sahut Arrasya, memberikan satu kantung tas belanjaan.
" Ya bolehlah, apalagi kalo sampai bawa bawa yang beginian. Thank you my bro..." ucapnya membawa kantung belanjaan ke dalam rumah diikuti oleh Arrasya.
Arrasya duduk di sofa kemudian menyalakan televisi yang ada di ruang tengah itu, sementara Sakha membawa kantung belanjaan itu ke dapur. Tak lama Sakha datang dengan membawa dua gelas air putih dan beberapa makanan yang dibawakan Arrasya.
" Cuma ini doang ? " canda Arrasya.
" Udah dibawain doping, masa cuma ngasih ginian. Pemasukan kurang ya bang ?" ledeknya lagi.
Sakha mendelik,
" Sialan Lo, dah namu banyak mau. Gue usir baru tahu..." gerutunya.
Arrasya hanya tertawa mendengar kan gerutuan Sakha.
"Lagian ngapain sih Lo datang kesini pagi-pagi, biasanya siangan atau ketemuan diluar atau di apartemen Lo ? Lagi ada masalah ? " selidik Sakha.
" Ish, si Abang tahu aja... " ucap Arrasya sambil meminum air yang ada di gelas di atas meja.
" Tumben... Masalah apa sih ? " tanya Sakha penasaran.
" Masalah hati... " jawab singkat Arrasya.
" Uhuk... uhuk... " Sakha terbatuk mendengar jawaban Arrasya.
" Seriusan nih ? " tanya Sakha memastikan.
Arrasya menganggukkan kepalanya, mencoba mengatur nafasnya.
" Gue minta tolong, bantuin nemuin cewek " tutur Arrasya.
Sakha menaikan sebelah alisnya.
" Perempuan mana yang Lo taksir ? " tanyanya.
Arrasya mengangkat bahunya,
" Gue ga tahu, siapa cewek itu. Namanya siapa ? Rumahnya dimana ? Gue juga ga tahu dia sekolah dimana " jelas Arrasya
" Dasar dodol, Lo aja gak tahu kejelasannya, gimana gue ?! " cibir Sakha sambil melempar bantal sofa ke arah Arrasya.
" Eits, dasar oncom... " ucap Arrasya menghindari bantal yang dilempar ke arahnya. Sakha tergelak.
" Eh tunggu tunggu... Sekolah ? Jadi cewek yang Lo suka itu masih sekolah ? " selidik Sakha.
Arrasya mengangguk sambil tersenyum simpul.
" Ckk... Gila Lo, gue pikir cuma belajar aja yang ada di otak Lo, gayanya gak mau punya pacar, giliran suka sama cewek tau nya suka daun muda..." Sakha geleng-geleng kepala.
" Namanya juga cinta, gak tahu kapan datangnya " jawab Arrasya enteng.
" Terus mau Lo gimana ? " tanya Sakha sambil memindahkan Chanel tv dengan menekan remote.
__ADS_1
Arrasya menghela nafas kemudian menghembuskannya.
" Gue pernah lihat cewek ini 2 kali. Pertama pas nikahan dokter Surya, kedua kemarin pas dia numpahin minuman di mall "
Sakha memijat-mijat keningnya
" Gimana gue bisa bantuin Lo... Gue kan gak tahu siapa yang Lo temuin waktu di resepsi pernikahan Om Surya " gerutu Sakha.
Arrasya menyisir kasar rambutnya menggunakan jarinya.
"Ciri-ciri tuh cewek gimana ? " tanya Sakha lagi.
" Cantik... Rambutnya panjang, senyumannya sangat menawan " senyum Arrasya mengembang tatkala menceritakan ciri-ciri gadis itu. Ia membayangkan wajah gadis yang telah mencuri hatinya itu.
" Woi... Senyam senyum sendiri. Gue masih disini kali " Sakha kembali melempar bantal sofa ke arah Arrasya dan kali ini tepat mengenai wajah Arrasya.
" Sadis... Lagi enak-enak bayangin tuh cewek malah ditimpuk " umpat Arrasya.
" Lagian Lo, bayangin gak bagi-bagi... Jadi penasaran gue, gimana tampang tuh cewek ? Sampai-sampai bisa bikin Lo klepek-klepek begini..." penasaran Sakha.
" Cantik lah..." sahut Arrasya enteng.
" Hmm... Gak ada ciri-ciri khusus gitu ? " selidik Sakha.
Arrasya mengeluarkan kalung dari saku celananya.
" Cuma ini, yang gue punya. Waktu itu, gue nemu kalung itu setelah dia nabrak gue " terang Arrasya.
Sakha mengambil kalung yang dikeluarkan Arrasya lalu mengamatinya.
" Ini kan kalung... " Sakha menghentikan ucapannya kala Arrasya mendekatinya lalu menatap wajahnya penuh rasa ingin tahu.
" Ish... kondisikan muka Lo " ketus Sakha sambil menoyor jidat Arrasya.
" Seriusan,,, Lo kenal pemilik kalung ini ? " tanya Arrasya semangat.
Sakha mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Ia nampak asyik mencari sesuatu di ponselnya. Tak lama ia memperlihatkan ponselnya kepada Arrasya.
" Dia Adiza, adik sepupu gue " tunjuk Sakha.
Arrasya mengambil ponsel Sakha, melihat foto yang ada di galeri ponsel kemudian tersenyum bahagia.
" Akhirnya, aku menemukanmu jodohku " batin Arrasya bersorak.
Arrasya segera mengirim foto itu ke ponselnya.
" Maen kirim-kirim aja. Udah ijin belum ? " sindir Sakha melihat ulah Arrasya.
" Diijininlah, iya kan abang ipar " Arrasya menghibur dirinya sendiri.
" Pede amat gue jadi Abang ipar Lo. Memangnya si Diza mau ? " olok Sakha.
Arrasya terdiam sejenak lalu mengomentari ucapan dari Sakha.
" Kayaknya sih mau kalo lihat calon suami kayak gue, bener gak bang ? "
Sakha memutar matanya jengah dengan kepercayaan diri lelaki di hadapannya itu.
__ADS_1
Bagi Sakha, Arrasya memang sahabatnya yang terbaik. Berwajah tampan dengan kecerdasan yang luar biasa. Tentu saja luar biasa, pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh dalam kurun waktu 9 tahun karena ikut kelas akselerasi. Kemudian untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran ditempuh dalam waktu 4 tahun saja. Jadi diusianya yang saat ini 23 tahun, dia sudah akan mengikuti program spesialisasi bedah.
" Bang... Bang... Yeh, si abang malah ngelamun sih " satu tepukan di bahu membuat Sakha kembali ke dunia nyata.
" Jijik gue denger Lo nyebutin gue Abang ipar Lo " canda Sakha.
" Apaan sih bang, pake jijik segala jadi abang ipar gue. Gue sumpahin beneran jadi Abang ipar gue lho " sahut Arrasya
" Itu mah maunya Lo " timpal Sakha sekenanya.
" Emang mau bang " ucap Arrasya asal.
" Mau apaan ? "
" Mau Abang bantuin supaya deket sama dia " jawab Arrasya enteng.
Sakha melihat Arrasya tajam
" Lo serius suka sama Diza ? "
" Serius, dua rius, seratus rius kalo bisa yakinin gue sayang sama dia " tegas Arrasya.
Sakha tergelak mendengar jawaban Arrasya.
" Baru juga ketemu dua kali, kenal juga belum. Lo bilang sayang ? Lo waras ? Yakin ? " tanya Sakha.
" Yakin 1000%... Gue yakin dia perempuan yang ditakdirkan Tuhan buat gue. Dia jawaban doa-doa gue selama ini. Gue yakin kalo dia calon istri gue " tegas Arrasya.
Sakha berdiri, mengambil termometer dari kotak P3K nya.
" Nih, coba Lo ukur deh. Barangkali Lo demam, minum obat turun panas terus tidur gih biar cepet sembuh " Sakha memberikan termometer itu pada Arrasya.
Arrasya menepisnya,
" Sialan Lo, bang. Gue 100% sehat ini "
Sakha menghela nafasnya kemudian duduk kembali di samping Arrasya.
" Adiza itu adik sepupu kesayangan gue. Anaknya memang cantik, baik hati, ramah, pintar dan juga lembut. Gue ga mau dia disakitin sama siapa pun. Termasuk Lo " tutur Sakha dengan penekanan di akhir kalimatnya.
" Gue ga akan nyakitin dia, bang. Gue cinta sama dia, sayang sama dia. Walau mungkin terdengar terlalu cepat, tapi gue yakin dia satu-satunya perempuan yang bisa masuk ke dalam hati gue. Gue janji ga akan pernah nyakitin hatinya " yakin Arrasya.
Sakha tersenyum lalu menepuk bahu Arrasya.
" Gue percaya sama Lo. Gue yakin Lo bakal jadi pasangan terbaik untuk Adiza "
" Jadi Lo restuin gue bang ? " Arrasya sangat bersemangat.
" Gue restuin Lo, tapi yang paling berhak ngasih restu itu Om Surya, papanya Diza. Terus... " Sakha menggantungkan ucapannya.
" Terus apaan bang ? " penasaran Arrasya
" Terus Lo harus berjuang dulu buat dapetin hatinya Diza " jawab Sakha.
..." Aku akan berjuang untuk mendapatkan hati dan cintamu, jodohku " batin Arrasya....
...🌸🌸🌸...
__ADS_1