
Adiza dan teman-temannya telah menyelesaikan ujian kelulusan sekolah dan dinyatakan lulus. Adiza berencana untuk masuk ke fakultas kedokteran sesuai impiannya. Lala akan melanjutkan studinya di bidang manajemen di Australia. Sedangkan Yasmin akan mulai bekerja dan berencana mengambil kuliah kelas karyawan.
Untuk merayakan kelulusan mereka, orang tua Adiza mengadakan acara syukuran atas kelulusannya. Dengan mengundang sahabat, beberapa teman sekolah serta kolega sang ayah.
" Kenapa kalo cuma syukuran harus di gedung sih pa... Terus kenapa pake baju pesta gini. Ini kan cuma acara syukuran aja " ucap Adiza heran saat keluar dari mobil.
" Ini pesta kejutan buat kamu, sayang. Jadi penampilan kamu harus sempurna " sahut papanya.
" Pesta kejutan apaan sih pa...? " tanya Adiza penasaran.
" Adalah... " papanya berteka-teki.
" Ma... Ini sebenarnya ada apa sih ? " tanya Adiza pada ibunya. Ibunya hanya tersenyum sambil merapikan tatanan rambut Adiza.
Adiza melihat ke arah Andika berharap ada penjelasan yang ia dapatkan, sayangnya Andika hanya mengangkat bahunya. Adiza menghembus nafas kasar.
" Ada apa sih ini ? Kenapa semuanya tutup mulut " gumam Adiza, tak mengerti dengan situasi yang terjadi.
Mereka memasuki ruangan, disana sudah nampak Lala, Yasmin, Ryu, Sakha. Serta beberapa kolega sang ayah termasuk Om Erlangga yang berpakaian dengan sangat rapi. Adiza melihat sekeliling ruangan tapi tak ia temukan Arrasya disana.
" Hmm... Kenapa dia belum datang " gumam Adiza sedikit kecewa.
Adiza duduk bersama ayah, ibu dan juga Andika. Akhirnya acara dimulai, Pak Surya selaku ayah dari Adiza memberikan kata sambutan kepada tamu-tamu yang datang. Setelah itu, mereka makan bersama dengan diiringi alunan band pengiring yang menghibur mereka.
Saat tengah makan, tiba-tiba Arrasya muncul dari balik pintu dengan diiringi musik ia menyanyikan sebuah lagu.
Dengarkanlah wanita pujaan ku
Malam ini akan ku sampaikan
Janji suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah ketulusan ini
Ku ingin mempersunting mu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau diam dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
__ADS_1
Akulah yang terbaik untukmu
Arrasya berdiri tepat di hadapan Adiza kemudian membawanya berdiri dari duduknya sehingga mereka tepat berhadapan.
" Malam ini, saat ini semua yang ada disini menjadi saksi. Saya Arrasya Pradipta Wiguna dengan ini meminta ijin kepada Bapak Surya Prabawa untuk menjadikan putri tercintanya sebagai istri dan pendamping hidup saya " ucap Arrasya melihat ke arah Pak Surya.
Pak Surya menganggukkan kepalanya, ia tersenyum dan kagum akan keberanian pria muda itu setelah perjuangan keras yang dilaluinya untuk meluluhkan hati putrinya. Arrasya tersenyum kemudian menatap lembut Adiza, gadis yang sangat dicintainya itu. Arrasya meraih tangan Adiza kemudian menekuk lututnya.
" Adiza Almahira Prabawa, sudikah kiranya kau menerimaku Arrasya Pradipta Wiguna sebagai suamimu, berjanji setia denganku dan tiada akan terpisah. Aku berjanji mencintaimu hingga seumur hidupku. Selama nafasku ada, duniaku untukmu, akhiratku bersamamu..."
Adiza tak percaya jika Arrasya kini tengah melamarnya. Adiza menutup mulut dengan sebelah tangannya.
" Kamu serius ? " bisik Adiza.
" Tak pernah seserius ini. Jadi apa jawaban kamu ? " tanya Arrasya lagi.
Adiza mengatur nafasnya, mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang. Rasanya ia seperti bermimpi. Lalu dengan yakin, ia menganggukkan kepalanya.
" Iya, aku bersedia " tegas Adiza dengan wajah merona.
Arrasya bangkit berdiri kemudian mengambil cincin yang ada di kotak perhiasan dalam saku jasnya. Ia memasangkan cincin yang sangat cantik di jari manis kekasih hatinya itu.
" I Love you... " ucapnya lalu mengecup kening Adiza. Semua yang ada disana bertepuk tangan, mereka pun turut berbahagia atas kebahagiaan pasangan itu.
" Kamu mau aku lamar juga ? " bisik Ryu di telinga Lala
Lala terbelalak mendengar perkataan Ryu, kemudian ia menyikut dada Ryu.
" Gak usah macem-macem deh ! " seru Lala jengah.
Ryu tertawa kecil
" Aku tuh serius mau ngelamar kamu " tambah Ryu mempertegas.
Lala menatap tajam Ryu, lelaki di hadapannya ini memang sering melempar candaan tapi sepertinya kali ini dia benar-benar serius.
" Gak usah ngimpi kejauhan deh " timpal Lala melengos, Ryu tersenyum smirk.
" Kalo aku ngelamar jangan ditolak ya ! " seru Ryu sambil menaik turunkan alisnya.
...🌸🌸🌸...
Andika berjalan ke luar gedung. Ia berdiri menatap langit. Perasaannya tidak karuan, antara kebahagiaan dan kesedihan itu ternyata berbeda tipis baginya. Entah mengapa melihat Arrasya melamar Adiza tadi hatinya begitu sakit. Padahal semenjak awal, ia sudah menyiapkan diri jika hal ini terjadi. Ia tak mengelak, rupanya perasaan tak bisa dibohongi.
__ADS_1
Ada kalanya ia merasa menyesal telah melepaskan gadis yang dicintainya itu. Menyesali perbuatannya sendiri yang justru memberi jalan bagi lelaki lain untuk mendampingi sang pujaan hati. Andika tersenyum getir mengingat apa yang ia lakukan selama ini. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia menahan sakit di dada sebelah kirinya. Ia merogoh benda kecil dari dalam saku jasnya, mengeluarkan satu pil kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Selang berapa saat, sakit itu berkurang. Andika menyeka peluh yang ada di wajahnya.
" Kamu lagi ngapain disini ? " tanya seseorang dari arah belakangnya yang suaranya sangat dikenali oleh Andika.
Andika memasukkan tempat obat tadi ke dalam saku jasnya, kemudian berbalik dengan santainya.
" Cari angin seger, di dalam AC nya kenceng banget " jawab Andika.
" Kamu ngapain kesini ? " Andika balik bertanya.
" Nyariin Arrasya, tadi dia yang suruh keluar. Tapi orangnya gak ada " jelas Adiza sambil melihat ke sana kemari.
" Ya udah, tungguin aja dulu disini " seru Andika.
Adiza berdiri di sebelah Andika yang menatap ke arah bulan sabit yang ada di langit malam itu.
" Lihatin apa sih ? Serius banget " tanya Adiza yang memperhatikan Andika.
" Tuh... " jawab Andika menunjuk ke arah bulan sabit.
" Bulan sabit ? Apa yang spesial ? " tanya Adiza lagi mencoba mencari tahu mengapa lelaki di sampingnya itu begitu serius memperhatikan bulan sabit itu.
" Coba kamu perhatiin deh, bulan sabit itu mirip senyum " jawab Andika sambil terus memperhatikan bulan di langit. Adiza ikut melihat ke arah bulan, kemudian ia memekik.
" Wah... iya ya. Mirip senyum " ucap Adiza merasa senang. Andika memperhatikan Adiza yang senyum senyum sendiri mengagumi apa yang dilihatnya itu.
Lama ia memperhatikan Adiza, lalu mengalihkan pandangannya sambil tersenyum kecut.
" Kalau aku lagi sedih, aku suka lihatin bulan sabit itu... Itu bikin aku semangat lagi, seolah-olah ngasih aku semangat supaya terus maju " terang Andika.
Mendengar jawaban Andika, Adiza langsung mengalihkan pandangannya kepada Andika.
" Jadi sekarang kamu lagi sedih ? " tanya Adiza menatap sendu pada Andika.
" Mungkin... " jawab Andika menggantung.
" Boleh aku peluk kamu ? " tanya Andika membuat Adiza menatapnya.
" Untuk menghilangkan rasa sedih aku " sambung Andika kemudian, sambil memeluk tubuh Adiza, yang membuat Adiza memaku.
" Aku mencintaimu, Adiza... Seandainya aku yang ada disana melamarmu sungguh aku sangat bahagia " ucap Andika dalam hati.
Adiza tak menolak juga tidak membalas pelukan dari Andika. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia sudah berusaha keras melupakan perasaannya pada Andika.
__ADS_1
Pada saat bersamaan Arrasya keluar dari dalam gedung, ia tertegun melihat pemandangan yang dilihatnya saat ini. Gadis yang ia cintai berada dalam pelukan lelaki lain, seorang laki-laki yang pernah singgah di hati gadisnya.