
Arrasya hanya bisa melihat gadis yang dicintainya itu berlalu. Ingin rasanya ia menahan dan menjelaskan segalanya, namun ia sadar. Tentunya kekasihnya itu marah juga kecewa. Siapa yang tidak kecewa jika dibohongi meskipun untuk kebaikan. Tertipu... mungkin itulah yang dirasakan oleh gadisnya. Arrasya cukup tahu diri , karenanya ia biarkan kekasihnya itu berlalu untuk menenangkan hati dan pikirannya.
3 jam sudah, Arrasya menunggu di ruang tamu ditemani oleh Pak Surya, Sakha dan juga Dika. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi kekasihnya itu masih mengurung diri di kamar. Bahkan ia melewatkan sholat magrib dan isya berjamaah seperti yang biasa dilakukannya bersama keluarganya.
Mama Sofie, turun dari tangga membawa sepiring nasi yang masih utuh tak disentuh. Pak Surya bangkit dari sofa, lalu menaiki tangga menuju kamar putri kesayangannya itu. Ingin rasanya Arrasya ikut ke kamar kekasihnya itu, namun Sakha menahannya, ia meminta Arrasya untuk menunggu.
Pak Surya masuk ke dalam kamar Adiza, tak ditemukan putrinya. Kemudian ia berjalan ke balkon kamar putrinya, ia tahu pasti putrinya ada di luar seperti biasa, duduk memandangi langit malam yang berhiaskan bulan dan bintang.
Pak Surya duduk disamping Adiza ikut menatap langit.
" Kamu tak apa, nak ? "
Adiza hanya menghela nafas tak menjawab pertanyaan ayahnya. Pak Surya mengerti putrinya itu tidak baik-baik saja. Ia menghembuskan nafasnya lalu memeluk putrinya itu.
" Arrasya, lelaki yang baik... Papa tahu kamu kecewa, merasa dibohongi... Tapi, lepas dari itu semua dia lelaki paling berani dan bertanggung jawab yang papa kenal " ucap ayahnya kagum. Adiza melepas pelukan ayahnya.
" Menurut papa, Diza harus gimana ? " Adiza menatap wajah teduh sang ayah.
" Kamu tahu, sebelum dia mendekati kamu. Dia meminta ijin pada papa untuk mendekati kamu. Dia bicara dengan begitu lantang agar papa merestuinya jika ia bisa mendapatkan hati kamu "
" Rasanya sulit menemukan lelaki yang menghormati dan memaknai suatu hubungan dengan benar. Tapi Arrasya mengerti bahwa kamu adalah tanggung jawab papa dan ia meminta ijin papa untuk sepenuhnya bertanggung jawab atas dirimu. Dia begitu gentle dan serius dalam menjalin hubungannya denganmu. Dan jangan kamu lupakan apa yang dia korbankan untuk kamu. Kembali ke masa SMA bahkan rela meninggalkan studinya selama 1 semester. Apa perjuangannya masih kurang ? " papar ayahnya kembali membawa Adiza dalam pelukannya.
Adiza menghembus kasar nafasnya.
" Papa yakin... dia lelaki yang tepat untuk mendampingi kamu, membahagiakan kamu terlepas dari kesalahannya kali ini. Papa yakin kamu bisa mengambil keputusan yang baik. Jangan berlarut-larut, nanti anak orang sakit harus tanggung jawab lho " tambah ayahnya diakhiri gurauan kemudian mengelus kepala putrinya dan berjalan keluar dari kamar Adiza.
Sakha dan Arrasya ada di luar kamar Diza. Arrasya berjalan menuju pintu namun dihalangi oleh Sakha dan Pak Surya.
" Biar gue yang masuk dulu, gue bisa jelasin sama Diza " ucap Sakha lalu melangkah masuk ke dalam kamar Adiza.
Pak Surya menatap Arrasya yang nampak kalut, lalu menepuk bahunya.
__ADS_1
" Kamu tenang saja, everything gonna be ok. Kalau perasaan cintanya memang besar untuk kamu pasti dia akan menerima kamu kembali " Pak Surya menenangkan Arrasya kemudian berjalan menuruni tangga.
Arrasya menghembus kasar nafasnya, ia hanya melihat calon mertuanya itu turun lalu sedikit mengintip ke dalam kamar Adiza yang pintunya terbuka. Ia menunggu di depan pintu kamar dengan perasaan was was.
" Hei... Adik kesayanganku " ucap Sakha mengacak rambut Adiza lalu duduk di sampingnya.
" Tega ya kak, bohongin Diza " sahut Diza cemberut tanpa melihat Sakha.
" Oh... Jadi ngambek juga nih sama kakak ? " tanya Sakha dengan santainya.
Adiza hanya mengangkat bahunya.
" Diza... Bukan maksud kakak dan Arrasya bohongin kamu. Jujur... Kakak gak pernah sekalipun melihatnya menyukai seorang wanita. Wanita pertama yang bisa menarik perhatiannya cuma kamu dan kakak bahagia karena wanita yang dicintainya itu kamu " jelas Sakha.
" Dia itu satu-satunya sahabat kakak yang paling muda. Di usia 23, dia sudah bertitel dokter. Bahkan dia sudah mengambil spesialisasi bedah. Yah, meskipun dia sempat cuti selama 1 semester buat ngejar cinta kamu. Tapi kakak yakin, dia akan menyelesaikan studinya dengan baik " cerita Sakha.
Adiza menatap Sakha lalu mengajukan pertanyaan yang mengusik hatinya.
Sakha menatap Adiza lalu sedikit tersenyum.
" Memangnya kamu mau kenalan sama orang yang tiba-tiba datang, mengenalkan dirinya lalu ngajak kamu pacaran ? Hah... Tidak semudah itu Ferguso ! " gurau Sakha terkekeh membuat Adiza mencubit lengan Sakha.
" Dia sudah memperhatikan kamu sejak resepsi pernikahan papa kamu " ucap Sakha membuat Adiza terkejut dan membelalakkan matanya.
" Ya, akhirnya dia ketemu kamu lagi pas insiden minuman tumpah itu dan terus berusaha menemukan kamu. Mungkin kalian memang jodoh, kalung kamu jatuh dan ditemukan oleh Arrasya sampai dia menemui kakak meminta tolong mencarikan gadis sang pemilik kalung. Dan kakak sadar gadis itu kamu. Kakak juga yang kasih ide supaya nyamar jadi murid baru disekolah kamu, kebetulan kepala sekolahnya adik kandung Om Erlangga " terang Sakha.
Adiza menatap langit malam yang ditaburi bintang-bintang tanpa berkata apapun. Arrasya masuk dan duduk di samping Adiza tanpa disadari Adiza. Sedangkan Sakha bergegas keluar kamar saat menyadari Arrasya menghampiri mereka.
" Jadi aku harus gimana kak ? Aku juga sayang sama dia, tapi aku juga kecewa..." ujar Diza tanpa melihat siapa yang kini duduk di sampingnya.
Arrasya meraih tangan Adiza dengan lembut.
__ADS_1
" Cukup maafin aku... " ucap Arrasya membuat Adiza melihat ke samping.
Adiza mencoba melepaskan tangannya dari Arrasya tapi ia malah jatuh ke pelukan lelaki tampan itu. Arrasya memeluk dengan erat, ia tak mau gadisnya itu pergi darinya.
" Apa kamu gak bisa rasain perasaan aku tulus sayang sama kamu. Aku gak bisa, aku gak mau kehilangan kamu... Tolong maafin aku ! " ucap Arrasya lirih, semakin mengeratkan pelukannya.
Adiza tak lagi melawan saat Arrasya mengeratkan pelukannya. Ia bisa mendengar ritme suara jantung Arrasya saat berada dalam dekapannya. Sama seperti detak jantungnya yang terus memacu. Adiza menghembus nafasnya membuat dada Arrasya hangat karena hembusan nafasnya.
" Aku maafin kamu... " tutur Adiza setengah berbisik.
Arrasya melepaskan pelukannya lalu menatap mata Adiza penuh tanya.
" Kamu yakin mau maafin aku ? " tegasnya lagi. Hanya anggukan kepala yang diberikan Adiza.
" Gimana mungkin aku gak maafin kamu, kamu punya tiga pengacara yang selalu belain kamu " Jawab Adiza sambil tersenyum kecut.
Arrasya kembali memeluk Adiza lalu mengecup pucuk kepala Adiza.
" Terima kasih sudah mau memberiku kesempatan. Aku gak akan menyia-nyiakannya. I Love You, Adiza Almahira Prabawa " tutur Arrasya.
" I Love you to, dokter Arrasya " balas Adiza sambil memeluk Arrasya.
...πΈπΈπΈ...
Nih, author kasih foto dokter Arrasya yang tampan, biar pada halu semuanya ππ€
Kalau yang ini, si cantik Adiza
__ADS_1
Semangat menghalu buat semua π