
Setelah asyik berkeliling mencari buku dan mendapatkan buku yang dicari, mereka semua akhirnya berpisah untuk pulang. Lala dan Yasmin pulang bersama karena arah rumah mereka satu arah. Seperti biasa Diza pulang bersama dengan Dika, sementara Rasya pulang sendiri.
Sore itu, langit berwarna gelap dipenuhi awan-awan kelabu yang bergelayut siap menumpahkan ribuan liter air yang dibawanya.
Tik... tik... tik...
Tetesan air hujan mulai turun membasahi semesta bumi. Semakin lama, semakin deras mengguyur. Tak ingin membuat mereka berdua basah kuyup, Dika menepikan laju sepeda motornya di depan sebuah bangunan kosong di tepi jalan. Nampak beberapa pengendara motor lain yang juga ikut menepikan kendaraannya dan memilih berteduh disana menunggu hujan reda.
" Kita tunggu hujannya berhenti dulu ya... " seru Dika diikuti anggukan kepala Diza.
Diza memeluk dirinya sendiri, sesekali mengusap-usap lengannya menghilangkan rasa dingin di tubuhnya. Dika melepaskan jaket yang melekat di badannya.
" Kamu pake aja ini biar anget " seru Dika.
" Tapi kamu ? "
" Aku baik-baik aja. Kamu kayaknya kedinginan, tuh baju kamu basah gitu. Lagian aku ini kan laki-laki, masa gak bisa ngalah sama perempuan " jawab Dika sambil memakaikan jaket di tubuh Dika.
Sungguh, hati Diza berbunga-bunga diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang dia cintai, perlakuan manis yang membuatnya tersenyum tipis.
Tak lama sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan tempat mereka berteduh. Pintu depan terbuka, seseorang turun dari mobil, lalu berlari kecil menuju tempat mereka berdiri.
" Rasya... " ucap Diza tak percaya saat melihat seorang lelaki yang berlari keluar dari mobilnya dan kini ada di hadapannya.
" Hai... " sapanya ramah pada Diza dan juga Dika.
Dika membalas sapaan Rasya dengan senyuman.
" Tadi dari jauh, saya lihat kalian neduh disini. Ya udah sekalian aja mau ngajak pulang bareng " ajak Rasya.
" Tuh, Diz... Mendingan pulang bareng Rasya aja. Hujan deras gini, gak tahu kapan berhentinya " seru Dika.
" Gak usah deh, entar ngerepotin lagi " tolak Diza halus.
" Gak repot kok, aku senang bisa nganter kamu. Jangankan ke rumah, ke KUA juga mau " canda Rasya yang sukses membuat mata Diza membola. Dika hanya geleng-geleng kepala, tak menyangka jika Rasya akan seagresif itu.
" Udah, dianter Rasya aja. Nanti masuk angin lagi. Kamu gak mau kan mama sama papa khawatir " ucap Dika mendorong Diza agar mau ikut dengan Rasya.
" Terus kamu gimana? " tanya Diza khawatir menatap Dika.
" Aku mah gampang, ada jas hujan kok di motor " jawab Dika enteng.
__ADS_1
" Bawa jas hujan kenapa gak dipake dari tadi " omel Diza sebal.
" Jas hujannya cuma ada satu, kalo aku pake terus kamu mau hujan-hujanan ? " sahut Dika membuat Diza menganggukkan kepalanya.
" Udah sana ! " seru Dika menyuruh Diza untuk ikut dengan Rasya.
" Gue titip Diza ya, bro. Inget jagain, jangan diapa-apain " seru Dika pada Rasya.
" Tenang aja, bakal dijagain sampai akhir hayat. Dijamin selamat dunia akhirat " sahut Rasya cepat dan tepat masuk meyentuh hati Diza.
" Ya udah, aku pulang sama Rasya ya. Kamu hati-hati, jangan lupa jas hujannya dipake " seru Diza penuh perhatian pada Dika.
" Siap tuan putri " Dika menyahuti seruan Diza dengan senyuman manis.
Diza pun mengikuti Rasya dan segera masuk ke dalam mobil setelah Rasya membukakan pintu samping depan mobilnya untuk Diza. Setelah memasang seat belt, Rasya melajukan mobilnya. Sekilas ia memperhatikan Diza yang melihat ke arah Dika melalui kaca jendela.
" Sebesar itu rasa cintamu padanya, bisakah aku membuatmu berpaling darinya. Bisakah aku memenangkan hatimu... " Rasya bergumam dalam hati.
" Enak banget ya jadi Dika, bisa diperhatiin kamu terus " Rasya membuka pembicaraan, membuat Diza menoleh ke arahnya.
" Itu... itu... Karena kami saudara " ucap Diza, ada perasaan tak rela mengatakannya.
" Kalau aku yang kamu perhatiin, apa jawabannya karena saudara juga ? " ucap Rasya melempar canda. Diza nampak bingung mengartikan ucapan Rasya.
Rasya menatap jalanan yang penuh dengan air hujan,
" Aku gak mau jadi saudara kamu, aku maunya jadi suami kamu " ucap Rasya tegas menatap Diza.
Tatapan Rasya membuat jantung Diza berdegup kencang, rasanya ia tak tahu bagaimana harus bersikap dengan Rasya, ucapan yang keluar dari mulut Rasya selalu membuatnya salah tingkah tak tahu harus bicara apa.
" Kamu lagi mikirin apa ? " pertanyaan Rasya mengagetkan Diza.
" Mikirin ucapanku tadi ya ? " tebaknya kemudian.
Adiza tersenyum kaku,
" Kamu tuh, suka banget bercanda ya " ucap Diza meredam dag dig dug di hatinya saat ini.
" Siapa yang bercanda. Aku tuh serius. Aku mau jadiin kamu istri aku satu-satunya. Kamu mau gak ? " tanyanya santai tapi penuh ketegasan.
" Hah... ? " Diza sesaat terpaku.
__ADS_1
" Gak lucu ah... Masih sekolah dah mikirin jadi istri " elak Diza lalu melihat ke arah luar jendela.
" Jadi kalo aku udah kerja boleh dong jadiin kamu istri " sambar Rasya merasa diberi jalan.
" Apaan sih dari tadi istri, istri terus... Pacaran juga belum " Diza menyahuti dengan kikuk. Rasya menyeringai licik.
" Mau jadi pacar aku ? " tanya Rasya kembali membuat mata Diza membola.
Diza mengusap wajahnya, lalu memijat-mijat keningnya. Entah apa yang ada di pikirannya. Kesal dengan sikap terus terang lelaki di sampingnya itu, tetapi disaat yang sama merasa senang karena ada lelaki yang begitu terbuka menyatakan perasaannya.
Tak ada lagi yang Diza katakan, ia hanya menatap keluar melihat jalanan yang masih diguyur derasnya hujan. Rasya pun nampak fokus mengatur arah kemudinya walaupun sesekali ia melirik ke arah Diza, gadis cantik yang telah membuatnya berbuat di luar kebiasaannya, di luar kendali akal sehatnya.
Mobil yang dikendarai Rasya sampai di kediaman Diza. Diza tak sadar telah sampai di depan rumahnya, sampai akhirnya Rasya menepuk bahunya.
" Masih betah ya ? Mau pergi jalan lagi ? "
Diza akhirnya tersadar telah berada di depan rumahnya.
" Kenapa bisa tahu aku tinggal disini ? " tanyanya heran.
Rasya tertawa kecil
" Aku tahu semua tentang kamu. Tapi aku gak tahu jawaban kamu " ucap Rasya lalu membuka seat belt Adiza.
" Jawaban apa ? " tanya Diza memegang tangan Rasya saat membuka seat belt.
Deg... deg... Jantung keduanya berdetak tak karuan. Adiza segera menarik tangannya.
" Maaf... " ucap Diza kikuk membuat Rasya menahan tawanya.
" Mau jadi pacar aku ? atau jadi istri aku ?" Rasya menatap lembut kedua mata Adiza. Ingin menghindari tatapan Rasya tapi Adiza seolah tersihir dengan kelembutan tatapan Rasya, ia tak bisa berpaling. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain sampai akhirnya Diza tersadar.
" Ah... Makasih udah nganterin aku " ucap Adiza mengalihkan pandangannya, lalu membuka pintu mobil.
" Aku tunggu jawaban kamu " teriak Rasya terus menatap Adiza yang telah keluar dari mobil.
Adiza berbalik menatap Rasya, melihat lelaki itu masih setia menunggunya masuk ke dalam rumah. Rasya melambaikan tangannya dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajah tampannya.
" Thank you " ucap Diza tanpa suara, sambil membalas melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam rumah.
Rasya menatap gadis yang dicintainya itu hingga menghilang di balik pintu. Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan jok kursi mobilnya, lalu tersenyum mengingat kalimat-kalimat yang ia ucapkan pada Diza hari ini.
__ADS_1
" Aku tak menyangka jatuh cinta bisa membuatku menjadi begitu berani dan menjadikanku tak punya malu. Diza... Akan ku pastikan kamu yang bertanggung jawab atas apa yang menimpaku " senyum Rasya mengembang lalu berlalu dari rumah Diza.