Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 32


__ADS_3

Arrasya menguatkan diri untuk masuk ke dalam rumah. Ia berpura-pura tidak tahu apapun.


" Hai sayang, kamu sudah siap ? " tanyanya saat masuk.


Adiza dan Diana langsung melihat ke arahnya.


" Oh rupanya ada tamu. Kamu Diana kan " tebak Arrasya saat melihat gadis di samping Adiza.


Diana mengangguk dan tersenyum pada Arrasya.


" Kayaknya kamu mau pergi. Kalau gitu aku pamit. Terima kasih kamu sudah mau mendengarkan aku " ucap Diana segera pamit.


" Kamu gak apa-apa kan ? " tanya Arrasya saat melihat Adiza yang terlihat sedih.


" Aku... Aku baik-baik aja " jawab Adiza menjawab Arrasya dengan perasaan tak karuan.


" Kita pergi sekarang ? Nanti keburu macet lho " seru Arrasya mengingatkan Adiza. Dengan langkah gontai Adiza mengikuti Arrasya.


Banyak pertanyaan muncul di benak Adiza. Mengapa Andika sampai merahasiakan semua ini.


" Sebegitu besarnya rasa cinta kamu padaku... ? Kenapa kamu merahasiakan ini semua dariku ? " Adiza bertanya dalam hati.


" Diza... Diza... Adiza sayang " panggil Arrasya sambil menepuk bahu Adiza.


Adiza terhenyak, " I... Iya... Udah sampe ? " tanya Adiza saat menyadari mobil yang dikemudikan Arrasya telah berhenti.


" Kamu kenapa ? Dari tadi kamu ngelamun terus " tanya Arrasya menatap lekat wajah kekasihnya itu.


Adiza menggeleng, ia tak tahu harus menjawab apa. Arrasya menarik nafas lalu mengambil kertas yang ada di genggaman tangan Adiza. Arrasya membacanya, sedangkan Adiza tak mengatakan apa pun. Adiza hanya tertunduk lesu.


" Aku antar kamu kesini " ucap Arrasya kemudian melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.


Tak ada percakapan yang tercipta diantara mereka. Hanya keheningan yang menemani mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Arrasya memarkirkan dahulu mobilnya saat telah sampai di tempat tujuan. Adiza segera membuka pintu saat Arrasya telah berhasil memarkirkan mobilnya.


Adiza berjalan dengan tergesa bahkan ia melupakan Arrasya yang berjalan di belakangnya. Arrasya menarik tangan Adiza karena Adiza tak mempedulikannya.


" Apa dia begitu berarti buat kamu, sampai-sampai kamu lupa ada aku di sisi kamu " ucap Arrasya membawa Adiza ke dalam pelukannya.


Adiza tertegun dengan ucapan Arrasya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia memang pernah mencintai Andika dan mungkin rasa itu masih tersisa. Tapi ia tak memungkiri jika Arrasyalah lelaki yang kini mengisi hatinya. Adiza hanya tak bisa terima dengan yang telah terjadi. Seandainya Andika jujur dengan perasaannya dulu, mungkin keadaan tidak akan serumit ini.


" Apa aku tiada artinya untukmu ? " tanya Arrasya lirih.


Adiza membenamkan diri ke dada Arrasya. Air mata mulai lolos dari pelupuk matanya.


" Kamu sangat berarti buat aku... Kamu masa depan aku... Tapi aku tak bisa melupakannya. Jangan minta aku untuk memilih " jawab Adiza lirih, ia memeluk erat Arrasya.


Arrasya mengelus rambut dan punggung Adiza. Mencoba memahami dan menyelami hati sang kekasih yang dilanda pilu.


" Aku akan selalu di sisi kamu. Jangan pernah kamu lupa... Untuk kali ini aku relakan kamu bersamanya " lirih Arrasya.

__ADS_1


Adiza menatap wajah calon suaminya itu. Arrasya menghapus air mata di wajah cantik Adiza.


" Ayo, dia pasti menunggu kamu " seru Arrasya lalu membawa Adiza masuk.


Adiza dan Arrasya sampai di ruang ICU. Terlihat Mama Sofie dan Papa Surya disana. Mereka amat terkejut saat melihat Adiza dan Arrasya disana.


" Adiza... " ucap Mama Sofie dengan suara tercekat dan berat karena telah menangis. Adiza memeluk ibunya itu, keduanya larut dalam tangisan. Sementara papa Surya mendampingi Arrasya dan menepuk bahu Arrasya menenangkan calon menantu nya itu.


Adiza masuk ke dalam ruang ICU sendiri, sementara Arrasya dan yang lainnya menunggu di luar. Arrasya menunggu di balik pintu saat Adiza menghampiri Andika yang terbaring lemah dengan alat bantu medis di seluruh tubuhnya.


Adiza menyentuh wajah Andika. Wajah tampan dan selalu tersenyum itu kini terlihat pucat. Air mata membasahi pipi Adiza.


" Dika... Ini aku... " ucap Adiza dengan suara tertahan. Adiza meraih tangan Andika lalu menggenggamnya erat.


" Maafin aku, Dika... Karena aku, kamu harus melalui semua ini. Kamu tahu, kamulah cinta pertama aku. Bahkan sampai saat ini, aku belum bisa menggantikan kamu sepenuhnya... " tambah Adiza sambil menyeka air mata di pipinya.


" Kamu lihat Dika... Kamu mau aku bahagia kan ? Aku bahagia bersamanya seperti yang kamu inginkan. Aku tahu... Seberapa besar rasa cintamu untukku... Aku tahu... Aku mencintaimu Andika... " Adiza mencium kening Andika.


Dari balik pintu Arrasya menghela nafasnya. Tiba-tiba ia merasa seperti orang ketiga yang hadir dalam kehidupan Adiza dan Andika. Arrasya bersender di tembok kemudian berjongkok, menyatukan dua telapak tangannya dan menyimpan di depan wajahnya.



Adiza berlari keluar saat denyut jantung Andika menjadi tidak stabil, ayah dan ibunya segera masuk diikuti Arrasya yang bergerak cepat memeluk Adiza yang kini panik. Dokter yang menangani Andika pun segera masuk. Sayangnya Andika tidak bisa tertolong. Ia menghembuskan nafasnya setelah mendengar pengakuan cinta Adiza.


...🌸🌸🌸...


Adiza begitu terpukul, ia baru saja mengetahui kebenarannya dan disaat yang sama ia harus menerima kenyataan kehilangan Andika.


Adiza masuk ke dalam kamarnya kemudian duduk di tepi ranjang. Tak lama Arrasya mengikutinya bersama dengan mama Sofie yang membawakan sepucuk surat dari Andika.


Mama Sofie memberikan surat itu kepada Adiza kemudian keluar dari kamar meninggalkan Adiza bersama dengan Arrasya.


" Kamu mau membacanya sekarang ? " tanya Arrasya lembut. Adiza menjawab dengan anggukan kepala.


" Mau kutemani atau kamu mau baca sendiri ? " tanya Arrasya.


Adiza menggeser duduknya, lalu meminta Arrasya menemaninya membaca.


" Temani aku ! " pinta Adiza lirih menarik tangan Arrasya agar duduk di sampingnya.


Arrasya duduk di samping sang kekasih.


Adiza membuka amplop kemudian mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan saat mulai membacanya. Adiza membaca dengan perlahan.


Teruntuk Adiza tersayang,


Saat kamu membaca ini, bisa dipastikan jika aku tak lagi ada di dunia


Maafkan aku yang tak bisa terus menemani dan menjagamu

__ADS_1


Maafkan aku yang tak bisa jujur mengatakan keadaanku yang sebenarnya


Maafkan aku yang tak bisa membalas cintamu


Maafkan aku telah menjadi pengecut yang tidak mengakui perasaanku padamu


Adiza... Aku hanya mau mengakui jika kamulah satu-satunya wanita yang ada di hatiku


Aku mencintaimu Adiza,


Sungguh-sungguh tanpa kau tahu


Kau tersimpan di hatiku selamanya


Setiap di dekatmu hatiku meresah


Sesaat di sampingmu seakan kau milikku


Tapi aku sadar tak seharusnya terbawa perasaan


Kaulah yang pertama menjadi cinta


Kadang aku bertanya-tanya


Mengapa Tuhan pertemukan


Kita yang tak mungkin menyatu


Mustahil ku hidup denganmu


Satu hal yang harus kau tahu


Ku mencintaimu



Adiza menghentikan membaca, buliran bening mengalir dari sudut matanya. Arrasya menyandarkan kepala Adiza ke dadanya lalu memeluknya berusaha memberikan kenyamanan pada sang kekasih. Memahami bahwa ini akan berat dilalui oleh gadis di pelukannya.


Arrasya mengambil surat dari tangan Adiza.


" Kamu masih mau meneruskannya ? " tanya Arrasya sembari mengelus rambut panjang milik Adiza. Sejenak Adiza tak merespon pertanyaan Arrasya. Gadis cantik itu masih nyaman dalam pelukannya. Tak lama Adiza melepaskan diri dari pelukan Arrasya.


" Maafkan aku... Maaf... "


" Hey... Kenapa kamu meminta maaf ? Memangnya kamu melakukan kesalahan ? " ucap Arrasya sambil tersenyum. Adiza menghela nafasnya.


" Kamu itu terlalu baik... " jawab Adiza menatap lekat Arrasya yang sedang tersenyum.


Entah mengapa, hanya dengan melihat senyum Arrasya saja, sudah membuat Adiza merasa tenang dan nyaman.

__ADS_1


__ADS_2