
Lala bersama rekan setimnya maju ke depan saat Pak Ramlan, kepala sekolah mereka mengumumkan bahwa sekolah mereka berhasil meraih juara pertama pada turnamen voli antar sekolah tingkat kota. Seluruh peserta upacara bertepuk tangan atas keberhasilan dan prestasi yang diperoleh tim voli kebanggaan mereka. Selain menjadi juara pertama, kapten tim voli mereka juga dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam turnamen tersebut.
Adiza, Yasmin, dan juga seluruh siswa siswi yang ada di kelasnya memberikan ucapan selamat kepada Lala saat mereka masuk ke dalam kelas setelah upacara selesai dilaksanakan.
" Yeay... Selamat ya, La... Kamu memang hebat ! " ucap Diza sambil memeluk Lala diikuti oleh Yasmin yang juga ikut memeluk Lala.
" Thank you, tapi sedih kalian gak ada disana kemarin " ucap Lala menekuk wajahnya.
" Sorry, La... Kan Lo tahu kalo mengejar masa depan itu susah. Gue harus cari tambahan receh buat jajan " Yasmin mulai mengoceh.
" Iya... iya... Gue ngerti. Gue yakin kalian selalu doain yang terbaik buat gue " sahut Lala.
" Lo jadi jalan sama Rasya kemaren ?" tanya Lala pada Diza.
Diza hanya mengangguk dan sibuk menyusun buku di mejanya.
" Lo udah jadian kan ? " tanya Yasmin.
" Hem... Kasih tahu gak ya ? " Diza nampak berpikir.
" Jawab yang bener dong Diz... Jangan bikin penasaran " rajuk Yasmin.
" Mau tahu ? " tanya Diza yang langsung diikuti anggukan dari Lala dan Yasmin.
Diza tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
" Mau tahu aja atau mau tahu banget ? " tanya Diza lagi.
Keduanya masih menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan Diza, membuat Diza tersenyum geli.
" Ih... cepetan dong Diz...! " ucap Yasmin tak sabar.
" Jawabannya tanyain Rasya aja deh " jawab Diza asal membuat Lala dan Yasmin membulatkan mata karena merasa dikerjai oleh Diza.
" Oh jadi gitu... Sekarang dikit-dikit nanya Rasya. Pasti ini mah udah jadian. Iya kan ? " tebak Lala. Adiza merekahkan senyumnya.
" Tuh bener kan tebakan gue " ucap Lala senang karena menebak dengan tepat.
" Terus si Dika gimana ? " tanya Yasmin penasaran membuat senyum yang menghiasi wajah cantik Diza memudar.
Lala menyentuh tangan Diza yang ada di atas meja. Diza menghela nafasnya, kemudian kembali menampakkan senyumnya.
__ADS_1
" Aku udah nerima Rasya, berarti aku harus move on dari Dika kan ? Lagian Dika juga udah punya cewek " jelas Diza lirih.
Lala menatap Adiza dengan tatapan sedih, bagaimana pun ia tahu rasanya tidak bisa bersama dengan orang yang disukai. Sedikitnya ia bisa merasakan sulitnya berpindah ke lain hati saat sedang sayang sayangnya.
" Gue yakin Rasya bisa bikin Lo berpaling dari Dika, bahkan gue yakin dia bisa bahagiain Lo " Lala meyakinkan Diza.
Adiza mengangguk setuju.
" Terus siapa sih ceweknya Dika ? " tanya Yasmin yang membuat Lala menatap tajam ke arah Yasmin.
" Ups... Sorry " ucap Yasmin yang refleks menutup mulutnya. Lala mencebikkan bibirnya.
" Ini anak gak bisa lihat sikon " gerutu Lala kesal akan pertanyaan Yasmin yang seolah menabur garam pada luka.
" Kalian pasti gak akan percaya kalau aku bilang siapa ceweknya Dika " ucap Diza lemah. Lala dan Yasmin melihat satu sama lain kemudian Yasmin mengangkat bahunya.
" Diana, ceweknya Dika itu Diana. Temen SMP kita dulu yang selalu pulang bareng sama Dika " jelas Diza.
" What ? Mereka pacaran selama itu ? " tanya Yasmin tak percaya.
" Gak nyangka gue, dikirain temen biasa doang " tambah Lala.
" Udah ya, Diza... Sekarang Lo udah punya Rasya. Jadi stop mikirin Dika, ok ! " seru Yasmin sambil menyilangkan tangannya di depan dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Adiza tersenyum, mengiyakan ucapan Yasmin.
" Eh, kemarin yang boncengin kamu siapa La ? " tanya Diza sambil melihat Lala.
Lala terkejut tapi kemudian menyahut santai.
" Ah itu, temennya Yesi " jawab Lala.
" Temen apa temen ? " tanya Yasmin penasaran.
" Temen... " tegas Lala sambil membuka tasnya, berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kedua sahabatnya.
" Temen jadi demen ? " selidik Diza.
" Ck... Temen. Ah udah ah, gak penting ngomongin dia " Lala memilih mengakhiri percakapan yang menurutnya tak penting.
Yasmin dan Diza melihat satu sama lain dengan senyuman penuh arti.
" Eh, nanti hari Sabtu kalian bisa ikut kan nginep di vila. Mama, papa mau ngadain syukuran bareng anak-anak voli " ajak Lala kemudian.
__ADS_1
" Ah, kalo sama anak-anak voli aja mah gak ikutan gue. Gak enak lah... " ujar Yasmin diikuti oleh Diza yang juga menolak.
" Sorry ya La... Bukannya gak mau, tapi kayaknya lebih enak kalo itu cuma intern tim voli aja. Lagian ini kan acara buat ngerayain kemenangan tim voli. Bakalan rada aneh aja kalo kita yang bukan anak-anak voli ikutan juga " papar Diza.
" Tapi kan kalian sahabat gue... Masa kalian gak ada sih " sahut Lala memanyunkan bibirnya.
" Yang penting kan kita selalu ada dukung Lo. Yah kalo Lo mau barengan kita, Lo traktir aja kita makan-makan. Bener gak Diz ? " kelakar Yasmin, mengedipkan sebelah matanya pada Diza. Diza kemudian mengacungkan jempolnya pertanda setuju dengan ucapan Yasmin.
" Yeh... Harusnya yang baru jadianlah yang traktir " protes Lala.
" Udah... udah... gak usah ribut. Kalian berdua harus gantian traktir. Ok " Yasmin menengahi dengan gaya sok bijak membuat mereka tertawa serempak.
...🌸🌸🌸...
Hari Sabtu,
Semua anggota tim voli baik putra maupun putri berkumpul di sekolah. Hari ini mereka semua akan pergi ke vila milik orang tua Lala. Semuanya berkumpul di sekolah tak terkecuali, Yoga yang merupakan kapten tim voli putra.
Sementara Lala dan keluarganya menunggu di vila bersama dengan Dena.
Ya, Dena ikut ke vila karena diajak oleh Lala. Dena yang sejak kecil sudah mengenal keluarga Lala, tentu saja sangat antusias karena dia bisa dekat dengan Yoga, lelaki yang baru beberapa hari ini menjadi kekasihnya.
Pukul 14 lewat, semua anggota tim voli tiba di vila. Tim putri yang berjumlah sekitar 15 orang tidur di dalam kamar yang ada di dalam vila. Setiap kamar ditempati oleh 3-4 orang. Lala satu kamar dengan Dena dan Yesi. Sementara tim putra, mereka mendirikan tenda di halaman belakang vila. Mereka semua merayakan dengan bahagia. Orang tua Lala memang sering mengadakan kumpulan bersama teman-teman anaknya, oleh karena itu mereka mengenal semua teman-teman Lala.
Pada malam harinya, mereka pesta barbeque di halaman belakang. Menyalakan kembang api bahkan ada juga yang berenang di kolam renang.
" Terima kasih untuk Bapak Tommy dan Bu Wina karena sudah berbaik hati, merayakan keberhasilan tim voli kami. Sungguh dukungan dari Bapak dan Ibu benar-benar tak terhitung lagi " ucapan terima kasih dari Pak Andri, pelatih tim voli kepada ayah dan ibu Lala sangat tulus.
" Tidak perlu sungkan pak. Ini hanyalah bentuk apresiasi kami kepada anak-anak juga bapak sebagai pelatih yang sudah bekerja keras dan bersemangat mengikuti turnamen " sahut Pak Tommy, ayah Lala.
" Mungkin ini turnamen terakhir yang Lala ikuti, karena Lala harus fokus untuk ujian sekolah " tambah Bu Wina, ibu Lala.
Pak Andri mengangguk-angguk, memahami bahwa untuk anak-anak kelas XII, ini adalah kompetisi terakhir yang bisa mereka ikuti. Oleh karena itu, pada kesempatan ini pula pelatih akan mengganti kapten tim voli dan menyerahkan kepemimpinan kepada anak kelas XI. Selesai pemilihan kapten tim baru, semua pergi ke kamarnya masing-masing.
Keesokan harinya, setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah. Lala bersiap untuk jogging di sekitar vila. Rutinitas yang selalu dilakukannya jika menginap di vila yaitu jogging atau bersepeda bersama adiknya. Tapi rupanya kali ini adiknya malas menemaninya. Mengajak Dena dan Yesi pun sepertinya sia-sia karena mereka hanya rebahan saja di dalam kamar. Alhasil, Lala pergi sendiri.
Saat asyik jogging sambil menikmati udara sejuk di sekitar vila. Lala sadar jika dirinya diikuti oleh seseorang yang membuat Lala mempercepat langkah kakinya untuk menjauh. Karena terlalu fokus lari menghindar, Lala tak melihat jalan di tikungan
Bruk... Lala dan orang itu terjatuh saat menghindari Lala yang sedang berlari...
...🌸🌸🌸...
__ADS_1