
Ini part-nya Lala. Semoga suka ya ๐Jangan lupa like and vote nya. Hatur nuhun, terima kasih, thank you, Kansahamnida, arigato, Xie Xie ๐๐
...๐ธ๐ธ๐ธ...
" La... Temen gue mau kenalan nih " Yesi, teman satu tim Lala menghampiri Lala di ruang ganti. Lala mengernyitkan dahi
" Siapa sih, ci ? Ogah ah... " tolak Lala sambil memakai jaket dan merapikan rambutnya.
" Please, La... Dia ngebet banget kenalan sama kamu " mohon Yesi.
" Males ah, ci... Lagi males urusan sama yang namanya cowok " sahut Lala lagi penuh penekanan.
" Dih, segitunya sih... Masih belum bisa move on ? " celetuk Yesi.
" Move on dari siapa ? " tanya Dena yang tiba-tiba masuk ruang ganti.
Yesi menggaruk-garuk kepalanya sementara Lala membulatkan matanya ke arah Yesi, memberi kode untuk agar tak banyak bicara.
" Anu... move on dari game kemenangan kita tadi " jawab Lala asal sambil menguncir rambut nya.
" Oh gitu..." Dena mengangguk-angguk tanda mengerti.
" Kamu nyariin Yoga ? " tanya Yesi, mencoba mencairkan suasana.
" Iya sih, tapi udah ketemu di depan tadi. Aku kesini mau ucapin selamat buat kamu, La. Selamat ya udah jadi pemain terbaik dan bawa tim kita jadi juara " Dena memeluk Lala dibalas pelukan oleh Lala.
" Jadi cuma Lala nih yang dikasih selamat ?" canda Yesi.
Dena melepas pelukannya.
" Selamat, kalian semua hebat. Tapi, sobat aku ini yang paling hebat " puji Dena sambil melirik Lala.
" Iya deh... iya... Kapten kita ini emang paling hebat " timpal Yesi membenarkan ucapan Dena. Mereka bertiga tertawa bersama.
" Eh La, makan bareng yuk ! Yoga dah nungguin di depan " ajak Dena.
" Duh sorry ya, Na. Aku udah ada janji sama temennya Yesi " Lala melirik Yesi.
Seakan mengerti arah ucapan Lala, Yesi mengiyakan.
" Iya, kita dah ada janji nih sama fansnya Lala " Yesi asal bicara.
" Wah, calon cowoknya Lala ya ?" tanya Dena semangat.
" Bukan..."
" Iya, calon cowok Lala " Yesi menyeringai licik yang sukses membuat Lala mendelik.
" Yah... Ga bisa jalan bareng dong " sesal Dena.
" Tapi gak apa-apa deh. Nanti kita bisa jalan bareng sama cowok kamu itu. Entar kenalin ya ! Aku duluan ya, bye... " pamit Dena bercipika cipiki dengan Lala dan Yesi.
Setelah Dena pergi, Yesi mengajak Lala menemui temannya.
" Apaan sih, Ci. Tadi tuh cuma alasan aja biar gak ikut sama Dena. Gue males ah... "
Lala berusaha keras menolak tetapi Yesi menarik tangan Lala, lalu membawanya menemui temannya yang ada di luar Gedung Olah raga.
__ADS_1
" Nanggung, La. Bentar aja... Tuh orangnya di depan " tunjuk Yesi pada seorang lelaki tinggi, berkulit putih yang memakai celana jeans biru dengan hoodie berwarna merah.
Yesi dan Lala berjalan mendekati lelaki itu.
" Hai... sorry ya lama nunggu " sapa Yesi.
" Eh, elo Ci... Akhirnya datang juga " sahutnya memalingkan pandangannya dari layar ponselnya.
Matanya berbinar tatkala melihat Yesi datang bersama dengan Lala.
" Halo... Gue Ryu " sapanya ramah sambil mengulurkan tangannya.
Lala membalas uluran tangan Ryu
" Lala " ucap Lala singkat, melihat ke arah Ryu yang kini tersenyum manis.
" Ehem..." Yesi berdehem, buru-buru Lala menarik tangannya sementara Ryu menggaruk-garuk tengkuknya.
" Udah kan kenalannya, kita balik ya " oceh Yesi mengerjai Ryu.
" Bentar napa sih, Ci... Buru-buru amat " sungut Ryu kesal membuat Yesi terkekeh.
" Iya... iya... Lima menit lagi deh " timpal Yesi lagi.
" Duduk yuk " ajak Ryu, menunjuk kursi yang ada di depan mereka. Mereka bertiga pun duduk bersama.
" Duh, jaket gue kayaknya ketinggalan nih. Gue cari dulu ke dalam ya " ucap Yesi beranjak dari duduknya.
" Gak usah, La... Kamu tunggu disini aja entar gue balik lagi " ucap Yesi.
" Iya, disini aja. Lo tenang aja, gue udah jinak kok, gak bakalan gigit " celetuk Ryu asal.
Yesi tersenyum, lalu meninggalkan mereka berdua. Lala hanya duduk diam, matanya tertuju pada layar ponselnya.
" Ehem... ehem... " Ryu berdehem, Lala sama sekali tak peduli.
" Diem, diem bae... Lagi marahan ya " usik Ryu dengan suara yang sedikit keras berharap agar Lala menanggapinya dan ternyata sukses membuat Lala melirik tajam kepadanya.
" Astaga... Baru dilirik aja udah berasa terbang gue " ocehnya senang sambil memegangi dadanya.
Lala kembali mengarahkan pandangan matanya pada ponselnya.
" Ampun dah... Sedih banget gue, dah ganteng maksimal begini masih aja dianggurin " celetuk Ryu, ia menggeser duduknya mendekati Lala.
" Apaan sih nih cowok... Engga banget deh... Rese ih !! " umpat Lala dalam hati.
" Nasib... nasib... Deket cewek cantik, sayangnya gagu..."
" Apa Lo bilang ? " Lala menyahuti kesal dengan ucapan Ryu.
" Alhamdulillah... si Eneng cantik gak gagu " jawabnya sambil tersenyum.
Sesaat berdesir hati Lala melihat senyuman lelaki itu tapi ia segera sadar dan mengalihkan pandangannya.
" Yesi lama banget sih " gumam Lala.
__ADS_1
" Dia langsung balik, terus dia nyuruh gue anterin Lo pulang " ucap Ryu.
" Gak usah asal ngomong deh " sahut Lala dingin.
" Gak percaya ? Nih, baca aja chat dari dia barusan " Ryu memperlihatkan chat Yesi di ponselnya.
" Dasar Eci, modus aja " umpat Lala geram.
" Ayo, gue anter " ajak Ryu sambil bangkit dari duduknya.
" Gak usah... Gue bisa pulang sendiri " tolak Lala berdiri dari kursi.
" Mana bisa gue biarin calon pacar gue pulang sendirian " seloroh Ryu percaya diri.
" Apa Lo bilang barusan ? " tanya Lala sebal dengan ucapan Ryu.
" Oh salah ya... " ucap Ryu menutup mulutnya. Tak lama ia mendekati Lala.
" Harusnya calon istri kan " bisik Ryu di telinga Lala yang langsung membuat Lala membulatkan matanya.
" Ih dasar rese... " Lala mendorong tubuh Ryu.
" Dasar stres " umpat Lala sambil berjalan meninggalkan Ryu yang masih tersenyum melihat sikap Lala.
Lala melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa sesekali ia menghentakkan kakinya karena kesal dengan apa yang Ryu lakukan. Tanpa ia sadari ada yang memperhatikannya sejak tadi. Seseorang itu menarik tangan Lala dan membuat Lala berada dalam pelukannya.
Lala mencoba melepaskan dirinya dari pelukan orang tersebut.
"Lepasin ! " Lala mendorong dada lelaki tersebut.
" Kamu apa-apaan sih ? bentak Lala.
" Aku kangen kamu, La..." lirihnya.
Lala berjalan mundur dan segera membalik badannya untuk menjauhi lelaki itu tapi tangan lelaki itu menahan tangan Lala.
" Lepas ga... lepas... Nanti Dena lihat. Aku gak mau dia salah paham " ucap Lala berusaha melepaskan genggaman tangan lelaki itu.
" Biar aja dia lihat, biar dia tahu yang sebenarnya " tegas Yoga.
" Please... Tolong jaga perasaan Dena, aku mohon " pinta Lala melunak.
" Kenapa cuma perasaan Dena yang kamu pikirin. Kenapa kamu gak pikirin perasaan aku ? Perasaan kamu sendiri ? " cecar Yoga.
Lala menghembuskan nafasnya kasar.
" Kita sama-sama tahu, kalau hubungan kita gak pernah bisa lebih dari persahabatan " jawab Lala.
" Kamu bohong, La. Jujur sama perasaan kamu sendiri. Aku tahu kamu punya perasaan yang sama kayak aku " tekan Yoga.
" Lihat aku, La... Tatap mata aku ! " seru Yoga berdiri di depan Lala. Lala membuang muka.
" Tatap aku, La..." kedua tangan Yoga mencengkram lengan Lala.
" Yoga lepas... Sakit... " lirih Lala sambil berusaha melepas cengkraman tangan Yoga.
" Heh... Lepasin cewek gue !! "
__ADS_1