
Tangan Arrasya mengepal saat melihat pemandangan di depannya. Ia gusar, khawatir jika gadisnya itu kembali memalingkan hati pada lelaki yang kini memeluknya. Tapi Arrasya segera menyadari jika gadisnya itu tak merespon pelukan lelaki itu. Arrasya tak ingin berburuk sangka dengan menduga-duga sesuatu yang belum tentu benar adanya.
Arrasya berjalan mendekati mereka yang tengah berdua. Ia mempercepat langkah kakinya agar segera sampai ke tempat mereka, terlebih saat ia melihat tangan gadisnya itu bergerak mengelus punggung Andika. Entahlah, ia tak tahu apa yang terjadi saat ini. Yang ia rasakan hanya ingin secepatnya mengambil gadisnya ke sisinya.
Arrasya berdehem saat telah berada di belakang Andika. Andika melepaskan pelukan dari Adiza, lalu membalik badannya. Dilihatnya raut wajah Arrasya yang menyembunyikan kekesalan dengan sikap tenangnya.
" Kamu disini ? Aku cariin lho " ucap Arrasya pada Adiza.
Melihat Arrasya disana, Adiza menjadi kikuk. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Ia khawatir, Arrasya menjadi salah paham.
" Tadi Diza nyariin kamu, katanya kamu nyuruh keluar. Karena kamu gak ada, jadi aku suruh nunggu " jelas Andika.
Arrasya menghampiri Adiza, lalu menarik pinggang Adiza agar dekat dengannya. Andika menyadari jika Arrasya kini sedang cemburu.
" Sorry, tadi aku meluk Adiza. Gak ada maksud apa-apa. Pelukan tadi cuma sebatas pelukan perpisahan " jelas Andika.
" Perpisahan ? Maksud kamu apa ? " tanya Adiza melihat ke arah Andika.
Andika tersenyum ke arah Adiza.
" Kita gak bisa bareng-bareng lagi. Mulai besok, aku tinggal di rumah lama mama. Biar lebih deket aja kalo kuliah. Jarak dari kampus ke rumah lama kan lebih deket " jelas Andika.
" Jadi kita pisah ? Terus mama, aku ? " tanya Adiza tak terima.
" Mama sama papa gak keberatan. Lagian kan masih bisa ketemuan... " jawab Andika.
Adiza hanya menanggapi dengan berdecak, ia hanya memainkan gaun putih yang dikenakannya. Arrasya menyadari gadisnya itu kesal, ia segera menggenggam jemari tangan gadisnya itu berusaha membuatnya tenang.
" Kamu sekarang udah ada yang jagain. Aku tenang ninggalin kamu. Artinya, sekarang aku bisa pensiun jadi tukang ojek kamu " gurau Andika sambil tertawa.
" Ih... Kok gitu sih. Siapa yang anggap kamu tukang ojek sih " kesal Adiza sambil menggembungkan kedua pipinya dan menghentakkan sebelah kakinya.
Andika dan Arrasya tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan Adiza. Arrasya mengelus kepala Adiza penuh rasa sayang hingga Adiza menghentikan aksi merajuknya.
" Kamu yang sabar ya Rasya... Dia kalo lagi datang manjanya bikin susah " canda Andika lagi yang membuat Adiza mengerucutkan bibirnya.
" Biar kamu manja, tapi aku suka " ucap Arrasya menatap mata Adiza dengan lembut nya. Seketika Adiza tersenyum.
" Hmm... Dah ketemu pawangnya, jadi jinak deh " cibir Andika lagi lalu berlari masuk ke dalam gedung sebelum Adiza merajuk kembali.
" Kamu ini, kalo lagi ngambek ngegemesin " ucap Arrasya sambil mencubit hidung Adiza lalu merangkulnya. Adiza balas memeluk Arrasya.
" Aku gak mau kamu dipeluk lelaki lain selain aku. Tadi itu yang terakhir " ucap Arrasya penuh penekanan. Arrasya mengeratkan pelukannya membuat Adiza terdiam, sadar jika lelaki yang telah melamarnya itu sedang cemburu. Adiza tersenyum merasa bahagia begitu dicintai oleh lelaki yang akan segera menjadi imamnya.
" Kalo kak Sakha boleh peluk ? " tanya Adiza dalam pelukan Arrasya.
__ADS_1
" Enggak " jawab Arrasya singkat.
" Papi Er ? "
" Enggak "
" Kalo papa ? " tanya Adiza mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah Arrasya walau masih dalam pelukan.
" Enggak juga " jawab Arrasya membalas tatapan Adiza. Adiza mengerucutkan bibirnya.
" Bolehlah sedikit " Arrasya meralat ucapannya agar gadisnya itu tersenyum.
" Cukup aku saja yang kamu peluk " tegas Arrasya sambil menyematkan anakan rambut Adiza dibalik telinga calon istrinya itu.
Andika berjalan menjauh dari Adiza dan Arrasya, setelah sampai di depan pintu masuk Andika berbalik melihat ke arah Adiza dan Arrasya yang masih berpelukan. Andika meradang menyaksikan kemesraan pasangan yang baru saja mengadakan acara lamaran.
" Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini ? Adiza... Seandainya kamu tahu jika kamulah yang selalu ada di hati aku. Senyuman kamu, manjanya kamu, semuanya membuatku susah lupa. Aku harap kamu selalu bahagia bersamanya. Bersama lelaki yang begitu mencintai kamu, rela memperjuangkan kamu sebegitu besar. Semoga pengorbananku ini, bisa memberimu kebahagiaan " batin Andika.
Arrasya dan Adiza kembali masuk ke dalam gedung. Keduanya disambut oleh Lala dan Ryu yang menghampiri mereka mengucapkan selamat.
" Kalian kapan nyusul ? " tanya Arrasya pada Lala dan Ryu.
" Secepatnya " sambar Ryu membuat Lala memutar bola matanya.
" Tuh, La... Udah gak sabar dia " ucap Adiza diikuti kekehan tawa.
" Kerja dulu, baru mikir yang lain " ucap Lala ketus.
" Lamar dulu lah, takut diambil orang soalnya " jawab Ryu asal namun mengena di hati Lala.
Seketika raut wajah Lala berubah menjadi sendu. Adiza yang menyadari perubahan pada Lala segera meminta Arrasya agar membawa Ryu menjauh sehingga ia bisa berbicara dengan Lala.
Setelah Arrasya dan Ryu menjauh, Lala dan Adiza berbicara panjang lebar.
" Kamu ada masalah sama Ryu ? " tanya Adiza.
Lala menggelengkan kepalanya.
" Aku gak tahu harus gimana... Bokap nyokap mau jodohin gue sama anak kolega mereka "
" Hah, Masa sih, La ? Bukannya orang tua kamu tuh demokratis banget. Mereka gak pernah maksa-maksa anaknya mau ngelakuin apa. Mereka selalu dukung apapun pilihan kamu kan " ucap Adiza tak percaya.
__ADS_1
Lala menghela nafas lalu menghembuskannya kasar.
" Awalnya mereka gak mempermasalahkan hubungan gue sama Ryu. Mereka welcome banget malah sama Ryu. Begitu juga orang tuanya Ryu, mereka selalu dukung hubungan kami. Malahan ternyata mama sama mamanya Ryu itu temenan, jadi mereka setuju-setuju aja " cerita Lala sambil menghela nafas.
" Semuanya berubah waktu gue bilang, gue gak mau kuliah di Australia. Gue mau kuliah di sini aja barengan sama Ryu. Mama, papa gak setuju sampai-sampai mereka jodohin aku, Diz " jelas Lala, menahan agar air matanya tak jatuh.
" Masa sih cuma gara-gara gak mau kuliah di Ausi, kamu jadi dijodohin ? Sorry, agak aneh sih kalo menurut aku " ucap Diza mengemukakan pikirannya.
" Terus Ryu udah tahu masalah ini ? " tanya Adiza kembali.
Lala mengangguk, sambil melihat ke arah Ryu yang sedang bersama Arrasya dan juga Sakha.
" Dia gak peduli, dia malah nekat mau ngelamar. Padahal orang tuanya juga mau dia kuliah di Jepang dulu... " tutur Lala.
" Dia sayang banget ya sama kamu, La. Kamu beruntung " sahut Adiza sambil melihat ke arah Ryu.
" Tapi gue gak bisa gini, Diz... Gue gak mau kalau kita berdua jadi anak durhaka yang ngelawan orang tua. Gue tahu banget apa yang udah mereka lakuin supaya kita berdua berhasil jadi orang " ucap Lala.
" Terus, mau kamu gimana ? " tanya Adiza.
" Gue udah mutusin buat kuliah di Ausi dan putusin hubungan gue sama Ryu... " jawab Lala lirih.
" Apa ? Kamu yakin sama keputusan kamu ini ? Semua bisa dibicarain baik-baik La... Gak perlu ngorbanin perasaan kalian " sahut Adiza tak setuju dengan Lala.
" Ini jalan yang paling baik buat kita berdua. Orang tua kita berdua udah nyiapin kita buat jadi penerus di perusahaan mereka. Semuanya sudah dipersiapkan sejak lama. Dan gue tahu mereka menaruh harapan besar pada kami "
Adiza menatap lekat sahabatnya itu. Ia sedih mengetahui apa yang dihadapinya.
Mengapa Tuhan pertemukan, bila akhirnya dipisahkan ??
Mungkin itu yang ada dalam pikiran Adiza. Padahal ia tahu pasti bagaimana sulitnya Lala yang dingin bisa membuka hatinya untuk Ryu.
" Kalau menurut kamu, itu yang terbaik buat kamu. Aku pasti dukung kamu... Tapi aku berharap kamu itu berjodoh dengan Ryu. Aku tahu, cuma dia yang bisa buat kamu nyaman " ucap Diza memberikan dukungan pada Lala dengan memeluknya
" Thank you, udah mau pahamin dan dukung gue. Kalau memang jodoh gue itu Ryu, pasti kita bakalan nemu jalan buat sama-sama lagi " Lala membalas pelukan Adiza.
" Jodoh pasti bertemu " ucap Lala dan Adiza bersamaan, keduanya tergelak.
" Pas hari pernikahan Lo, gue mungkin udah gak disini. Tapi gue sempetin buat pulang " ucap Lala sambil melepas pelukan Diza.
" Janji ya, datang ! " seru Diza sambil memberikan jari kelingkingnya
" Janji... Lo tinggal kasih tahu aja kapan acaranya. Gue pasti langsung meluncur " ucap Lala menempelkan jari kelingkingnya ke kelingking Adiza.
...🌸🌸🌸...
__ADS_1