Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 22


__ADS_3

Adiza keluar dari toilet, bersamaan dengan itu ayahnya datang dari arah berlawanan bersama ibunya.


" Papa... " Adiza memanggil ayahnya sambil melambaikan tangan kemudian menghampiri keduanya.


" Kamu sudah disini ? " tanya ayahnya.


Adiza mengangguk.


" Tadi Diza ke ruangan papa, kata suster papa lagi visit bareng mama. Terus disuruh nunggu disini " jawab Diza sambil memeluk lengan ibu sambungnya.


" Sama siapa ke sini ? " tanya ibunya.


" Tuh... sama Rasya " tunjuk Adiza pada meja yang ditempati Rasya dan papinya.


" Itu papinya Rasya " tunjuk Diza lagi.


" Iya, papa tahu. Itu Om Erlangga, kamu masih ingat kan ? " tanya ayahnya.


Diza menggelengkan kepala sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Ya udah, mas. Kita samperin dulu sekalian makan siang bareng " seru Mama Sofie.


" Papa sama mama mau makan apa ? Biar diza yang pesenin sekalian buat papinya Rasya. Papa sama mama duluan aja kesana " ucap Diza.


" Ya udah pesenin aja nasi timbel komplit buat papa, mama, sama Om Erlangga " titah ayahnya sambil mengeluarkan uang seratus ribuan 3 lembar dan memberikannya pada Adiza.


" Thank you, papa emang paling ngerti Diza " ucap Diza menerima uang, lalu menuju stand makanan.


Ayah dan ibunya menuju tempat Rasya dan papinya duduk.


" Sudah datang dari tadi, Er ? " tanya ayahnya Diza pada papinya Rasya kemudian duduk bersama.


" Baru datang, kebetulan tadi lihat anak nakal ini yang suka kabur-kaburan. Eh gak tahunya malah asyik pacaran sama anak kamu " jawab Pak Erlangga disambut tawa dari ayahnya Diza.


" Anak kamu ini hebat, gentle man banget. Sebelum dia dekati Diza, dia minta ijin dulu lho " terang ayahnya Diza kagum dengan keberanian dan rasa tanggung jawab yang ditunjukkan oleh Arrasya.


" Begitu ya ? Aku gak nyangka dia bisa begini. Mungkin saking terpesona sama anak kamu yang cantik itu " kekeh papinya Arrasya membuat wajah Arrasya bersemu merah.


" Tadinya, aku mau jodohin anak kita. Jujur aku khawatir karena anak ini bisanya cuma belajar aja. Tapi ternyata, dia gerak cepat. Sampai-sampai dia rela cuti 1 semester cuma buat ngejar anak kamu itu, malahan sampai nyamar jadi murid baru di sekolahan si Ramlan hanya karena mau deketin anak kamu itu " tutur papinya Rasya tanpa sadar jika Adiza telah ada di belakang mereka.

__ADS_1


" Adiza... " Rasya menyebut nama Adiza dengan kaget saat melihat raut wajah gadis tercintanya itu menahan amarah.


Semua menoleh ke arah tatapan Rasya dan menyadari Adiza telah berada disana bahkan mungkin mendengar semua percakapan mereka.


Adiza berlari menjauh dari sana, dikuti oleh Rasya yang segera bangkit dari duduknya lalu mengejar Adiza.


Pak Erlangga hanya diam, bingung dengan situasi yang saat ini terjadi. Hingga akhirnya Pak Surya menjelaskan semuanya pada Pak Erlangga jika Adiza tidak mengetahui bahwa Arrasya itu sebenarnya seorang dokter.


Arrasya berhasil mengejar Adiza yang kini ada di halaman depan rumah sakit.


" Tunggu, Diz... Aku bisa jelasin " ucap Rasya memegang tangan Adiza.


" Lepas... Aku gak mau denger apapun. Kamu udah bohongin aku " marah Adiza, ia berusaha melepaskan pegangan tangan Arrasya.


" Tolong denger penjelasan aku dulu. Aku gak ada maksud bohongin kamu... Aku cuma gak tahu lagi gimana caranya deketin kamu. Maaf kalo kamu gak suka sama cara aku tapi aku beneran sayang sama kamu... " jelas Arrasya namun tetap Adiza tak terima.


Pada saat itu, Andika lewat dengan sepeda motor matiknya. Adiza melepaskan tangan Arrasya, lalu berteriak memanggil Dika. Mendengar namanya disebut, Dika menghentikan laju motornya. Adiza berlari menghampiri Andika.


" Kok kamu di... "


Belum selesai pertanyaan dari Andika, Diza langsung naik ke motor dan menyuruh Dika untuk segera tancap gas meninggalkan rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Dika langsung menarik gas dan berlalu. Dari kejauhan Arrasya hanya bisa melihat Diza dan Dika berlalu.


" Dasar bodoh... Harusnya aku jujur dari awal sama kamu. Maafin aku... " gumam Arrasya sambil membenturkan kepalanya di atas kemudi mobil.


" Kamu pergi kemana Diza... ? " lirih Arrasya dengan kepala masih ada di atas kemudi.


Tok... tok... tok... Suara ketukan kaca mobil terdengar membuat Rasya mengangkat kepala dan melihat ke luar jendela. Terlihat Sakha berdiri di samping mobilnya melihat dengan khawatir. Rasya membuka jendela mobil,


" Kenapa bang ? " tanya Rasya tanpa ekspresi.


" Gue pikir, Lo kenapa-napa. Ternyata masih hidup " guraunya.


" Gue gak ada waktu becanda sekarang, bang " ketus Rasya.


Sakha masuk ke dalam mobil Arrasya lalu menyuruh Arrasya menggeser duduknya dari kursi kemudi.


" Biar gue yang nyetir, pikiran Lo lagi kacau " ucap Sakha tegas.


" Gue gak bakalan bunuh diri kali... Gak usah khawatir gitu. Lagian gue belum mau mati muda bang. Gue kan belum nikahin adik Lo itu " kilah Arrasya membuat Sakha tersenyum. Ternyata sahabatnya ini masih bisa berpikir jernih. Kekhawatiran Om Surya dan Om Erlangga tadi ternyata berlebihan.

__ADS_1


" Baguslah Lo sadar. Jadi sekarang biar gue bantuin Lo jelasin sama Diza, lagian ide ini kan awalnya dari gue " ucap Sakha kemudian melajukan mobil.


...🌸🌸🌸...


Adiza menghapus air mata yang lolos di pipinya. Ia masih tak percaya jika Rasya bisa membohonginya. Padahal ia kini mulai mencintai Rasya. Andika yang menyadari Diza saat ini tengah dilanda lara tak banyak bicara. Ia hanya mengendarai motornya dan membawa Adiza ke sebuah tempat.


Andika menghentikan motornya di pinggir hutan pinus lalu mengajak Adiza berjalan dan duduk di sisi tebing.


" Kalau aku lagi sedih, aku suka datang kesini. Aku selalu teriak disini, walaupun gak bisa selesaiin masalah tapi bisa ngurangin rasa sedih kita. Cobain deh " seru Dika.


Adiza melihat ke arah Dika, Dika menganggukkan kepalanya meminta Adiza mencoba. Adiza bangkit lalu berdiri di tepi tebing. Ia menarik nafas panjang lalu berteriak sekuat-kuatnya. Ia menghilangkan kekalutannya dengan berteriak sebagaimana ide Dika. Setelah beberapa teriakan, akhirnya ia kembali duduk. Dika sudah menyiapkan sebotol air mineral untuk Adiza. Diza meraih botol itu lalu segera meminumnya.


" Makasih ya... Kamu memang kakak yang baik " ucap Diza membuat Dika tertegun.


" Kakak ? Jadi tempatku hanyalah kakak saat ini ? Rupanya dia sudah berhasil membuatmu berpaling "


Dika mengusap pucuk kepala Diza, ingin rasanya ia memeluk Adiza saat ini.


" Sebenarnya ada masalah apa ? " tanya Dika hati-hati, ia tak ingin suasana hati Adiza yang kini membaik kembali tak baik.


Adiza menghela nafasnya, lalu menceritakan semuanya pada Andika.


" Rasya tega banget bohongin aku " lirih Diza.


Andika tersenyum simpul.


" Kamu harusnya bahagia... Dia rela melakukan itu hanya untuk deketin kamu. Tentunya rasa cintanya itu begitu besar. Coba kamu lihat apa yang sudah dia korbankan untuk kamu. Dia rela cuti kuliah dan menyamar jadi anak sekolah cuma buat kamu. Padahal mungkin di luar sana banyak perempuan yang rela menunggunya " papar Dika, membuat Diza tercengang.


" Kamu harus bisa melihat dari 2 sisi, agar kamu bisa menarik kesimpulan yang tepat!" sambung Dika lagi.


Adiza menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia melihat ke arah Dika. Lelaki yang pernah dicintainya yang sampai saat ini belum berhasil dilupakannya meskipun posisinya telah tergantikan oleh lelaki lain.


" Kalau kamu masih marah, coba deh kamu ambil air wudhu terus kamu sholat buat nenangin diri " ucap Dika menasehati Diza.


" Udah sore, ayo kita pulang. Nanti ada yang nyariin " ajak Dika.


Andika dan Adiza bergegas pulang ke rumah. Begitu sampai, Arrasya langsung menghampiri Adiza tapi Adiza masih menolak untuk bicara dengan Arrasya. Adiza segera masuk ke dalam kamarnya.


" Biarin Diza tenang dulu supaya pikirannya jernih " ucap bijak Dika yang diiyakan oleh Sakha.

__ADS_1


__ADS_2