Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 29


__ADS_3

Andika POV


Aku menunggumu pulang ke rumah sore itu kendati aku tahu bahwa kamu sedang pergi bersamanya, bersama calon suami yang selalu mencintaimu. Kutunggu hingga senja berlalu berganti malam kamu masih belum kembali. Aku segera pamit pada mama dan papa untuk kembali ke rumah sakit karena terkena angin malam tak baik untuk kesehatanku. Mama dan papa berusaha menahanku agar tetap tinggal dan kembali esok pagi. Tapi tak kuamini, bagiku terlalu banyak waktu berdekatan denganmu bisa membuat ku semakin tak rela meninggalkanmu.


Sungguh, rasa rindu ini begitu menyiksaku...


Apakah kamu juga merasakan hal ini ?


Aku tersenyum pilu, tentunya kamu tak lagi merasakan rindu sepertiku. Sudah ada dia yang selalu bersamamu. Dia yang tak pernah sedikitpun mau untuk berpisah denganmu.


Aku menatap ke atas langit, kulihat bulan sabit itu tersenyum padaku lagi.


Kamu bisa Andika... Kamu sudah bertahan sejauh ini...


Aku menjalankan motor matik ku dengan perlahan, berharap aku bisa berpapasan denganmu. Walau hanya sepintas saja, aku sangat bersyukur bisa melihat wajah cantikmu. Itu akan terasa seperti mendapat asa bahagia di sisa akhir hidupku.


Rupanya, keinginanku itu terwujud. Dari kejauhan aku melihat mobil milik kekasihmu itu melaju menuju rumah. Aku menghentikan laju motorku dan memarkirkannya di bawah pohon yang ada di ujung jalan. Dengan begitu, aku bisa melihatmu meskipun dari kejauhan.


Mobil sport putih itu berhenti di depan rumah, namun tak ada tanda-tanda kamu keluar dari mobil.


Aku menunggumu keluar dengan sabar. Kulihat lampu di dalam mobil menyala. Dari jauh kulihat, ia bergerak mendekatkan wajahnya ke arahmu. Walau tak terlihat dengan jelas apa yang dilakukannya tapi dari siluet bayangannya saja aku tahu jika ia kini tengah mengecup bibirmu. Meskipun itu hanya kecupan singkat saja tapi aku yakin kamu tak menolaknya meskipun kamu sempat terdiam. Aku bisa pastikan itu adalah ciuman pertama kalian.


" Tuhan, mengapa aku harus melihatnya saat ini... " ratapku dalam hati.


Dia keluar dari dalam mobil, melambaikan tangan pada pangerannya lalu bergerak masuk ke dalam rumah setelah mobil milik calon suaminya itu melaju.


Terasa sakit di bagian dada sebelah kiri ku. Kuraih wadah obat yang tak pernah absen selalu menemaniku. Aku ambil sebutir pil dan menelannya. Berangsur sakit itu hilang, tapi tidak dengan rasa sakit lain yang kurasakan.


Ternyata rasa yang tercipta diantara kalian sedalam itu... Sepertinya tak ada lagi yang tersisa untukku !


Perlahan buliran hangat meleleh di pipiku, segera kuseka menggunakan lenganku.


Aku menertawai diriku sendiri, tentu saja rasa diantara mereka sangat besar, bukankah mereka akan segera menikah beberapa bulan lagi. Dan mereka akan menjadi pasangan yang paling berbahagia.


Aku memaki diriku sendiri, betapa bodohnya aku berusaha melepaskan tapi tak ingin melupakan. Aku sendiri yang merelakannya lalu mengapa saat ini aku merasa menyesalinya.


Adiza, aku harus bagaimana ? Haruskah aku merasa kecewa ataukah bahagia ?


Aku terduduk di atas jok motor, memikirkan segala sesuatu yang terlanjur terjadi. Memanglah benar adanya penyesalan itu selalu datang terlambat.


Tertawa dalam tangisan, itulah yang terjadi padaku saat ini.

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kucoba berpikir jernih. Ini adalah resiko atas keputusan yang telah kuambil. Setidaknya aku bahagia melihatmu menjalani hubungan yang tulus dan tanpa paksaan. Aku rasa, kamu akan bahagia bersamanya. Dan aku akan selalu bahagia untukmu.


...🌸🌸🌸...


Adiza masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. Ayah dan ibunya sedang duduk di sofa saat ia masuk. Adiza menyalami keduanya lalu duduk bersama mereka.


" Lho, Rasya mana ? Tumben gak mampir dulu " tanya mama Sofie saat menyadari jika Adiza hanya seorang diri.


" Tadi langsung pulang, katanya udah malam. Lagian besok pagi juga mau jemput. Maaf katanya gak bisa mampir " jelas Adiza.


" Oh begitu... " sahut papa Surya sambil manggut-manggut.


" Mau makan sayang ? " tanya mama Sofie kemudian.


" Tadi udah makan sama Rasya " jawab Adiza singkat.


" Tadi Dika kesini. Dia nungguin kamu, tapi karena kelamaan akhirnya dia pulang. Memangnya gak papasan tadi di jalan ? " tanya papa Surya.


Adiza menggeleng lemah, ia ingat tadi dia tertidur di mobil sehingga tidak menyadarinya.


" Nanti, Dika kesini lagi kan ? " tanya Adiza antusias.


" Mama gak bisa pastikan sayang. Mungkin kalau ada waktu senggang lagi, Dika mampir " jelas mama Sofie ragu.


" Jangan sayang... " larang mama Sofie spontan membuat Adiza mengerutkan keningnya heran.


" Ma... Maksud mama, gak perlu jauh-jauh ke sana. Lagipula kamu sama Rasya kan sama-sama sibuk. Andika juga sibuk kuliah, jadi lebih baik kalau ditunda saja. Atau nanti kita bisa sama-sama pergi ke sana " Mama Sofie memberi penjelasan.


" Oh iya ya... " ucap Diza membenarkan ucapan Mama Sofie.


" Ya sudah, kamu istirahat sana. Besok ada kuliah pagi kan " seru Papa Surya.


Adiza beranjak dari duduknya, lalu menghampiri dan mencium pipi kedua orangtuanya. Lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya. Adiza menghentikan langkah kakinya saat lewat di depan kamar Andika. Ia berbelok dan masuk ke kamar yang pernah ditempati oleh Andika.


Adiza melihat sekeliling kamar bercat putih itu. Kakinya melangkah menuju sudut kamar tempat Andika biasa sholat dan mengaji. Adiza ingat betul, jika Andika selalu melantunkan ayat-ayat suci setelah sholat subuh. Di sana masih tersimpan dengan rapi sajadah dan Alquran yang selalu dipakai Andika.


Langkah kaki Adiza kemudian menuju meja belajar. Matanya tertuju pada deretan figura yang terpajang rapi di atas meja. Ada foto keluarga saat acara resepsi pernikahan, foto Andika berdua bersama mama Sofie, bahkan ada pula foto dirinya bersama Andika saat mereka photo box sebelum nonton film waktu itu. Adiza tersenyum menatap foto-foto itu.


" Kamu disini ? " sebuah suara mengagetkannya. Ia berbalik dan terkejut melihat Andika berdiri di depan pintu kamar.


Adiza segera berlari ke arah Andika kemudian memeluknya membuat Andika tertegun kemudian balas memeluk Adiza.

__ADS_1


" Kalau Arrasya lihat... Dia pasti ngamuk " bisik Andika membuat Adiza segera melepaskan pelukannya pada Andika.


Andika tersenyum samar dengan perubahan sikap Adiza.


" Kenapa kamu gak nungguin aku pulang sih ? " tanya Adiza kesal.


" Kalo nungguin tuan putri sama pangeran pulang bisa jamuran dong " canda Andika dengan senyum dan lesung pipi khasnya.


Adiza mencubit lengan Andika.


" Aku kangen sama kamu " ucap Andika kemudian membuat Adiza membuka lebar matanya.


" Aku juga kangen... " sahut Adiza sambil tersenyum manis.


" Senyumnya jangan manis-manis gitu, aku bisa diabetes lho " canda Andika lagi yang membuat Adiza melengos.


" Tadi katanya pulang, kok bisa balik lagi sih " ucap Adiza sambil meraih lengan Andika dan bergelayut manja disana. Nyaris tak ada kecanggungan yang diperlihatkan Adiza, nampaknya perasaannya pada Andika kini benar-benar hanya perasaan seorang adik pada kakaknya.


" Tadinya mau pulang, tapi tadi lihat mobil Arrasya di jalan. Ya udah, auto balik lagi. Kangen sama calon Bu dokter yang cantik ini " jawab Andika santai.


Adiza mendelik lalu melepaskan tangannya dari lengan Andika.


" Kangen, tapi jarang pulang " cibir Adiza mengerucutkan bibirnya.


" Pulang juga percuma, si neng cantik udah punya bodyguard " elak Andika membuat Adiza mencubit kembali lengan Andika. Kali ini cubitannya meninggalkan bekas kemerahan di lengan Andika.


" Biar inget terus kalo disini ada adiknya yang selalu kangen " ucap Adiza asal saat melihat bekas cubitan di lengan Andika.


Andika hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Adiza itu.


" Nginep disini kan ? " tanya Adiza penuh harap.


" Iya tuan putri " jawab Andika yang sukses membuat Adiza menarik sudut bibirnya.


" Kalau gitu, besok kamu yang anterin aku ke kampus ya. Biar nanti aku kasih tahu Arrasya supaya gak jemput " oceh Adiza.


" Aku udah pensiun lho jadi tukang ojek kamu... Kamu lupa ? " ucap Andika asal.


" Idih, sekali-kali gak apa-apa kali " ucap Adiza manja.


" Boleh aku tolak ? " tanya Andika dijawab dengan gelengan kepala oleh Adiza.

__ADS_1


" As your wish, my princess " ucap Andika yang diikuti sorak bahagia Adiza.


" Melihat kamu sebahagia ini, adalah kebahagiaan yang teramat berarti buat aku... " gumam Andika dalam hati.


__ADS_2