Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 34


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan telah selesai. Kini tinggallah sepasang pengantin di dalam kamar hotel yang telah dihias dengan sangat indah.


Arrasya telah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, sementara Adiza kini tengah terpaku di dalam kamar mandi. Ia bingung sendiri, tak tahu apa yang harus ia lakukan malam ini bersama Arrasya. Pikirannya berkelana, memikirkan malam pertamanya dengan Arrasya.


Tok... tok...tok... Pintu kamar mandi diketuk.


" Sayang, kamu masih belum selesai ? " tanya Arrasya dari balik pintu.


" I... Iya... belum " jawab Adiza gugup.


" Kamu gak apa-apa kan ? Lama banget sih ? " tanya Arrasya lagi.


Adiza membuka pintu kamar mandi lalu mengeluarkan kepalanya.


" Bisa tolong bantu aku, bukain resleting gaunnya " pinta Adiza memelas.


" Jadi kamu dari tadi belum mulai mandi karena gak bisa buka gaunnya ? " tanya Arrasya. Adiza mengangguk malu.


" Kenapa gak bilang dari tadi. Aku kan bisa bantu " ucap Arrasya lalu bergerak masuk ke kamar mandi.


Adiza mendorong pintu kamar mandi saat Arrasya melangkah masuk.


" Kok malah ditutup sih, yang " ucap Arrasya karena sang istri tiba-tiba menutup pintu.


" Kamu mau kemana ? " tanya Adiza dari balik pintu.


" Ya mau masuk lah. Gimana mau bantuin kamu kalau aku di luar " jelas Arrasya merasa lucu dengan sikap sang istri.


Adiza membuka pintu kembali dan membiarkan Arrasya masuk. Arrasya melangkah memasuki kamar mandi. Dilihatnya gaun belakang sang istri yang resletingnya sudah terbuka setengah bagian memperlihatkan punggung putih dan mulus milik Adiza. Arrasya mencoba menahan hasratnya saat membuka resleting sampai ke bawah.


" Udah selesai ? " tanya Adiza saat menyadari jika Arrasya telah menghentikan gerakan tangannya.


Arrasya memeluk mesra Adiza lalu menciumi leher dan punggung Adiza membuat Adiza bergidik geli.


" Aku mau mandi dulu... Kamu tunggu di luar aja " ucap Adiza sambil berusaha meloloskan diri dari kegiatan bergairah Arrasya.


Tanpa Adiza sangka, Arrasya melepaskan gaun Adiza membuatnya tampil polos di depan Arrasya. Seketika Adiza berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Tanpa aba-aba, Arrasya mengangkat dan membawa Adiza dari dalam kamar mandi ke atas ranjang kemudian membaringkannya.


Arrasya mulai menciumi Adiza dengan lembutnya. Mereka lalu menghabiskan malam pertama yang syahdu penuh dengan cinta kasih.


Adiza mengerjapkan matanya saat mendapat ciuman di bibirnya. Saat matanya membuka sempurna ia melihat Arrasya ada di hadapannya dan berpakaian dengan rapi.


" Selamat pagi istriku sayang " ucap Arrasya mesra sambil menatap istri cantiknya itu.


Adiza menarik selimut, menutupi tubuhnya. Walaupun Arrasya sudah melihat seluruh tubuhnya, tapi tetap saja ia merasa malu pada suaminya itu. Arrasya tersenyum melihat sikap canggung Adiza.


" Kamu mandi dulu, habis itu kita sholat subuh berjamaah. Mulai saat ini, aku imam kamu " ucap Arrasya lembut sambil memberikan handuk kepada sang istri. Adiza segera bangkit dan berjalan tertatih menuju kamar mandi. Melihat sang istri yang agak kesulitan berjalan membuat Arrasya berinisiatif mengangkat Adiza ke kamar mandi.

__ADS_1


Adiza segera membersihkan diri kemudian berpakaian dan sholat bersama dengan sang suami.


...🌸🌸🌸...


4 bulan kemudian,


" Sayang... Nanti aku jemput kamu ya. Ingat, sebelum aku datang, kamu gak boleh kemana-mana. Kamu gak boleh ngobrol sama laki-laki manapun " pesan Arrasya begitu sampai di depan kampus.


" Iya " jawab Adiza singkat. Ia malas berdebat dengan sang suami. Ia masih tak habis pikir dan heran dengan sikap posesif Arrasya yang tidak juga berkurang meskipun mereka sudah menikah malah semakin berlebihan.


" Kamu gak suka ? " tanya Arrasya sambil menatap wajah sang istri yang menunjukkan raut kekesalan. Adiza mencebikkan bibirnya.


" Bukannya aku gak suka... Aku cuma gak ngerti aja. Semua orang di kampus itu tahu kalau aku tuh istri kamu, menantu dari Profesor Erlangga, guru besar di kampus ini. Tapi kamu masih gak percaya sama aku " Rajuk Adiza.


Arrasya tersenyum melihat istrinya yang tengah merajuk. Arrasya mengelus pipi istri tercintanya.


" Aku percaya sama kamu, sayang... Tapi aku gak bisa percaya sama laki-laki di luar sana. Jaman sekarang banyak virus-virus bergentayangan dimana-mana " ucap Arrasya menjelaskan pada sang istri.


" Tapi virus-virus itu udah gak mempan sama aku " sahut Adiza.


" Maksud kamu ? " tanya Arrasya bingung dengan jawaban Adiza.


" Ya, gak mempan lah. Setiap malam kan kamu suntikin vaksin ke aku " jawab Adiza kesal dan mengerucutkan bibirnya.


Arrasya tertawa mendengar jawaban polos dari istrinya itu.


Adiza menarik tangan Arrasya dan membawanya ke atas perutnya.


" Gak akan ada yang macem-macem. Karena udah ada dia yang jagain aku " ucap Adiza membuat Arrasya tertegun.


" Kamu hamil ? " tanya Arrasya tak percaya.


Adiza mengangguk, lalu mengambil testpack dari dalam tasnya.


" Aku baru cek tadi pagi karena udah telat 2 minggu " jelas Adiza.


Arrasya mengambil testpack dari tangan Adiza. Melihat ada dua garis disana menandakan sang istri memang positif hamil. Arrasya memeluk Adiza.


" Terima kasih sayang, aku akan selalu menjaga kalian " ucap Arrasya sambil mengelus perut Adiza yang masih rata.


" Kalau gitu, nanti siang kita periksa kandungan kamu ya ! " seru Arrasya dibalas anggukan kepala Adiza.


Adiza kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus.


...🌸🌸🌸...


Adiza dan Arrasya sedang berbaring di atas ranjangnya. Mereka begitu bahagia saat mengetahui usia kandungan Adiza yang sudah berusia 6 Minggu. Mereka berdua begitu excited dengan kehadiran janin dalam rahim Adiza sampai-sampai foto USG dipajang dan diberi figura.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Arrasya baru saja menutupkan matanya. Hingga suara ponsel membangunkannya.


" Iya, bang... ? Jam berapa ini ? Gangguin orang tidur aja sih " gerutu Arrasya.


Namun sejenak kemudian, mata Arrasya langsung terbuka lebar.


" Oke, gue kesana sekarang bang " jawab Arrasya segera bangkit dari ranjangnya.


" Lo tunggu aja di kamar. Kalo bisa berendam aja di bath tub. Gue bawain obat kesana sekarang " ucap Arrasya lalu menutup ponselnya.


Adiza terbangun karena mendengar suara panik Arrasya.


" Kamu mau kemana ? " tanya Adiza melihat Arrasya bersiap mengenakan jaketnya.


" Aku ada urusan sebentar. Kamu tunggu ya " jawab Arrasya.


" Siapa yang telpon ? " tanya Adiza kemudian.


" Abang Sakha " jawab Arrasya.


" Kak Sakha kenapa ? " tanya Adiza khawatir.


" Ada masalah sedikit, aku harus bantuin dia. Kamu tenang aja, semua pasti baik-baik aja " jawab Arrasya menenangkan Adiza.


" Aku ikut... " pinta Adiza.


Arrasya menggelengkan kepala,


" Ini udah malam, lagipula kamu sedang hamil muda. Angin malam tak baik untuk ibu hamil " jelas Arrasya.


" Gak mau, mau ikut " rengek Adiza membuat Arrasya bingung.


" Aku akan cepat kembali. Kamu tunggu disini ya " pinta Arrasya lagi mengecup kening sang istri.


" Enggak, pokoknya mau ikut ! Ini maunya debay " rengek Adiza lagi membuat Arrasya menyisir kasar rambutnya. Arrasya menghela nafasnya.


" Ok, kamu boleh ikut... Tapi aku mohon jaga baik-baik kandungan kamu. Aku gak mau terjadi apapun pada kalian berdua " tegas Arrasya. Adiza pun segera bangkit dan bergegas pergi bersama Arrasya setelah memakai jaket.


Mereka keluar dari apartemen lalu bergegas masuk ke dalam lift menuju basement. Setelah sampai di basement, mereka segera masuk ke dalam mobil lalu melaju menuju tempat Sakha berada.


Arrasya melajukan kendaraannya secepat mungkin. Untunglah kondisi jalanan di malam hari tak seramai jalanan di siang hari. Sehingga mereka bisa bergerak secepat mungkin.


Akhirnya mereka sampai di depan hotel tempat Sakha menginap. Sakha memang sedang menghadiri seminar di hotel ini selama 3 hari. Dan ini adalah malam terakhir Sakha menginap di hotel karena seminar telah selesai.


Arrasya dan Adiza naik lift menuju kamar Sakha yang berada di lantai 3. Kamar dengan nomor 308 itu, nampak tak terkunci hingga Arrasya dan Adiza bisa langsung masuk. Suasana kamar itu nampak berantakan. Dengan pakaian yang berserakan di lantai. Arrasya meminta Adiza menunggu di depan pintu kamar. Ia khawatir istrinya itu akan shock jika mendapati keadaan Sakha.


Arrasya mendapati Sakha tanpa pakaian sedang berbaring dengan tubuh bagian bawah tertutup selimut. Ia pun melihat bercak merah di permukaan sprei. Arrasya mengacak rambutnya.

__ADS_1


" Apa yang udah Lo lakuin bang ? " gumam Arrasya panik.


__ADS_2