
Arrasya dan Adiza berjalan masuk ke dalam mall. Selama perjalanan itu tak lepas tangannya menggenggam tangan Diza. Seolah Rasya ingin menunjukkan bahwa ia lah sang pemilik hati dari gadis cantik itu. Walaupun Adiza belum memberikan jawaban pasti,tapi ia yakin bahwa gadis cantik itu tak akan menolaknya. Terbukti dengan genggaman tangannya yang tak ditepis oleh Adiza. Langkah mereka terhenti saat berada di depan sebuah restoran. Rasya akan membawa Diza masuk, tetapi Diza menahannya.
" Mau kemana ? " tanya Diza saat Rasya melangkahkan kaki memasuki restoran.
" Mau ajakin kamu makan, kamu gak lapar ? " tanyanya.
Diza menggelengkan kepalanya.
" Kalo temenin aku makan, mau kan ? " tanya Rasya lagi lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Adiza tak menolak.
Mereka berdua duduk di meja paling ujung dengan pemandangan langsung ke luar mall. Di luar nampak hujan mulai turun.
" Kenapa ? " tanya Rasya memperhatikan Diza yang terus melihat ke arah luar.
" Hujan... Kayaknya udah mulai masuk musim hujan sekarang " jawab Diza lalu mengalihkan pandangannya pada Rasya yang duduk di hadapannya.
" Hem... Kamu gak suka hujan ? " tanyanya lagi.
" Suka... Hujan itu... menenangkan... " jawab Diza tersenyum sendiri.
Semenjak kecil Diza selalu menyukai hujan. Dulu ia sering bermain hujan bersama sang ayah dan juga Sakha. Bagi Adiza, hujan itu selalu bisa menghilangkan kegundahannya, selalu membawa kesejukan di sekitarnya. Bahkan ia menyukai kemunculan pelangi yang muncul setelah hujan berhenti di senja yang cerah.
Rasya tersenyum melihat wajah Diza yang tersenyum nampak bahagia.
" Melihatmu tersenyum saja aku sudah sangat bahagia... " batin Rasya.
Sadar Rasya menatapnya, Diza mengarahkan tatapan matanya pada Rasya membuat mereka beradu pandang.
Rasya menatap Diza dengan penuh cinta, membuat Diza tak berkutik.
" Kamu suka hujan juga ? " Adiza mencoba mengalihkan perhatian Rasya.
" Suka... Tapi aku lebih suka kamu " tegasnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Diza yang semakin membuat Diza salah tingkah.
Untungnya, pelayan datang mengantarkan buku menu sehingga membuat perhatian Rasya teralihkan. Adiza menarik nafas lega, bagaimanapun ia selalu tak tahan jika melihat Rasya menatapnya.
Pelayan itu berlalu setelah Rasya memesan menu. Dan akhirnya Rasya kembali menatap Diza dengan lembut. Tak hanya menatap, ia pun meraih tangan Diza.
" Adiza... Kamu inget gak ? Waktu itu aku bertanya saat hujan. Sekarang saat hujan pula aku minta jawabannya " ucap Rasya.
" Ja... Jawaban apa ? " tanya Diza pura-pura lupa sambil menarik tangannya.
Rasya menunduk, ia tersenyum simpul.
__ADS_1
" Aku tahu kamu pura-pura lupa... Aku gak bisa kamu bohongin " ucapnya dengan senyuman terus mengembang.
" Ok... Aku ingetin lagi. Adiza... Kamu mau jadi pacar aku, jadi calon istri aku ? " tanyanya serius.
" Aku udah kasih waktu kamu untuk berpikir, dan aku mau jawabannya sekarang. Oh iya satu lagi... Aku gak terima penolakan " serunya yang sukses membuat Diza membelalakkan matanya.
" Itu mah maksa namanya " oceh Diza
mengerucutkan bibirnya.
Rasya bangkit dari duduknya lalu mendekati Diza.
" Kalau gak dipaksa emang kamu mau ? " bisiknya di telinga Diza membuat Diza tak bisa berkata apapun karena gejolak rasa di dalam hatinya.
" Jadi apa jawabannya ? " tanya Rasya sekali lagi sambil meraih tangan Diza kembali.
Diza menganggukkan kepalanya membuat Rasya ingin berteriak senang.
" Kamu yakin nerima aku ? " tanya Rasya meminta kepastian pada Adiza.
" Iya, aku terima kamu jadi pacar aku " jawab Diza yakin.
Rasya mencium tangan Diza.
" I... Ini... " Adiza tak percaya saat Rasya memakaikan kalung yang telah hilang itu.
" Maaf, aku baru memberikannya hari ini. Aku menemukannya pada saat hari pertemuan kita dulu. Aku menyimpannya dan sudah memperbaikinya. Aku berharap saat aku mengembalikannya padamu, kita sudah ada dalam satu ikatan hubungan. Dan itu terwujud hari ini. Aku tahu kalung ini sangat berharga buat kamu, seperti halnya kamu yang sangat berharga untukku " tutur Rasya yang kemudian terdiam karena mendapat pelukan dari Adiza.
" Terima kasih sudah menyimpannya untukku. Dan terima kasih sudah mau mencintaiku. Sebagaimana kalung ini yang masih berjodoh denganku. Aku berharap kamu jugalah jodohku " ucap Diza.
" Aku selalu berdoa, selalu menyebut namamu di sepertiga malam ku. Aku juga berharap kalau aku lah jodohmu " tegas Rasya kemudian membalas pelukan Diza.
" Ehem... ehem... Wah yang baru jadian udah main peluk-peluk aja " celetuk Dika, membuat Rasya dan Diza melepaskan pelukan mereka.
Rasya tersenyum melihat Dika yang datang bersama seorang gadis manis, sementara Diza tertunduk malu.
" Eh kenalin, ini Diana " Dika mengenalkan gadis di sampingnya itu.
Rasya dan Diza menyalami gadis yang ada di samping Dika. Diza mengingat-ingat, sepertinya ia pernah melihat gadis itu. Mereka berempat akhirnya duduk bersama.
" Wah... Bakalan ditraktir sama yang baru jadian nih kayaknya " oceh Dika.
" Bolehlah, pesen aja yang kalian mau " sahut Rasya lalu memanggil pelayan agar mencatat menu yang dipesan Dika dan Diana.
__ADS_1
" Aku kayaknya pernah lihat kamu tapi dimana ya ? " tanya Diza pada Diana. Diana menahan tawanya.
" Kita kan satu SMP dulu, wah kalau gak terkenal jadi gak tahu ya. Beda sama kamu, Lala dan Yasmin. Kalian bertiga mah terkenal, satu sekolahan hafal " jelas Diana.
Adiza tersenyum mendengar pujian dari Diana. Ya, akhirnya Diza ingat Diana adalah gadis yang selalu pulang bersama dengan Dika. Rupanya mereka pacaran sudah selama itu... Diza tak pernah menyangka jika Diana itu adalah kekasih Dika.
Pesanan mereka akhirnya datang. Dika dan Rasya sama-sama memesan steak, sementara Diana memesan spaghetti. Sedangkan Diza hanya memesan es krim vanilla kesukaannya.
" Kayaknya enak tuh spaghetti nya, bagi dong " seru Dika pada Diana yang kemudian disuapi oleh Diana.
Diza yang sedang menikmati es krimnya langsung terdiam melihat pemandangan dihadapannya. Walaupun sudah ada Rasya di sisinya, tapi tetap saja rasanya sakit. Rasya memperhatikan Diza, lalu tanpa banyak berkata Rasya memotong steaknya dan menyuapi Diza.
" Steak ini enak banget, kamu cobain deh. Aaa..."
Diza membuka mulutnya, Rasya nampak senang bisa mengalihkan perhatian Diza.
" Enak kan ? " tanya Rasya. Adiza menganggukkan kepalanya.
Tak lama Adiza yang menyuapi Rasya es krim.
" Hmm... Enak... Lebih enak lagi karena disuapin kamu " gombal Rasya membuat Dika terbatuk.
" Duh, yang baru jadian sampe lupa daratan... " cibir Dika.
" Sirik aja, kan kamu yang mulai duluan " sahut Rasya diiringi gelak tawa Diza dan Diana.
Disaat mereka tertawa, Diana menyentuh tangan Dika. Dika hanya memberikan kode dengan anggukan kepalanya, menyatakan bahwa ia baik-baik saja. Diana kemudian tersenyum.
Setelah makan bersama, acara dilanjutkan dengan menonton film. Mereka berempat duduk sejajar. Diza duduk di kursi paling ujung kemudian diikuti Rasya, Dika dan Diana yang duduk di sebelah Dika.
" Kamu yakin, kamu baik-baik aja ? " bisik Diana pada Dika.
Dika melihat ke arah Diana, kemudian mengangguk.
" Aku pasti baik-baik aja " Dika balas berbisik.
Diana melihat ke arah Rasya dan Adiza.
" Tapi... " Diana tak meneruskan ucapannya saat Dika memegang tangannya.
" Aku baik-baik aja, selama dia bahagia " ucap Dika lirih.
Diana menepuk-nepuk lengan Dika menguatkannya. Dika tersenyum menutupi lara di hatinya.
__ADS_1