
Andika dan Adiza melanjutkan pembicaraan mereka hingga sangat larut. Saking terlalu asyiknya mereka berbincang, membuat Adiza tertidur di atas ranjang Andika.
Andika berniat membangunkan Adiza, tapi diurungkannya saat melihat Adiza yang tertidur pulas dengan dengkuran halus. Andika membetulkan posisi tidur Adiza lalu menyelimuti Adiza.
Andika menatap wajah cantik Adiza. Gadis itu tetap cantik meskipun kini tengah tertidur. Andika memberanikan diri mengelus rambut Adiza.
" Andai saja, aku bisa menyentuhmu seperti ini setiap hari... " gumam Andika mendekatkan wajahnya agar melihat jelas wajah Adiza.
Adiza bergerak memiringkan badannya sehingga wajah mereka tepat berhadapan. Andika mengelus lembut pipi Adiza yang nampak jelas di hadapannya. Entah apa yang membuatnya begitu berani, ia mendekatkan wajahnya kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibir Adiza.
" Maafkan aku yang telah mencuri ciuman darimu... Aku mencintaimu, Adiza " lirih Andika, kemudian bangkit dan berjalan keluar dari kamar
Adiza... ternyata benar adanya jika menahan rindu itu berat. Selama ini aku hanya bisa menahan kerinduan. Hanya bisa memanggil namamu di setiap malamku. Aku ingin bersamamu meskipun hanya dalam mimpiku
๐ผDan waktu kan menjawab
Pertemuanku dan dirimu
Entah sampai kapan
Aku masih ada disini
Ku hanya diam
Menggenggam menahan segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang
dan hadir di mimpiku selalu di mimpiku Rindu...๐ผ (Tentang Rindu by Virza)
Andika menyadari, bagaimanapun ia tahu jika Adiza tak tercipta untuknya, cukup dengan mengagumi dan mencintai sepenuh hati tanpa harus memiliki itu hal yang paling hakiki untuknya.
Andika turun ke lantai bawah, kemudian berbaring di sofa. Ia memejamkan matanya karena rasa kantuk yang menyerangnya kini sudah tak kuasa ditahannya lagi. Ia bahagia bisa mencium gadis yang dicintainya.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Adiza membuka mata, melihat sekeliling ruangan. Ia sadar dimana dirinya berada. Semalam pasti dia tertidur di kamar Andika.
Ceklek... Pintu kamar terbuka, terlihat Andika dari balik pintu dengan memakai baju koko lengkap dengan sarung dan peci.
" Tuan putri baru bangun " ucap Andika.
Adiza mengangguk lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
" Maaf tadi malam aku ketiduran disini. Kamu tidur dimana ? " tanya Adiza sambil bangkit dari ranjang kemudian membereskannya.
" Tadinya tidur di sofa, tapi papa nyuruh pindah ke kamar tamu " jelas Andika.
__ADS_1
" Ya udah, aku ke kamar dulu ya. Mau sholat terus siap-siap soalnya ada kuliah pagi " ucap Adiza, melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Adiza masuk ke dalam kamar miliknya, lalu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu setelah itu sholat subuh.
Selesai sholat, Adiza kembali masuk ke kamar mandi dan segera merendam tubuhnya dalam bathtub. Pikiran Adiza melayang. Teringat ciuman pertamanya dengan Arrasya kemarin malam. Adiza menutup matanya sesaat.
" Astaga... Aku gak sangka efek ciuman semalam masih terasa... Sampai-sampai tidur pun masih berasa " gumam Adiza tersenyum-senyum sendiri membayangkan ciuman pertamanya dengan Arrasya sambil menyentuh bibirnya.
Adiza bangkit dari bathtub setelah puas berendam kemudian membilas tubuhnya.
Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaian yang sudah disiapkannya tadi untuk berangkat kuliah.
Adiza sudah siap dengan mengenakan celana jeans dan kaos berwarna putih dipadu padankan outer berbahan jeans. Tak lupa ia mengenakan sepatu kets kesayangannya. Ia tampil cantik bergaya casual dengan rambut panjangnya yang sengaja digerai.
Adiza turun dari kamarnya menuju ruang makan. Di meja makan semua sudah berkumpul untuk makan pagi bersama.
Adiza dan Andika bersiap untuk berangkat, saat mereka keluar rumah nampak Arrasya baru saja datang dan keluar dari mobilnya.
" Kamu mau bareng Rasya ? " tanya Andika saat melihat Arrasya menghampiri mereka.
Adiza melihat Arrasya yang tersenyum lebar melihat ke arahnya. Arrasya mendekat lalu mengelus rambut panjang Adiza.
" Baru tadi malem ketemu, sekarang udah kangen lagi " bisik Arrasya membuat mata Adiza membola.
" Pagi-pagi udah gombal " Adiza balas berbisik sambil mencubit gemas pinggang Arrasya membuat Arrasya tertawa kecil.
" Kamu semalam nginap disini ? " tanya Arrasya pada Andika ramah.
" Iya, kangen sama semuanya. Apalagi si neng geulis ini " papar Andika membuat raut muka Arrasya berubah seketika.
" Dih, masih cemburu aja sama gue... Tenang, bro... Adiza milik Lo kok... " ucap Andika sambil tertawa.
Arrasya menghela nafas. Bagaimanapun ia terlalu takut kehilangan Adiza, gadis cantik yang sangat ia cintai..
" Aku boleh dianter Dika ? " tanya Adiza hati-hati pada Arrasya. Bagaimanapun Adiza sangat tahu betapa posesifnya calon suaminya itu.
Arrasya merapikan rambut Adiza, menyelipkan anakan rambutnya ke balik telinga Adiza.
" Biar aku yang antar kamu sekarang... " tolak Arrasya membuat Adiza mengerucutkan bibirnya karena kecewa.
" Aku sudah sampai disini, mana mungkin aku kembali sendiri " tambah Arrasya lagi membuat Adiza mengangguk mengerti.
Arrasya kembali mengelus kepala Adiza.
" Tapi kalau dia ada waktu buat jemput kamu. Kamu bisa pulang bareng Dika " ucap Arrasya kemudian membuat wajah Adiza berseri.
" Beneran ? Boleh ? " tanya Adiza tak percaya.
" Iya, boleh... " jawab Arrasya sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kamu memang paling baik " ucap Adiza sambil memeluk erat Arrasya.
Andika begitu terkejut melihat sikap Adiza pada Arrasya. Membuatnya semakin yakin jika Adiza benar-benar mencintai Arrasya dan tak ada lagi yang tersisa untuknya.
" Hei... belum sah. Sabar dong " ucap Andika melempar candaan pada Adiza.
" Biarin, we... Sirik aja !" jawab Adiza menjulurkan lidahnya kepada Andika.
Arrasya hanya tersenyum melihat tingkah calon istri dan lelaki yang pernah hadir dalam hati sang calon istri.
" Kamu gak keberatan kan, nanti jemput Diza ? Nanti siang, aku ada praktek " tanya Arrasya memastikan kesediaan Andika.
" Aku bisa jemput Diza, kebetulan hari ini lagi kosong jadwal " jawab Andika.
" Thanks... Aku titip Diza, ya ! " seru Arrasya.
" Aku yang harusnya bilang terima kasih. Tolong jagain Diza, aku percayain Adiza sama kamu " ucap Andika.
" Tanpa kamu minta pun aku akan selalu menjaganya. Kamu jangan khawatir " tegas Arrasya menepuk bahu Andika lalu bergegas masuk ke dalam mobil karena sang kekasih hati sudah tak sabar untuk segera berangkat.
" Maaf, aku gak bisa jemput kamu nanti " ucap Arrasya sambil melajukan mobilnya.
" Gak apa-apa... Lagian kan ada Andika yang jemput " Jawab Adiza enteng yang tanpa disadarinya membuat Arrasya sedikit kecewa atas jawaban yang diberinya.
" Sebahagia itukah kamu bisa pulang bersamanya...? " tanya Arrasya dalam hati
Arrasya tak lagi mengeluarkan kata, ia hanya fokus melihat ke jalanan. Mereka pun akhirnya sampai di depan kampus. Menyadari Arrasya tak berbicara sejak tadi membuat Adiza enggan untuk turun. Adiza menyentuh tangan Arrasya
" Kamu kenapa ? Marah ? " tanya Adiza.
Arrasya menggeleng lemah.
" Kalau gak marah, kenapa dari tadi diam ? " tanya Adiza lagi.
Arrasya balas menatap lembut gadis cantik yang tengah menatapnya.
" Hanya berpikir, mengapa kamu bisa sebahagia itu karena bisa dijemput Andika. Apa kamu masih... "
" Sstt... " Adiza meletakkan telunjuknya di bibir Arrasya sambil menggelengkan kepala.
" Aku tuh cinta sama kamu. Kamu masih ragu ? " tanya Adiza.
Arrasya meraih jemari tangan Adiza.
" Aku cuma takut kehilangan kamu " lirih Arrasya sambil menciumi jemari Adiza, lalu melihat cincin yang tersemat di jari manis Adiza.
" Cincin ini bukti kalau hati aku udah jadi milik kamu. Aku memang sayang sama Andika. Tapi Andika itu cuma masa lalu... Kamulah masa depan aku " jujur Adiza sambil menyentuh pipi Arrasya. Arrasya mengambil kedua tangan Adiza lalu mencium kening Adiza.
" Janji, kamu cuma jadi milik aku. Tidak ada cinta yang lain selain aku " ucap Arrasya menatap Adiza penuh harap.
" Janji... Kamu cintanya aku " tegas Adiza kemudian memeluk Arrasya.
__ADS_1