Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 5


__ADS_3

Di dalam kamar sebuah apartemen, nampak Arrasya tengah berbaring di atas ranjangnya yang besar. Tangannya menggenggam sebuah kalung berinisial huruf A. Senyuman tak henti terukir di wajahnya, matanya lekat tertuju pada kalung yang tengah ada di dalam genggamannya.


Ia teringat pertemuannya siang tadi dengan si empunya kalung. Kala itu seorang gadis cantik menabraknya menyebabkan minuman yang ada di tangannya tumpah.


POV Arrasya


" Hei... Bisa hati-hati ga ?!" ucapku sedikit kesal karena tiba-tiba aku tertabrak dan minuman yang ku dapat dengan antrian cukup panjang itu tertumpah mengenai pakaian yang ku pakai.


" Maaf, saya ga sengaja "


Gadis itu spontan meminta maaf serta mengeluarkan tissue dari dalam tasnya kemudian melap tumpahan minuman pada pakaianku. Sesaat kuperhatikan gadis yang tengah menunduk itu. Ia mengingatkanku pada sosok gadis yang pernah kulihat. Ya... gadis itu, gadis yang duduk di kursi taman menatap langit kelabu dengan tatapan sendu.


" It's ok, ga apa-apa kok. Saya bisa sendiri" ucapku mengambil tissue yang ada di tangannya lalu menatapnya lembut.


Saat tanganku menyentuh tangannya. gadis itu mengangkat kepalanya membuat pandanganku beradu dengan dua bola mata coklatnya yang indah. Aku tersenyum, ia hanya terdiam sebagaimana aku yang terpaku melihatnya. Sungguh... darahku berdesir, jantungku berdetak tak karuan melihat wajah cantiknya. Ada perasaan yang menggelitik halus hadir merasuk ke dalam sanubariku. Ah... Apa mungkin aku jatuh cinta kepadanya ? Dia,,, gadis di hadapanku ini telah mengusik kenyamanan hatiku, mengusir kehampaan dalam kesendirianku, ia telah berhasil masuk, mengisi dan bersemayam di lubuk hatiku yang terdalam.


Tak lama ia sedikit membungkukkan badannya.


" Sekali lagi saya minta maaf... Tadi saya buru-buru..." ucapannya membuyarkan apa saja yang ada dalam pikiranku.


"Gak apa-apa ..." sahutku ramah masih tetap dalam mode menatapnya.


Gadis itu melangkahkan kakinya beranjak dari hadapanku, namun karena tak hati-hati ia tersandung dan hampir terjatuh. Refleks kutahan tubuhnya agar tak mencium kerasnya lantai marmer yang kami pijak, membuatnya jatuh ke dalam pelukanku.


Deg... Deg... Deg...


Begitu cepatnya ritme jantung ini berdegup. Aku yakin bukan hanya jantungku saja yang berdetak kencang. Kulihat wajahnya merona, entah karena ada rasa kepadaku atau hanya rasanya menahan malu. Tapi aku suka melihatnya.


" Lain kali hati-hati ya... Selow aja " ucapku seraya membantunya berdiri.


"Emm... Makasih ya. Sekali lagi maaf... " ia berkata dengan senyuman malu menatap ke arahku.


Tak lama sebuah suara memanggil, ia berbalik ke arah datangnya suara. Aku lihat seorang lelaki melambaikan tangan kepadanya.

__ADS_1


" Siapa lelaki itu ? kekasihnya kah ? atau hanya temannya ? " batinku bertanya-tanya.


" Terima kasih... Permisi " pamitnya lalu berjalan menuju ke tempat lelaki tersebut berada.


Aku masih tersenyum memandangi punggung gadis itu yang kini berlalu menjauhiku.


" Tuhan... Jika ia gadis yang kau kirimkan untuk menjadi jodohku, biarkan ia melihat kepadaku sekali lagi. Dan akan kupastikan hanya dia kandidat jodohku dunia akhirat " Aku bermonolog dalam hati.


Tanpa ku duga dan tak kusangka, ia menolehkan wajahnya melihat ke arahku kemudian mengalihkan pandangannya kembali dan berjalan ke arah lelaki itu.


" Tuhan... Apakah ini jawaban darimu langsung untukku ?? Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu gadis cantikku " Seringai kemenangan kurasakan.


Sepertinya aku baru saja mendapatkan recharge energi. Senyum kebahagiaan tergambar jelas di wajah tampanku. Aku semakin bersemangat untuk bisa mendapatkan dan bersama dengannya.


" Tunggu aku, gadis cantik jodohku..." gumamku penuh keyakinan.


Kulihat gadisku sudah bersama dengan lelaki itu. Mataku terus melihat ke arahnya seakan tak ingin beralih darinya. Kulihat dia asyik berbicara juga bersenda gurau dengan lelaki di sebelahnya itu. Sekilas terbit rasa sakit serta tak rela melihatnya bersama dengan lelaki lain. Tapi aku bisa apa, saat ini ia bukanlah milikku. Namun akan ku pastikan dia menjadi milikku. Sepintas kulihat lelaki itu melihat ke arahku kemudian tersenyum, tak lama mereka pun berlalu.


Setelah kulihat mereka hilang dari pandanganku, aku mulai beranjak. Baru satu langkah aku berjalan, aku melihat sebuah benda tergeletak di lantai. Aku meraihnya dan mengambil benda itu. Sebuah kalung dengan liontin berinisial huruf A. Rupanya kalung itu putus di ujungnya. Rasa-rasanya aku mengenali kalung itu. Ya, gadis cantikku itu yang memakainya.


Aku mulai berekspektasi dengan percaya diri bahwa ini adalah tanda berikutnya yang ditunjukan oleh Tuhan bahwa ia memang tercipta untuk menjadi jodohku, begitulah angan-angan ku.


Dengan senyum penuh harap, aku membawa kalung itu bersamaku. Berharap jika aku akan bertemu kembali dengan gadisku itu segera.


" Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu, jodohku "


...💖💖💖...


Arrasya bangkit dari ranjangnya, ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas, kemudian berjalan ke depan jendela. Ia menekan tombol yang ada dalam ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah dua kali terdengar nada sambung, akhirnya suara di sebrang telepon menjawab.


" Ya bro...? "


" Lo lagi dimana bang ? " tanya Arrasya

__ADS_1


" Di rumah lah. Hari ini gue ga ada praktek " jawabnya.


" Gue ke rumah Lo ya, bang " ijin Arrasya.


" Asem Lo... Ga bisa apa ngebiarin gue menikmati hari libur gue " umpat suara di sebrang telpon.


" Justru, gue mau nemenin abang menikmati hari libur " kekeh Arrasya.


" Mau nemenin apa mau nyusahin ? " sindirnya


" Nemenin nyusahin kayaknya, he... he... "


timpal Arrasya asal.


" Inget syarat dan ketentuan berlaku ya ! " syaratnya.


" Dasar si Abang, ga mau rugi... " keluh Arrasya.


" Hari gini ga ada yang gratis brother... " kilah rekan sejawatnya


" Kalo mau ke rumah, bawain doping ya. Di rumah ga ada apa-apa " seru rekannya lagi


" Ya elah praktek sana sini, endorse dimana-mana tapi ga punya makanan. Anda sehat, bang ?! " cemooh Arrasya.


" Serah Lo dah, yang penting kalo mau datang ke rumah gue harus bawain yang gue bilang atau kelaparan. Titik !! " tegas rekannya.


" Alright lah, bang... " sahut Arrasya.


" Ya udah, gue tungguin. Sekalian bantuin gue beberes rumah ya " gelak rekannya, menutup sambungan telepon.


"Aish... Azas manfaat ini mah... " gerutu Arrasya menyudahi panggilan teleponnya.


Arrasya bersiap menuju rumah sahabatnya itu. Sahabat yang selalu setia menjalani hari-hari saat mereka masih mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran almamater mereka di salemba. Bahkan hingga saat ini, mereka berdua buka praktik di rumah sakit yang sama. Mungkin yang membedakan mereka saat ini adalah jurusan yang diambil untuk bidang spesialisasi. Arrasya mengambil jurusan spesialis bedah sesuai cita-citanya. Sedangkan, Sakha sahabatnya mengambil jurusan anestesi. Yah, walaupun keduanya berbeda jurusan spesialisasi, toh mereka tetap bisa bekerja sama jika ada di dalam satu ruang operasi.

__ADS_1


Sikap dan perilaku keduanya pun tak jauh berbeda. Meskipun mereka dikenal sebagai dokter yang ramah dan tampan, akan tetapi perlakuan mereka pada wanita tidak seramah seperti pada pasien-pasiennya. Mereka cenderung menjaga jarak dengan wanita-wanita yang terang-terangan mengidolakan mereka.


Akan tetapi, jika sudah merasa cocok, mereka akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan pujaan hatinya. Itulah yang saat ini dirasakan Arrasya. Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis yang telah mencuri hatinya. Cinta pertama nya...


__ADS_2