Kamu Cintanya Aku

Kamu Cintanya Aku
Part 35


__ADS_3

POV Sakha


Aku merasakan panas menjalari seluruh tubuhku. Rasanya jantungku berdebar kencang.


Sial... Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan ini pada ku. Sungguh keterlaluan mereka... Apa mereka pikir ini lucu...!


Aargh... Aku berjalan keluar dari cafe dengan sedikit tertatih. Segera kuraih ponsel dan kuhubungi Arrasya, walaupun aku tahu ini sudah larut malam tapi hanya dia yang bisa menyelamatkanku dari rasa ini.


Panggilan pertama tak diangkatnya, kucoba kembali menghubunginya. Akhirnya ia mengangkat telpon walaupun dengan nada menggerutu.


Aku menceritakan padanya bahwa aku dijahili oleh Billy dan Galang dengan obat perangsang lalu memintanya membawakanku obat penawarnya. Ia setuju lalu menyarankan ku untuk diam di kamar dan merendam badanku hingga ia datang.


Aku berjalan terus menyusuri dinding agar segera keluar dari cafe. Hingga akhirnya di pintu keluar aku bertemu dengannya. Gadis yang selalu ingin tahu dengan urusanku.


" Kak Sakha kenapa ? " tanyanya. Ia begitu khawatir dengan keadaanku. Ia mendekatiku namun aku berusaha menghindar.


" Kakak sakit ? " tanyanya lagi terus berusaha menyentuhku. Aku berusaha agar ia tak menyentuhku.


Tapi usahaku sia-sia, ia berhasil meraih tanganku dan memegang keningku.


" Badan kakak panas. Biar aku bantu kakak pulang " ucap nya sambil memapah tubuhku.


Terasa bergejolak saat ia menahan pinggangku dan meletakkan tanganku di lehernya. Terlebih lagi saat aku mencium wangi parfum yang menguar dari tubuhnya. Aroma Citrus yang menggairahkan. Aku menggigit bibir bagian bawahku. Sekuat mungkin aku menahan gejolak itu.


" Aku bisa sendiri " tolakku yang bergerak menjauhinya.


" Kakak lagi sakit jadi biar aku bantuin kakak kali ini. Kalau kakak sehat, aku juga gak akan bantu. Jangan kakak pikir kalau aku sengaja cari kesempatan. Aku tuh cuma ngehargain kakak aja sebagai kakak sepupunya Diza. Jadi gak usah mikir macem-macem " ocehnya lalu memapahku kembali.


Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Berharap aku bisa menahan untuk tak melakukan sesuatu yang akan berakibat buruk.


" Kakak pulang kemana ? " tanyanya begitu sampai di lobi hotel.


" Aku menginap disini di lantai 3 " jawabku dengan suara berat.


Ia membawaku memasuki lift, lalu menekan tombol. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding lift menjaga jarak dengannya. Hawa panas selalu menyerang ku terlebih saat aku bersentuhan dengannya.


Lift sudah membawa kami ke lantai 3. Ia kembali memapahku, merangkul pinggangku kembali agar aku berjalan tegak. Gelanyar rasa itu menyerang ku kembali saat ia meraih pinggangku.


" Kamar kakak nomer berapa ? " tanyanya lagi.


" 308 " jawabku singkat. Dan akhirnya, kami sampai di depan kamarku.

__ADS_1


" Kamu tidak perlu masuk, aku bisa sendiri " ucapku melarangnya untuk mengantarkan ku ke dalam kamar.


" Kakak bisa ? Yakin bisa sendiri ? " tanyanya khawatir.


" Aku bisa sendiri... Terima kasih " ucapku kemudian bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkannya sendiri di luar.


Aku membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhku, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Aku menyalakan shower untuk mengguyur badanku berharap ini bisa mengurangi hawa panas dalam tubuhku.


" Cepatlah datang Arrasya... Aku sudah tak tahan lagi " gumamku.


Selang berapa lama, aku mendengar suara pintu terbuka. Aku segera mematikan shower, lalu memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahku. Aku membuka pintu kamar mandi, berharap Arrasya yang datang.


Sayangnya, harapanku tak sesuai realita lapangan. Gadis itu kembali dan kini tengah berdiri di sisi ranjang sambil merapikan pakaian ku yang tercecer di lantai tadi.


" Dasar gadis bodoh " gumamku lalu beranjak untuk kembali masuk ke kamar mandi.


Ia menarik tanganku saat aku telah menggapai gagang pintu kamar mandi.


" Kak Sakha itu lagi sakit, kenapa harus mandi larut malam begini. Nanti sakitnya tambah parah " ocehnya.


Aku tak kuasa lagi menahan rasa itu, terlebih lagi saat tangannya menyentuh tanganku. Kini logikaku tak lagi ada, yang ada hanyalah ***** yang meraja. Aku tak bisa bertahan lagi. Aku menarik gadis itu ke atas ranjang, menciuminya dengan kasar. Aku tahu dia berontak dan melawan tapi aku tak bisa berhenti. Hatiku ingin berhenti, tapi otakku menginginkan hal lain. Aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk bercinta dengannya. Hingga akhirnya aku berhasil mendapatkan puncaknya dan membuatnya kehilangan mahkota sucinya.


Aku terkulai tak berdaya saat selesai melakukan itu dan aku tak ingat apapun lagi sampai aku melihat Arrasya dan Adiza berdiri di hadapanku.


Aku memegangi kepalaku, masih belum menyadari sepenuhnya apa yang sudah terjadi. Kulihat Adiza duduk di kursi dengan wajah pucat.


" Lo ngelakuin itu sama siapa bang ? " tanya Arrasya lagi.


Aku menggelengkan kepala. Tangan Arrasya mengepal bahkan ia akan melayangkan bogem padaku jika saja Adiza tak menghentikannya. Adiza menatapku dengan tatapan penuh misteri antara sedih, kecewa bahkan mungkin juga jijik.


" Kenapa Lo gak bisa tahan sebentar aja bang ? " cecar Arrasya lagi.


" Lo pikir semudah itu... Akan lebih mudah jika aku hanya sendiri. Tapi dia datang sendiri padaku... " jawabku membela diri.


" Dia siapa kak ? " Adiza mengeluarkan suaranya.


" Dia... " aku menghentikan ucapanku. Adiza pasti akan membenciku jika aku mengatakan yang sebenarnya.


" Siapa kak ? " tanya Adiza lagi sambil menatap tajam padaku.


Aku mengacak rambut ku.

__ADS_1


" Aku tak tahu dia siapa... " aku menolak untuk mengatakan yang sejujurnya.


" Kenapa dia bisa masuk kesini bang ? " tanya Arrasya kemudian. Sepertinya dia sudah bisa mengontrol emosinya.


" Itu... Aku juga tak tahu " elakku membuang muka.


Gadis bodoh, kau pergi kemana ? Mengapa kau membuat ini menjadi rumit. Seandainya saat ini kau masih disini bersamaku, semua pasti akan cepat selesai. Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku...


" Kak... " ucap Adiza lembut, membuatku berpaling menatapnya.


" Sekarang apa yang akan kakak lakukan ? Kakak akan bertanggung jawab ? " tanya Adiza menatapku iba.


" Tentu saja, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku walaupun itu hanya sebuah kecelakaan " jawabku.


" Terus Lo mau tanggung jawab sama siapa bang ? Bukannya orangnya yang mana aja Lo gak inget " Arrasya menimpali ucapanku dengan nada kesal.


Aku menggaruk kepalaku, lalu menyenderkannya ke headboard ranjang.


" Ya udah, Lo istirahat aja lagi bang. Percuma gue datang kesini, ternyata Lo udah kehilangan keperjakaan Lo " ucap Arrasya setengah mengejek.


Kulihat Adiza menggelengkan kepala kepada Arrasya. Arrasya merangkul tubuh Adiza lalu mengelus perutnya yang rata.


" Hai junior, rupanya om kamu ini sudah gak tahan nyari sarang. Nanti kalau kamu udah lahir jangan ikutin kelakuannya ya. Mendingan kamu langsung nikahin aja kalau ada perempuan yang kamu suka, supaya gak tersiksa " ucap Arrasya yang langsung dibalas jeweran oleh Adiza.


" Aw... sakit sayang " ringis Arrasya.


" Kalau ngomong tuh yang bener. Memangnya debaynya laki-laki " cibir Adiza.


" Feeling aku sih laki-laki, yang " jawab Arrasya sambil menciumi pucuk kepala Adiza.


" Kamu hamil ? " tanyaku pada Adiza. Ia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


" Selamat... " ucapku padanya.


Bagaimana jika dia hamil karena perbuatanku... Apakah ia akan mencari ku dan memintaku bertanggung jawab ?


" Woi... Ngelamunin apaan bang ? " pertanyaan Arrasya mengaburkan pikiranku.


" Lo takut dia hamil ya ? Baguslah kalau dia hamil berarti dia bakalan balik lagi minta pertanggungjawaban Lo " oceh Arrasya lagi.


Aku terdiam, memikirkan ucapan Arrasya tadi. Haruskah aku mengharapkan ia mengandung anakku ataukah berharap agar tak lagi bertemu dengannya...

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


THE END


__ADS_2