
Meriya sosok gadis cantik dan juga lemah lembut. Umurnya tahun ini genap dua puluh dua tahun.
Meriya cerdas dan Dirinya juga perpendidikan tinggi.
Meriya seorang perancang busana namun namanya masih belum terkenal di kalangan atas.
Tetapi sebagian hasil karyanya sudah di gunakan beberapa orang bahkan seorang artis terkenal.
Meriya saat ini masih menangisi kepergian sang Nenek untuk selama-lamanya.
Kejadian naas telah menimpa desanya. Gempa bumi melanda desa kecilnya sehingga memakan banyak korban jiwa termasuk sang nenek.
Rumah Meriya hancur tak tersisa.
""Aku tau kamu merasakan kesedihan yang teramat dalam. Tetapi satu hal yang harus kamu ketahui hidup itu harus tetap berjalan.
""Tidakkah kau lihat aku . Aku bahkan kehilangan suami dan anakku. Ucap ibu paruh baya itu dengan suara paraunya mencoba menghibur Meriya.
Meriya menangis kembali. Air matanya bahkan sudah kering.
***
Dua Minggu telah berlalu berkat gotong royong bersama. Rumah kecil Meriya telah kembali berdiri. Meriya meringkuk di depan rumah barunya. Membuat kedua sahabatnya khawatir
Reni memeluk Meriya yang di ikuti Reno. Mereka bertiga berpelukan dan menangis dalam diam.
""Tenanglah.
Kami berjanji akan sesering mungkin mengunjungimu. Ucap Reni dengan nada bergetar dan di angguki Reno.
Sementara Meriya hanya terdiam. Dalam dua Minggu ini tidur tidak nyenyak dan makannyapun tidak teratur membuat tubuhnya yang dulu sedikit berisi kini semakin kurus.
Saat mereka hanyut dalam ke sedihan.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan Rumah Meriya.
Sosok wanita paruh baya dan berpakaian glamor turun dari sana.
Bisik -bisik orang-orang disana menyentuh Indra pendengaran Meriya.
Meriya memperhatikan sosok itu yang berjalan menuju ke arahnya.
Meriya memicingkan matanya dan seketika terbelalak.
Wanita itu adalah ibunya. Wanita yang melahirkanya sekaligus yang meninggalkanya rasa senang dan sedih bercampur di benak Meriya.
Wanita paruh baya yang masih cantik itu memperhatikan Meriya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Lalu Dia menghembuskan nafas beratnya saat netra gadis itu sangat mirip dengan sosok yang di bencinya.
""Kamu sudah kenal denganku. Ucap wanita itu tanpa basa-basi.
""Ibuu.
Ucap Meriya bergetar dan sedikit gugup.
Kedua sahabatnya terkejut dengan kehadiran ibu Meriya yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
Reni merasakan firasat yang buruk saat melihat wanita itu.
""Aku ingin berbicara denganmu.
Ucap wanita itu dan langsung masuk kerumah kecil Meriya.
Wanita itu berfikir sejenak melihat rumah ibunya telah berubah menjadi baru.
Meriya masuk dan di ikuti ke dua sahabatnya.
"Aku ingin berbicara berdua saja. Kalian berdua tunggulah di luar ucap wanita itu tegas dan tak ingin di bantah.
""Apakah dia mengusir kita?
Ucap Reni tak terima.
"Tenanglah.. tidakkah kau dengar tadi dia itu ibu Meriya. Jelas Reno yang mencoba menyenangkan adiknya itu yang sangat mudah terpancing emosi.
""Cihh..ibu macam apa yang meninggalkan anaknya. Cibirnya.
""Stt..pelankan suaramu. Bisik Reno sambil menarik adiknya untuk menjauh dari sana.
Meriya memberikan teh hangat untuk ibunya karena itu yang masih ada. Rumahnya baru hari ini selesai di bangun. Rencananya dirinya akan pergi ke pasar untuk membeli beberapa peralatan.
Ibunya yang bernama Maria terdiam sejenak. Di tidak menyentuh minuman yang sudah di sodorkan Putrinya itu.
""Ibu..ibu datang kesini untuk meminta bantuan mu.
Ucapnya tanpa basa-basi.
""Bantuan?
""Aku tidak memiliki uang saat ini ibu. Ucap Meriya yang mengira kedatangan ibunya kesini untuk meminta kepadanya uang. Selama ini Meriya telah mendengar beberapa gosip tentang ibunya yang suka berfoya-foya.
Ibunya terkekeh geli.
Aku tidak membutuhkan uangmu. Ucapnya datar. Bahkan dia enggan melihat netra abu-abu itu.
Membuat maria menggertak giginya.
""Ginjal kiri ibu rusak.
Ucapnya dengan raut wajah yang sedih dan bergetar bahkan mata yang sempat menatap tajam Putrinya itu kini terlihat teduh.
"Kenapa ginjal ibu rusak?
Meriya bertanya terkejut.
Walaupun wanita ini telah membuangnya Meriya tetap Merasakan sakit di hatinya. Mungkin ikatan Batin antara ibu dan anak itu masih ada.
""Dulu ibu pernah memakan obat-obatan yang keras untuk menggugurkan mu sehingga efeknya baru sekarang. Ucapnya jujur.
Meriya mendengar itu merasa sedih sekaligus miris.
"Segitu bencinyakah ibunya sehingga ibunya bahkan tega melenyapkan darah dagingnya? Batinya menahan air matanya.
""Apakah kamu mau memberikan ginjalmu kepada ibu?
__ADS_1
Maria menarik tangan Putrinya dengan lembut tanpa memperdulikan Putrinya yang menahan tangisnya dari sorot mata maria terdapat permohonan yang tidak ingin di tolak.
Meriya merasa tersentuh saat tangan lembut ibunya menyentuh tanganya. Ada seribu kerinduan yang tersimpan di hatinya untuk memeluk sosok yang di hadapanya itu.
”aku..aku tidak yakin ginjalku cocok untuk ibu. Ucap Meriya menolak secara halus.
""Kita hanya perlu memeriksanya.
"Dan jika cocok kita akan langsung berangkat besok.
""Besok?
Beo Meriya yang begitu terkejut.
Ibunya datang penuh persiapan bahkan Dia tidak mendengarkan ibunya mencari sosok yang telah pergi dua Minggu yang lalu.
""Ibu..Nenek baru meninggal dua Minggu yang lalu.
"Aku tidak ingin meninggalkan rumah ini secepat itu.
Jelas Meriya kedua netra abu-abu itu kini telah mengeluarkan air matanyayang sudah di tahanya sejak tadi.
""Aku tau. Ibu telah pergi. Ucap Maria bergetar. Dirinya sedikit rindu kepada ibunya itu. Tetapi Maria tidak terlalu memikirkannya karena dirinya telah menganggap ibunya telah pergi puluhan tahun yang lalu sejak ibunya itu memilih mempertahankan Putrinya.
Saat itu Maria begitu emosi saat dia harus mengurung dirinya di rumah selama berbulan-bulan demi melahirkan anaknya yang di dalam perutnya atas permintaan ibunya.
Bahkan sesekali akan ada orang yang mencemoohnya karena hamil di luar nikah.
Maria saat itu sangat membenci anak yang di kandunganya dan sampai saat ini rasa benci itu masih tersimpan jelas di lubuk hatinya.
Seandainya Meriya tidak hadir di rahimnya mungkin dia sudah menjadi model terkenal saat ini.
Cita-citanya harus di kuburnya karena kehadiran sosok yang di depanya itu.
Bahkan saat ini dirinya hanya bisa melahirkan Putrinya yang masih sakit-sakitan akibat perbuatanya yang telah meminum obat-obatan keras di masa lalu untuk menggugurkan Meriya.
Sehingga efeknya membuatnya tidak bisa mengandung lagi karena rahimnya sudah rusak dan sudah di angkat.
Dan dia saat ini sedang berjuang mempertahankan kehidupan Putri kesayangannya itu. Karena hanya cuma dia harapan satu-satunya supaya suaminya saat ini tetap mempertahankan dirinya.
""Ibuu...
panggil Meriya sedikit miris dengan sikap cuek ibunya setelah tau neneknya telah pergi meninggalkanya.
""Aku tidak ingin memikirkan yang tidak penting.
""Saat ini ibu hanya fokus terhadap penyakit ibu.
"Tidakkah kamu merasa bersalah telah membuat ibu menderita?
Teriak Maria kepada Putrinya yang melihatnya dengan raut ketakutan akibat bentaknya.
"Aku tidak ingin membuang buang waktu.
"Ayok kita kekota.
"Untuk memeriksa ginjalmu.
__ADS_1
"Di sana telah menunggu dokter yang bagus untuk memeriksamu.
Ucap Maria tak berperasaan kepada sosok wanita mungil yang masih tertekun melihat cara bicara ibunya yang begitu menyakitinya.